Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Masalah besar


__ADS_3

"Kak, di luar ada dua orang berbadan tinggi besar mencari Kakak. Sepertinya mereka debt collector, deh. Apa Kakak punya hutang?"


Sarah bertanya pada Yakub yang sedang bersiap pergi bekerja. Pagi ini mereka kedatangan dua orang tamu tak diundang.


"Hutang apa? Kamu tahu sendiri, kalau aku nggak pernah hutang di bank. Aku kemarin terpaksa menjaminkan sertifikat rumah kita 'kan juga karena dipinjami sama Irfan dan pinjamannya juga tanpa bunga." Yakub terkejut dengan ucapan Sarah.


"Ya sudah, temui mereka dulu, Kak. Aku penasaran ada perlu apa mereka."


Sarah dan Yakub menemui dua orang yang sedang duduk di ruang tamu. Yakub pun penasaran dengan kedatangan mereka. Sementara Sarah perasaannya tiba-tiba gelisah.


"Maaf, dengan Saudara Yakub?"


"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya?"


"Kami berdua dari Bank Nusantara. Kami hanya ingin mengingatkan bahwa saat ini pinjaman Saudara sudah jatuh tempo."


"Maaf, pinjaman apa? Saya merasa tidak punya hutang di Bank."


Mereka berdua memberikan amplop berwarna coklat pada Yakub. Setelah membuka dan membacanya, Yakub sangat terkejut. Dia tak bisa berpikir jernih dan bingung, bagaimana bisa pinjaman yang tak sedikit jumlahnya itu tercantum atas namanya?


"Bagaimana bisa? Bahkan saya tidak pernah menandatangani semua dokumen ini!" Yakub berkata tegas karena tak terima dengan apa yang sudah dibacanya.


"Maaf, kalau memang Saudara tidak terima dan menganggap kami penipu, silakan datang langsung ke Bank. Kami hanya memberi peringatan saja bahwa Saudara akan kami beri waktu tiga bulan untuk melunasi pinjaman. Kalau tidak, terpaksa rumah ini kami sita dan akan kami lelang."


"Tiga bulan? Dilelang? Tapi jumlah pinjaman ini besar sekali. Saya nggak mungkin bisa melunasi dalam waktu tiga bulan. Lalu kalau dilelang, apakah saya akan dapat uang penjualannya juga?"


"Nanti jika ada sisa dari hasil penjualan rumah ini setelah dikurangi total pinjaman beserta bunga dan biaya-biayanya, Anda akan kami hubungi. Maaf, hanya itu yang bisa kami sampaikan. Untuk lebih jelasnya, silakan datang langsung ke Bank. Kalau begitu, kami permisi dulu."


Setelah memberi salam, mereka pun keluar rumah. Yakub hanya duduk dan memandang kertas yang masih dipegangnya. Dia tak percaya kejadian yang menimpanya saat ini.


"Astaghfirullah ... apakah Irfan sudah menipuku? Bagaimana dia bisa setega ini padaku?"


Sarah mengerti meskipun Yakub belum menceritakan semuanya. Dia pun duduk di sebelah kakaknya.


"Kak, yang sabar, ya. Kakak jangan panik dulu. Coba Kakak telepon Irfan, barangkali dia bisa menjelaskan semuanya."

__ADS_1


Yakub langsung mengambil ponsel di kamarnya. Berulang kali dia melakukan panggilan pada laki-laki yang sudah dianggap sahabatnya itu, tetapi nomernya tidak aktif. Yakub mengusap kasar wajahnya, hatinya mulai gelisah bercampur marah.


"Aku akan ke rumahnya. Semoga dia tak melarikan diri."


"Aku ikut ...."


"Jangan! Kamu di rumah saja. Ini adalah tanggung jawabku. Aku akan menyelesaikannya."


"Baiklah ... tapi tolong tenangkan dirimu. Jangan ngebut, ya, Kak."


Yakub berlalu dan melangkah pergi membelah jalanan dengan motor sportnya. Sarah hanya bisa berdo'a dan berharap semoga semuanya baik-baik saja.


***


Sarah menunggu kakaknya di depan rumah dengan gelisah. Sudah hampir jam delapan malam tapi Yakub belum pulang juga. Hanya dzikir dan do'a yang tak lepas dari bibirnya. Berharap kakaknya baik-baik saja.


Sampai waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, akhirnya terdengar suara motor sport yang berhenti tepat di depan rumah. Sarah yang sedang mengaji di dalam kamar, segera berjalan ke depan menemui kakaknya.


Yakub memberi salam lalu masuk ke rumah dengan wajah yang lesu dan tak bersemangat. Sarah yang memahami situasi, segera ke belakang membuatkan teh hangat untuk kakaknya. Terlihat dari ekspresi wajah Yakub saat ini, dia mengerti keadaan mereka sekarang tidak baik-baik saja.


"Sarah ... aku minta maaf ...."


"Istirahatlah, Kak. Besok pagi saja kita bicara. Aku nggak mau Kakak sakit, kita harus kuat menghadapi semuanya, apa pun yang terjadi."


