
Pertanyaan Riko membuat Rony sadar seketika. Tiba-tiba rasa takut menguasai dirinya. Badannya gemetaran, lidahnya kelu tak berani bersuara.
"Aku ... aku ingin mengakui sebuah kesalahan. Sungguh, rasa bersalah ini membuatku tak tenang. Terserah kalian ingin melakukan apa saja kepadaku, aku terima. Naila, maafkan kakak iparmu yang tak tahu diri ini. Tolong maafkan aku. Aku ... aku ... aku yang telah meng-upload foto-foto kalian waktu itu."
Riko dan Naila terkejut mendengar pengakuan Rony. Riko beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati kakaknya yang masih diam dan menundukkan kepala. Riko pun memaksanya berdiri dan Rony jatuh tersungkur karena Riko langsung memukulnya.
"Kurang ajar!! Karena kelakuanmu, istriku sering dibully di keramaian. Karena kelakuanmu, istriku sering sakit bahkan sering meminta cerai dariku. Kamu sudah menyakiti hati Naila, kamu bukan Kakakku!!" Riko berteriak dan kembali memukul Rony, meluapkan rasa marah.
Bugh!! Bugh!! Bugh!!
Riko berkali-kali memukul perut dan juga wajah kakaknya. Dan Rony pun hanya pasrah, sama sekali tak melawan. Naila terpaksa berteriak menghentikan suaminya. Bagas berusaha memegang Riko dengan kuat agar tak lagi memukul Rony yang sudah tak berdaya.
"Ma-maafkan aku, Riko, ma-maafkan aku Naila. Terserah kalian ingin melakukakan apa saja padaku, aku menerimanya. A-aku salah, jika kalian ingin mengusirku, a-aku akan terima." Rony berkata dengan suara yang lemah dan terbata. Wajahnya yang tampan tampak lebam dan menyedihkan. Hidung dan ujung bibirnya pun berdarah.
Naila mendekati Riko dan menenangkannya. Riko pun terpaksa duduk kembali bersama Naila dan berusaha meredam emosinya.
"Duduklah kembali, Kak," perintah Naila. Rony pun menurut, berusaha berdiri dan duduk kembali meskipun tertatih. Nyeri di perut masih sangat terasa akibat pukulan adiknya.
"Jujur, aku tak tahu harus berkata apa. Kemarin Kak Vella dan Clara, sekarang Kak Rony. Sebenarnya apa salahku sampai kalian tega berbuat seperti ini padaku. Aku memang tak cantik, tak rupawan seperti istrimu. Aku juga sadar jika tak pantas bersanding dengan adikmu. Namun, sekali lagi aku tekankan, bukankah kita tak tahu dengan siapa kita berjodoh? Jodoh, rizqi, mati, semua sudah ada yang mengaturnya, Kak. Bukan aku!"
"Na-Naila, ma-maafkan aku. Waktu itu aku belum mengenal--." Rony berusaha memberi alasan, tapi Naila langsung memotong ucapannya.
"Bahkan Kak Rony dan Vella sama sekali belum mengenalku, tapi nyatanya tega mendzolimiku. Apakah aku pernah menyakiti hati kalian? Apakah aku pernah mengusik hidup kalian? Kenapa? Kenapa, Kak? Apa salahku?" Suara Naila mulai gemetar karena menahan rasa marah dan kecewa.
"Naila ...." ucap Riko dengan lembut. Dia sangat takut melihat tubuh Naila yang gemetaran.
__ADS_1
"Apa seburuk itukah wajahku sampai orang yang bahkan tak mengenalku membuat postingan seperti itu? Bahkan Kakak menambahkan kata-kata kalau aku memakai dukun untuk memikat suamiku. Apa sebenarnya tujuan kalian? Apa salahku?" Naila marah, tapi ternyata fisiknya tak kuat.
Riko sangat mengkhawatirkan keadaan Naila saat ini. Terlihat wajah istrinya yang pucat pasi. Riko memeluk tubuh Naila yang tiba-tiba lemah. Dan tak lama kemudian Naila pun jatuh tak sadarkan diri dalam dekapannya.
Riko menggendong Naila dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar tidur mereka. Bi Marni yang baru saja keluar dari kamar Bara mengikuti Riko dengan membawa minyak kayu putih. Bi Marni mencoba ikut membantu Riko agar Naila siuman dari pingsannya.
"Bi, buatkan Bagas dan Kak Rony teh lemon hangat. Bantu Kak Rony mengobati lukanya, ya Bi. Setelah keadaannya lebih baik, suruh mereka pulang. Biar aku di sini menemani Naila," perintah Riko pada Bi Marni.
"Baik, Tuan." Bi Marni pun berlalu melaksanakan perintah tuannya.
