Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Sebuah rencana


__ADS_3

"Maafkan aku, Riko. Terpaksa aku mengambil tindakan medis tanpa persetujuanmu. Aku bingung mau menghubungi siapa, sementara keadaan Naila semakin lemah. Pendarahannya harus segera dihentikan."


Setelah sampai di rumah sakit, Riko langsung menemui Hanna di ruangannya. Dokter cantik itu ingin berbicara terlebih dahulu padanya sebelum menemui Naila.


"Aku yang minta maaf, Hanna. Aku yang bersalah karena mengabaikan semua panggilan yang ada di ponselku tadi. Aku sangat berterima kasih padamu. Kamu benar-benar sahabat terbaikku." Riko dan Hanna bersahabat dari remaja, bahkan kedua orang tua mereka juga seperti saudara.


"Alhamdulillah keadaan Naila juga sudah stabil. Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan yang sama dengan kamar yang waktu itu. Nggak apa-apa 'kan, Riko?" tanya Hanna.


"Tentu saja nggak masalah, Hanna. Aku yang harusnya berterima kasih karena sudah merepotkanmu mengurus semuanya. Bahkan kamu sampai sekarang belum pulang karena menungguku," jawab Riko dengan penuh rasa bersalah.


"Kalau begitu, mari kita ke kamar Naila. Aku hanya menyarankan, jaga perasaan istrimu. Sampai sekarang, Naila hanya diam, dia belum mau bicara pada siapa pun. Kalau aku bertanya, dia hanya menggeleng dan menganggukkan kepala saja." Hanna menjelaskan pada Riko tentang sikap Naila saat ini.


"Baiklah ... terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan berusaha menjaga perasaannya," janji Riko pada Hanna.


"Oh, ya, aku juga meminta orang yang sudah menolong Naila besok datang ke sini. Berterima kasihlah padanya. Dan satu lagi, sepertinya ada yang sengaja berniat mencelakai istrimu. Katanya, adiknya melihat bekas minyak di mana Naila jatuh. Apalagi kalau dilihat pakaian Naila, penuh dengan tumpahan minuman, sepertinya tumpahan jus buah." Hanna pun menceritakan pada Riko apa saja yang disampaikan Yakub dan Sarah padanya.


"Astaghfirullah ... apa jangan-jangan itu ulah temannya yang bernama Eva?" Hanya nama itu yang ada di pikiran Riko saat ini. Apalagi Eva pernah mengancam dengan foto-foto yang dikirim ke ponsel Naila.


"Eva?" tanya Hanna penasaran.


"Ya, dia pegawai rumah sakit ini juga, kalau nggak salah bagian administrasinya. Dia teman kuliah Naila dan dia juga yang membuat janji dengan istriku bertemu di kafe itu." Riko menjelaskan pada Hanna.


"Semua harus dipastikan dulu, Riko. Jangan gegabah membuat tuduhan, kamu harus punya bukti yang kuat." Hanna mengingatkan karena dia sendiri tidak mengenal pegawai kantor yang bernama Eva. Hanna baru beberapa bulan pindah di rumah sakit ini.


"Betul juga katamu, Hanna. Baiklah, kita ke kamar istriku dulu. Aku ingin segera menemuinya," sahut Riko tak sabar.


Hanna dan Riko berjalan menuju ruangan di mana Naila dirawat. Seorang perawat diminta Hanna menemani Naila. Riko langsung memeluk istrinya yang sedang duduk dan memandang ke arahnya.


"Sayang, maafkan aku, ya ...."


Naila diam, hanya suara isak tangis yang terdengar dalam dekapan. Setelah puas menangis, dia pun merebahkan tubuhnya sambil mengusap sisa air mata.


"Naila, ada yang dikeluhkan?" tanya Hanna.


Naila memandang Hanna lalu menggelengkan kepala.


"Baiklah, aku pulang dulu, ya. Nanti kalau memang ada keluhan atau ada yang kamu butuhkan, bilang saja sama perawat. Besok pagi aku akan lihat kondisimu lagi."


Naila hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Hanna.


"Terima kasih, Hanna. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah merepotkanmu."


"Aku tak merasa direpotkan sama sekali. Sudah tugasku membantu sahabatku. Tugasmu sekarang, jaga istrimu. Dan tolong, ingat pesanku tadi. Aku permisi dulu."


Setelah Hanna dan perawat yang menemani Naila pergi, Riko kembali duduk di samping Naila.


"Sayang ...."


