Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Keputusan Naila


__ADS_3

"Maaf, bukan begitu maksudku, Naila. Kamu jangan salah paham. Kami hanya tak ingin merepotkanmu, itu saja." Sarah mengelus punggung tangan Naila dengan lembut sambil tersenyum.


"Kak, kalian sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Aku dari kecil tak pernah punya saudara. Teman juga tidak banyak, hanya beberapa yang mau berteman denganku. Kalau ada masalah, ceritalah padaku, siapa tahu aku bisa membantu," ucap Naila dengan ekspresi wajah sedih.


"Tadinya aku mau minta tolong padamu agar mau membeli perabotan peninggalan orang tuaku, Naila. Uangnya biar bisa buat tambahan sewa rumah. Tapi Kak Yakub nggak setuju. Kami juga nggak mau merepotkanmu," sahut Sarah berterus terang.


"Besok ikut aku ke bank, ya. Aku akan melunasi semua hutang kalian." Naila tersenyum lalu menggenggam lembut tangan Sarah.


"Jangan, Naila. Kami nggak mau punya hutang lagi. Kalau pun diangsur tiap bulan, berapa yang harus kami bayar?" Sarah tak enak hati. Dia pun yakin kalau Yakub pasti tak akan setuju.


"Kalian nggak usah berhutang. Anggap saja aku membantu Kakakku yang cantik ini." Naila berkata dengan lembut sambil tersenyum.


"Naila, kami tidak bisa menerimanya. Apalagi kamu juga belum berunding dengan suamimu, kan? Bagaimana kalau suamimu nggak setuju? Apalagi kamu memakai uangnya yang tak sedikit jumlahnya." Sarah mencoba menolak bantuan Naila.


"Aku nggak akan memakai uang suamiku untuk membantu kalian. Ini murni uangku sendiri. Tabunganku hasil penjualan rumah dan tanah peninggalan orang tuaku masih utuh, belum terpakai sama sekali. Aku akan memakainya untuk membantu kalian." Naila meyakinkan Sarah karena dia benar-benar ikhlas membantu orang yang sudah pernah menolongnya.


"Tapi, Naila, jumlahnya nggak sedikit ini. Kalau tabunganmu habis, bagaimana?" Sarah bingung harus memakai alasan apa lagi untuk menolak bantuan Naila.


"Jangan khawatir, buat melunasi hutang kalian, tabunganku masih banyak kok. Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Nanti malam, Kakak bilang saja sama Kak Yakub. Aku tunggu besok pagi dan jangan lupa share lokasi dan alamat banknya. Sekarang aku pulang dulu." Naila segera beranjak dari duduknya karena tak ingin Sarah kembali menolak bantuannya.


"Terima kasih, Naila. Aku nggak tahu harus bicara apa. Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan kepadamu." Sarah pun menyerah, tak lagi membantah ucapan Naila.


"Aamiin ...."


Sarah memeluk Naila sangat erat. Matanya berkaca-kaca karena rasa haru yang tak terkira. Perasaan bahagia membuatnya ingin menangis. Dia sangat bersyukur Allah mempertemukan dirinya dengan wanita berhati mulia seperti Naila.


Setelah memberikan beberapa kantong plastik putih bertuliskan nama sebuah supermarket besar pada Sarah, Naila pun pamit pulang. Yakub hanya bisa memandang Naila dari bengkel saat Naila tersenyum dan melambaikan tangan padanya. "Wanita itu, masyaa Allah, semakin cantik saja ...." gumamnya.


"Bos, lihat cewek sampai segitunya. Naksir bilang, Bos!!" Haris, salah satu karyawan Yakub mendekat dan menggodanya. Apalagi dia melihat bosnya sedang memandang wanita yang baru saja masuk ke dalam mobil itu sampai tak berkedip.


"Kamu itu, sok tahu!" Yakub memasang wajah garang untuk menutupi rasa malunya.


"Tapi emang cantik lho, Bos. Temannya Mbak Sarah, ya?" tanya Haris penasaran.


"Iya, tapi jangan coba-coba ganggu. Dia itu bini orang!"

__ADS_1


"Pantes saja si Bos hanya bisa memandang. Ternyata eh ternyata, bini orang! Ha ha ha ...." Setelah menggoda, Haris segera berjalan meninggalkan Yakub sambil tertawa.


"Awas kamu!"


Mobil Naila pun pergi, meninggalkan Sarah yang masih diam di tempatnya. Yakub segera berjalan mendekat dan membantunya membawa beberapa kantong plastik pemberian Naila.


***


"Kak, aku mau bicara tapi Kakak jangan marah, ya." Setelah makan malam bersama, Sarah mengajak Yakub bicara. Dia mencoba menyampaikan pesan dari Naila dengan perlahan.


"Ada apa? Soal Naila? Pasti kamu sudah cerita 'kan sama dia?" Pertanyaan Yakub membuat Sarah gugup.


"I ... iya, Kak. Di ... dia sudah tahu dari tetangga kita katanya. Aku akhirnya terpaksa cerita. Maaf, Kak." Sarah menundukkan kepala. Belum juga dia bercerita semuanya, wajah Yakub sudah terlihat marah.


"Ya, sudahlah, mau bagaimana lagi? Suatu saat dia juga pasti tahu." Yakub pun sadar dengan ucapannya, dia tahu adiknya mulai ketakutan.


