
"Maaf, Sayang, aku terlambat datang. Ada masalah di kantor tadi dan terpaksa aku harus mengurusnya terlebih dahulu. Sekali lagi, maafkan aku, ya." Riko mendekati istrinya dan meminta maaf. Dia baru datang setelah waktu menunjukkan pukul dua siang.
"Iya ...." Naila hanya menjawabnya dengan singkat. Seandainya marah pun juga takada gunanya.
"Tadi Hanna sudah kirim pesan padaku, katanya sore ini sudah boleh pulang. Apa kamu sudah tak pusing lagi?" tanya Riko sambil mengelus kepala Naila yang tertutup jilbab.
"Aku akan semakin pusing kalau kelamaan di sini. Apalagi sendirian, nggak ada teman. Sekarang pun aku sudah siap, semua sudah aku rapikan, jadi kita bisa langsung pulang." Naila menunjuk ke arah tas yang ada di sofa.
"Maafkan aku, Sayang. Besok aku janji akan menemanimu seharian." Riko tahu Naila kecewa.
"Semoga saja ...." Naila tak terlalu berharap karena dia mengerti Riko benar-benar sibuk akhir-akhir ini.
"Kita tunggu Hanna sebentar lagi. Jam tiga dia akan memeriksa keadaanmu dulu. Setelah itu, baru kita pulang."
"Baiklah, kurang satu jam lagi. Aku duduk di sofa saja. Aku sudah capek dari tadi tiduran terus."
Naila segera beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di sofa yang ada di dekat pintu. Riko duduk di samping istrinya.
"Mas, tadi orang yang menolongku datang ke sini dan menemaniku. Aku menyuruh mereka datang ke rumah biar bisa bertemu denganmu. Apakah kamu nggak ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih pada mereka?"
"Iya, Sayang. Aku benar-benar minta maaf padamu. Suruh saja mereka datang di hari Minggu."
"Insyaa Allah mereka akan datang. Tolong, luangkan waktu liburmu sebentar saja."
"Insyaa Allah ... satu minggu ini aku ada waktu. Aku akan pulang sore dan menemani istriku. Tapi mulai minggu depan, maaf, aku mungkin akan sering ke luar kota. Tender di Jakarta dan Pekanbaru, perusahaan kita yang memenangkannya."
Naila hanya tersenyum. Dalam hatinya, ada rasa senang tapi juga sedih. Sebentar lagi suaminya pasti akan jarang di rumah. Saat ini perusahaan yang dipimpin Riko semakin maju.
"Boleh aku ikut?" tanya Naila.
"Jangan sekarang, Sayang. Kamu masih masa pemulihan setelah keguguran. Suatu saat nanti aku pasti akan mengajakmu. Untuk sekarang ini, aku takingin kamu lelah."
Naila mengangguk dan membenarkan ucapan suaminya. Dia pun tak lagi bisa membantah.
"Mas, kalau kamu sibuk, boleh nggak aku suatu saat jalan berdua dengan Kak Sarah. Mungkin aku akan mengajaknya ke salon atau ke mall. Dia sangat baik dan ramah. Aku merasa sangat cocok dengannya."
"Sarah?"
"Dia salah satu orang yang sudah menolongku. Aku sudah berhutang budi padanya."
"Iya, Sayang. Mulai sekarang, hibur hatimu dengan caramu sendiri. Aku akan membebaskanmu pergi ke mana pun kamu mau. Tapi, harus didampingi Pak Supri."
"Apa Pak Supri nggak ikut ke luar kota?"
__ADS_1
"Aku sudah merekrut karyawan baru di kantor. Dia yang akan mengantar ke mana pun aku pergi."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Pasti laki-laki dong, Sayang. Kamu tahu sendiri 'kan, sekretarisku saja laki-laki, masak supirku seorang perempuan?"
"Ya ... siapa tahu saja, kamu cari yang bisa buat teman kencan di sana."
"Astaghfirullah ... aku takmungkin seperti itu, Naila. Apa kamu sudah takpercaya lagi pada suamimu?"
"Aku hanya khawatir, apalagi kamu mulai jarang di rumah."
Riko memeluk Naila, mencium keningnya dengan penuh rasa cinta. Dia tahu, Naila pasti merasa kesepian.
"Tolong jangan berpikiran macam-macam, ya. Aku berjanji akan selalu setia pada istriku yang cantik dan shalihah ini."
Naila tersenyum dengan pipi yang merona. Dia pun semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Riko. Dia sangat yakin dengan kesetiaan suaminya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Riko pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu untuk Hanna dan asistennya.
"Bagaimana, Naila? Sudah takada keluhan lagi?" tanya Hanna dengan senyumnya yang mempesona.
"Nggak ada, aku merasa sehat, Dokter."
"Baiklah, biar diperiksa dulu tensi darah dan suhu tubuhmu."
Sementara Naila diperiksa oleh seorang perawat yang menjadi asisten dokter cantik itu, Riko mengajak bicara Hanna dan menanyakan tentang keadaan Naila. Hanna pun menjelaskan apa yang ditanyakan Riko padanya. Dia juga memberikan nasihat agar sahabatnya itu selalu memperhatikan istrinya walaupun sibuk bekerja.
"Terima kasih nasihatnya, Hanna. Aku akan berusaha tetap memperhatikan istriku."
"Kamu 'kan bisa meminta bantuan Kak Rony, daripada dia bekerja di tempat lain," saran Hanna.
"Berulang kali aku sudah memintanya untuk bergabung di perusahaan kami tapi dia selalu menolak." Riko pun menjelaskan pada Hanna.
"Coba dibujuk lagi, semoga suatu saat dia mau. Yang penting untuk saat ini, jaga dan perhatikan istrimu. Tetaplah setia dan jangan macam-macam. Pengusaha sekarang kalau sudah sukses sering lupa daratan."
