
"Hai, Vella? Apa kabar?"
Rony menyapa mantan istrinya yang hendak pergi dan sudah pamit terlebih dahulu pada Clara. Setelah kedatangan Rony beserta Riko dan Naila, Vella berniat segera meninggalkan pesta. Namun, Rony terlebih dahulu melihatnya dan sekarang berdiri di dekatnya.
Jantung Vella berdegup kencang mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dengan terpaksa, dia pun membalikkan badan lalu tersenyum memandang wajah laki-laki tampan yang dulu dicampakkannya.
"Hai, Rony. Kabarku baik, seperti yang kamu lihat sekarang," jawab Vella mencoba menetralkan debaran hati yang dirasakannya saat ini.
"Rencananya berapa hari di Indonesia?" tanya Rony yang membuat Vella kebingungan mencari jawaban.
"Eh ... satu ... satu minggu ... ya, satu minggu!"
"Enak juga bisa libur selama itu. Pasti kamu betah di sana. Saranku, jangan terlalu sibuk mengejar dunia, jaga kesehatanmu juga. Lihatlah dirimu! Badanmu sekarang lebih kurus dan kantung matamu mulai terlihat. Pasti kamu bekerja terlalu keras dan sering tidur malam."
"Te ... terima kasih atas perhatiannya, Rony. Sikapmu tak pernah berubah padaku padahal aku sudah jahat sama kamu. Maafkan aku ...." Vella berkata dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya dia ingin menghamburkan diri ke pelukan laki-laki di hadapannya. Rasa haru membuatnya ingin menangis.
"Heii ... jangan begitu, kita 'kan teman. Meskipun kita sudah bercerai, bukan berarti kita harus bermusuhan. Sudahlah, lupakan semuanya. Aku sekarang sangat menikmati hidupku dan aku harap kamu juga sama sepertiku." Rony tersenyum dan mengusap dengan lembut lengan mantan istrinya.
"Terima kasih, Rony. Maaf, aku harus pergi. Ada urusan yang harus aku selesaikan sebelum aku kembali bekerja. Semoga kamu selalu bahagia."
"Do'a yang sama untukmu. Kalau kamu butuh bantuan, hubungi saja aku. Alamat rumah dan nomer ponselku masih sama."
Vella hanya menganggukkan kepala, kemudian dia segera meninggalkan Rony. Dia mempercepat langkahnya menuju taman yang ada di belakang gedung tempat diselenggarakannya pesta.
Setelah duduk di kursi yang ada di tengah taman, dia pun menumpahkan air mata. Rasa sesal dan nelangsa bercampur menjadi satu. Penyesalan yang selalu datang di akhir cerita, sekarang dialaminya. Bahkan saat ini Vella sangat ingin menangis di dalam dekapan sang mantan yang mulai dirindukan.
Vella yang jelita, nasibnya tak secantik wajahnya. Banyak laki-laki yang mendekatinya bukan karena cinta, tetapi hanya karena nafsu belaka. Dia pun menyadari, Rony sangat berbeda dari semua laki-laki yang selama ini dikenalnya.
Vella hanya bisa menertawakan diri sendiri. Dia sempat berharap Rony mengajaknya rujuk kembali. Namun, harapannya musnah, karena teringat ucapan sang mantan kalau saat ini dia sangat menikmati hidupnya. Menikmati hidup sendiri tanpa dirinya.
Setelah puas menangis, Vella pun segera beranjak pergi. Meninggalkan gedung tempat pesta pernikahan sahabatnya dengan membawa rasa sedih. Dia harus berjuang sendiri lagi, mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk menghidupi diri sendiri.
__ADS_1
***
Sementara di sudut ruangan tempat berlangsungnya pesta, Naila menyambut teman-temannya dengan rasa was-was. Dia pun membiarkan mereka bertiga duduk bersamanya. Ingin menolak tapi tak mungkin dan dia pun butuh teman untuk menghilangkan kejenuhan.
"Hai, Naila ... apa kabar?" tanya Bisma.
"Gimana kabarmu, Naila?" Daffa pun ikut bertanya pada wanita yang pernah mengisi hatinya.
"Alhamdulillah, aku baik. Kalian kok bisa ada di sini?" tanya Naila heran.
"Dunia memang sempit, ya? Revan itu teman bisnis kami dan kami bertiga ada kontrak kerja sama dengannya. Kamu nggak nyangka 'kan bisa bertemu dengan kami di sini?" Bisma memberi penjelasan pada Naila.
