
"Apa kalian berdua sudah bikin janji untuk bertemu tanpa sepengetahuanku, Naila?" Riko langsung memberikan pertanyaan pada Naila yang berdiri menyambutnya di ruang tamu.
"Apa maksudmu, Mas?" Naila tak terima dengan tuduhan Riko padanya.
"Jangan pura-pura, aku baru saja melihatmu bicara dengan temanmu yang sok ganteng itu!" teriak Riko yang sudah dikuasai emosi karena cemburu.
"Astaghfirullah, aku nggak sengaja bertemu dengannya, Mas," jawab Naila yang tak mengira suaminya bisa semarah itu.
"Kenapa selalu tak sengaja? Padahal jarak rumah dan restorannya jauh dari perumahan tempat tinggal kita." Riko semakin tak bisa mengendalikan emosinya. Api cemburu telah menutup mata hatinya.
"Aku nggak tahu, Mas. Aku hanya berniat membeli es teler dan sewaktu mau pulang dia sudah di situ, aku sama sekali tak ada niat ketemuan sama dia." Naila berusaha menjelaskan dengan sabar, tak ingin memperkeruh suasana.
"Aku 'kan sudah bilang, kalau ingin sesuatu, bilang saja ke Pak Supri! Kenapa kamu malah berangkat sendiri, Naila?" Riko tak mau mendengar penjelasan Naila.
"Aku hanya ingin membeli es sendiri, Mas. Apa aku tak boleh keluar rumah sendiri walaupun sebentar saja?"
Naila bertanya pada Riko dengan mata yang sudah berembun. Dia lalu meletakkan kantong plastik yang dibawanya begitu saja di meja. Meneruskan perdebatan dengan sang suami hanyalah sia-sia. Naila meninggalkan Riko yang masih berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya. Moodnya sudah hilang melihat Riko marah.
"Astaghfirullah ...."
Riko hanya bisa beristighfar menyadari kesalahannya. Apalagi dia sampai menuduh Naila dan lupa kalau saat ini istrinya sedang berbadan dua. Riko segera mengambil kantong plastik yang ada di meja dan membawanya ke dapur. Disiapkannya satu porsi ke dalam mangkuk khusus untuk Naila. Bi Marni hanya diam memperhatikan dan tak berani bicara apalagi membantu tuannya.
Membuka pintu kamar, terlihat Naila sedang berbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Terdengar suara isak tangis yang membuat Riko semakin merasa bersalah. Didekatinya Naila dan menyibakkan selimut yang menutupi dirinya. Diciuminya wajah istrinya yang penuh dengan air mata.
"Sayang, maafkan aku, ya. Sungguh aku menyesal telah menuduhmu, maafkan aku, Naila."
Naila tak menghiraukan permintaan maaf suaminya. Tangisnya semakin kencang karena hatinya benar-benar terluka. Riko semakin bingung dan semakin mengeratkan pelukannya. Tak henti-hentinya kata maaf keluar dari bibirnya.
Setelah tangisnya reda, Naila pun memandang wajah laki-laki tampan yang masih memeluknya. Dia segera melepaskan pelukan dan duduk menjauh dari suaminya.
"Mas, kenapa kamu pulang lagi? Ada berkas yang ketinggalan?" Meskipun marah, Naila masih mengingatkan. Tak biasanya Riko kembali pulang setelah ijin berangkat kerja.
"Astaghfirullah ... aku sampai lupa kalau ada berkas yang harus aku ambil untuk meeting jam satu. Aku akan telepon Pak Adam dulu biar ditunda meetingnya."
__ADS_1
Riko segera berdiri dan berjalan mengambil ponsel yang masih ada di mobilnya. Karena emosi saat melihat Naila bersama Bisma, pikirannya sudah tak jernih lagi. Bahkan meeting yang seharusnya dilakukan dua puluh menit lagi, terpaksa harus ditunda. Setelah menghubungi asistennya, dia kembali ke dalam kamar menemui Naila.
"Sayang, aku suapi, ya. Es telernya keburu nggak dingin," bujuk Riko.
"Taruh saja di kulkas, aku sudah nggak mood." Naila berkata tanpa memandang wajah Riko. Dia merasa kecewa dan marah dengan suaminya.
"Ayolah, Sayang, aku suapi dulu, baru aku berangkat ke kantor lagi." Riko berusaha membujuk Naila, hatinya tak tenang, apalagi kali ini Naila sama sekali tak mau memandangnya.
"Kamu berangkat saja ke kantor sekarang, aku mau tidur," balas Naila sambil merebahkan tubuhnya.