"Insyaa Allah aku setia pada istriku. Aku sudah insyaf, Hanna. Insyaa Allah aku bukan lagi Riko yang dulu. Aku sudah menemukan berlian dan akan aku jaga hatiku hanya untuknya."
Naila tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya. Dia sangat bersyukur bisa menjadi istri seorang laki-laki yang bernama Riko. Tampan, mapan, shalih dan setia. Hanya saja, sifat posesif suaminya yang Naila taksuka. Itulah manusia, takada yang sempurna.
***
Akhirnya Naila pun senang bisa pulang ke rumah. Setelah masuk kamar dan membersihkan diri, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang favoritnya.
"Aku sangat rindu kamar ini ...."
__ADS_1
Naila sangat bahagia berada di kamarnya. Riko hanya tersenyum melihat tingkah Naila. Seandainya takingat dengan perutnya yang masih terasa nyeri, mungkin dia sudah bergulingan di atas ranjangnya.
"Seperti sudah beberapa tahun rasanya aku nggak tidur di kamar ini. Padahal baru dua hari di rumah sakit," kata Naila sambil tersenyum. Dia pun merasa heran dengan sikapnya kali ini.
"Wajar saja karena kamu beberapa bulan ini selalu mengurung diri di kamar," sahut Riko dan berjalan mendekati istrinya.
"Ya ... dan aku harus kehilangan lagi karena kecerobohanku," balas Naila dengan nada sedih.
"Sayang ... semua sudah takdir. Allah sudah menggariskan semuanya. Jangan sedih, insyaa Allah beberapa bulan lagi, kamu pasti akan hamil lagi."
"Aku berjanji, jika aku hamil lagi, aku tak akan pergi ke mana-mana. Bila perlu, dokter Hanna suruh ke rumah untuk memeriksa kandunganku. Aku akan selalu menjaganya dengan baik."
Riko mencium kedua pipi Naila. Dia hanya diam tak berniat membalas ucapan istrinya. Riko takingin mereka larut dalam kesedihan karena kehilangan buah hati untuk yang kedua kalinya.
"Istirahatlah, jangan lupa minum obat. Apa mau makan dulu? Biar aku ambilkan. Atau ingin dimasakkan sesuatu? Nanti biar aku bilang ke Bi Marni."
"Nanti saja sekalian makan malam. Aku akan makan apapun yang Bi Marni masak. Aku ingin tidur sebentar saja. Dari tadi aku nggak bisa tidur karena menunggumu."
"Maafkan aku, Sayang." Riko kembali merasa bersalah.
"Mas, apakah benar yang kamu ucapkan pada dokter Hanna tadi? Kamu akan selalu menjaga hatimu untukku?" Naila ingin memastikan apa yang dia dengar.
"Tentu saja, Sayang. Aku berjanji akan selalu setia padamu," jawab Riko sambil mengecup lembut jemari Naila.
"Terima kasih, ya, Mas." Naila tersipu dan bahagia mendengarnya.
"Aku yang berterima kasih padamu. Kamu yang sudah membuatku berubah, bahkan kakakku yang dulu brengsek pun sekarang menjadi shalih."
"Semua bukan karena aku, semua karena Allah, Mas. Allah yang membukakan pintu hati Kak Rony dan memberikan hidayah padanya. Oh, ya, Mas, aku tiba-tiba ingin menjodohkan Kak Rony dengan Kak Sarah. Kamu harus bertemu dengannya lebih dulu, jadi kamu bisa memberi pendapat, setuju atau tidak dengan ideku." Naila mengutarakan niatnya pada Riko.
Semenjak mengenal Sarah, Naila tiba-tiba ingin menjodohkannya dengan Rony. Naila sangat suka dengan sifat Sarah yang apa adanya, sopan dan ramah. Apalagi Sarah juga bercerita setiap habis maghrib dia mengajar mengaji di musholla. Saat pagi hari, Sarah membantu kakaknya di bengkel peninggalan ayahnya.
"Sarah, ya? Aku kok pernah mendengar nama itu disebut Kak Rony. Apa dia orang yang sama?" Riko akhirnya mengingat nama yang sering disebut kakaknya.
"Nama Sarah 'kan banyak, Mas. Mungkin saja mereka orang yang berbeda. Kak Sarah yang aku kenal ini seorang janda. Dia sangat manis, ramah, dan shalihah." Riko pun membenarkan ucapan Naila, banyak wanita yang bernama Sarah.
"Kamu 'kan baru mengenalnya, Naila. Belum tahu sifat yang sebenarnya." Riko mengingatkan Naila agar tak mudah percaya pada orang yang dikenalnya.
Riko takut Naila tertipu lagi. Bahkan orang yang diperintahnya belum berhasil mendapatkan bukti keterlibatan Eva atas kejadian yang menimpa Naila.
"Iya juga, sih. Tapi aku merasa sudah sangat dekat dengannya, seperti sudah kenal lama."
"Kita lihat saja nanti, ya. Aku jadi penasaran, ingin bertemu dengannya. Semoga bukan Sarah yang sama dengan yang diceritakan Kak Rony." Riko berharap Sarah yang dimaksud Naila adalah Sarah yang berbeda. Dia takingin berurusan dengan Yakub yang sangat membenci kakaknya.
__ADS_1
"Seandainya mereka orang yang sama, memangnya kenapa, Mas?"
Riko diam dan berpikir, jawaban apa yang harus diberikan pada Naila. Dia ingin memastikan dulu kalau Sarah yang dimaksud istrinya bukanlah Sarah--adik dari Yakub Maulana. Dia takingin Naila kecewa.