Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Cemburu lagi


__ADS_3

"Mas ...."


"Aku nggak marah kok, Sayang. Itu 'kan yang mau kamu tanyakan?" tanya Riko dengan pandangan lurus ke depan.


"Alhamdulillah kalau begitu," jawab Naila walaupun dia tahu suaminya saat ini sedang menahan emosi.


"Ya, aku tahu, kamu dan dia nggak sengaja bertemu. Mulai minggu depan jangan perawatan lagi di klinik itu, nanti aku carikan klinik kecantikan yang lebih bagus lagi." Riko melanjutkan ucapannya.


"Mas ... katanya nggak marah? Kenapa harus pindah?" protes Naila.


"Sudahlah, Sayang. Aku ingin memberikan yang terbaik buat istriku. Jangan berburuk sangka dulu, aku melakukan semua ini demi kebaikanmu," kilah Riko sambil melirik sebentar ke arah Naila, lalu kembali fokus menyetir.


" Ya sudah, Mas, terserah kamu saja." Naila pun tak ingin melanjutkan perdebatan mereka di dalam kendaraan.


Riko kembali dengan pandangannya lurus ke depan. Melajukan kendaraan roda empatnya menuju suatu tempat yang dia inginkan. Hari libur dadakan digunakannya untuk menenangkan pikiran.


Naila tahu arah jalan mobil tak menuju rumah. Memandang wajah suaminya yang terlihat gelisah, membuat Naila mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dibiarkan suaminya pergi kemana pun dia suka, Naila memilih pasrah.


Berhenti tepat di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan, Riko mengajak Naila turun dan menggandeng tangan istrinya ke mana pun dia melangkah. Naila hanya tersenyum, tak pernah melihat Riko merajuk seperti saat ini. Terlihat rasa cemburunya yang masih mendominasi.


Memasuki sebuah butik khusus pakaian muslimah, Riko berhenti dan berbicara pada istrinya.


"Hari ini spesial untuk istriku, pilih saja gamis atau pakaian lain yang kamu suka. Jangan hanya satu, dua atau tiga bahkan lima juga tak masalah. Aku akan ke depan sebentar, mau menelepon Pak Adam dulu."


Riko pun mengecup kening Naila sebelum beranjak pergi meninggalkannya. Naila hanya mengangguk dan menuruti apa yang diucapkan suaminya. Bagi Naila, ucapan Riko adalah sebuah perintah, bukan permintaan atau hanya tawaran belaka. Mau tak mau, Naila harus menurutinya.


Berjalan berkeliling butik sambil melihat dan memilih beberapa set gamis yang terlihat sangat bagus dan mahal. Naila akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah gamis berwarna mauve dan biru tua. Gamis polos tanpa motif dengan hiasan renda kecil pada bagian manset dan bagian bawah roknya. Dipadukan dengan khimar warna senada dan bahan yang lembut dan nyaman.


Tanpa disadari, sepasang mata memperhatikan Naila dari kejauhan, tersenyum kemudian berjalan ke arah Naila.


"Maaf ... Naila, ya?"


Naila langsung mengalihkan pandangan ke arah suara yang menyapanya. Seorang laki-laki tampan dengan kulit yang putih bersih dan berkaca mata, tersenyum manis padanya. Naila pun tersenyum, mengingat sebuah nama teman lamanya.


"Daffa? Kamu beneran Daffa? Apa kabar?" tanya Naila.


"Alhamdulillah baik, Naila. Aku tadi ragu mau menyapamu, tapi setelah memperhatikan postur tubuh dan cara berjalanmu, akhirnya aku jadi yakin untuk mendekatimu," jawab Daffa dengan wajah yang terlihat bahagia.


"Ada-ada saja kamu ini, Daffa." Naila merasa malu dengan ucapan Daffa, takut terdengar oleh pengunjung butik di sekitarnya.


"Kamu sekarang lebih cantik, Naila, makanya aku tadi ragu," ucap Daffa sejujurnya.


"Ya, aku tahu, aku memang jelek dari dulu," sahut Naila.


"Maaf, bukan begitu maksudku. Meskipun kamu tetap seperti dulu, aku masih sayang kok sama kamu," balas Daffa.


"Daffa, tolong jangan bicara yang aneh-aneh, deh!" Naila mulai merasa tak nyaman dengan ucapan Daffa.


"Maaf, tapi aku serius, Naila. Kalau kamu ada waktu, kita bicara di kafe yang ada di depan. Butik ini peninggalan mamaku. Aku baru satu bulan di Indonesia. Karena mamaku meninggal dunia, sekarang aku yang mengurusnya. Khusus wanita istimewa, gratis berapa pun yang kamu pilih."

