Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Rencana Riko


__ADS_3

Sudahlah, untuk masalah itu nggak usah diungkit lagi dan jangan sampai adikmu tahu. Kamu siap kalau Riko mengusirmu?" Vella pun tak mau kalah yang membuat Rony terpaksa diam.


"Terus terang saja aku memang belum siap. Tapi aku secepatnya akan segera mengakui kesalahanku di depan adikku. Aku yakin Naila pasti memaafkanku. Tapi untuk masalah ini, jika kamu terbukti bersalah, maaf kalau aku tak akan membantumu. Apalagi Riko bilang akan menyerahkan kasus Naila ke pihak kepolisian untuk diselidiki karena Riko sudah memiliki bukti," balas Rony yang membuat Vella cemas.


"Apa Riko bilang padamu bukti apa? Kejadiannya 'kan juga baru tadi pagi dan secepat itu dia sudah punya bukti?" tanya Vella. Tak dipungkiri dirinya terkejut mendengar berita ini.


"Kamu tahu dari mana kalau Naila mengalami kejadiannya tadi pagi?" Rony menjawab pertanyaan istrinya dengan pertanyaan yang membuat Vella panik.


"Eh, itu ... tadi ... tadi 'kan kamu yang bilang kalau Riko meneleponmu," jawab Vella dengan terbata.


"Aku hanya bilang kalau Riko meneleponku tadi sore. Jangan-jangan memang kamu yang membuat Naila celaka," sahut Rony yang membuat Vella semakin salah tingkah.


"Ah, sudahlah. Yang pasti aku nggak ada urusan dengan istri adikmu." Vella pun beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rony menuju kamarnya.


Rony memperhatikan perubahan di wajah Vella, terlihat panik dan cemas. Rony semakin yakin jika istrinya ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Naila. Ternyata dugaannya benar, kebaikannya hanya pura-pura untuk melancarkan rencananya.


Sementara Vella diam di kamarnya, hatinya mulai gelisah. Seandainya Riko benar-benar memiliki bukti, dia tak bisa menghindar lagi. Dan Vella yakin, Bagas pasti membantu adik iparnya. Vella harus segera mengajak Clara menemui Bagas untuk membuat kesepakatan. Bagaimanapun juga, dirinya tak ingin masuk penjara. Ingin rasanya keluar rumah sekarang juga, tapi dia tak ingin Rony semakin mencurigainya.


♡ ♡ ♡


Naila sudah kembali ke rumah dan Riko memintanya istirahat di kamar saja. Riko pun semakin protektif pada Naila. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya. Naila hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan suaminya karena kejadian kemarin masih membuatnya trauma.

__ADS_1


"Sayang, aku harus kembali ke kantor sebentar. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu nggak apa-apa 'kan kalau aku tinggal?" tanya Riko setelah membantu membaringkan tubuh Naila.


"Iya, Mas, nggak apa-apa. Kamu jangan khawatir, aku tak akan ke mana-mana," jawab Naila.


"Jangan lupa makan dan diminum obatnya, ya. Aku mungkin akan pulang larut malam. Kalau ingin apa-apa, nanti bisa minta tolong Bi Marni biar dibelikan Pak Supri," perintah Riko pada Naila sambil berjalan mengambil tas kerjanya.


"Aku makan seadanya yang di rumah saja. Aku hanya ingin tiduran, badanku rasanya lemas. Kalau boleh aku ingin ditemani Bara di kamar. Aku kangen dengan celotehannya. Kalau pekerjaanmu sudah selesai, cepatlah pulang," sahut Naila.


"Baiklah, aku akan panggilkan Bara. Kalau urusanku sudah selesai, aku pasti langsung pulang. Aku berangkat dulu, ya. Kamu istirahat saja, tak perlu melakukan pekerjaan rumah. Assalamu'alaikum," pamit Riko sambil mengecup kening Naila.


"Wa'alaikumussalaam," balas Naila dengan senyum manis di bibirnya.


Setelah meminta Bara menemani Naila di kamarnya, Riko pun berangkat dan melajukan motor sport hitam kesayangannya. Riko sudah mengirim pesan pada Bagas untuk menemuinya di kafe depan kantornya.


"Iya, nggak apa-apa. Aku juga baru sampai. Kita pesan makanan saja dulu, setelah makan kita lanjutkan ngobrolnya," sahut Riko dan Bagas mengiakannya.


Setelah selesai makan, Riko pun memulai pembicaraan mereka.


