Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Ancaman Yakub


__ADS_3

"Sabar, Mas Yakub. Silakan duduk dulu atau kita masuk ke dalam mushola saja." Pak Hasyim berusaha menenangkan Yakub yang emosi.


"Maaf, Pak Hasyim ... saya nggak suka dengan orang ini! Jangan sampai kampung kita yang aman dan nyaman, terkontaminasi bajingan seperti dia!" Yakub berkata seraya mencengkeram kerah baju Rony. Pak Hasyim segera menarik tangan Yakub agar melepaskan cengkeramannya. Rony hanya diam dan tak mau melawan.


"Astaghfirullah ... tolong lepaskan, jangan seperti ini. Mas Rony hanya belajar mengaji di sini."


"Saya nggak percaya, Pak. Dia pasti ada niat jahat yang disembunyikan," kata Yakub tak terima.


Setelah berhasil menjauhkan Yakub dari Rony, Pak Hasyim memberikan nasihat pada Yakub.


"Mas Yakub, Mas Rony sudah dua bulan belajar mengaji di sini dan selama ini tidak pernah membuat masalah. Malah dia banyak memberi sumbangan untuk pembangunan mushola kita.Tolong hargai orang yang sedang berniat baik, Mas," ucap Pak Hasyim yang semakin membuat Yakub tak suka pada Rony.


"Dia pasti hanya pura-pura, saya yakin itu! Bapak jangan terlalu percaya dengan wajah tampannya. Saya hanya mengingatkan, dia dulu perusak anak orang, jangan sampai dia bikin ulah di kampung kita!" Yakub masih berusaha mempengaruhi Pak Hasyim dengan menceritakan keburukan Rony.


"Selama ini Mas Rony hanya belajar mengaji saja di mushola ini, setelah selesai dia langsung pulang. Dia murid saya, kalau memang Mas Rony suatu saat membuat masalah, saya yang akan bertanggung jawab."


Ucapan Pak Hasyim membuat Yakub tak bisa membantah. Dia pun terpaksa mengalah dan melirik ke arah Rony yang hanya diam memandangnya.


"Baiklah, walaupun sebenarnya saya kurang setuju tapi saya akan menghormati keputusan Bapak. Saya ke sini ingin meminta tolong pada Pak Hasyim, barangkali Bapak ada waktu."


"Pengajian rutin, ya, Mas?" tanya Pak Hasyim yang mengerti maksud Yakub.


"Iya, Pak."


"Insyaa Allah, saya bisa."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumsalam ...."


Sebelum pergi, Yakub mendekati Rony dan kembali mengancamnya.


"Awas kamu! Kalau sampai bikin ulah di kampung ini, aku tak akan membiarkanmu hidup dengan tenang! Satu lagi, jangan coba-coba dekati adikku! Kamu sangat tak pantas menjadi adik iparku. Ingat itu!"


Rony hanya diam mendengarkan ancaman Yakub. Meskipun suasana di mushola sepi, dia tak ingin membuat keributan. Yakub pun berlalu meninggalkan mushola dengan ekspresi wajah yang masih marah.


"Yang sabar, ya, Mas. Yakub sepertinya sangat tidak suka dengan Mas Rony. Bukankah kalian dulu teman sekolah?" tanya Pak Hasyim yang heran dengan sikap Yakub pada Rony.


"Itulah yang ingin saya bicarakan tadi, Pak. Saya ingin menceritakan semuanya pada Pak Hasyim kalau Bapak tidak keberatan," jawab Rony.


"Tentu saja saya tidak keberatan. Kalau begitu kita masuk saja ke mushola."


"Saya dulu seorang remaja yang sangat nakal dan sebelum lulus SMA, saya merebut pacar Yakub yang bernama Tasya. Itulah sebabnya Yakub sangat membenci saya. Waktu ke rumahnya Yakub, dia sempat bercerita kalau Tasya meninggal dunia setelah melahirkan. Dan Yakub juga bilang, kalau anak yang dilahirkan Tasya adalah anak kandung saya."


"Astaghfirullah ... semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian."


