Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Riko meradang, Cintya datang


__ADS_3

Bisma berbicara dengan terus terang tanpa ada yang ditutupi. Naila pun merasa tak enak hati. Memandang suami yang terlihat hanya diam memperhatikan dengan pandangan yang tak dimengerti. Memandang Rony yang hanya bisa menelan saliva karena rasa bersalah.


"Sudahlah, tolong tak usah dibahas lagi, ya," pinta Naila.


"Maaf, Naila. Aku tak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin menyampaikan pada mereka yang mengatakan hal buruk padamu. Mereka tak tahu bagaimana kamu sebenarnya. Bahkan banyak pria tampan dan mapan yang ingin melamarmu karena kebaikan dan keshalihanmu, tapi kamu menolak mereka semuanya." Kembali Bisma memberi penjelasan.


Di masa kuliahnya, Naila bukanlah gadis yang rupawan. Namun, banyak kelebihan yang dimilikinya, kecerdasan, kebaikan, keshalihan, keramahan, membuat penampilannya yang sederhana terlihat menawan. Beberapa pria tampan mencoba mendekatinya bahkan ada yang langsung melamar Naila. Salah satunya adalah Bisma dan sampai sekarang rasa itu masih ada. Namun, dia harus kembali kecewa karena gadis pujaannya sudah menikah.


"Benarkah? Apa Anda salah satunya?" tanya Riko penasaran. Naila pun mulai merasa tak nyaman.


"Hahaha ... maaf, tentu saja iya. Saya pernah melamar Naila, tapi nasib saya sama seperti yang lainnya. Anda adalah pria yang sangat beruntung, Pak Riko. Tolong jangan sia-siakan istri seperti Naila. Bahkan saya sudah berkeliling mencarinya sewaktu foto-fotonya viral waktu itu. Saya berniat menikahinya dan membuatnya menjadi cantik dan istimewa agar dunia tak lagi merendahkannya," jawab Bisma yang membuat Riko geram.


Naila yang sudah tak nyaman, semakin gelisah dengan ucapan teman lamanya. Terlihat olehnya, rahang Riko yang mengeras, menahan sesuatu yang bergejolak dalam dada. Rasa emosi atau cemburu, Naila tak tahu, hanya berharap tak sampai membawa masalah. Naila menangkupkan kedua tangannya sebagai isyarat pada Bisma agar tak melanjutkan ceritanya. Bisma pun mengerti, namun dia hanya tersenyum menanggapinya.


"Dan aku yakin, Pak Riko memang suami yang sangat mencintaimu dan bisa menjagamu. Wajahmu sekarang terlihat lebih manis dan ayu, Naila. Makanya aku langsung menghampirimu karena ingin memastikan bahwa ini benar Naila yang kukenal dulu," lanjut Bisma dengan sengaja. Dia pun tahu wajah Riko mulai terlihat kesal.


"Baiklah, saya permisi dulu. Hidangan yang kami sajikan hari ini gratis untuk kalian semua, anggap saja sebagai sambutan pada teman lama. Sekali lagi, saya mohon maaf kalau mengganggu. Hemm ... boleh minta nomer ponselmu, Naila?" tanya Bisma sambil beranjak dari duduknya.


"Ini kartu nama saya. Kalau Anda ingin bertemu dengan Naila, tolong hubungi saya dulu." Riko segera mengambil kartu nama yang ada di dompet dan memberikannya pada Bisma. Naila hanya diam tak berani bersuara.


"Baiklah kalau begitu. Anda benar-benar menjaga istri Anda. Tapi kalau boleh saya sarankan, jangan terlalu keras pada Naila. Sekali lagi terima kasih kedatangannya di rumah makan kami. Selamat siang semuanya, assalamu'alaikum, Naila."


Bisma pun berlalu dan berjalan santai kembali ke ruangannya. Rasanya belum puas dirinya membuat Riko marah. Hanya saja dia kasihan dengan Naila yang sudah terlihat gelisah.

__ADS_1


Farel mengajak mereka semuanya pulang karena suasana yang sudah tak nyaman. Rony meminta ijin pulang sendiri, dengan alasan ada sesuatu yang harus diurusnya. Semenjak kedatangan pemilik rumah makan yang tampan itu, Rony merasa suasananya sudah berbeda. Bahkan dia tak menyangka, Bisma begitu mengagumi Naila. Apalagi Bisma berkata ingin memberi perhitungan pada orang yang sudah meng-upload foto-foto Naila, tiba-tiba dadanya terasa sesak tak bisa menghirup udara.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Farel menarik tangan Riko menjauh dari mereka dan mengajaknya bicara. Dia sangat yakin saat ini Riko sedang menahan marah. Farel sudah hafal dengan sifat sahabatnya.


"Broo, jangan cemburu, jangan marah pada Naila. Istrimu bukan wanita yang mudah tergoda. Aku sarankan jaga dia. Meskipun wajahnya tak secantik Clara atau Vella, tapi ternyata diam-diam banyak yang suka. Hati-hati, kamu jangan keterlaluan. Wanita tak suka terlalu dicurigai apalagi sampai dikekang. Jadikan istrimu wanita yang istimewa seperti yang diucapkan Bisma tadi," saran Farel pada sahabatnya.


"Baiklah, aku mengerti. Aku tak akan marah pada Naila. Itu semua masa lalunya. Hanya saja ... ah, sudahlah. Terima kasih sarannya," balas Riko, emosinya pun sudah terlihat mereda.


