Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Rony tertipu


__ADS_3

Vella tak menghiraukan pertanyaan Rony lagi. Wanita cantik itu pun berlalu mengambil koper di kamar belakang dan memasukkan semua pakaian serta perlengkapan make-upnya. Rony hanya diam memperhatikan, bahkan dia tak berniat mencegah kepergian istrinya. Pada akhirnya Vella benar-benar pergi meninggalkan dirinya tanpa kata perpisahan.


Miris sekali melihat keadaan Rony saat ini. Wajah bengkak dan lebam, badan sakit semua, ditinggalkan istri pula. Rony hanya bisa meratapi nasibnya, belum diusir dari rumah yang sekarang ditempatinya saja sudah beruntung baginya.


"Astaghfirullah ...."


Rony hanya bisa mengucap istighfar. Dia sendiri bingung harus bagaimana dan berbuat apa saat ini. Bahkan Vella sudah jujur padanya jika dia tak pernah mencintainya. Namun, Rony tak akan membiarkan Vella pergi begitu saja darinya. Biarlah untuk sementara seperti ini, kalau Vella tak marah lagi pasti akan kembali, begitu yang Rony pikirkan.


Rasa cintanya pada Vella yang begitu dalam membuatnya tetap mengharapkan istrinya pulang. Akhir pekan depan kalau Vella masih belum kembali, Rony akan menjemputnya. Rony sangat yakin, saat ini Vella pasti menginap di apartemen Clara.


Hari demi hari dilalui Rony seperti biasa. Selama Riko belum mengusirnya dan belum menyuruh berhenti dari pekerjaannya, Rony akan tetap menjalankan aktifitasnya. Bahkan Riko sama sekali belum meneleponnya lagi setelah pengakuannya. Rony pun tak mungkin terlebih dahulu menghubungi adiknya dan tak berani menjemput Barra seperti biasanya.


Akhir pekan pun tiba, Vella benar-benar tak kembali ke rumah. Rony sangat gelisah dan mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimanapun juga Vella masih istri sahnya dan masih tanggung jawabnya. Mengendarai roda duanya menuju apartemen Clara, Rony berniat menjemput wanita yang masih dicintainya. Meskipun pernikahannya dengan Vella tak bahagia, tapi Rony berusaha untuk setia.


Baru saja Rony sampai di depan lobi, dilihatnya Clara keluar dari lift bergandengan mesra bersama seorang laki-laki yang tak dikenalnya.


"Rony?" sapa Clara.


"Iya, Clara. Aku ke sini mau menjemput istriku," sahut Rony.


"Menjemput Vella? Tapi dia nggak di sini. Sudah empat hari ini aku ke luar kota dan baru pulang tadi malam," balas Clara heran.

__ADS_1


"Kamu jangan membohongiku, Clara. Ke mana lagi istriku pergi kalau tidak ke apartemenmu?" tanya Rony tak percaya.


"Buat apa aku membohongimu, Rony. Setelah kita clubing seminggu yang lalu, Vella sama sekali tak lagi menghubungiku. Kalau tak percaya, tanyakan saja pada calon suamiku ini. Sayang, kenalkan dia suami Vella, Rony." Clara pun memperkenalkan laki-laki di sampingnya pada Rony.


"Aku Revan, calon suami Clara. Aku juga kenal dengan Vella dan dia memang tak ada di sini. Mungkin dia sedang di rumahnya sekarang. Dua hari yang lalu aku bertemu Vella di supermarket di sekitar rumahnya," ucap Revan sambil menjabat tangan Rony.


"Rumahnya? Apa maksudmu? Clara, bisakah kamu menjelaskan padaku? Rumah siapa? Dan sejak kapan kamu punya calon suami? Jangan bersandiwara di depanku, Clara." Kembali Rony bertanya pada Clara karena tak percaya ucapan Revan.


Clara diam, berpikir apa yang akan disampaikan pada Rony. Revan sudah terlanjur bicara dan dia pun akhirnya tak bisa mengelak lagi. Clara juga kasihan melihat keadaan Rony saat ini, wajah tampannya masih terlihat lebam, tapi dia masih peduli dengan istrinya. Entah apa yang terjadi pada Rony, Clara tak berani bertanya. Mengambil sebuah kertas kecil dari dalam tas dan ditulisnya alamat sebuah perumahan lengkap dengan nomernya.


