
Vella tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan Naila. Clara akhirnya terpaksa melakukan hal yang sama. Naila hanya diam, memandang sekilas kedua wanita cantik di depannya. Menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan, menenangkan perasaan. Naila pun berdiri, melangkahkan kaki menuju kamar tidur Bara tanpa menghiraukan keduanya.
Naila mendekati Bara, memeluk erat tubuh mungil anak laki-laki balita itu. Tangisnya pecah, membuat Bara bingung dan juga sedih. Bara pun membalas pelukan Naila, seolah ikut merasakan duka kakak iparnya.
"Bara, di rumah saja, ya. Temani Kak Naila di kamar, kita ngobrol seperti kemarin. Minggu depan saja ikut Kak Rony. Mau ya, Sayang?" tanya Naila setelah melepas pelukan dan menghentikan tangisnya.
"Iya, Kak. Bara nggak akan ke mana-mana. Bara nggak mau Kak Naila sedih, Bara sayang sama Kakak. Jangan menangis lagi ya, Kak. Bara hari ini akan bermain di rumah saja sama Kak Naila," jawab Bara. Jemari mungilnya mengusap pipi Naila yang masih basah.
Mereka berdua bergandengan tangan dan berjalan ke kamar Naila. Bara selalu membuat Naila tersenyum dan tertawa dengan celotehannya. Naila merasa sangat terhibur dengan adanya Bara, tak lagi mempedulikan para tamu yang meminta maaf padanya.
Entah apa yang ada di hati dan pikiran Naila, dia sendiri tak mengerti. Biarlah untuk sementara ini dirinya menjadi sosok yang egois, tak punya hati, bahkan tak punya etika. Saat ini Naila hanya ingin menenangkan perasaannya.
Tak dipungkiri, pengakuan Vella dan Clara membuatnya sedih. Rasa marah dan sakit hati ingin dilampiaskan pada mereka berdua saat ini juga. Namun, Naila memilih pergi untuk meredam emosi. Ingin rasanya mencaci maki dan mengumpat mereka, tapi Naila tak ingin mengeluarkan kata-kata kotor yang menambah dosa. Marah pun tak ada guna. Marah akan membuat tenaganya terbuang sia-sia.
Riko melihat dan mendengar Naila yang meminta Bara untuk menemaninya. Hati Riko ikut sakit melihat istrinya yang hanya diam dan memilih menangis di pelukan Bara. Bahkan dirinya tak menyangka Naila akan begitu saja meninggalkan Vella dan Clara yang tengah bersimpuh di depannya. Riko pun meminta Rony dan yang lainnya meninggalkan rumahnya.
"Maaf, Kak. Sepertinya Bara hari ini tak bisa ikut dulu. Naila ingin Bara menemaninya. Aku mohon pengertiannya. Silakan Kak Rony datang lagi minggu depan. Dan untuk kalian berdua, masalah ini belum selesai. Ingat itu!" tegas Riko yang membuat Vella dan Clara semakin kesal tapi tak berani membantah.
"Baiklah, aku mengerti. Kami permisi dulu," pamit Rony pada adiknya. Vella dan Clara hanya mengikuti langkah Rony tanpa bersuara.
Riko membiarkan Naila tenang dan tertawa bersama Bara. Dia pun pergi ke ruang kerjanya dan menghubungi orang kepercayaannya. Hari ini Vella sudah mengakui kesalahannya di hadapan Naila. Tinggal menunggu waktu, kakak iparnya yang cantik itu akan segera mengakui semua perbuatan jahatnya di hadapan suaminya.
Sementara di dalam mobil, mereka bertiga hanya diam. Namun, bukan Vella namanya kalau menyesali perbuatannya. Apalagi Naila tak mempedulikan permintaan maafnya.
__ADS_1
"Kamu lihat sendiri 'kan betapa sombongnya wanita kampung itu. Kita sudah bersimpuh di depannya, memohon-mohon tapi tak dipedulikan sama sekali. Terus dianggap apa kita tadi?" Vella berkata dengan geram, tak terima dengan perlakuan Naila terhadapnya.
"Katanya Naila itu seorang wanita yang berhati lembut dan pemaaf. Sekarang mana buktinya? Nggak ada sopan-sopannya meninggalkan kita begitu saja," sahut Clara yang juga merasa tak terima dengan perlakuan Naila.
"Sudahlah, aku anggap wajar saja, mungkin Naila masih sakit hati dengan kalian. Apalagi yang kalian lakukan kali ini sudah keterlaluan," tegur Rony.
Vella dan Clara pun kembali diam, tak mampu membalas ucapan Rony. Setelah sampai di depan rumah, hanya Rony yang turun dari mobil. Sementara Vella ikut Clara pergi untuk menghibur diri dan Rony pun enggan mencegahnya.