Riko dan Farel berpelukan layaknya sahabat yang akan berpisah lagi. Mobil mereka pun melaju ke tujuannya masing-masing. Naila merasa perjalanan pulang ke rumah kali ini begitu lama, apalagi suaminya sama sekali tak mengajaknya bicara. Akhirnya, dipaksakan dirinya memejamkan mata daripada merasakan suasana yang tak disukainya.


Sesampainya di rumah, Riko melihat sebuah mobil mewah berwarna putih terparkir di depan rumahnya. Naila terlihat masih lelap di sampingnya. Seandainya tak ada tamu, Riko akan langsung menggendong tubuh mungil istrinya. Dan sekarang dengan terpaksa dia harus membangunkan Naila karena tak tahu siapa yang datang ke rumahnya.


"Sayang, bangun dulu, sudah sampai," ucap Riko sambil mengelus pipi Naila.


"Nggak apa-apa, Sayang. Yuk, kita turun, sepertinya kita kedatangan tamu." Naila pun menganggukkan kepala dan mereka berdua turun dari mobil, berjalan masuk ke rumah. Dilihatnya seorang wanita cantik yang duduk di sofa bersama Bara.


Setelah mengucap salam, Naila dan Riko duduk bergabung bersama mereka. Wajah Bara terlihat sedih, dia langsung mendekati Naila dan memeluknya. Naila membalas pelukan Bara dan tersenyum pada wanita yang ada di hadapannya. Naila kemudian mengajak Bara ke kamar dan meminta tolong pada Bi Marni untuk menjaganya. Entah kenapa, Naila merasa akan ada sesuatu tak menyenangkan yang akan terjadi dan dia tak ingin Bara menyaksikannya.


"Apa kabar, Riko, Naila? Maaf kalau kedatanganku mengganggu kalian," sapa wanita yang berpenampilan anggun itu dengan ramah.


"Kapan kamu datang dari Australia? Dan apakah ada yang ingin kamu sampaikan pada kami, Cintya?" tanya Riko yang tak mau lagi basa-basi, tanpa menjawab pertanyaan Cintya.


"Hemm ... aku ingin menjemput Bara sekarang," jawab Cintya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Apa? Kamu pikir Bara itu barang? Kamu bawa ke rumah ini dan menitipkan pada kami seenaknya, menjemputnya pun tanpa ada kabar pula. Bisa nggak sih kamu menelepon kami dulu?" Riko terlihat emosi dan Naila hanya diam memperhatikan mereka berdua.


"Maaf, Riko. Ponselku hilang jadi aku tak punya lagi nomer ponselmu atau Naila, aku bingung," balas Cintya seadanya karena dia sendiri tak tahu harus berkata apa.


"Alasan! Kamu sudah bekerja di perusahaan papa berapa tahun? Kamu 'kan bisa menghubungiku lewat telepon kantor?" tanya Riko tak percaya.


"Maaf, aku tak kepikiran sama sekali soal itu. Tolong, Riko. Terima kasih kamu sudah merawat anakku. Sekarang aku ingin menjemputnya, mama mertuaku sudah menerima Bara dan meminta agar aku mengajaknya tinggal bersama kami," ucap Cintya memberi alasan.


"Apakah kamu tak memikirkan perasaan anakmu? Tak bisakah kamu memberi waktu satu atau dua hari agar Bara bersiap diri?" Riko semakin meninggikan nada suaranya. Bahkan Naila saat ini tak berani ikut berbicara karena dia menyadari suaminya sedang tersulut emosi.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya di sana. Jadi Bara tak perlu membawa apa-apa. Biarlah semua barang-barangnya ditinggal di sini," jelas Cintya dengan seenaknya.


"Yang aku maksud bukan persiapan barang-barangnya, Cintya, tapi perasaannya. Apa kamu pikir anakmu itu tak punya perasaan? Aku tak mengijinkan kamu membawanya hari ini. Besok atau lusa datanglah lagi untuk menjemputnya. Kalau kamu mau menginap di sini, silakan. Yang pasti jangan kau bawa Bara sekarang, aku tak mengijinkannya. Dan aku tak mau dibantah!"


Riko pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar tidurnya. Masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu dengan kencang. Rasa marah saat kejadian di rumah makan masih ada, sekarang ditambah Cintya yang datang menjemput Bara dengan seenaknya, membuat Riko semakin naik darah.


Tak dipungkiri, dia mulai sayang pada adiknya. Apalagi jika memikirkan Naila, pasti akan sedih karena berpisah dengan Bara. Bukannya dia menolak Bara ikut dengan mamanya, hanya saja Riko ingin memberi waktu bersama pada Bara dan Naila sebentar saja. Sementara Cintya hanya diam, tak lagi bisa berbuat apa-apa.


"Kak, menginaplah di sini. Aku akan mencoba membujuk Mas Riko, agar mengijinkan kalian berangkat besok. Tolong, beri waktu pada kami semua mempersiapkan hati."


"Terima kasih, Naila. Aku tak mau merepotkanmu. Aku akan menginap di penginapan saja, pakaianku juga masih di sana. Aku pamit dulu, ya. Sampaikan maafku pada Riko. Aku akan datang menjemput putraku besok malam," balas Cintya dengan terpaksa. Dia pun akhirnya menyerah pada keputusan pemilik rumah tanpa berani membantah.


Sepeninggal Cintya, Naila melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya. Menghela napas panjang di depan pintu, meredakan rasa gelisah yang sudah tertahan sejak dari rumah makan. Dengan langkah berat, Naila pun masuk secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2