"Maaf, sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari Naila. Dari wajahmu, aku lihat kamu sepertinya takut jika Naila tahu sesuatu tentangmu. Kalau boleh tahu, kenapa? Aku harus memastikan apa yang ingin kamu sampaikan sebelum kamu bicara pada istriku." Cara bicara Riko terdengar santai, namun sorot matanya mengintimidasi. Bagas merasa gugup dan juga takut.


"Hemm ... memang benar. Saya takut Naila membenci saya kalau tahu pekerjaan saya yang sebenarnya. Tapi kalau saya tak berkata jujur, takutnya Naila akan lebih kecewa jika mendengar dari Vella atau Clara." Bagas menjawab pertanyaan Riko apa adanya.

__ADS_1


"Kamu mengenal mereka di mana? Dan apa pekerjaanmu?" tanya Riko penasaran.


"Di club, Pak. Saya berteman dengan teman-teman Clara. Saya ... saya ... menemani wanita yang kesepian. Pak Riko pasti mengerti maksud saya." Bagas menjawab pertanyaan Riko sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa malu pada laki-laki tampan di hadapannya.


"Astaghfirullah ...." Riko hanya bisa mengucap istighfar.


"Tapi semenjak bertemu kembali dengan Naila, saya berjanji akan berhenti dari pekerjaan ini. Sungguh, saya ingin hijrah meskipun saya tahu nantinya tak akan mudah," sahut Bagas.


"Aku ada teman yang sedang membutuhkan karyawan yang bisa dipercaya untuk ditempatkan di perusahaannya yang di luar kota. Tapi aku kurang tahu mau ditempatkan bagian apa. Kalau kamu benar-benar niat hijrah dan berhenti dari pekerjaanmu, aku bisa merekomendasikanmu padanya," ucap Riko yang membuat mata Bagas berbinar mendengarnya. Bagas tak percaya, suami Naila begitu baik padanya.


"Benarkah, Pak? Saya mau, sangat mau sekali. Mau ditempatkan di bagian apa saja saya bersedia, jadi OB juga nggak masalah. Saya sadar, saya hanya tamatan SMA. Bagi saya sekarang yang penting dapat penghasilan yang halal," sahut Bagas dengan semangat.


"Baiklah, tapi sebelumnya tolong bantu aku dulu. Aku perhatikan kamu juga sangat menyayangi Naila, semoga kamu juga bersungguh-sungguh ingin berubah. Aku yakin besok atau lusa, Vella dan Clara akan menemuimu. Ikuti saja kemauannya, jangan melawan. Kamu harus menyetujui apa yang mereka tawarkan padamu. Wanita licik seperti mereka pasti akan menggunakan uangnya untuk membuatmu ada di pihaknya. Tolong kamu awasi mereka, laporkan padaku setiap informasi yang kamu dapatkan," pinta Riko pada Bagas.


"Maaf, Pak Riko jangan salah sangka. Meskipun saya sangat menyayangi Naila, tapi saya tak ada niat merusak rumah tangga kalian. Saya tahu diri, saya manusia kotor. Tanpa diminta, saya akan berusaha melindungi Naila dari mereka berdua. Tapi kalau Pak Riko menginginkan seperti itu, saya akan menuruti apa yang Pak Riko perintahkan," kata Bagas menyetujui permintaan Riko.


"Terima kasih, ya. Baiklah, aku pulang dulu. Naila pasti sudah menungguku. Hari minggu nanti, mainlah ke rumah. Benar katamu, lebih baik kamu jujur padanya sekarang daripada dia mendengar dari Vella," pamit Riko dan mengulurkan tangannya.


"Saya juga terima kasih, Pak. Salam buat Naila," balas Bagas sambil membalas uluran tangan Riko.


Mereka pun berjabat tangan dan saling melempar senyuman. Riko berjalan meninggalkan Bagas yang masih ingin duduk menenangkan diri. Memesan kembali kopi hitam tanpa gula sebagai minuman favoritnya. Tampak dari tempat duduknya, dua orang wanita cantik melambaikan tangan dan berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Hai, Bagas. Tak disangka kita bisa bertemu di sini. Aku tak perlu lagi mencarimu. Aku tahu kamu baru saja bertemu dengan Riko. Berapa yang dia tawarkan agar kamu mau membantunya? Aku bisa membayarmu dua kali lipat asal kamu ada di pihak kami."


Tanpa basa-basi, Clara dan Vella langsung bicara setelah duduk di hadapan Bagas. Mereka terpaksa menawarkan sejumlah uang pada Bagas daripada masuk penjara. Bagas pun tersenyum, mulai memainkan perannya.


__ADS_2