Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Kaki Rony terkilir


__ADS_3

Bruukk!!


Rony pun jatuh dan tertimpa motor maticnya. Yakub tertawa melihat laki-laki yang dibencinya meringis kesakitan. Dia berlalu bersama motor sportnya meninggalkan Rony begitu saja.


"Astaghfirullah ...."


Rony hanya bisa mengucap istighfar. Dia pun mencoba berdiri tapi kakinya terasa sakit saat digerakkan. Dia segera mengambil ponselnya di saku jaket yang dipakainya dan menghubungi Riko agar menjemputnya. Bersyukur panggilannya langsung mendapat jawaban.


"Assalamu'alaikum, Kak. Tumben nih, malam-malam telepon. Kak Rony baik-baik saja 'kan?" tanya Riko.


"Wa'alaikumussalam ... sayangnya aku sedang tidak baik, Riko. Maaf kalau kali ini aku merepotkanmu. Tolong jemput aku di Kampung Kelapa di pinggir kota. Aku ... terjatuh dari motor dan kakiku sakit kalau digerakkan. Aku juga sendirian, bingung mau minta tolong siapa," jawab Rony memberi penjelasan pada adiknya.


"Innalillahi ... baiklah, Kak. Kebetulan aku juga masih di jalan, belum sampai rumah. Tunggu, ya, Kak. Aku langsung ke sana. Tolong share lokasinya.."


Riko terkejut mendengar berita dari kakaknya dan dia pun segera meminta tolong Supri agar mempercepat laju kendaraan roda empatnya. Bersyukur mereka masih dalam perjalanan dari pulang kerja dan posisinya saat ini cukup dekat dengan Kampung Kelapa.


"Terima kasih, ya, Riko. Aku tunggu."


Rony pun segera mengirim lokasinya melalui aplikasi pesan berwarna hijau. Dia masih dalam posisi duduk dengan motor yang menindih kakinya. Suasana di Kampung Kelapa sangat sepi, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Beberapa menit kemudian, sebuah motor mendekat ke arahnya. Dua orang laki-laki turun dan dengan tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Astaghfirullah, Mas Rony, kenapa bisa begini?" Hasyim beserta putranya mendekati Rony dan segera menolongnya.


"Saya jatuh, Pak Hasyim, kaki saya sakit sekali kalau digerakkan. Terpaksa saya hanya pasrah dan menunggu pertolongan," jawab Rony tanpa menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Hasyim.


"Ayo, Nak, kita tolong Mas Rony. Kita bawa ke rumah kita saja," ucap Hasyim pada putranya.


"Tidak usah, Pak. Saya sudah menelepon adik saya. Sebentar lagi mungkin dia sampai." Rony menolak bantuan Hasyim.


"Kalau kakinya Mas Rony terkilir, harus segera dibawa ke tukang urut. Saya ada teman di dekat sini, Mas. Kalau mau bisa saya antar ke sana," saran Hasyim.


"Terima kasih, Pak. Kita tunggu dulu adik saya, mungkin sepuluh menit lagi dia sampai. Kasihan kalau dia tiba di sini, saya nggak ada," balas Rony.


Hasyim pun mengiakan. Dia dan putranya mengangkat motor yang menindih kaki Rony. Tak lama kemudian sebuah mobil mendekat dan berhenti tepat di depan mereka. Riko dan Supri pun turun dan segera berjalan menghampiri. Riko terkejut melihat kakaknya yang duduk di pinggir jalan sambil meringis kesakitan.


"Ayo, Kak, kita segera ke rumah sakit. Pasti kaki Kakak terkilir," ucap Riko cemas.


"Maaf, kalau Bapak boleh kasih saran, sebaiknya langsung dibawa ke tukang urut saja. Kami antar ke sana sekarang kalau kalian mau," sahut Hasyim sambil memandang kedua laki-laki tampan di hadapannya.

__ADS_1


"Iya, Den. Sebaiknya kalau kaki Den Rony terkilir, dibawa ke tukang urut saja, jangan ke rumah sakit," balas Supri menyetujui saran Hasyim.


"Baiklah, kalau begitu. Bagaimana baiknya saja karena saya sendiri juga nggak begitu paham masalah seperti ini. Yang penting, Kak Rony bisa segera sembuh. Oh, ya, Pak, kenalkan nama saya Riko, adiknya Kak Rony dan ini Pak Supri." Riko pun menyetujui saran mereka dan memperkenalkan diri pada Hasyim.


"Saya Hasyim dan ini putra saya, Yusuf. Mari, Mas, saya antar sekarang."


Mereka pun segera mengangkat tubuh Rony dan membawanya masuk ke dalam mobil. Hasyim mengendarai motornya sendiri dan Yusuf mengendarai motor milik Rony. Mobil Riko mengikuti mereka menuju rumah teman Hasyim.


Berhenti di depan sebuah rumah kecil sederhana berpagar bambu, Hasyim segera mengetuk pintu dan mengucap salam. Seorang laki-laki paruh baya bertubuh tinggi, dengan rambut yang sudah putih semua, membalas salamnya.


"Eh, kamu, Syim."


"Iya, Kang Tarjo. Ini ada muridku yang terkilir kakinya."


"Ayo ... silakan masuk!"


