Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Pesan dari nomer tak dikenal


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah ruangan kantor di dalam gedung megah, Riko masih berkutat dengan pekerjaannya. Hari ini banyak sekali berkas-berkas yang harus disiapkan, diperiksa dan ditanda tanganinya.


Semenjak pagi hingga sore, dia juga memantau langsung ke lokasi proyek yang sedang dia kerjakan. Rasa lelah tampak di wajah tampannya. Bahkan dia sampai lupa dengan ponselnya yang mati kehabisan baterai.


"Pak, sudah malam. Sebaiknya kita lanjutkan saja besok." Irwan--asisten sekaligus sopir pribadi Riko, merasa kasihan melihat sang majikan yang terlihat lelah.


"Maaf, Irwan. Kalau kamu mengantuk, tidurlah dulu di sofa. Aku akan menyelesaikan semua dokumen ini biar besok bisa pulang. Aku sudah rindu dengan istriku." Riko membalas ucapan Irwan tanpa memandang wajah asisten pribadinya itu. Pandangan matanya masih fokus tertuju pada dokumen yang sedang dibacanya.


"Tapi Bapak belum makan malam. Apa perlu saya pesankan sekarang?" Irwan bertanya lagi, walaupun dia tahu Riko saat ini sedang fokus pada kertas yang ada di tangannya.


"Boleh, menunya terserah kamu saja, yang penting jangan pedas," jawab Riko. Dia tahu Irwan peduli padanya.


"Baiklah, Pak." Irwan segera mengambil ponselnya dan memesan makanan dan minuman yang disukai majikannya. Nasi goreng Hongkong dengan udang goreng krispi dengan jeruk hangat sebagai minumannya.


Riko memperhatikan Irwan dari meja kerjanya. Dia pun teringat dengan benda pipih berbentuk persegi yang saat ini dipegang asistennya.


"Astaghfirullah ... ponselku dari tadi mati, belum aku charge lagi. Naila pasti mencariku. Biar aku selesaikan dulu saja pekerjaanku. Aku akan meneleponnya setelah subuh."


Riko kembali serius dengan kertas-kertas yang ada di depannya. Dia akan menyelesaikan semuanya malam ini juga. Besok pagi setelah rapat, dia akan langsung pulang.


Setelah makanan dan minuman yang dipesan datang, Riko dan Irwan makan bersama. Riko bersyukur memiliki asisten seperti Irwan yang mengerti bagaimana selera makanan dan minumannya. Apalagi Irwan selalu peduli padanya dan selalu mengingatkan saat jam makan sudah terlewat.


Riko kembali ke meja kerjanya. Sementara Irwan membereskan bungkusan bekas makan dan minum mereka. Saat ini, Irwan hanya bisa menunggu sang majikan tanpa bisa membantu.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Riko sudah selesai dengan pekerjaannya. Irwan pun sudah terlelap di sofa ruang kerjanya. Terpaksa Riko membangunkan Irwan karena mereka harus kembali ke hotel untuk beristirahat.

__ADS_1


***


"Assalamu'alaikum, Sayang ...."


Setelah sholat subuh, Riko langsung menghubungi istri tercintanya. Dia merasa bersalah karena mengabaikan panggilan telepon Naila yang menghubunginya kemarin berulang kali.


"Wa'alaikumussalaam. Alhamdulillah akhirnya kamu menghubungiku. Ke mana saja kamu, Mas? Aku telepon dari siang sampai malam, tapi ponsel kamu nggak aktif." Naila berkata sambil memanyunkan bibirnya, seolah Riko ada di hadapannya dan melihat ekspresi wajahnya yang cemberut.


"Maaf, Naila. Ponselku kemarin baterainya habis dari sore. Siang hari waktu kunjungan ke lokasi proyek, ponselku ketinggalan di mobil dan aku belum sempat meneleponmu lagi. Maafkan aku, Sayang. Aku tadi malam menyelesaikan semua pekerjaanku biar siang ini aku bisa pulang. Aku sudah rindu dengan istriku." Riko tahu saat ini Naila sedang merajuk.


"Aku juga rindu, Mas. Kamu perginya lama sekali. Alhamdulillah kalau kamu hari ini pulang. Tapi hari ini aku ijin ke warung makan sama Kak Sarah, ya, Mas. Aku ingin makan rawon. Nanti pulangnya aku belikan sekalian buat kamu. Boleh, ya?" Suara Naila terdengar ceria mendengar berita suaminya akan pulang.