__ADS_1


"Daffa ... Daffa ... maaf kalau begitu, aku menolak tawaranmu," sahut Naila.


Daffa terus berusaha merayu Naila agar mau menerima pemberiaannya. Dia sangat tahu sifat Naila. Sementara Riko yang sudah kembali menemui Naila, hanya berdiri memperhatikan. Posisi Riko cukup dekat dengan mereka, namun Naila tak menyadari keberadaannya.


"Naila, sekali-sekali, terimalah hadiah dariku," pinta Daffa.


"Terima kasih, tapi aku lebih nyaman kalau membayarnya." Naila kembali menolak permintaan temannya.


"Ehemm ... maaf kalau mengganggu. Sayang, sudah selesai memilihnya?" Riko mendekat dan menyela pembicaraan mereka.


"Eh, Mas ... kenalkan ini teman kampusku, Daffa Pratama."


"Riko, suami Naila." Rico memperkenalkan diri dengan menyebutkan posisinya sebagai suami Naila. Daffa pun menyambut uluran tangan Riko dan menyebutkan namanya.


"Daffa."


"Bagaimana, Sayang, sudah dipilih?" Riko kembali bertanya pada Naila yang masih bingung dengan pilihannya.


"Maaf Naila, aku tidak tahu kalau kamu sudah menikah. Pilih saja beberapa yang kamu suka. Gratis, anggap saja hadiah pernikahan dariku," ucap Daffa yang merasa bersalah karena telah menggoda Naila. Daffa pun memaksakan dirinya tersenyum pada mereka.


Naila memandang suaminya dan Riko pun mengerti lalu menganggukkan kepala. Naila mengambil salah satu gamis yang sudah dipilihnya, walaupun sebenarnya dia sendiri tak nyaman karena tak boleh membayar.


"Ini kartu namaku, Naila. Kalau kamu mau, datanglah ke klinik kecantikan yang juga usaha peninggalan mamaku. Aku pasti akan memberikan harga spesial untukmu." Daffa memberikan kartu namanya dan Naila pun terpaksa menerimanya.


"Baiklah, terima kasih. Kami pamit dulu dan sekali lagi terima kasih hadiahnya." Naila pamit setelah salah satu karyawan Daffa memberikan tote bag yang berisi set gamis pilihannya.


"Sama-sama, Naila. Kapan-kapan datanglah lagi ke sini, pasti akan aku beri diskon khusus untukmu."


Mendengar Naila yang sudah menikah, ada rasa sesal dalam hati Daffa. Meninggalkan Indonesia sama dengan meninggalkan Naila. Daffa menuruti keinginan mamanya untuk melanjutkan S2-nya di Amerika. Tepat satu bulan yang lalu, mamanya meninggal dunia dan saat ini Daffa harus meneruskan usaha beberapa cabang butik dan klinik kecantikan peninggalan mamanya.


"Naila, aku terlambat. Ternyata kamu memang bukan jodohku. Semoga kamu bahagia bersama suamimu."


Daffa hanya bisa mendo'akan wanita yang sudah lama didambakannya. Berusaha mengubur kembali dalam-dalam perasaan yang tadi datang saat melihat Naila sendirian. Namun, prasangkanya ternyata salah, wanitanya sudah memiliki pasangan.


***


Kendaraan roda empat yang dikemudikan Riko berjalan lambat karena kemacetan. Suasana hening di dalam mobil membuat Naila pun hanya diam sambil memainkan ponselnya. Mencoba bicara, jawaban Riko selalu singkat, tanpa senyum dan tanpa memandangnya. Suasana yang tak nyaman, membuat perjalanan serasa panjang. Naila hanya beristighfar dalam hati, mencoba mengusir rasa gelisah dan sedih.


Bulan ini, tepat satu tahun lebih dua bulan dia tinggal di kota ini. Meninggalkan desanya dan selama tiga bulan hidup di kota. Dua bulan kemudian Riko menikahinya. Pernikahan mereka sekarang masih terhitung seumur jagung, belum genap satu tahun. Namun, Naila merasa masalah sudah datang silih berganti.


Beberapa bulan yang lalu masalah datang dari foto-foto dirinya yang akhirnya membuatnya di-bully banyak orang. Selanjutnya masalah datang dari wanita mantan kekasih suaminya dan juga kakak iparnya. Apakah sekarang setelah bertemu dengan dua orang laki-laki teman kampusnya juga akan mendatangkan masalah?


Naila hanya bisa berdo'a dan bersabar. Tiga bulan ini karena rutin perawatan di sebuah klinik kecantikan ternama, Naila tak lagi mendapat hinaan saat dia keluar rumah. Wajahnya sekarang terlihat cantik dan cerah, kulitnya pun sudah tak kusam lagi. Masalah pertama dan kedua sudah berlalu dan teratasi. Naila menyadari, selanjutnya pasti akan ada masalah ketiga, keempat, kelima dan seterusnya.