Mereka semua masuk ke dalam rumah dan duduk di tikar pandan lebar yang ada di ruang tamu. Rony diminta merebahkan tubuhnya di sebuah kasur busa kecil yang sudah tersedia di sudut ruangan. Tukang urut yang bernama Tarjo itu pun memeriksa kaki Rony. Setelah mengambil sebuah mangkuk kecil yang berisi minyak zaitun, dia mulai mengurut kaki Rony. Sesekali Rony berteriak karena rasa sakit saat diurut, terkadang dia hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri.


Setelah selesai, Rony disuruh berdiri oleh Tarjo. Rony tersenyum, meskipun masih ada sedikit rasa nyeri, tetapi bisa berjalan kembali.


"Alhamdulillah, terima kasih, Pak," ucap Rony senang.


Rony duduk bersama yang lainnya dan mereka menikmati teh melati hangat yang disediakan istri Tarjo. Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka pamit pulang dan Riko memberikan uang pada Tarjo sebagai tanda terima kasih.


"Terima kasih, Pak Hasyim sudah menolong saya," ucap Rony saat mereka sudah di depan pagar rumah Tarjo.


"Sama-sama .... alhamdulillah saya dan Yusuf kebetulan mau pergi ke minimarket 24 jam di dekat jalan raya sana dan melihat Mas Rony jatuh tadi. Qadarullah, Allah sudah mengatur semua urusan kita, Mas," balas Hasyim sambil mengusap lengan Rony.


"Kalau begitu kami permisi dulu, ya, Pak. Sekali lagi terima kasih."


"Den, sebaiknya Den Rony ikut mobil saja, biar saya yang bawa motornya." Supri memberi saran pada Rony. Dia tak tega melihat majikannya yang jalannya masih sedikit pincang.


"Saya nggak apa-apa, kok, Pak Supri." Riko mencoba menolak karena tak ingin merepotkan adiknya lagi.


"Betul kata Pak Supri, Kak Rony sebaiknya pulang ke rumahku saja daripada di rumah sendirian. Perjalanan pulang ke rumah Kakak juga jauh, lebih dekat ke rumahku. Maaf, Kak, kasihan Naila juga sudah menunggu." Riko yang setuju dengan ucapan Supri, mencoba membujuk Rony.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih, Pak Supri," ucap Rony yang tak ingin membantah lagi.

__ADS_1


"Iya, Den," balas Supri.


Setelah berjabat tangan pada Hasyim dan putranya, mereka pun pulang menuju rumah Riko. Rony menurut saja permintaan adiknya karena dia tahu Riko saat ini pasti sudah lelah dan istrinya sudah menunggu di rumah.


***


"Sayang ... maaf, ya, kalau aku pulang terlambat." Setelah membersihkan diri, Riko mendekati Naila yang berbaring dengan wajah cemberut.


"Hemm ... aku telepon berkali-kali tapi nggak dijawab," ucap Naila tanpa memandang wajah suaminya.


Riko tahu istrinya sedang merajuk. Dia pun membalas ucapan Naila sambil membelai rambutnya dengan lembut.


"Iya, Sayang, maaf. Ponselku ketinggalan di mobil tadi, nggak aku bawa waktu menunggu Kak Rony di tukang urut."


"Kak Rony kenapa, Mas?" Naila terkejut mendengar ucapan Riko. Dia pun duduk menghadap suaminya.


"Tadi jatuh dari motor katanya, kakinya terkilir dan nggak bisa jalan."


"Terus sekarang gimana keadaannya?" tanya Naila.


"Alhamdulillah sudah bisa jalan tapi masih pincang. Maaf, Kak Rony aku ajak tidur di sini, kasihan kalau sendirian di rumah. Aku juga nggak mau kamu khawatir kalau harus menungguku terlalu lama karena mengantar Kak Rony ke rumahnya dulu." Riko menjelaskan pada Naila.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Iya, Mas, nggak apa-apa kalau Kak Rony menginap di sini," balas Naila.


"Besok akan aku suruh libur kerja dulu dan biar Bi Marni yang melayani semua keperluan Kak Rony. Kamu di kamar saja, ya, Sayang, nggak usah ikut-ikutan bantu. Aku nggak mau istriku kecapekan."


"Iya, Mas."


Riko memeluk tubuh mungil istrinya dan mencium pipi juga bibirnya. Naila tersenyum dan mengerti apa yang diinginkan suaminya. Riko membuat Naila terbuai dengan sentuhan lembutnya. Mereka pun mengarungi lautan asmara dengan penuh rasa rindu dan cinta.


***


Setelah membersihkan diri, mereka berbaring dan kembali berpelukan. Teringat sesuatu, dalam pelukan suaminya, Naila memberanikan diri bertanya.


"Hemm ... Mas, tadi Eva telepon aku. Katanya dia ingin bertemu di kafe dekat alun-alun kota hari Minggu. Boleh nggak, Mas?"


Pertanyaan Naila membuat Riko gelisah dan juga penasaran. Gelisah karena bingung harus mengijinkannya atau tidak. Penasaran karena tiba-tiba Eva menelepon istrinya. Riko memandang wajah Naila yang tersenyum dan menunggu jawaban.

__ADS_1


"Dari mana Eva tahu nomer ponselmu?"


__ADS_2