
Naila hanya menggelengkan kepala karena dia sendiri tak tahu dari mana Eva mendapat nomer ponselnya.
"Jangan pergi-pergi dulu, kamu 'kan sedang hamil muda, Sayang. Bukankah hari Minggu pagi kita menghadiri pesta pernikahannya Clara?" Riko berusaha membuat Naila tak bertemu temannya.
"Hemm ... aku sudah bilang, Mas, tapi katanya malam hari juga nggak apa-apa," ucap Naila seraya mengeratkan pelukannya.
"Kamu nggak tanya, ada perlu apa dia minta ketemu? Aku bukannya nggak mengijinkan tapi kalau memang penting, kenapa dia nggak ke sini aja?" tanya Riko yang mulai curiga pada teman Naila.
"Aku sudah tanya tadi, katanya cuma kangen aja. Aku juga sudah suruh dia main ke rumah tapi dia bilang nggak enak sama kamu, Mas." Naila bicara sejujurnya tanpa ada yang disembunyikan.
"Pasti dia hanya cari alasan. Aku yakin temanmu itu pasti sengaja mengajak kamu bertemu di kafe karena dia sudah mengundang teman-temanmu yang lain, seperti Bisma dan Daffa." Riko yakin, Eva pasti sudah berencana mengundang teman-temannya untuk bertemu Naila.
"Aku nggak tahu. Kalau kamu nggak mengijinkan, aku nggak akan pergi kok, Mas." Naila hanya pasrah dan tak ingin memaksa.
"Lihat kondisi kamu nanti saja, ya, Sayang. Kalau kamu sehat dan tidak capek, aku akan mengantarmu menemui Eva." Riko akhirnya memberi jawaban yang membuat Naila senang.
"Terima kasih, ya, Mas."
"Iya, Sayang. Ayo kita tidur ... atau mau lanjut lagi?"
"Hemm ... maunya kamu, tuh!"
Riko tertawa dan mencium gemas pipi Naila yang terlihat semakin tembem. Naila menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Riko. Tak lama kemudian dia pun terlelap.
Riko yang masih terjaga memandang wajah cantik istrinya. Dia merasakan gelisah dan penasaran dengan temannya Naila yang bernama Eva. Naila tak mungkin memberikan nomer ponselnya pada temannya tanpa ijinnya. Apalagi selama ini Naila juga tak pernah bertemu dengan Eva.
"Kalau bukan Daffa, pasti Bisma diam-diam sudah mempunyai nomer ponsel Naila." Riko berkata pada dirinya sendiri. Dia akan waspada pada teman-teman istrinya, terutama Eva. Riko yakin, Eva bukanlah wanita yang baik. Keramahannya pada Naila, hanya sandiwara, begitu yang ada di pikirannya.
***
"Kak, aku berangkat kerja dulu, ya. Kakak di rumah saja sampai sembuh benar kakinya. Nanti kalau ada perlu apa-apa, minta tolong saja sama Bi Marni atau Pak Supri. Hari ini aku ke kantor sendiri." Riko berkata pada Rony setelah mereka berdua selesai sarapan.
"Terima kasih, Riko. Kalau nanti malam sudah sembuh, aku pulang saja, insyaa Allah besok aku masuk kerja. Sekarang kakiku juga sudah nggak nyeri lagi. Oh, ya, kenapa Naila nggak ikut sarapan?" tanya Rony yang tak melihat Naila dari subuh tadi.
__ADS_1
"Dia sedang hamil, kalau masuk dapur atau ruang makan langsung mual. Makanya sekarang dia suka di kamar, makan juga di kamar," jawab Riko.
" Wah ... selamat, ya. Sebentar lagi aku dipanggil Uncle," sahut Rony dengan gembira.
"Dan aku dipanggil Daddy. Membayangkannya saja sudah bahagia rasanya."
"Aku juga ikut bahagia, Riko." Rony mendekati adiknya dan memeluknya.
"Terima kasih. Hari ini Kak Rony istirahat saja. Besok biar diantar Pak Supri, aku juga sudah kangen sama motor sportku," kata Riko pada kakaknya setelah melepas pelukan mereka.
"Terserah kamu saja. Kalau aku menolak, kamu pasti nggak setuju. Kamu sekarang juga nggak mau dibantah," sahut Rony dan Riko pun tertawa.
"Jangan begitu, Kak. Aku sayang sama Kakak. Kak Rony adalah saudaraku satu-satunya. Aku tak ingin terjadi apa-apa sama Kakak." Riko berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih, ya, Riko. Kamu sudah menyayangi Kakakmu yang brengsek ini." Rony tak menyangka adiknya sangat sayang padanya.
"Sudahlah, Kak. Kakak hanya sedang salah jalan waktu itu. Alhamdulillah sekarang Kak Rony sudah berubah dan aku sangat bahagia. Eh, by the way ... tadi malam apa yang terjadi? Aku tak percaya kalau Kakak jatuh. Kakak ini 'kan dulu Valentino Rossi-nya Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?" tanya Riko penasaran.
