Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Nasihat dari Supri


__ADS_3

"Bukan begitu, Pak Supri. Maaf ... jangan salah paham dulu. Saya sama sekali tidak memata-matai Naila. Saya mendapatkan foto-foto ini dari nomer yang tidak saya kenal. Justru itu, saya ingin menanyakan pada Pak Supri, apa Bapak kenal dengan laki-laki ini? Dan kenapa Naila hanya berdua saja? Ke mana Pak Supri dan Sarah?" Riko pun menjelaskan dan meminta penjelasan pada Supri.


"Astaghfirullah ... ini fitnah, Den. Mbak Naila tidak berdua saja dengan Mas Yakub. Saya dan Mbak Sarah ada di sana. Kemungkinan foto ini diambil saat Mbak Sarah ke kamar mandi dan saya memang nggak pernah mau duduk satu meja dengan mereka. Saya duduk sendiri tapi tetap mengawasi Mbak Naila, Den. Saya sadar diri, saya hanya asisten rumah tangga, nggak pantas rasanya satu meja dengan majikan." Supri bicara apa adanya.


"Lalu Daffa, kenapa ada di warung itu juga? Apa itu juga kebetulan?" Riko masih saja tak percaya.


"Memang semua itu kebetulan, Den. Temannya Mbak Naila sedang ada janji dengan temannya di warung itu. Dia hanya menyapa Mbak Naila sebentar, terus langsung pergi menemui temannya."


Mendengar penjelasan dari Supri, Riko menghela napas berat. Dia semakin merasa bersalah dan berdosa pada istrinya.


"Saya memang salah, Pak. Saya terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu."


"Mbak Naila itu istri yang baik dan setia, Den. Kalau ada yang bicara macam-macam soal Mbak Naila, tolong jangan langsung percaya. Kalau berdua di mobil, Mbak Naila selalu menjelaskan pada saya. Seperti waktu pertama kali pergi dengan Mbak Sarah dan Mas Yakub, dia menjelaskan siapa mereka."


"Astaghfirullah ... saya berdosa pada Naila, Pak, saya menyesal."


"Minta maaf saja, Den. Mbak Naila itu orangnya pemaaf." Supri hanya bisa memberi saran pada Riko. Dia pun mengerti, pasti telah terjadi sesuatu pada mereka berdua, tetapi Supri tak berani bertanya dan tak mungkin ikut campur urusan rumah tangga majikannya.


"Terima kasih, Pak Supri. Terima kasih nasihatnya."


Supri hanya menganggukkan kepala. Keduanya pun segera segera menghabiskan minuman. Riko mendahului Supri meninggalkan taman menuju kamar yang ada di sebelah kamarnya. Untuk sementara, dia memutuskan tidur di kamar tamu dulu, membiarkan Naila tenang.


***


Naila memandang wajah dan sebagian tubuhnya di depan cermin. Dia memegang kedua pipinya yang mulus dan glowing. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat. Kedua matanya sembab dan kepalanya pun pusing akibat terlalu banyak menangis.


"Astaghfirullah ... sebenarnya apa yang terjadi? Aku masih tak habis pikir dengan perlakuan Mas Riko tadi malam. Apa dia marah? Tapi apa yang membuatnya marah? Kesalahan apa yang sudah aku lakukan?"


Naila kembali menangis, dia terduduk lesu di depan meja rias. Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang masuk ke dalam kamar dan mendekatinya. Naila tahu siapa yang datang dan dia hanya diam di tempat, tak berniat melihat.

__ADS_1


Riko berbicara dengan lembut pada Naila tanpa berani menyentuhnya. Dia takut, Naila akan kembali histeris seperti tadi malam. Dia pun duduk bersimpuh di dekat Naila.


"Sayang, maafkan aku. Tolong maafkan aku, Naila. Aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar padamu. Hukumlah aku!"


Naila akhirnya memandang wajah tampan yang ada di sampingnya.


"Berilah aku satu alasan kenapa kamu berbuat seperti itu tadi malam!"


"Aku ... aku cemburu ...."


"Astaghfirullah ... itu lagi alasannya? Dan sekarang kamu cemburu dengan siapa, Mas? Selama ini aku selalu meminta ijin padamu ke mana pun aku pergi. Aku juga selalu diantar Pak Supri. Dia bahkan mengikuti dan menjagaku seperti yang kamu perintahkan. Lalu, kepada siapa kamu cemburu? Kepada Pak Supri?"