"Bagaimanapun aku juga wanita normal, Rony. Aku juga ingin berkeluarga. Sudah aku putuskan untuk tak mengganggu Naila dan Riko lagi, aku sudah sadar sekarang. Aku berjanji tak akan mengganggu rumah tangganya lagi. Aku juga sudah putuskan untuk menerima lamaran Revan, kami akan menikah bulan depan. Dan soal Vella, maaf, mungkin istrimu sedang berada di alamat yang aku berikan padamu. Itu rumah milik Vella. Hanya ini yang bisa aku sampaikan, selanjutnya aku tak bisa menjelaskan apa-apa. Tanyakan saja semuanya pada Vella, permisi."


Clara langsung menggandeng tangan Revan dan segera mengajaknya pergi tanpa menghiraukan Rony lagi. Sementara Rony hanya bisa diam memandang kertas kecil dari Clara. Hati dan pikirannya sangat kacau saat ini, tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Dengan langkah gontai, Rony kembali menuju tempat parkir. Melajukan motor matic dengan hati dan pikiran yang tak tenang. Tak ingin terjadi sesuatu di jalan, Rony berkendara dengan perlahan. Ada rasa sakit yang menyelinap meskipun belum melihat kenyataan. Bibirnya tak henti berucap istighfar sepanjang perjalanan.


Sampai pada sebuah komplek perumahan mewah, sederet aturan keamanan harus dilewatinya terlebih dahulu. Melajukan motor ke rumah yang dituju, tak henti-hentinya Rony menghela napas panjang.


Berhenti di depan sebuah pintu gerbang rumah mewah berlantai dua, Rony pun membunyikan bel berkali-kali. Lama menunggu, akhirnya seorang wanita cantik yang dirindukannya keluar membukakan pintu. Rony memandangnya tak percaya, apa yang dikatakan Revan ternyata benar. Istri cantiknya memiliki sebuah rumah mewah tanpa sepengetahuannya.


"Ada apa ke sini?" tanya Vella dengan angkuh.

__ADS_1


"Aku ingin menjemputmu," jawab Rony. Kedua tangannya mengepal menahan emosi mendengar nada bicara Vella padanya.


"Buat apa aku pulang? Aku sudah punya rumah, biarkan aku menikmati hidupku. Aku sudah tak mau lagi bersamamu." Vella berkata tanpa ada rasa hormat sama sekali.


"Hebat sekali kamu, Vella. Kamu tinggal di sebuah rumah mewah sementara suamimu menumpang di rumah adiknya. Dan aku yakin rumah ini kau beli dengan uangku." Rony benar-benar merasa tertipu.


"Aku bukanlah istri yang bodoh, aku juga butuh modal untuk masa depanku," sahut Vella.


"Ya, aku tahu kamu memang pintar dan justru aku yang bodoh karena cinta. Vella, bagaimanapun kamu masih istri sahku. Kamu masih tanggung jawabku. Bisakah kita bicarakan baik-baik semuanya?" ucap Rony dengan lembut, mencoba membujuk Vella agar mau bicara dengannya. Rony masih berusaha sabar menghadapi istrinya. Dia tak ingin membuat keributan apalagi mereka sedang berada di depan pagar.


"Talak saja aku sekarang juga, aku sudah tak ingin jadi istrimu," ucap Vella membuat Rony tak percaya.


"Kamu saat ini mungkin sedang emosi. Pulanglah, aku tunggu kau di rumah." Rony masih berusaha menahan emosi. Tak ingin menuruti keinginan Vella saat marah.


"Aku sudah bilang 'kan? Talak aku sekarang juga. Aku tekankan lagi padamu, aku tak ingin lagi menjadi istrimu!" teriak Vella.


"Kita menikah secara baik-baik, seandainya berpisah pun aku ingin mengakhiri hubungan ini secara baik-baik pula. Pernikahan membutuhkan saksi, kalau aku menceraikanmu pun aku ingin ada yang menyaksikannnya pula. Aku memberimu kesempatan sekali lagi untuk kembali, mungkin saat ini kamu sedang emosi. Kalau kita bertemu lagi dan kamu tetap minta berpisah, aku akan menceraikanmu saat itu juga." Rony tetap berusaha sabar, tak ingin mengucap talak di waktu yang tak tepat.


Melangkahkan kaki menuju kendaraan roda duanya, Rony pergi dari rumah Vella. Sementara Vella hanya diam memandang punggung suaminya sampai menghilang dari pandangan.


Rony berhenti di sebuah warung kopi yang sepi. Tak dipungkiri, hatinya sedih melihat sikap Vella padanya. Sambil melamun, Rony menyesap kopi hitam yang sudah tak panas lagi.

__ADS_1


Ponsel Rony bergetar tanda masuk sebuah pesan. Dibukanya aplikasi warna hijau di ponselnya dengan tangan gemetar. Namun, rasa takut dan gelisah langsung sirna. Setelah membaca pesan dari adiknya, wajah tampannya pun berubah ceria.


__ADS_2