"Baiklah, hati-hati, ya, Sayang. Insyaa Allah kalau nggak delay, mungkin sore hari sampai di rumah."


"Apa perlu aku jemput ke bandara?" tanya Naila dengan semangat.


"Nggak usah, Mas. Aku sedang nggak ingin apa-apa. Kamu sampai di rumah dengan selamat, aku sudah sangat senang. Aku kangen, Mas."


"Iya, aku juga kangen. Tunggu aku di rumah, ya. Aku tutup dulu teleponnya. I love you, Sayang. Assalamu'alaikum ...."


"I love you too, wa'alaikumussalaam ...." Naila pun membalas salam sambil tersenyum bahagia.


***


Naila bersama Supri sebelum jam delapan pagi sudah sampai di rumah Sarah. Yakub dan Sarah pun akhirnya pasrah dan menerima bantuan dari Naila.

__ADS_1


"Naila, sebelum kita ke bank, tolong tanda tangani ini dulu." Yakub menyerahkan selembar kertas bermaterai pada Naila.


"Apa ini, Kak? Aku nggak berniat memberi kalian pinjaman, aku sudah bilang 'kan kalau aku membantu kalian dengan uangku." Naila yang sudah membaca isi surat perjanjian itu mencoba menolak.


"Tidak, Naila. Tolong hargai kami. Meskipun hanya sedikit, tiap bulannya kami akan mengembalikan uangmu. Entah itu berapa tahun akan lunas, tetapi setidaknya kami tak kehilangan rumah peninggalan orang tua kami." Yakub menjelaskan maksudnya.


"Iya, Naila. Kami sangat berterima kasih karena kamu sudah menolong kami. Tolong, ijinkanlah kami membayar dengan tiap bulannya sesuai kemampuan kami." Sarah memegang tangan Naila dengan lembut dan memandangnya dengan tatapan memohon.


"Baiklah, Kak. Aku akan tanda tangan surat perjanjian ini untuk menghormati kalian." Naila pun akhirnya setuju. Dia tahu, semua demi harga diri.


"Terima kasih, Naila."


Mereka kemudian bersama-sama pergi ke bank untuk melunasi pinjaman dan mengambil sertifikat rumah mereka yang digadaikan oleh teman Yakub. Mereka sangat bahagia dan bersyukur karena Allah telah memberikan pertolongan melalui Naila.


Setelah melalui proses yang cukup lama di bank, mereka pun pulang. Tak lupa Naila mengajak mereka makan siang di warung makan yang menjual rawon favoritnya. Warung makan sederhana tetapi masakan rawonnya terkenal sangat lezat. Bukan sebuah rumah makan yang tempatnya mewah, tetapi memang pantas disebut warung karena bangunannya sebagian masih terbuat dari bambu.


Mereka duduk bertiga, sementara Supri selalu minta duduk terpisah. Meskipun Naila selalu memintanya bergabung bersama mereka, tetapi Supri menyadari posisinya yang hanya seorang sopir dan juga asisten rumah tangga. Dia merasa tak pantas jika harus duduk bersama majikannya.


Lagi dan lagi, seseorang tanpa sengaja melihat Naila dan Yakub berdua saja. Sarah yang sedang ijin membeli pulsa di counter samping warung makan, tak tertangkap oleh kamera ponselnya. Apalagi saat ini seseorang yang tak dikenal, terlihat mendekati mereka dan duduk di samping Naila.


Tak mau ketinggalan moment yang dilihatnya, dia pun mengabadikan kembali foto Naila yang tersenyum dan duduk bersama dua orang pria.


Send!


Beberapa foto Naila terkirim ke ponsel Riko melalui aplikasi pesan berwarna hijau. Semua foto hanya terlihat Naila bersama Yakub saja dan foto yang terbaru, Naila bersama Yakub dan Daffa. Saat Sarah bergabung lagi bersama mereka, dia sudah berlalu dari warung makan itu. Daffa pun hanya menyapa Naila sebentar saja karena harus menemui temannya di meja lain di warung makan yang sama.

__ADS_1


Sementara Riko yang baru saja keluar dari ruangan, berhenti sejenak dan diam sambil memperhatikan ponselnya. Dia sangat terkejut melihat foto-foto yang baru saja diterima. Wajahnya pun merah padam menahan marah. Nomer ponsel pengirim pesan itu memang tak dikenalnya, tetapi Riko yakin kalau foto-foto yang dia terima adalah nyata.


__ADS_2