"Hemm ... sebenarnya ... sebenarnya aku dipukul Yakub waktu masih duduk di atas motor." Akhirnya Rony berterus terang.
"Aku sudah hampir dua bulan ini belajar mengaji sama Pak Hasyim. Soal Yakub ... dia ingin aku tak melanjutkan lagi belajar mengaji di mushola dan tak boleh menginjakkan kaki di kampungnya." Rony pun menjelaskan semua tentang Hasyim dan juga ancaman Yakub.
"Astaghfirullah ... apa dia masih dendam sama kamu, Kak?" Riko heran dengan kelakuan Yakub yang dinilainya terlalu kekanakan.
"Sepertinya begitu ...."
"Ya, sudah ... jangan lagi berurusan dengannya. Kak Rony 'kan bisa belajar mengaji di tempat lain, yang lebih dekat dengan rumah," ucap Riko.
"Aku sudah nyaman dengan Pak Hasyim, beliau sangat sabar dan santun. Aku juga ingin menyelidiki anaknya Tasya. Aku sudah janji hari Sabtu nanti dengan Sarah, dia akan mengantarku ke rumahnya Tasya." Rony menolak saran adiknya karena dia tak mau menyerah begitu saja.
"Siapa Sarah?" tanya Riko yang semakin penasaran dengan cerita kakaknya.
"Dia ... dia adiknya Yakub," jawab Rony yang tak mungkin berbohong tentang siapa Sarah sebenarnya.
__ADS_1
"Ya Allah, Kakak ini kok cari masalah, sih. Kenapa harus sama Sarah? Kalau Yakub tahu, pasti Kakak sudah babak belur dihajar sama dia." Riko heran dengan kakaknya yang masih saja berurusan dengan Yakub.
"Hanya Sarah yang bisa membantuku, Riko," sahut Rony.
"Kak Rony 'kan bisa menyuruh orang buat menyelidiki anaknya Tasya. Kak Rony bisa minta bantuan Wawan, dia masih setia sama kita," saran Riko.
"Aku tak ingin merepotkanmu, Riko. Kamu tahu sendiri kalau uangku tak mungkin cukup buat membayarnya," balas Rony.
"Astagfirullah ... Kak Rony anggap aku ini siapa? Perusahaan papa juga perusahaan Kak Rony. Sekarang perusahaan kita sudah semakin maju, kalau Kakak butuh uang bilang saja." Riko geram pada kakaknya yang tak pernah mau lagi minta bantuan padanya.
"Terima kasih tapi itu adalah perusahaanmu, Riko. Kamu yang selama ini berjuang sendirian. Aku yang telah merusaknya dan aku tak berhak sama sekali atas perusahaan itu." Rony sangat malu dengan perbuatannya dulu.
"Sudahlah, Kakak juga susah diajak bicara. Diajak gabung bekerja di perusahaan kita, Kakak juga nggak pernah mau. Hemm ... jangan-jangan ... Kakak naksir sama adiknya Yakub itu, ya?"
"Sok tahu kamu!" Rony pun tersipu.
"Wajah Kakak merah lho, aku pasti nggak salah. Yakub itu 'kan tampan, pasti adiknya juga cantik." Riko tertawa dan menggoda kakaknya.
"Berangkat sana, nanti terlambat! Jadi bos jangan sampai memberi contoh buruk pada karyawannya."
"Alasan aja Kakak ini. Sudah mengaku saja, sudah ketahuan juga Semangat, ya, Kak. Semoga perjuanganmu nggak sia-sia. Aku akan mendukungmu selama itu baik dan di jalan yang benar."
"Aamiin ...."
"Aku berangkat dulu, ya, Kak. Assalamu'alaikum ...."
Setelah Rony membalas salamnya, Riko berjalan ke kamar dan pamit pada Naila. Dia berangkat kerja sendiri dan menyuruh Supri di rumah saja menemani kakaknya.
Rony duduk dan mengobrol dengan Bi Marni yang sedang membereskan meja makan. Tak lama kemudian Rony beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Saat melewati kamar Naila, tak sengaja Rony mendengar suara adik iparnya yang keras dan terdengar kesal.
"Aku nggak bisa maksa suamiku untuk mengijinkanku. Aku juga nggak mungkin datang sendiri. Tolong kamu mengerti! Kenapa kamu memaksa, sih? Sebenarnya ada acara apa sampai kamu memaksaku untuk datang sendiri?"
Rony heran, tak biasanya Naila bicara keras seperti itu. Dia pun bergumam sendiri di depan pintu kamar Naila.
__ADS_1
"Suara Naila terdengar sangat kesal, pasti ada yang sudah membuatnya marah. Aku harus bicara pada Riko. Kasihan Naila, apalagi dia sedang hamil muda. Aku tak ingin terjadi sesuatu padanya."