Dengan langkah gontai, mereka berdua pun pulang setelah menghabiskan teh lemon hangat buatan Bi Marni. Rony pun sudah lebih baik keadaannya. Lega rasa hatinya sudah mengakui kesalahan walaupun tak tega melihat Naila pingsan menahan sakit hati dan marah. Sementara Bagas pun terpaksa harus pulang walau hatinya tak tenang melihat keadaan Naila.
♡ ♡ ♡
"Naila ...." Riko memeluk tubuh Naila yand sudah siuman.
"Iya, Sayang. Sudahlah nggak usah kamu pikirkan. Wajar kalau kamu marah, kakakku sudah keterlaluan. Kalau kamu masih belum ingin memaafkan mereka, jangan dipaksakan hatimu. Minum obat dulu, ya. Senin besok aku antar ke dokter untuk periksa keadaanmu."
"Iya, Mas. Setelah minum obat, aku ingin tidur saja," balas Naila.
"Apa perlu aku temani?" tanya Riko yang masih mencemaskan keadaan Naila.
"Iya, tetaplah di sini menemaniku," jawab Naila.
Riko beranjak mengambil air putih hangat yang sudah disiapkan Bi Marni. Membantu Naila duduk dan minum obat lalu merebahkannya kembali. Wajah istrinya pucat dan sembab, Riko membiarkan Naila istirahat.
__ADS_1
Riko pun menemani Naila di sampingnya. Mendekap erat tubuh Naila yang terkadang masih terguncang karena tangisan. Dibiarkannya Naila meluapkan rasa marah lewat air mata. Menghilangkan sesak di dada yang tertahan lama. Sampai istrinya terlelap dalam pelukannya.
♡ ♡ ♡
"Kenapa wajahmu?" tanya Vella yang melihat Rony di kamar dengan wajah yang bengkak dan lebam.
"Dari mana saja kamu?" Rony balik bertanya melihat istrinya yang baru pulang entah dari mana.
"Ditanya istrinya kok malah balik bertanya," protes Vella yang masih berdiri memandang suaminya dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Hari sabtu pulang malam, tadi subuh sudah pergi lagi. Sebenarnya kamu ke mana saja, Vella? Ada urusan apa kamu di luar sana?" Rony memberikan beberapa pertanyaan pada Vella dengan nada tinggi karena emosi.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu kasar padaku, Rony. Kalau kamu memang tak cinta lagi padaku, tolong ceraikan aku," ucap Vella tak mau kalah.
"Cerai ... cerai ... selalu saja itu yang kamu minta. Justru kamu yang sudah tak mau hidup denganku lagi. Benar 'kan?" Rony pun marah, hatinya merasa lelah melihat Vella yang tak pernah menghargainya.
"Kalau iya, kenapa? Aku besok akan pergi dari sini. Aku juga sudah lelah denganmu. Dari pada kita saling menyakiti, bukankah lebih baik kalau kita berpisah saja? Kamu bisa cari istri lagi yang seperti adik iparmu itu," ucap Vella seenaknya.
"Aku menerimamu apa adanya walaupun saat menikahimu kamu sudah tak suci lagi. Dan setelah apa yang aku lakukan selama ini untukmu, kamu masih tak pernah menganggapku suami. Bahkan perusahaan papaku hancur karena ulahku yang berusaha menuruti keinginanmu. Dan sekarang ini balasanmu?" Rony tak menyangka secepat ini Vella ingin pergi darinya.
"Tak usah kamu ungkit lagi tentang aku yang waktu itu sudah tak perawan karena kita sama, sama-sama bukan manusia suci. Dan bukankah memang tugasmu sebagai seorang suami harus membahagiakan istrinya. Lalu di mana salahku?" Vella tak terima dengan tuduhan Rony padanya.
"Apakah selama ini kamu memang tak pernah mencintaiku?" tanya Rony.
"Ya, sekarang aku akan berkata jujur padamu. Aku memang tak pernah mencintaimu. Aku menikah denganmu karena aku tak ingin hidup susah. Kalau sekarang kamu sudah tak punya apa-apa lagi, buat apa aku bertahan. Cukup sudah waktuku bersamamu, sekarang sudah saatnya aku pergi. Bila perlu, aku akan pergi sekarang juga. Aku tak ingin berlama-lama di sini lagi," jawab Vella terus terang.
__ADS_1
"Aku yakin kamu ingin kembali bersama mantan kekasihmu. Itu 'kan yang kamu inginkan?" tanya Rony dengan suara lirih. Tak dipungkiri, dirinya sedih dan sakit hati mendengar jawaban istri yang selama ini sangat dicintainya.
Vella tak menghiraukan pertanyaan Rony lagi. Wanita cantik itu pun berlalu mengambil koper di kamar belakang dan memasukkan semua pakaian serta perlengkapan make-upnya. Rony hanya diam memperhatikan, bahkan dia tak berniat mencegah kepergian istrinya. Pada akhirnya Vella benar-benar pergi meninggalkan dirinya tanpa kata perpisahan.