Naila pun kembali menutupi tubuhnya dengan selimut dan memejamkan mata. Riko hanya bisa menyesali perbuatannya dan tak berani memaksa. Setelah memasukkan es teler di kulkas, Riko menghampiri Bi Marni.
"Bi, nanti tolong kalau Naila bangun jangan lupa diingatkan biar makan dulu, ya. Sepertinya dia marah sama saya, Bi. Tolong bujuk dia biar mau makan atau minum es teler yang sudah dibelinya."
"Maafkan saya, Den. Tadi saya sudah berusaha mencegah Mbak Naila tapi tetap saja berangkat sendiri," ucap Bi Marni yang merasa bersalah.
"Iya, Bibi nggak salah, saya yang keterlaluan. Ya, sudah, saya mau berangkat ke kantor lagi, ya, Bi. Tolong ingatkan dia untuk makan dan minum vitaminnya, Naila lagi hamil, Bi."
"Terima kasih, Bi. Saya berangkat dulu."
Setelah mengambil berkas di ruang kerja, Riko kembali ke kamar menemui Naila. Seandainya tak ada meeting penting, ingin rasanya dia di rumah saja. Didekatinya Naila yang sudah tertidur pulas, dirinya kembali mengucap kata maaf. Riko mengecup kening Naila kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah.
***
"Mbak, makan dulu terus minum vitaminnya, biar dede bayinya sehat." Bi Marni terpaksa masuk ke kamar Naila, karena majikan wanitanya tak keluar kamar sama sekali, padahal hari sudah menjelang senja.
"Aku lagi males makan, aku pengen tiduran aja. Nanti minta tolong Pak Supri beli buah jeruk sama mangga ya, Bi. Uangnya sudah aku siapkan di atas nakas," sahut Naila dengan posisi tubuhnya yang masih tak berubah. Setelah mandi dan sholat ashar, Naila tetap tiduran di atas ranjangnya.
"Baik, Mbak, saya permisi dulu kalau begitu. Setelah sholat maghrib, Pak Supri biar saya suruh ke toko buah," balas Bi Marni yang sudah sangat mengerti keadaan wanita yang sedang hamil muda.
"Iya, Bi, terima kasih. Tolong aku nanti nggak usah dibangunin, ya, Bi. Kalau Mas Riko pulang, suruh makan sendiri aja. Dia tadi kirim pesan kalau sampai rumah jam sembilan malam. Tolong Bibi temenin dulu, ya. Aku lagi males keluar kamar, pengen rebahan aja," pinta Naila pada Bi Marni.
"Baik, Mbak."
__ADS_1
Bi Marni pun berlalu dari kamar Naila dan mengerjakan apa yang diperintahkan Naila padanya tanpa banyak bicara. Dia tahu, majikan wanitanya sedang tak enak hati.
***
"Bi, Naila sudah makan?" Riko yang baru pulang kerja, langsung bertanya pada Bi Marni yang membukakan pintu untuknya.
"Belum, Den. Tadi Mbak Naila pesan kalau Den Riko makan saja dulu, Mbak Naila lagi nggak mau makan nasi. Dari tadi juga nggak mau keluar kamar. Hanya minta dibelikan buah jeruk dan mangga tadi, Den."
"Ya, sudah, kalau begitu, Bi. Aku tadi juga sudah makan malam di kantor bareng teman, aku langsung ke kamar saja, Bi."
Riko berjalan menuju kamar tidurnya dan membuka pintu yang tidak tertutup rapat. Dilihatnya Naila yang masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Setelah membersihkan diri, Riko mendekati Naila. Dia berusaha membangunkan istrinya dengan memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya.
"Sayang, masih marah, ya?" tanya Riko sambil menciumi wajah istrinya.
"Hemm .... "
"Jangan marah terus dong, aku kangen, nih."
"Males .... "
"Maafin aku, ya, Sayang. Aku janji nggak akan marah lagi."
"Bohong .... "
"Benaran, aku janji. Bagaimana caranya biar kamu nggak marah lagi sama suamimu ini? Apa yang harus aku lakukan?" Riko terus membujuk Naila agar mau memaafkan kesalahannya.
Mendengar ucapan Riko, Naila segera duduk menghadap ke arah suaminya. Dengan wajah yang masih sembab karena seharian menangis, Naila pun meminta sesuatu pada laki-laki yang tersenyum memandangnya.
"Aku cuma ingin ... tolong perlihatkan undangan pernikahannya Eva waktu itu!" pinta Naila.
"Eh ... itu ... aku ... aku lupa menyimpannya di mana." Riko bingung karena dia sendiri lupa, di mana terakhir kali meletakkan undangan itu.
"Cari sampai ketemu atau aku nggak akan mau maafin kamu, Mas!"
__ADS_1