
Riko memandang wajah Naila dengan penuh rasa cinta. Rasa kesal pada Naila yang keceplosan bicara tadi malam, akhirnya sirna. Dia tersenyum melihat istrinya begitu jelita.
Make-up natural ditambah bibir tipis yang memakai lipstik warna mauve, memberikan kesan tampilan yang natural dan segar. Dipadukan dengan set gamis syar'i warna maroon yang dipakainya, membuat Naila terlihat elegan dan menawan.
"Kamu seperti manekin mungil yang bisa berjalan, cantik sekali istriku," puji Riko yang membuat pipi Naila semakin merona.
"Jangan terlalu memujiku, rasanya aku nggak percaya diri saat ini," balas Naila yang juga tak mengenali dirinya sendiri saat melihat bayangan cermin di hadapannya.
"Kenapa nggak percaya diri? Aku yakin, pengantin wanitanya pasti kalah cantik denganmu hari ini. Aku jadi takut kalau banyak yang menggoda di pesta nanti." Riko mendekati istrinya kemudian mengecup jemari tangan Naila.
"Kamu ini bisa saja, Mas. Aku sudah siap, kita berangkat sekarang saja." Naila semakin malu mendengar Riko yang terus-menerus memujinya.
Hari ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan Revan dan Clara. Supri dan Marni serta Rony pun sudah siap menunggu di teras rumah.
"Wah, Mbak Naila cantik banget, seperti artis," seru Marni saat melihat Naila.
"Ah, Bi Marni bisa saja. Ayo berangkat, Bi." Naila tersipu dan salah tingkah dengan pujian Marni.
"Iya, Mbak Naila cantik banget. Cocok sama Den Riko yang tampan. Betul, nggak, Den Rony?" Supri pun ikut memuji Naila dan bertanya pada Rony.
"Eh ... i ... iya, Pak Supri. Betul, Naila memang cantik sekali." Rony menjawab dengan gugup, karena wajah adik iparnya saat ini benar-benar mempesona.
"Sudah ... sudah ... ayo kita berangkat. Kasihan istriku wajahnya sudah merah karena kalian goda."
Riko merangkul pundak Naila dan mengajaknya masuk ke mobil. Supri yang mengemudi duduk di depan bersama Rony. Naila dan Riko duduk di tengah, Bi Marni duduk di kursi belakang.
Sesampainya di dalam gedung, tempat dilangsungkannya pesta, Naila berjalan dengan posisi di tengah antara Riko dan Rony. Supri dan Marni mengikuti langkah mereka. Semua pandangan mata para tamu undangan pun tertuju pada mereka bertiga.
__ADS_1
Naila terlihat bagaikan seorang putri yang didampingi dua pangeran tampan. Wajahnya yang sekarang cantik dan elegan, terlihat sangat menawan tanpa ada lagi yang berani merendahkan. Ditambah sikapnya yang ramah dan sopan, membuat semua orang semakin terkesan. Bahkan ke mana pun melangkah, Riko dan Naila selalu bergandengan tangan.
"Itu yang pernah viral waktu itu, kan? Ya ampuun ... sekarang cantik banget ...."
"Iya, nggak nyangka bisa secantik itu. Tapi wajar aja, sih. Zaman sekarang, yang penting ada uang, semua bisa disulap."
"Bener juga katamu. Aku jadi kagum sama istrinya Pak Riko itu. Meskipun penampilannya nggak glamour tapi terlihat elegan. Nggak kampungan seperti yang dibilang orang-orang waktu itu."
"Iya, aku juga dari tadi terpesona sama dia. Warna make-up sama pakaiannya sangat serasi. Cocok banget pokoknya kalau jalan sama suaminya."
Berbagai ungkapan keluar dari mulut para tamu undangan membicarakan Naila. Banyak yang memuji kecantikan dan penampilannya. Naila merasa gugup karena merasa pandangan mata orang-orang yang tertuju padanya. Namun, dia berusaha menenangkan diri agar sikapnya tak memalukan.
Vella yang juga datang di pesta pernikahan Clara, hanya melihat mereka bertiga dari kejauhan. Rasa malu membuat dirinya tak percaya diri seperti dulu. Apalagi melihat Naila yang begitu menawan terlihat sangat serasi dengan Riko yang tampan.
Vella pun sangat malu bertemu mantan suaminya. Wajah Rony sekarang bahkan terlihat lebih segar dan mempesona, jauh dibandingkan saat masih bersamanya. Berbeda dengan dirinya saat ini, meskipun cantik, penampilannya tak lagi seperti dulu.