"Maaf, Sayang. Maafkan aku ... kali ini aku yang salah. Aku yang kelewatan. Mungkin aku terlalu lelah bekerja sampai tak bisa lagi berpikir jernih dengan berita yang aku baca."


"Berita? Berita apa lagi, Mas? Tolong jelaskan padaku. Aku tak mau alasan yang mengada-ada. Kalau kamu tak memberiku penjelasan yang benar-benar masuk akal, aku tak akan mau memaafkanmu."


"Aku mohon, jangan duduk di lantai, Sayang. Ayo kita duduk di sofa saja."


Dengan terpaksa Riko menyerahkan ponselnya. Dia memperlihatkan foto-foto dan juga pesan dari nomer telepon tak dikenal yang membuatnya marah.


"Astaghfirullah ... siapa ini, Mas? Dan kamu percaya begitu saja dengan foto ini?"


"Aku nggak tahu, Naila. Sekali lagi maafkan aku."


"Mas, apakah kamu tak pernah belajar mengenal bagaimana sifat istrimu yang sebenarnya? Paling tidak, gunakan mata hatimu, Mas ...."


"Maaf, Naila, sekali lagi maafkan aku."


Naila memandang wajah Riko yang tertunduk. Dia menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan agar hatinya tenang. Rasa sakit di hatinya masih terasa, tetapi dia tak tega melihat suaminya. Maaf dan maaf, hanya itu yang keluar dari bibir Riko saat ini.

__ADS_1


Riko tiba-tiba beranjak dari duduknya lalu bersimpuh di lantai di hadapan Naila.


"Hukumlah aku sesuka hatimu. Tapi aku mohon, maafkan aku. Aku sadar, kesalahanku kali ini sangat fatal. Maafkan aku yang tak bisa mengendalikan diriku karena cemburu."


"Mas, sudah berapa kali kamu berjanji akan berubah? Sudah berapa kali kamu bilang tak akan cemburu lagi pada teman laki-lakiku?"


"Sekali lagi maafkan aku, Naila."


"Mas, apakah perubahan wajahku membuatmu tak tenang?"


"Sayang, please, jangan berpikiran macam-macam. Aku yang salah, aku yang sudah keterlaluan."


"Entahlah, Mas. Aku merasa sikapmu berubah semenjak aku seperti ini. Dan sekarang ada seseorang yang tak suka dengan perubahanku sampai membuat fitnah. Aku lelah, Mas. Aku hanya ingin hidup tenang. Kalau memang wajah cantikku membuat masalah, lebih baik aku seperti dulu. Biarlah aku di-bully, yang penting rumah tanggaku tenang."


Naila berdiri lalu berjalan menuju ranjang tanpa mempedulikan Riko yang masih duduk bersimpuh. Hatinya terlanjur terluka karena perlakuan kasar suami tercintanya.


Riko terpaksa menyusul Naila dan merebahkan badan di samping istrinya. Dia kemudian memeluk Naila yang tidur membelakanginya. Riko sangat bersyukur kali ini tak ada lagi penolakan. Namun, dia merasakan tubuh Naila yang bergetar.


Sementara Naila berusaha menepis bayangan kejadian tadi malam. Dia mencoba menerima pelukan Riko tetapi tubuhnya tiba-tiba bergetar karena ketakutan.


"Sayang, maafkan aku. Aku yang menyebabkanmu seperti ini. Maafkan aku ...."


Naila kembali berusaha membuat dirinya tenang. Dia semakin memperat pelukannya. Dia berusaha melawan trauma dengan caranya sendiri. Bibirnya tak berhenti mengucap istighfar.


Riko menangis melihat istrinya yang mencoba melawan rasa takut akibat dirinya. Dia pun membantu Naila dengan mengelus punggung dan mengecup kening Naila dengan lembut. Tak lama kemudian, tubuh Naila pun mulai tenang. Saat ini Riko merasakan tubuh Naila berguncang karena tangisan.


"Menangislah, menangislah yang kencang. Bila perlu pukullah suamimu yang bodoh ini. Luapkan emosimu, jangan kamu tahan! Maafkan aku, Sayang, maafkan aku ...."


Riko pun menangis, menyesali perbuatannya. Setelah Naila benar-benar tenang, dia melepas pelukannya. Naila kemudian duduk dan menghadap Riko yang masih berbaring memandangnya.

__ADS_1


"Mas, kira-kira siapa yang mengirim pesan dan foto-fotoku itu padamu?"


__ADS_2