Mobil pun sampai di depan rumah tanpa disadari Naila. Pikirannya melayang, membayangkan suaminya yang pasti akan kembali cemburu. Setelah masuk kamar dan membersihkan diri, Naila berniat menyiapkan makan siang. Namun, pertanyaan Riko membuat Naila mengurungkan niatnya.


"Daffa mantan kekasih kamu?"


"Bukan, Mas. Aku 'kan sudah cerita kalau aku tak pernah pacaran. Dia teman kampusku juga," jawab Naila sambil duduk di sofa dekat jendela. Dia tahu, suaminya pasti akan meminta penjelasan tentang Daffa.

__ADS_1


"Ooh ...."


"Iya ... dia mahasiswa berprestasi, salah satu mahasiswa dengan nilai cumlaude. Mamanya seorang janda yang berjuang mulai dari bawah sampai akhirnya berhasil mendirikan usaha dan sekarang cabangnya di mana-mana." Naila melanjutkan ceritanya sebelum Riko meminta.


"Sepertinya kamu mengenal sekali kehidupannya," sahut Riko.


"Terus terang saja kami dulu akrab, teman dekat. Dia seorang kutu buku, sering di-bully karena penampilannya dan kaca mata tebalnya. Kami merasa memiliki nasib yang sama, membuat kami jadi sahabat. Makanya dia sering menceritakan tentang keluarganya."


"Apa dia juga pernah melamarmu?" tanya Riko penasaran.


"Tidak, dia hanya bilang kalau sayang padaku, itu saja. Mungkin maksudnya sayang sebagai seorang teman." Naila berusaha menjelaskan dengan hati-hati.


"Dan dia masih sayang padamu sampai sekarang. Benar 'kan?" tanya Riko pada Naila yang hanya diam memandangnya.


"Aku tadi sudah mendengar pembicaraan kalian dari awal. Apalagi butiknya yang luas dan kebetulan tadi hanya ada beberapa pengunjung saja, aku mendengar jelas apa yang kalian bicarakan." Riko melanjutkan ucapannya.


"Setelah Bisma, sekarang Daffa. Nanti bertemu temanmu siapa lagi?"


"Mas ..." Naila merasa Riko mulai marah padanya.


"Maaf, aku nggak marah, hanya kesal saja," sahut Riko.


"Sudahlah, aku tak ingin membahasnya. Aku tak ingin kita bertengkar karena masalah yang tak penting ini," balas Naila.


"Bagimu mungkin tak penting, tapi penting bagiku, Naila. Bahkan Kak Rony saja terang-terangan mengagumimu. Apalagi teman-temanmu itu? Kamu salah kalau menganggap mereka hanya main-main denganmu," tegas Riko yang membuat Naila berdiri dan berjalan mendekatinya. Naila memeluk erat tubuh suaminya, menenangkan rasa emosi.


"Mas ... please ...."


"Maafkan aku," ucap Riko yang akhirnya sadar dan mulai tenang sambil mengecup kening Naila.


"Aku akan menyiapkan makan siang, aku lapar."


Naila melepaskan pelukannya dan langsung meninggalkan Riko yang masih berdiri memandangnya.


"Pakeeeett .... "


Terdengar dengan jelas oleh Naila saat baru saja keluar dari kamarnya. Naila berjalan ke depan, menghampiri kurir yang berteriak kencang memanggil tuan rumah. Membukakan pintu pagar dan tersenyum pada seorang laki-laki yang menjadi kurir salah satu ekspedisi langganannya.


"Eh ... Mbak Naila, makin manis saja. Sering-sering pesan paket dong, Mbak, biar aku juga sering bertemu dengan Mbak Naila."


"Masnya bisa saja, terima kasih, ya." Naila pun menerima paket yang diberikan padanya tanpa melayani ucapan kurir yang terkadang mengajak bercanda saat bertemu dengannya.


"Sama-sama, Mbak."


Pengantar paket pun berlalu, Naila lalu kembali menutup pintu pagar. Terkejut dirinya saat membalikkan badan. Riko sudah berdiri di belakangnya. Wajah suaminya yang putih bersih, terlihat merah. Naila mengerti, Riko menahan marah.


"Mulai sekarang jangan pesan barang online lagi!"


Naila hanya menggelengkan kepala, memandang suaminya yang sudah terlebih dahulu berjalan masuk ke rumah. Menghela napas berat, seberat ujian rumah tangga yang mulai kembali dirasakannya.

__ADS_1


Astaghfirullah, bahkan sama tukang paket saja dia juga cemburu.


__ADS_2