
Terlihat oleh Naila, tangan Riko mengepal menahan marah. Pandangan matanya pun lurus dan tajam seolah ada musuh di depannya. Apa sebenarnya yang sudah dilakukan Vella? Naila merasa ada rahasia yang disembunyikan oleh suaminya. Dan Rony pun tak mengetahuinya.
"Sayang, sudah mau maghrib. Mandi dulu terus ke mushola, ya. Jangan melamun," tegur Naila.
Riko tersadar dari lamunan. Dia pun kembali memeluk Naila dan mencium keningnya. Lama Riko terdiam, bahkan semakin mempererat pelukan. Naila membiarkannya karena dia pun tak tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya. Biarlah dia menunggu sampai Riko sendiri yang menceritakannya.
Setelah sholat, Naila segera menyiapkan makan malam untuk Riko dan adiknya. Mereka makan bersama sambil sesekali mendengar celotehan Bara. Riko pun mulai menerima dan menyayangi adiknya. Apalagi wajah mereka sangat mirip, Bara seperti cerminan kecil dirinya.
Setelah selesai makan malam, Bara kembali bermain ke kamarnya. Bahkan Naila dan Riko sangat kagum, anak seusianya bisa merapikan sendiri mainannya tanpa harus diperintah. Sementara Riko mengajak Naila berbicara di kamar mereka.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Riko setelah mereka duduk di sofa dekat jendela.
"Ingin tanya apa, Mas? Tumben pakai ijin segala," jawab Naila heran.
"Aku hanya tak ingin kamu tersinggung," balas Riko.
"Tanya saja, Mas. Insyaa Allah aku tak akan tersinggung. Apapun yang kamu tanyakan, aku akan menjawabnya. Apalagi kamu suamiku, aku tak mungkin lagi menyimpan rahasia," ucap Naila dengan senyuman manis di bibirnya.
"Tabungan sebanyak itu, kenapa sebelum menikah aku tak pernah melihatmu shopping atau pergi ke klinik kecantikan. Maaf, aku hanya ingin tahu, tolong kamu jangan marah. Walaupun aku tahu kamu wanita yang sederhana, tapi apa tak ada keinginan seperti wanita-wanita lainnya." Riko berkata sambil memegang lembut tangan istrinya. Tiba-tiba saja dia ingin mengetahui kehidupan Naila saat belum menikah dengannya.
"Aku juga pernah shopping kok, Mas. Aku juga pernah ke klinik kecantikan. Tapi--" Naila diam dan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Riko penasaran.
"Aku malas untuk datang ke tempat-tempat seperti itu, tak ada yang menghargaiku. Apalagi waktu dari desa, penampilanku sangat kampungan. Mereka tak percaya kalau aku punya uang. Bahkan ada yang terang-terangan mengusirku," lanjut Naila dan kembali tersenyum mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.
"Astaghfirullah, maafkan aku, Sayang. Aku membuatmu sedih. Aku tak tahu kalau ada kejadian seperti itu yang pernah kamu alami. Aku berjanji akan membuatmu bahagia, tak ada lagi yang akan menghinamu seperti dulu." Riko tak menyangka istrinya trauma.
"Tak apa-apa, Mas. Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Manusia sekarang lebih mempercayai penampilan. Bahkan mencari kerja saja sangat sulit waktu itu, padahal aku seorang sarjana. Akhirnya menjadi pelayan adalah pilihanku, itu pun aku lebih sering ditempatkan di dapur membantu juru masaknya. Aku sangat bersyukur, aku jadi bisa belajar berbagai menu masakan ala restoran. Dan yang lebih aku syukuri, karena menjadi pelayan, aku bisa mendapatkan suami tampan," lanjut Naila lalu memeluk erat tubuh suaminya.
"Dan aku pun bisa memiliki istri shalihah sepertimu," sahut Riko dan membalas pelukan istrinya.
Dia sangat bahagia, Naila selalu bersabar menghadapi masalah dan selalu mengambil sisi positif dari kejadian yang dialaminya. Riko tersenyum dan dia menyadari, semua peristiwa di dunia ini tak ada yang kebetulan semata. Semua sudah digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Pertemuan Naila dengan dirinya pasti juga karena campur tangan-Nya.
Naila ijin ke kamar Bara untuk menemaninya sebentar sebelum tidur. Riko pun pergi ke ruang perpustakaan sekaligus ruang kerjanya, mengecek laporan perusahaan dan juga email dari orang kepercayaannya. Setelah selesai semua pekerjaannya, Riko menghubungi seseorang melalui ponselnya. Berbicara serius pada seseorang di seberang sana, memastikan semuanya harus berjalan sesuai keinginannya.
