Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Bab tiga puluh dua


__ADS_3

Vella bingung dengan sambutan ramah Riko pada Farel. Bahkan Riko menyebut Farel sebagai sahabat. Riko juga tampak biasa saja melihatnya. Pandangan Vella pun beralih pada seorang laki-laki tampan yang selama ini menjadi suaminya. Namun, Rony hanya memandangnya, tanpa berniat menyapa dirinya.


"Silakan duduk, Farel, Vella." Riko mempersilakan mereka berdua untuk duduk bersama.


Vella diam dan menurut, bahkan Riko tak ada tanda-tanda marah dengannya. Vella benar-benar bingung dengan keadaan yang dirasakannya saat ini. Riko, Farel, Naila bahkan Rony pun sekarang tersenyum melihatnya tanpa emosi.


"Sayang, ada yang ingin kamu sampaikan pada Vella?" Riko memulai pembicaraan mereka dan bertanya pada istrinya terlebih dahulu. Naila pun menganggukkan kepala dan berbicara pada Vella.


"Kak, aku memaafkan kesalahanmu. Semoga setelah ini Kak Vella tak akan lagi menggangguku," kata Naila dengan ramah.


"Tentu saja aku tak akan mengganggumu. Apalagi setelah ini aku bukan bagian dari keluarga ini lagi," sahut Vella dengan nada sinis seperti biasanya. Bahkan Vella sama sekali tak memberikan senyum pada istri adik iparnya. Naila pun hanya diam dan kembali tersenyum menanggapi jawaban Vella.


"Kak Rony, ada yang ingin kamu sampaikan pada istrimu?" Kali ini Riko bertanya pada kakaknya.


"Vella, aku hanya ingin bertanya padamu sekali lagi. Apa kamu masih mengharapkan talak dariku?" tanya Rony pada Vella.


"Iya, jawabanku masih sama. Bukankah aku sudah berulang kali meminta talak darimu?" jawab Vella terus terang di hadapan semua orang.


"Baiklah kalau itu keinginanmu. Aku tahu kamu ingin kembali bersama Farel, kekasih lamamu. Aku tak akan menghalangimu lagi. Di hadapan semua yang hadir di sini, aku akan menceraikanmu. Vella Amalia, aku talak kamu! Mulai sekarang kamu bukan lagi istriku!"


Rony akhirnya menceraikan Vella di hadapan semua orang. Rony sebenarnya sangat sedih, bagaimanapun dia masih mencintai Vella. Namun, Rony tak ingin mempertahankan wanita yang sudah tak ingin hidup bersama dengannya. Rony pun tak ingin memperdalam rasa sakit di hatinya.


"Terima kasih, semoga kamu akan segera mendapatkan istri seperti yang kamu inginkan. Tolong urus segera surat perceraian kita, aku tak sabar bersatu dengan kekasih lamaku." Vella berkata pada mantan suaminya tanpa ada rasa penyesalan atau rasa bersalah.


"Ya, semoga saja apa yang kamu harapkan bisa terwujud sesuai keinginanmu. Aku sudah memberimu kesempatan, maaf kalau aku tak akan menerimamu kembali walaupun kamu meminta. Aku sudah membebaskanmu," balas Rony kemudian setelah mendengar ucapan Vella yang terdengar biasa saja, tanpa rasa sedih yang dialami wanita pada umumnya ketika ditalak suami mereka. Rony merasa betapa tak berharganya dirinya.

__ADS_1


"Tentu saja aku tak akan meminta untuk kembali dan keinginanku pasti akan terwujud karena setelah surat cerai dan masa iddahku selesai, Farel pasti akan menikahiku. Benar 'kan, Sayang?" Dengan pongahnya Vella bertanya pada Farel yang dari tadi memandangnya.


"Hemm ... benarkah begitu, Farel? Apa kamu masih belum menjelaskan semuanya pada wanita cantik yang sekarang sudah menjadi mantan kakak iparku?" tanya Riko dengan senyum penuh arti.


"Hahaha ... untuk apa buru-buru. Aku masih suka dengan permainan kita." Farel pun tertawa menanggapi pertanyaan Riko.


"Permainan? Apa maksudmu, Farel?" Vella heran dengan mereka berdua. Apalagi Riko terlihat sangat akrab dengan mantan kekasihnya.


"Tenang saja, tak ada apa-apa kok. Riko hanya bercanda," sahut Farel kemudian walaupun senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Vella pun semakin tak nyaman dengan sikap Farel.


"Aku tak suka suasana ini, ayo kita pulang kalau tak ada keperluan lagi," ajak Vella.


"Aku masih ada perlu, Vella. Aku juga sedang menunggu seseorang," jawab Farel sambil menyesap teh lemon hangat yang sudah disediakan Naila.


"Apa maksudmu, Riko? Kesalahan apa lagi? Bukankah aku sudah berterus terang dan minta maaf pada Naila? Dan baru saja kamu dengar sendiri 'kan kalau istrimu memaafkanku," tanya Vella tak mengerti.