Yakub pun mengangguk dengan lemah. Dia segera menghabiskan teh hangat dan berjalan ke belakang membersihkan badan. Sebelum tidur, tak lupa melaksanakan kewajiban empat rakaatnya terlebih dahulu. Dalam sujudnya dia pun mencurahkan isi hati dan menangis tersedu.


Kecerobohan karena terlalu percaya pada seorang sahabat lama, membuatnya harus kehilangan rumah peninggalan orang tuanya. Yakub merasa tak akan mungkin sanggup mendapatkan uang ratusan juta, untuk melunasi pinjaman dalam waktu tiga bulan.


Setelah lelah menangis dan berdo'a, Yakub mencoba memejamkan mata. Dia pun berusaha memikirkan jalan keluar dari masalah besar yang dihadapi saat ini. Akhirnya, rasa lelah karena seharian berkendara di jalanan, membuatnya terlelap.


***


"Maaf, Sarah. Maafkan Kakakmu yang bodoh ini. Ternyata Irfan sudah lama tidak tinggal di rumahnya yang besar itu. Rumah itu sudah dijual satu tahun yang lalu dan dia tinggal bersama pamannya. Aku kemarin berusaha mencari alamat rumahnya yang sekarang dan ternyata pamannya sudah meninggal dunia dan dia pun tinggal di mana saat ini tidak ada yang tahu. Aku ceroboh, maafkan aku ...."


"Astaghfirullah ... kita hanya bisa menjalani semua ujian ini dengan sabar, Kak. Meskipun kita marah juga percuma, semua sudah terjadi. Sekarang yang harus kita pikirkan, kalau kita nggak bisa membayar pinjaman dan rumah ini disita, kita akan tinggal di mana?"

__ADS_1


"Aku akan mencari kontrakan, Sarah. Maaf, yang pasti aku nggak bisa membayar pinjaman sebesar itu. Aku ada sedikit tabungan, insyaa Allah cukup untuk membayar kontrakan satu tahun. Alhamdulillah, sertifikat bangunan bengkel waktu itu nggak aku serahkan. Paling tidak, kita masih bisa mendapatkan penghasilan tiap harinya."


"Baiklah, aku setuju. Kalau bisa cari saja yang dekat dengan bengkel. Biar aku bisa berjalan kaki kalau ingin pulang, jadi nggak harus menunggumu."


Yakub setuju dengan saran adiknya. Mereka pun segera bersiap ke bengkel untuk bekerja. Bengkel peninggalan orang tuanya memang jaraknya cukup jauh dari rumah, karena ayahnya mencari tempat yang lebih ramai dan lebih strategis untuk usahanya.


***


"Sarah, aku ada info kalau di perumahan depan bengkel itu ada rumah yang disewakan. Harganya nggak terlalu mahal karena yang punya kaya raya dan hanya ingin rumahnya ada yang merawat. Rumahnya kecil tapi kamarnya ada dua. Tapi di blok belakang sendiri, bagaimana menurutmu?"


Hari itu juga, Yakub segera mencari rumah kontrakan yang dekat dengan bengkel. Sarah yang terus menerus memberinya semangat, membuat hatinya lebih tegar. Dia tak ingin terlihat mengenaskan di depan adiknya. Walaupun dalam hati, rasanya ingin berteriak kencang memaki dirinya sendiri.


"Nggak apa-apa, Kak. Alhamdulillah rizqi kita kalau begitu. Kakak kalau oke, aku juga oke," balas Sarah sambil tersenyum.


"Baiklah, aku nanti akan kasih DP dulu biar nggak keduluan orang. Maaf, ya, Sarah. Maafkan Kakakmu yang sudah ceroboh ini."


"Sudahlah, Kak. Yang penting kita sama-sama bersabar menghadapi ujian ini."


"Insyaa Allah ...."


"Kalau Kakak perlu uang, aku juga ada sedikit tabungan."


"Simpan saja untuk keperluanmu. Insyaa Allah uangku cukup kalau untuk membayar sewa rumah satu tahun dulu. Untuk kebutuhan tiap hari, semoga saja usaha bengkel kita lancar."


"Aamiin Ya Rabb ...."


"Sarah, ayo kita pulang. Kita besok mulai packing-packing, ya."


"Kak, bagaimana kalau sebagian barang-barang kita jual saja?Seperti meja dan kursi tamu, lemari besar yang di kamar belakang. Daripada nggak dipakai, lumayan uangnya bisa buat tambahan sewa."


Sarah memberi saran pada Yakub. Perabot peninggalan orang tuanya cukup banyak dan tak terpakai. Rumah mereka sederhana tapi ukurannya luas, apalagi selama ini mereka hanya hidup berdua saja.


"Tapi ... itu semua peninggalan orang tua kita, Sarah. Aku takut kalau kita jual di market place, harganya murah." Yakub kurang setuju dengan saran adiknya. Dia pun semakin merasa bersalah.


"Hemm ... bagaimana kalau kita tawarkan ke Naila?"

__ADS_1


__ADS_2