Naila tak mempedulikan panggilan Riko. Dia memandang wajah suaminya sebentar dan segera membelakangi Riko lalu memejamkan mata. Riko pun mengalah dan tak ingin menggangu istrinya. Dia tahu Naila kecewa dengannya. Dia hanya mengelus punggung Naila dengan lembut.


Setelah memastikan Naila benar-benar sudah pulas, Riko berbaring di sofa dan berusaha memejamkan mata. Rasa kantuk dan lelah sudah tak lagi dirasa. Sikap Naila yang hanya diam, membuatnya gelisah. Ditambah dengan ucapan Hanna, membuatnya semakin merasa bersalah.


***

__ADS_1


Adzan subuh berkumandang, Riko segera bangun dari tidurnya yang hanya dua jam. Dia baru bisa tidur pukul dua dini hari. Dilihatnya Naila pun sudah bangun dan memandangnya.


Riko tersenyum pada Naila tapi Naila langsung memalingkan wajahnya. Riko hanya bisa menghela napas panjang lalu berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Dia segera melaksanakan kewajiban dua rakaatnya, sebelum berbicara dengan istrinya.


Setelah selesai sholat, Riko segera mendekati Naila dan duduk di hadapannya. Dipegangnya dengan lembut tangan Naila lalu dikecupnya.


"Sayang, aku minta maaf, ya. Kemarin aku menyelesaikan semua pekerjaanku dulu sampai malam," kata Riko mencari alasan.


"Sayang, kenapa kamu diam saja? Bicaralah! Tolong, jangan seperti ini. Aku tahu aku salah tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini."


"Naila sayang, please ...."


"Kamu nggak salah, Mas. Aku yang salah karena kurang hati-hati." Akhirnya Naila terpaksa bicara. Dia tak tega melihat suaminya terus menerus meminta maaf.


"Tidak, Sayang. Aku yang salah. Seandainya aku menemanimu ...."


"Aku ingin ke kamar mandi, Mas. Tolong bantu aku." Naila memotong ucapan Riko karena dia tak ingin memperpanjang pembicaraan.


"Baiklah ... biar aku bantu. Tadi malam aku juga membawakan baju ganti untukmu."


Dengan sabar, Riko membantu Naila ke kamar mandi dan berganti pakaian. Tak lama kemudian, seorang petugas rumah sakit mengantarkan makan pagi untuk Naila.


"Aku suapi, ya ...."


Naila kembali menganggukkan kepala tanpa mengucap kata. Tubuhnya masih lemas dan kepalanya sangat pusing saat ini. Ditambah dengan rasa kehilangan, membuat Naila semakin sedih dan enggan bicara.


Setelah selesai makan, Riko kembali meminta maaf pada Naila.


"Sayang, maafkan aku, ya ...."


Riko memandang wajah Naila yang pucat. Hanya ada keheningan dan helaan napas berat dari keduanya. Tak lama kemudian, Naila bertanya.


"Mas, apakah kamu kemarin marah padaku?"


"Aku nggak marah, Sayang ... hanya saja ... aku nggak suka dengan teman-temanmu itu. Di mana-mana selalu bertemu dengan mereka. Apalagi temanmu yang satu itu, tatapan matanya padamu sangat tidak sopan," jawab Riko sejujurnya.


"Apa kamu menyalahkanku?" Pertanyaan Naila membuat Riko berpikir.


"Nggak, Sayang, bukan begitu maksudku ... wajar kalau aku cemburu. Istriku ditemani tiga orang laki-laki ...."


"Astaghfirullah ... itu tempat umum, Mas. Apa aku harus mengusir mereka?" Naila langsung memotong ucapan Riko yang membuatnya kesal.


"Bukan begitu maksudku ... hanya saja mereka harusnya tak mengambil kesempatan." Riko berusaha mencari alasan agar Naila tidak salah paham padanya.


"Niat mereka baik, Mas. Mereka hanya ingin menemaniku karena aku sendirian." Naila mencoba melembutkan suaranya. Dia tak ingin terpancing emosi.


"Ada Bi Marni yang menemanimu ...." Riko tak terima dengan alasan yang diberikan Naila padanya.


"Ya ... mungkin memang aku yang salah membiarkan mereka menemaniku karena ditinggal suami yang masih mengurus pekerjaan di sebuah pesta pernikahan." Naila pun mengalah, karena marah hanya akan membuatnya semakin pusing saja.