Vella yang berencana bekerja diajak temannya di luar negeri waktu itu, terpaksa kembali ke Indonesia. Temannya sudah menipunya dan sekarang Vella sudah tak punya apa-apa lagi. Dia sekarang bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah club malam di ibu kota untuk menghidupi dirinya sendiri.
Vella sebenarnya ingin mendekati Rony tapi rasa percaya dirinya sudah tak ada lagi. Penyesalannya pun hanya sia-sia. Vella baru menyadari, mengabaikan suami yang selama ini sudah sangat sayang padanya.
Setelah bersalaman dengan kedua pengantin, Riko mengajak Naila berjalan menuju sebuah meja bundar dengan lima kursi yang mengelilinginya di ujung ruangan. Bahkan Clara sangat terpesona dengan penampilan Naila. Riko pun pamit pada Naila dan Marni karena ingin menemui teman-teman bisnisnya di ruangan yang berbeda.
"Aku tinggal dulu, ya, Sayang. Bi, tolong jaga istriku. Kalau dia ingin sesuatu, tolong ambilkan, ya, Bi."
"Iya, Den." Marni membalas ucapan tuannya. Walaupun hanya seorang asisten rumah tangga, Marni sering diajak majikannya ke pesta. Orang tua Riko juga orang yang baik dan tak pernah memandang rendah seorang asisten rumah tangga.
"Kalau kamu ingin makan sekarang, aku bisa menemanimu sebentar." Riko sebenarnya tak tega meninggalkan istrinya tapi teman-temannya sudah menunggu.
__ADS_1
"Nggak usah, Mas, perutku masih mual. Nanti biar diambilkan Bi Marni buah atau puding saja kalau ada. Tapi jangan lama-lama, ya," kata Naila pada suaminya dengan tatapan memohon.
"Iya, Sayang. Insyaa Allah kita hanya membahas masalah yang penting saja. Tapi aku nanti mungkin akan makan bersama teman-temanku. Kalau kamu mencariku, kami ada di ruang kaca di balik dinding itu, Sayang," balas Riko sambil menunjuk ke arah dinding yang letaknya tak jauh dari pelaminan.
Naila pun mengangguk dan mencoba tersenyum agar Riko tak lagi mencemaskannya. Riko langsung pergi meninggalkan Naila dan Marni. Sementara Rony sendiri berkeliling menyapa teman-teman lamanya yang juga hadir di pesta. Supri pun pergi keluar setelah selesai menikmati makanan dan minuman, bergabung bersama para sopir yang duduk di area parkir.
"Ramai juga, ya, Bi. Aku kok malah pengen pulang," kata Naila pada wanita di sebelahnya.
"Sabar, Mbak. Mungkin Mbak Naila belum terbiasa. Apalagi akhir-akhir ini 'kan selalu di kamar terus. Jadi seperti putri yang baru keluar dari goa, bingung lihat banyak orang," sahut Marni mencoba menghibur Naila.
"Ha ha ha ... Bibi bisa aja. Tapi aku memang nggak pernah pergi ke pesta, lho, Bi. Baru kali ini aku datang ke pesta pernikahan."
"Ah, yang bener, Mbak," sahut Marni tak percaya.
"Bener, Bi. Aku juga sudah cerita sama Mas Riko. Makanya aku ikut ke sini, pengen tahu seperti apa pesta itu. Ternyata lebih enak di rumah, bisa rebahan. Apalagi ditinggal Mas Riko yang sibuk ngurusi kerjaan, males kalau lama-lama." Naila mulai tak nyaman dengan posisi duduknya. Dia sangat ingin merebahkan badan.
"Apa mau saya ambilkan puding sekarang?" tanya Marni.
"Boleh, deh, Bi. Kalau ada buah, aku juga mau. Maaf, ya, Bi, kalau saya merepotkan. Saya merasa mual kalau dekat dengan banyak orang," jawab Naila.
"Iya, Mbak. Biar saya ambilkan dulu. Mbak Naila jangan ke mana-mana. Kalau Mbak hilang, saya nanti dimarahin sama Den Riko."
"Iya, Bi. Saya di sini saja, kok."
Marni pergi meninggalkan Naila. Sementara Naila memilih bermain ponsel untuk menghilangkan rasa jenuh yang mulai melanda. Ditambah mual yang dari tadi dirasakan, dia semakin merasa tak nyaman.
"Apa yang aku bilang, kalian sih nggak percaya. Aku sudah menduga kalau wanita cantik yang seperti putri kerajaan ini adalah teman kita."
__ADS_1
Suara bariton yang terdengar sangat dekat, membuatnya mendongakkan kepala. Dia pun terkejut melihat tiga orang laki-laki di hadapannya.
"Bisma? Daffa? Dan ini ... Reza? Kalian kok bisa di sini?"