"Hemm ... dia besok mengajak kita ke bank. Dia mau melunasi hutang kita, Kak." Sarah memberanikan diri bicara karena bagaimanapun pesan Naila harus dia sampaikan malam ini juga.


"Apa??" Yakub terkejut dan tak percaya dengan ucapan Sarah.


"I ... iya, Kak ...."


"Terserah Kak Yakub saja, aku hanya menyampaikan pesannya Naila. Mungkin kalau besok kita nggak mau, dia akan langsung menjemput kita." Sarah mengingatkan tentang Naila yang juga tak akan menyerah dengan penolakan mereka.


"Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan? Aku malu, Sarah. Naila pasti sudah bercerita sama Riko." Dalam hati, Yakub malu pada dirinya sendiri. Dia pernah berniat jahat pada Riko untuk membalas sakit hatinya pada Rony.


"Suaminya sedang ke luar kota, Kak," sahut Sarah.


"Naila pasti telepon suaminya. Uang segitu banyak pasti Riko nggak akan setuju. Aku takut Naila akan ribut dengan suaminya karena membantu kita."


"Kata Naila ... dia tidak akan bicara sama suaminya. Uang untuk membantu kita itu uangnya sendiri, Kak. Dia punya tabungan hasil penjualan rumah dan tanah peninggalan orang tuanya di desa." Sarah mengerti kekhawatiran kakaknya.


"Masyaa Allah ... di dunia ini masih ada orang sebaik dia." Yakub pun semakin mengagumi wanita yang akhir-akhir ini sering mengganggu pikirannya.


"Lalu bagaimana, Kak?" tanya Sarah yang juga bingung dengan tawaran Naila pada mereka.

__ADS_1


Tak dipungkiri, dalam hati, Sarah sangat bersyukur karena rumah mereka tak akan disita. Namun di sisi lain, mereka pasti akan berhutang budi pada Naila seumur hidup mereka. Apalagi mereka bukan siapa-siapanya Naila, hanya seseorang yang dianggap saudara.


"Kita lihat saja besok pagi. Kalau dia ke sini, aku akan bicara padanya. Aku malu, Sarah. Aku tak ingin merepotkan Naila. Barang-barang yang dia bawa tadi saja sudah begitu banyak. Sepertinya cukup untuk kebutuhan kita satu bulan. Aku seperti laki-laki yang nggak berguna di depan Naila." Yakub merasa insecure.


"Astaghfirullah ... jangan suudzon begitu, Kak. Naila murni membantu kita dengan ikhlas. Dia selalu mengungkit-ungkit pertolongan Kakak waktu itu. Dia selalu merasa berhutang nyawa pada Kakak. Itu yang selalu dia bilang padaku. Tolong, Kakak jangan berpikiran seperti itu."


"Baiklah, aku mau menerima bantuannya. Tapi kita akan buat perjanjian hitam di atas putih. Aku akan membayar setiap bulan dengan jumlah yang aku mampu sampai lunas." Yakub akhirnya menyerah tapi dia pun tak mau menerima bantuan begitu saja.


"Aku juga setuju. Kalau begitu, akan aku buatkan surat perjanjiannya biar Naila tinggal tanda tangan."


"Siiippp!!"


Yakub dan Sarah pun tersenyum, bersyukur rumah peninggalan orang tua mereka akan terselamatkan dengan bantuan dari Naila.


***


Sementara di sebuah taman yang ada di belakang rumah, Naila duduk sambil sesekali menyesap teh lemon hangat. Dengan lembut dan sopan, dia berbicara pada seseorang yang duduk di hadapannya.


"Pak Supri, saya minta tolong besok pagi antarkan saya ke rumah Kak Sarah, ya. Setelah itu kita ke bank kemudian ke warung makan yang biasanya itu. Saya kangen dengan nasi rawonnya."


"Baik, Mbak."


"Tapi ... tolong jangan bilang ke Mas Riko kalau saya ke bank bersama Kak Yakub dan Kak Sarah, ya, Pak. Kali ini saya mohon, jangan laporkan urusan saya besok dengan mereka pada Mas Riko."


"Maaf, Mbak, kalau besok Den Riko tanya bagaimana?"


"Jawab saja kalau mengantarkan saya ke warung makan atau ke supermarket lagi. Atau terserah Pak Supri saja, yang penting jangan bilang kalau saya ke bank."


"Baiklah, Mbak. Nanti saya akan kirim foto Mbak Naila waktu makan di warung saja."


"Terima kasih, ya, Pak. Saya hanya tak ingin Mas Riko berpikiran macam-macam tentang Kak Yakub dan Kak Sarah. Nanti saja kalau Mas Riko pulang, saya akan bicara yang sebenarnya. Kali ini saya benar-benar minta tolong pada Pak Supri."


"Baik, Mbak. Saya paham."


"Sekali lagi terima kasih, Pak."

__ADS_1


Supri mengangguk hormat pada Naila lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan meninggalkan Naila yang masih duduk sendiri sambil melamun.


"Semoga Mas Riko nggak marah kalau suatu saat nanti dia tahu. Aku nggak mungkin memberi kabar sekarang tentang keputusanku ini. Apalagi dari tadi siang, ponselnya nggak bisa dihubungi. Suamiku, apa kamu sesibuk itu sampai tak meneleponku seharian ini?"


__ADS_2