Riko diam tak bisa lagi membantah ucapan Naila. Dia mengakui kesalahannya, mengutamakan pekerjaan tanpa memikirkan keadaan istrinya.


"Iya ... iya ... maaf, Sayang. Aku janji nggak akan begitu lagi."

__ADS_1


"Sudah berapa kali kamu janji seperti itu, Mas? Semenjak bertemu dengan Bisma, lalu Daffa dan sekarang Reza. Semua teman laki-lakiku kamu cemburui!"


"Maaf, Sayang. Kali ini aku benar-benar minta maaf. Aku janji tak akan mengulangi lagi. Maafkan aku, ya."


"Semoga kamu selalu ingat janjimu. Mas, aku sudah kehilangan dua kali. Apakah aku masih bisa hamil lagi?"


"Pasti bisa, Hanna bilang padaku, kondisi rahimmu baik-baik saja. Insyaa Allah kita pasti memiliki buah hati. Sabar, ya, Sayang."


Riko merengkuh tubuh lemah Naila dan mengecup keningnya. Naila kembali menangis, sedih karena kehilangan buah hati untuk yang kedua kali.


"Sabar, ya, Sayang. Yakinlah, sebentar lagi kita pasti akan memiliki buah hati."


Riko berusaha meyakinkan Naila. Dia sangat mengerti perasaan Naila saat ini. Dia pun sebenarnya merasakan kesedihan yang sama tapi berusaha tetap tegar.


Naila melepaskan diri dari dekapan dan tersenyum. Dia tahu suaminya juga sedih.


"Mas, kamu nggak kerja, kan?"tanya Naila dengan senang. Dia berharap Riko akan menemaninya dan tak meninggalkannya sendirian.


"Aku sudah ijin tadi. Tapi ... maaf, mungkin aku akan ke kantor sebentar. Ada janji dengan klien penting yang tidak bisa diwakilkan," jawab Riko yang membuat Naila cemberut lagi.


"Baiklah ... akhir-akhir ini aku sudah biasa sendiri."


"Jangan begitu dong, Sayang. Nanti setelah meeting, aku pasti langsung ke sini. Aku akan menelepon Bi Marni dulu.


"Nggak usah, Mas. Aku akan menunggumu saja, kasihan Bi Marni kalau harus ke sini. Kalau diperbolehkan, aku mau pulang hari ini, Mas."


"Baiklah, nanti aku tanyakan dulu sama Hanna. Aku mandi dulu sebentar, ya, terus berangkat."


"Jangan lupa sarapan, Mas!"


"Nanti aku akan sarapan sama Pak Supri saja di rumah makan dekat kantor."


Setelah siap, Riko pun berpamitan pada Naila. Dia berjalan keluar ruangan dengan tergesa dan menabrak seseorang yang berada tepat di depan pintu kamar.


"Maaf ...."


"Ya ... nggak apa-apa kok, Bro."


"Sekali lagi saya minta maaf, permisi."


Riko pun berjalan dengan cepat menuju tempat parkir. Supri sudah menunggu di mobil. Tadi malam, Riko langsung menyuruh Supri pulang setelah mengantarnya. Dia tahu, asisten rumah tangga sekaligus supir pribadinya itu juga sangat lelah.


Sementara Riko tak menyadari, dua orang yang ada di depan kamarnya berniat mengunjungi Naila. Dia lupa ucapan Hanna, kalau orang yang menolong Naila akan datang.


"Benar ini kamarnya? Terus itu tadi siapa ya, Kak? Kok wajahnya mirip ...." tanya Sarah pada kakaknya. Dia memperhatikan wajah laki-laki yang menabrak Yakub mirip dengan seseorang yang dikenalnya.


"Rony?"


"I ... iya ... apa dia suaminya?" Dengan gugup, Sarah menjawab pertanyaan Yakub. Dia takut kalau menyebut nama Rony, kakaknya akan marah.


"Lebih baik kita masuk saja dan tanyakan sendiri padanya," sahut Yakub. Sarah pun mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


Yakub masih memperhatikan Riko yang berjalan di sepanjang koridor rumah sakit sampai menghilang. Dia tersenyum licik karena tiba-tiba sebuah rencana jahat melintas di pikirannya.

__ADS_1


"Hemm ... itu tadi aku yakin Riko. Kalau memang wanita itu adik iparnya Rony, kebetulan sekali. Akan aku dekati wanita yang bernama Naila itu. Biar Rony merasakan bagaimana adiknya sakit hati karena istrinya direbut orang."


__ADS_2