"Sayang, nanti jam delapan ada orang yang akan menjemputmu. Bara biar di rumah saja bersama Bi Marni. Tolong kamu ingat nomer plat mobilnya dan wajah orangnya seperti ini," ucap Riko pada Naila sebelum berangkat kerja.
Riko memberikan ponselnya agar Naila melihat foto wajah orang dan mobil yang akan menjemputnya nanti. Naila pun memperhatikannya dan menganggukkan kepala tanpa menanyakan dirinya akan pergi ke mana.
"Aku berangkat dulu, ya. Aku mungkin pulang agak terlambat, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jangan lupa, kalau nanti sudah sampai rumah, tolong kirim pesan. Mulai sekarang, jangan ke mana-mana sendiri. Kalau ingin membeli sesuatu, suruh Pak Supri saja." Riko memberi penjelasan panjang lebar pada istrinya.
Naila hanya diam dan kembali menganggukkan kepala. Apa yang diperintahkan suaminya, Naila pasti akan menurutinya asalkan tak melanggar syariat agama. Dia pun segera bersiap diri, untuk urusan rumah sudah dikerjakan semuanya oleh Bi Marni dan juga Pak Supri.
__ADS_1
Sebenarnya Naila tak suka jika hanya diam saja, tapi Riko tak mau dibantah. Naila hanya diperbolehkan memasak saja, untuk urusan lainnya dikerjakan dua asisten rumah tangganya. Alasan Riko pun membuat Naila mau tak mau harus menurutinya. Riko ingin istrinya segera berbadan dua.
Naila masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam, setelah memastikan semuanya sesuai dengan petunjuk dari suaminya. Mobil melaju dengan tenang, membelah jalan raya menuju tengah kota. Meskipun sering terjebak kemacetan, Naila berusaha menikmatinya. Entah akan dibawa ke mana, dia juga tak ingin menanyakannya.
Mobil yang ditumpanginya akhirnya berhenti di sebuah klinik kecantikan dengan gedung yang terlihat megah. Seorang penjaga membukakan pintu dan mempersilakannya masuk dengan sopan. Bahkan para pegawai yang berpenampilan sangat cantik dan elegan, menyambut Naila dengan penuh senyuman.
Naila membalas senyum mereka dan mengikuti langkah seorang pegawai yang mengajaknya. Naila pun mengerti maksud suaminya. Riko ingin mewujudkan keinginan Naila dengan caranya.
Serangkaian perawatan wajah dan juga badan dinikmati Naila dengan bahagia. Riko benar-benar suami yang pengertian dan penuh cinta. Senyumannya pun tak berhenti menghiasi wajahnya. Ucapan syukur tak hentinya diucapkan dalam hatinya.
Tanpa Naila ketahui, dua orang wanita membuntutinya sejak dari rumah. Mereka sangat kesal saat tahu Naila masuk ke sebuah klinik kecantikan ternama. Tak mau hanya tinggal diam, mereka pun berniat masuk ke dalam mencari Naila. Siapa lagi kalau bukan Vella dan Clara.
"Maaf, klinik saat ini sedang tutup. Kami tidak menerima customer sampai jam satu siang." Seorang penjaga tak mengijinkan mereka masuk begitu saja.
"Tapi aku tadi melihat teman kami masuk, Pak. Kenapa kami tak bisa?" tanya Vella tak terima.
"Oh, itu tadi customer special kami hari ini. Setelah beliau selesai semua perawatannya, klinik baru dibuka. Maaf, silakan kembali nanti," tegas salah satu penjaga yang terlihat lebih tegap badannya.
"Tapi kami berdua adalah sahabatnya. Apa kalian tak bisa membiarkan kami melakukan perawatan bersama?" Vella masih terus berusaha dan tak mau menyerah.
"Maaf, kami hanya menjalankan perintah. Kalau kalian ingin melakukan perawatan bersama, mungkin bisa lain waktu," sahut penjaga satunya. Mereka berdua tak ingin mendapatkan masalah jika sampai membiarkan masuk kedua wanita cantik di depannya.
__ADS_1
Terpaksa Vella dan Clara kembali ke dalam mobil dengan kecewa. Mereka sangat geram, tak menyangka Riko begitu menjaga Naila. Ternyata niat jahat mereka tak mudah. Membuat mereka berpikir keras dan kembali menyusun rencana lainnya.