
Laki-laki yang sudah lama menghilang dari hidupnya dan sekarang kembali dengan tiba-tiba. Vella tersenyum, wajahnya tak lagi terlihat lesu. Dia pun langsung memeluk kekasih lamanya tanpa rasa malu.
"Apa kabar, Farel? Ke mana saja selama ini? Aku menunggumu tapi kamu tak pernah ada kabar lagi. Dan sekarang tiba-tiba muncul di hadapanku? Kamu hutang penjelasan padaku!" Vella berkata pada Farel tanpa melepas pelukannya. Terlihat sekali betapa rindunya Vella pada kekasih lamanya.
"Sabar ... bagaimana kalau kita cari tempat yang nyaman untuk bicara, di sini berisik," saran Farel sambil tersenyum melihat tingkah Vella.
"Baiklah, ayo kita ke kafe sebelah," sahut Vella tak sabar dan melepas pelukannya.
"Bagaimana dengan Clara?" tanya Farel.
"Dari mana kamu tahu aku ke sini dengan Clara?"
"Aku sudah melihat kalian sebelum masuk ke sini tadi. Makanya aku langsung menemuimu," jawab Farel.
"Biar nanti aku kirim pesan saja ke ponselnya. Aku juga sedang bosan di sini," ucap Vella sambil menggandeng tangan Farel.
"Oke, terserah kamu saja," ucap Farel pasrah.
Mereka pun berdua berjalan keluar menuju kafe di samping diskotik. Duduk berhadapan, memesan minuman favorit. Vella memandang wajah laki-laki di depannya, dia tersenyum dengan pipi yang merona. Rasa cintanya masih ada, meskipun dia sudah berstatus sebagai istri Rony Alamsyah Putra.
"Bagaimana ceritanya, ke mana saja kamu selama ini, Farel? Aku selalu menunggumu, aku mengkhawatirkanmu," kata Vella dengan nada cemas.
"Beberapa bulan setelah kecelakaan itu, Riko mencariku. Hampir tiap hari dia datang ke rumahku bahkan dia juga mendatangi rumah teman-temanku. Aku langsung kabur ke luar pulau. Aku tinggal dan bekerja di tempat paman di Kalimantan." Farel bercerita pada Vella yang tak berhenti memandangnya.
"Terus kamu bilang apa pada Riko? Apa kamu mengakuinya?" tanya Vella penasaran.
"Tentu saja tidak. Aku berusaha memberi penjelasan yang masuk akal biar tak jadi tersangka. Beruntung teman-temanku banyak yang mau menjadi saksi palsu," jawab Farel sambil sesekali menyesap kopi hitamnya yang masih panas.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu kabur? Bukankah malah membuat Riko semakin curiga?" Vella tak henti bertanya, hatinya tiba-tiba tak tenang.
"Aku nggak tahu lagi harus bagaimana. Pikiranku kalut saat itu. Yang penting aku harus melarikan diri. Hanya itu yang ada di pikiranku," sahut Farel.
"Kenapa sekarang kamu kembali ke kota ini? Apa kamu tak takut bertemu dengan Riko lagi? Dan kenapa waktu itu kamu tak mengajakku?" tanya Vella yang membuat Farel tersenyum.
"Aku ada urusan pekerjaan penting. Pamanku sedang sakit, jadi aku yang mewakilinya. Aku perhatikan kamu sudah nyaman bersama Rony," jelas Farel.
"Ternyata kamu lebih senang melihat aku bersama orang lain. Kamu tak merasakan apa yang aku rasakan. Setiap hari aku menunggu kabarmu. Setiap hari aku menunggu kamu menjemputku." Mata Vella mengembun, dia merasa kecewa dengan Farel yang meninggalkannya begitu saja.
"Maafkan aku, Vella. Aku pikir kamu akan lebih bahagia hidup bersama Rony, bukan denganku yang tak punya apa-apa," kata Farel memberi alasan.
"Kamu tak pernah mau mengerti perasaanku. Aku memang sudah jadi istri Rony, tapi di hatiku hanya ada namamu. Aku tak bisa mencintai suamiku meskipun aku tahu dia dulu begitu baik padaku," keluh Vella dengan pipi yang sudah basah karena air mata.
Farel memandang iba wanita yang pernah sangat dicintainya. Melihat Vella menangis, Farel sangat yakin perasaan Vella kepadanya masih sama. Namun, semua ini bukan salah dirinya. Semua terjadi karena keputusan Vella.
"Dulu? Apa sekarang Rony sudah tak baik lagi sikapnya?" tanya Farel tak percaya.
"Hemm ... kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Yang aku tahu Rony sangat mencintaimu, dia sangat memujamu. Bahkan dia rela menghabiskan uang perusahaan hanya untuk menuruti semua keinginanmu." Farel tahu betapa cintanya Rony pada Vella.