"Aamiin ... oleh karena itu, Pak, saya berencana mencari kebenaran berita ini. Kalau memang yang dilahirkan Tasya benar anak kandung saya maka saya akan bertanggung jawab. Masalahnya, kalau memang Tasya mengandung anak saya, kenapa dia nggak pernah mencari saya? Padahal dia juga tahu alamat rumah dan juga nomer ponsel saya."


"Saya sarankan Mas Rony tetap mencari kebenaran cerita itu. Kalau memang yang dikandung itu benar anaknya Mas Rony maka Mas Rony harus bertanggung jawab membesarkan dan membiayai semua kebutuhan hidupnya."


Pak Hasyim berkata pada Rony dengan lembut dan sopan. Walaupun tahu masa lalu Rony, Pak Hasyim tetap menghormatinya. Dia sangat menghargai siapa saja yang berniat hijrah.

__ADS_1


"Iya, Pak. Tadi saya sudah minta tolong pada Sarah supaya mau mengantar ke rumah Tasya. Terus terang saja, saya tidak tahu rumah Tasya karena selama berpacaran, dia nggak pernah mau saya antar pulang."


"Bagaimana cara Mbak Sarah mengantar Mas Rony ke sana?" tanya Pak Hasyim penasaran. Dia tahu Sarah tak akan pernah mau pergi berdua dengan laki-laki yang bukan mahramnya.


"Insyaa Allah sabtu pagi kita ketemuan di sini, Pak. Sarah akan mengajak temannya yang mempunyai motor. Dia nggak mau saya jemput dan dia juga nggak mau kalau kami hanya pergi berdua saja." Rony memberi penjelasan agar Pak Hasyim tidak salah paham.


"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga Allah memudahkan dan melancarkan urusan Mas Rony."


"Aamiin ... saya juga berterima kasih karena Bapak tadi sudah membela saya di depan Yakub."


"Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat selama ini pada diri Mas Rony. Kenyataannya memang Mas Rony tak pernah membuat masalah."


"Insyaa Allah saya benar-benar ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar, Pak Hasyim. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Pak. Maaf sudah mengganggu waktu Bapak sampai larut malam."


"Baiklah, Mas, hati-hati di jalan."


Setelah mengucap salam, Rony pun melajukan motornya dengan perlahan. Menikmati udara malam sambil mencari warung nasi di pinggir jalan yang masih buka. Perutnya sudah mulai lapar karena belum makan dari siang. Namun, tiba-tiba sebuah motor berhenti menghadangnya. Seorang laki-laki yang sudah sangat dikenalnya turun dari motor dan mendekatinya. Rony hanya memandang wajah laki-laki itu dengan pasrah.


"Ada apa lagi, Yakub? Maaf, aku tak mau membuat keributan." Rony berusaha membuat Yakub tenang.


"Jangan sombong kamu, ya. Mentang-mentang dibela Pak Hasyim, seenaknya saja kamu keluar masuk kampung ini. Kalau kamu masih ingin hidup tenang, cari tempat lain kalau mau belajar mengaji. Jangan sampai aku melihatmu lagi di mushola, ingat itu!" Yakub kembali mengancam Rony. Rasa marah terlihat jelas pada sinar matanya.


"Tapi Yakub, aku sudah nyaman dengan Pak Hasyim. Apa salahku, Yakub? Kalau memang kamu masih dendam padaku masalah Tasya, tolong jangan campur adukkan dengan urusanku yang ingin belajar agama." Rony berusaha membela diri.


"Aku tahu, kamu pasti punya niat yang tersembunyi. Selain belajar mengaji, kamu juga ingin mendekati adikku, kan? Aku bukanlah orang yang bisa kamu bodohi seperti Pak Hasyim. Selamanya aku tak akan pernah percaya padamu! Mulai sekarang, jangan pernah kamu menginjakkan kaki di kampung ini lagi!"

__ADS_1


"Aku nggak bisa!" Rony membalas ucapan Yakub dengan tegas. Yakub tak terima karena Rony sudah berani membantah. Wajahnya yang putih bersih, berubah merah karena menahan marah. Dia pun langsung melayangkan pukulan ke arah Rony yang masih duduk di atas motor maticnya.


__ADS_2