"Iya, aku nggak nyangka bertemu kalian di sini," sahut Naila.
"Kamu kok bengong aja, sih, Reza. Tanya apa kek, malah ngelihatin Naila. Sadar, Bro. Dia udah ada yang punya!" Daffa menepuk pundak Reza yang semenjak tadi memandang Naila tanpa berkedip.
"Eh ... maaf, Naila. Bukannya bermaksud kurang ajar tapi aku masih nggak percaya kalau ini kamu. Sayang sudah punya suami, kalau belum ... aku mau ngajak kamu nikah sekarang juga," ucap Reza yang membuat Daffa melotot ke arahnya.
"Ha ha ha ... terus mana suamimu? Punya istri cantik kok ditinggal sendirian. Nggak takut kalau istrinya diambil orang?" balas Reza.
"Aku nggak sendirian, kok. Aku sama Bi Marni, dia lagi ngambil makanan. Tuh, orangnya udah datang." Naila menjawab pertanyaan Reza dengan tegas seraya menunjuk ke arah Marni yang berjalan ke arah mereka.
"Maaf, Mbak kalau lama." Marni terkejut dengan kehadiran ketiga orang laki-laki di tempat duduk Naila. Setelah meletakkan makanan yang dibawanya, dia pun segera beranjak pergi.
"Nggak, kok, Bi."
"Bentar, Mbak. Saya mau ke sana lagi ambil minuman." Marni mencari alasan, padahal tujuannya adalah mencari tuannya. Dia tak ingin disalahkan kalau Riko melihat Naila bersama teman laki-lakinya.
"Iya, Bi. Maaf merepotkan. Bi Marni jadi mondar-mandir sendirian." Tanpa rasa curiga, Naila pun mengijinkan Marni pergi.
"Nggak apa-apa, Mbak. Apa ada yang mau diambilkan lagi?"
__ADS_1
"Nggak usah, Bi. Ini aja udah cukup."
"Saya tinggal bentar, ya, Mbak. Mas-masnya jangan nakal, ya. Jangan godain Mbak Naila," ucap Marni pada teman-teman Naila.
"Siaapp ...."
Naila tersenyum mendengar jawaban mereka yang kompak. Rasa jenuh yang sempat datang akhirnya perlahan hilang karena kehadiran teman-temannya. Walaupun dalam hati, ada rasa takut karena suaminya pasti tak suka dengan kehadiran mereka.
Bisma, Daffa, dan Reza, adalah pengusaha muda yang tampan. Apalagi saat ini mereka bertiga memakai kemeja batik lengan panjang yang pas menutup badan atletis mereka. Membuat wanita yang memandang pasti akan terpesona. Tanpa mereka sadari, beberapa tamu undangan mengabadikan keberadaan mereka berempat dengan kamera ponselnya.
"Kalian nggak makan?" tanya Naila pada teman-temannya.
"Sudah dari tadi," jawab Reza sambil tersenyum. Matanya masih tak mau lepas memandang wajah Naila.
"Iya, kami sudah datang dari jam sepuluh tadi. Sekarang sudah jam sebelas lebih." Bisma pun turut menjawab pertanyaan Naila.
"Iya, sebenarnya kita tadi sudah mau langsung pulang, terus Bisma ngajak mencarimu karena dia melihatmu saat datang dan menjadi pusat perhatian." Daffa berkata sejujurnya pada Naila.
"Apa kamu nggak keberatan kalau kali ini kami temani? Kasihan kalau kamu sendirian. Kami akan tunggu sampai suamimu datang." Daffa melanjutkan ucapannya.
"Terserah kalian saja. Seandainya aku usir juga ini bukan rumahku." Naila membalas ucapan Daffa seraya menghabiskan puding dan buah yang ada di depannya.
"Hemm ... masih jutek aja kalau sama laki-laki, ha ha ha ...." kata Reza sambil tertawa.
"Naila memang tak pernah berubah, yang berubah hanya wajahnya," sahut Bisma.
"Iya ... tapi malah bikin orang tergila-gila." Reza semakin berani menggoda Naila. Namun, Naila berusaha tak mempedulikan ucapan teman-temannya.
"Naila, boleh minta nomer ponselmu?"
Naila hanya diam, tak menjawab pertanyaan Reza. Saat ini pandangannya hanya tertuju pada kedua orang yang berjalan mendekat. Rasa takut membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.
__ADS_1
"Hemm ... maaf kalau saya mengganggu. Sayang, kita pulang sekarang!"