"Ini semua karena wanita kampung itu. Istri Riko yang membuat suamiku berubah. Kita yang tadinya berniat menghancurkan rumah tangganya, tiba-tiba saja Rony mengurungkan semua rencananya. Riko dan Rony sekarang jadi laki-laki yang alim. Rony tak pernah lagi membelaku seperti dulu, dia lebih memilih membela Naila." Vella bicara dengan geram. Dirinya selalu saja emosi jika menyebut nama Naila.
"Dan kamu cemburu," sahut Farel.
"Jelas aku cemburu. Suamiku membela wanita jelek itu. Bagaimanapun juga aku ini 'kan istrinya, meskipun aku tak cinta," tegas Vella.
"Vella ... Vella ... kamu sama sekali tak pernah berubah," kata Farel yang membuat Vella tersenyum.
__ADS_1
"Aku memang tak akan pernah berubah, begitu juga dengan perasaanku padamu, masih sama," ucap Vella dengan manja.
"Hahaha ... aku tak percaya." Farel pun tertawa mendengar ucapan mantan kekasihnya.
"Aku tak pernah berbohong padamu. Dari dulu kamu tahu 'kan perasaanku. Kamu cinta pertamaku, sampai kapan pun aku tak pernah bisa melupakanmu meskipun aku sudah menikah." Vella pun bicara sejujurnya pada laki-laki di hadapannya.
"Hahaha ... dari dulu bilang cinta, diajak menikah tak pernah mau. Cinta seperti apa?" Farel terlihat mulai kesal.
"Kamu tahu alasanku 'kan?" Vella pun kembali bertanya dan tak mau kalah.
"Ya ... ya ... aku tahu kamu tak ingin hidup susah, kamu belum siap miskin. Kamu tak ingin gara-gara faktor ekonomi kita bertengkar dan bercerai. Makanya kamu ingin aku membiarkanmu menikah dengan laki-laki lain untuk mendapatkan harta mereka. Lalu sekarang bagaimana, apa yang sudah kamu dapatkan?" Vella tersenyum mendengar penjelasan Farel. Ternyata Farel masih mengingat dengan jelas alasan Vella tak mau menikah dengannya.
"Maafkan aku, tapi aku sekarang sudah siap menikah denganmu. Aku sadar kalau aku tak pernah bahagia dengan laki-laki lain selain kamu. Aku akan meminta Rony menceraikanku," ucap Vella yang membuat Farel tak bisa bicara.
Farel hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tak lagi membalas ucapan Vella. Kembali dirinya meminum kopi hitamnya yang mulai dingin hingga tak bersisa. Vella hanya memandang wajah tampan di depannya dengan tatapan sendu. Rasa rindu pada kekasihnya semakin menggebu.
Vella menggenggam tangan Farel dengan mesra. Farel hanya diam memandangnya lalu segera melepas genggaman tangan Vella.
"Kenapa, Farel? Apa kamu sudah tak cinta lagi padaku? Apa kamu sudah tak ingin menikah denganku?" Vella terkejut karena Farel menolak genggaman tangannya.
"Aku akan memikirkannya. Untuk saat ini aku masih fokus dengan urusan bisnis pamanku. Tolong, beri aku waktu," pinta Farel yang membuat Vella kecewa.
"Baiklah, aku tunggu keputusanmu. Farel, kamu jangan meragukan cintaku. Ingat, Farel! Kamulah orang yang pertama kali menyentuhku!" tegas Vella. Tanpa sadar Farel mengepalkan tangannya mendengar ucapan Vella.
"Yaa, aku selalu ingat, Vella. Tak usah kamu ingatkan aku akan hal itu. Dan kamu juga harus ingat, berapa kali aku mengajakmu menikah?" Farel pun kembali mengingatkan Vella.
Vella pun terdiam, tak bisa lagi menjawab. Dirinya memang salah, selalu menolak Farel yang ingin menikahinya. Vella cinta padanya, tapi dia tak ingin hidup tanpa harta. Apalagi waktu itu Farel hanya seorang laki-laki yang tidak jelas pekerjaannya.
__ADS_1
"Baiklah Vella, aku pergi dulu. Bagaimana kalau aku antar kamu pulang? Jangan kembali ke diskotik lagi, sekarang sudah malam. Suamimu pasti menunggu," saran Farel membuat Vella tak suka.
Farel pun berdiri dan tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan masa lalu yang pasti berujung perdebatan. Bahkan setelah beberapa tahun tak bertemu, kembali masalah itu yang dibicarakan. Masalah cinta yang tak berakhir dengan pernikahan karena harta yang belum dimilikinya seperti sekarang.