"Vella, aku tahu semuanya, tak usah kamu tutupi lagi. Atau aku yang harus mengingatkan kembali apa yang telah kau rencanakan terhadap papa dan mamaku dulu?" Riko mulai emosi menghadapi Vella. Naila hanya bisa mengelus lengan suami yang duduk di sampingnya.


Rony memperhatikan adiknya yang terlihat menahan marah. Vella sangat terkejut mendengar pertanyaan Riko kali ini. Rasa takut dan gelisah tiba-tiba menguasai hati. Vella melihat Farel hanya meliriknya dengan wajah biasa saja, tanpa ada rasa cemas seperti dirinya.


"Vella, sekali lagi aku bertanya, apa ada kesalahan lain yang ingin kamu sampaikan di sini?" Kembali Riko bertanya pada Vella.


"Aku nggak ngerti, Riko. Masalah apa? Rencana yang mana? Aku tak pernah merencanakan apa-apa. Tanyakan saja pada Farel." Vella memandang Farel dengan tatapan mengiba. Namun, Farel hanya diam dan tersenyum. Perasaan Vella mulai tak enak dan dia mulai menyadari ada yang tidak biasa dengan sikap mantan kekasihnya.


"Aku tak bertanya pada Farel, tapi aku bertanya padamu. Kalau kamu tak mau terus terang, aku saja yang bicara," tegas Riko yang membuat Rony semakin bingung dengan ucapan adiknya.

__ADS_1


"Terserah kamu, aku memang sama sekali tak mengerti apa yang kamu bicarakan." Meskipun ada perasaan takut, Vella tak ingin menunjukkannya pada Riko.


"Sebenarnya ada apa ini, Riko? Apa lagi yang diperbuat Vella? Tolong, jelaskan padaku!" Rony pun tak sabar mengetahui yang sebenarnya.


"Baiklah, kalau kamu memang tak mau bicara terus terang. Aku yang akan menyampaikan kebenaran ini. Kak, Vella dari dulu sebenarnya memang tak pernah mencintaimu. Vella hanya mengharapkan hartamu saja. Bahkan papa dan mama tak pernah setuju kamu menikah dengannya, tapi kamu selalu menentang mereka. Dan kamu tahu, apa yang telah direncanakan oleh mantan istri cantikmu ini?"


"Apa, Riko. Bicaralah padaku!" Rony semakin tak mengerti dengan ucapan Riko.


"Vella telah menyuruh seseorang merusak rem mobil mereka. Vella dendam pada papa dan mama, makanya dia berniat membuat papa dan mama celaka. Alhamdulillah, orang yang disuruh Vella malah berterus terang padaku, jadi semua tak sampai terjadi. Walaupun pada akhirnya, papa dan mama harus meninggal dunia dalam kecelakaan beruntun waktu itu," kata Riko.


Ucapan Riko membuat semua yang mendengarnya sangat terkejut, terutama Vella. Wanita cantik yang baru saja menerima talak dari Rony itu pun memandang ke arah mantan kekasihnya. Sementara Farel hanya membalas pandangan Vella dengan senyuman. Vella mulai merasa terjebak dengan keadaan sekarang. Farel tak ada tanda-tanda berniat menolongnya.


Riko pun menceritakan rencana jahat Vella yang sudah diketahuinya sejak dulu. Riko yang tahu perbuatan Vella hanya diam karena kakaknya tak pernah mempercayai semua ucapannya waktu itu.


"Astaghfirullah, kenapa kamu sejahat itu Vella? Aku sangat tulus mencintaimu, bahkan aku rela menentang papa dan mama waktu itu hanya untuk mempertahankanmu. Aku rela menuruti semua keinginanmu, aku sudah berkorban segalanya untukmu. Kenapa Vella?" Rony tak menduga mantan istrinya ternyata sejahat itu.


"Dan Kak Rony tahu siapa yang disuruh Vella? Dia adalah Farel, kekasih lamanya. Dan kamu tahu Vella, siapa Farel sebenarnya?"


Vella diam, tak berkutik. Bibirnya seakan terkunci rapat, sulit berbicara. Vella hanya tahu Farel pernah bekerja di perusahaan papanya Riko dan resign karena ingin membuka usaha sendiri. Ternyata usaha Farel tak berhasil dan Farel pun menjadi pengangguran. Hanya itu yang diketahui Vella.


"Kamu salah memilih orang untuk mengerjakan rencana kotormu, Vella. Apa kau tahu kalau Farel adalah sahabatku? Dia adalah teman kecilku. Bahkan kedua orang tua kami juga berteman sangat baik."


Vella tak percaya dengan ucapan Riko. Bagaimana bisa dirinya tak tahu kalau mereka berdua sudah menjadi sahabat sejak lama?


Vella merasa Farel telah mempermainkan dirinya. Belum hilang rasa terkejutnya, terdengar suara salam dari arah pintu. Seorang wanita berpakaian syar'i dengan perut yang membuncit menghampiri mereka dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


__ADS_2