Masuk ke rumah yang sepi, Rony langsung duduk di sofa. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi, Rony mengusap kasar wajahnya. Niat ingin mengakui kesalahan yang pernah dilakukan pada Naila terpaksa diurungkan. Keadaan di rumah Riko tadi sangat tak memungkinkan. Jika dia paksakan, takut akan memperkeruh suasana. Melihat sikap Naila, dia tahu wanita itu pasti marah. Jangankan memaafkan, bicara sepatah kata pun sama sekali tak dilakukan Naila. Marahnya orang diam, terasa menakutkan baginya.
"Kapan aku akan mengakui kesalahanku? Aku tak bisa tenang, Ya Allah. Jika saat ini Naila tak memaafkan kesalahan Vella dan Clara, apakah dia nanti akan memaafkanku? Aku bingung, Ya Allah. Berikan aku petunjuk, berikan aku kemudahan untuk niatku ini."
Beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya ke belakang kemudian mengambil air wudhu. Melaksanakan sholat sunnah dhuha dan bermunajat pada Allah agar tenang hatinya.
♡ ♡ ♡
"Mas, maafkan sikapku. Aku bingung harus bagaimana? Aku kecewa dan marah pada mereka. Apa salahku? Bahkan sedikit pun aku tak pernah mengganggu kehidupan mereka," ungkap Naila pada Riko yang duduk di sampingnya.
"Sudahlah, Sayang. Jika kamu tak mau memaafkan mereka, aku mengerti. Vella dan Clara sudah keterlaluan, mereka tak pantas dimaafkan. Kalau kamu mau, aku bisa memberi mereka hukuman," sahut Riko.
"Tidak, Mas. Biarlah Allah yang memberi hukuman pada mereka. Tolong, jangan lakukan apa pun. Mungkin sekarang ini aku sudah memaafkan mereka, tapi hatiku masih sakit dan marah. Aku butuh waktu." Naila tak ingin suaminya balas dendam.
"Kamu selalu begitu, tak ingin membalas perlakuan orang yang sudah jahat padamu. Atau bagaimana kalau kita laporkan ke polisi saja?" tanya Riko pada Naila.
__ADS_1
"Aku nggak mau ribet mondar-mandir ke kantor polisi untuk membuat laporan dan lain-lainnya. Apalagi Vella masih kakak ipar kita, kasihan Kak Rony. Biarlah seperti ini, kalau mereka membuat ulah lagi baru aku akan melaporkan mereka ke polisi. Yang penting mulai sekarang, aku harus waspada. Aku tak akan mudah percaya dengan orang yang baru aku kenal," jawab Naila.
"Dan aku mohon, mulai sekarang jangan pergi sendirian. Aku akan meluangkan waktuku, akan aku antar ke mana pun kamu mau," pinta Riko.
"Iya, Mas. Sekali lagi maafkan aku," balas Naila yang kembali merasa bersalah.
Riko merengkuh tubuh mungil Naila dalam dekapannya. Riko tahu Naila memang mudah memaafkan. Namun, dirinya tak ikhlas jika ada yang menyakiti istrinya. Riko pun yakin, Vella dan Clara pasti tak terima dengan perlakuan Naila. Entah apa yang akan mereka lakukan, Riko harus meminta Bagas untuk mengamatinya.
♡ ♡ ♡
Di suatu diskotik di tengah kota, lalu-lalang orang dengan pakaian yang bermacam-macam gaya. Mulai dari yang biasa hingga punggung terbuka, dari yang mengenakan jeans panjang hingga rok mini, semua melintas di depan mata. Aroma parfum, rokok dan juga alkohol menjadi satu memenuhi indra penciuman. Sementara hentakan musik terdengar keras dan menggema di seluruh ruangan.
Clara langsung bergabung bersama teman-temannya mengikuti irama di tengah keramaian. Sementara Vella hanya duduk memperhatikan sambil menghisap vape menghilangkan rasa bosan.
"Hai, Vella. Apa kabarmu? Kamu tak berubah, ya. Masih sama seperti dulu bahkan semakin cantik dan seksi menurutku," sapa seseorang yang membuat Vella membelalakkan matanya.
"Kamu?" tanya Vella tak percaya.
"Ya, ini aku, kekasihmu dulu. Apa kamu sudah melupakanku, Sayang? Apa kamu tak rindu padaku?" Laki-laki yang menyapa Vella itu pun semakin mendekat dan mengambil vape dari tangannya.
Vella hanya diam memperhatikan sosok laki-laki di hadapannya. Walaupun cahaya di dalam ruangan temaram, namun Vella sangat mengenalnya. Wajah tampan, tubuh atletis, kulit eksotis, dengan senyum yang sangat menawan. Wanita mana pun pasti akan tergoda dengan hanya melihatnya.
Laki-laki yang sudah lama menghilang dari hidupnya dan sekarang kembali dengan tiba-tiba. Vella tersenyum, wajahnya tak lagi terlihat lesu. Dia pun langsung memeluk kekasih lamanya tanpa rasa malu.
__ADS_1