
Terpaksa Vella dan Clara kembali ke dalam mobil dengan kecewa. Mereka sangat geram, tak menyangka Riko begitu menjaga Naila. Ternyata niat jahat mereka tak mudah. Membuat mereka berpikir keras dan kembali menyusun rencana lainnya.
"Baru kali ini aku melihat Riko sebucin ini. Rencana kita nggak akan mudah. Kita harus menyuruh orang lain biar nggak ketahuan. Kalau kita yang menemui Naila, pasti dia langsung menghubungi suaminya," saran Clara pada Vella yang terlihat masih kesal.
"Betul juga saranmu. Baiklah aku setuju, kita harus mencari orang lain untuk menjalankan misi kita," sahut Vella.
"Rasanya aku tak sabar melihat Naila menderita. Tak perlu kita sampai menyiksanya, aku juga tak ingin masuk penjara," balas Clara.
"Iya aku tahu, aku hanya ingin membuat dia diusir suaminya. Asal wanita kampung itu sudah keluar dari rumah itu, aku lega. Aku ada rencana baru. Dan aku yakin rencanaku pasti berhasil. Tolong bantu aku, ya." Vella membisikkan rencananya pada Clara.
"Oke deh, siaap," sahut Clara dan mereka pun tertawa bersama.
"Oh, ya, bagaimana dengan berita soal anak kecil yang mirip Riko itu. Siapa dia sebenarnya? Kamu sudah tanya suamimu?" tanya Clara penasaran. Dia juga meyakini jika anak kecil itu adalah anak Riko.
"Boro-boro tanya. Dia pulang kerja jam berapa aku nggak tahu. Dia pulang, aku sudah tidur. Aku bangun, dianya sudah berangkat. Sok sibuk banget, padahal hari pertama kerja. Aku kirim pesan juga nggak dibaca. Males aku lama-lama di rumah. Dia benar-benar sudah berubah. Aku benci wanita kampung itu!" kata Vella dengan emosi.
"Sabar ... coba sekarang kamu ganti strategi. Pura-pura saja ikut berubah, layani suamimu dengan baik. Biar dia percaya kamu juga bisa berubah. Kalau libur, ajak Rony ke rumah Riko, bilang kalau kamu ingin minta maaf sama Naila," saran Clara.
"Bener juga apa yang kamu bilang. Aku akan coba idemu." Vella membenarkan ucapan Clara.
"Demi keberhasilan rencana kita, kamu harus coba. Jadi, kalau rencana kita berhasil, kita tak akan jadi tersangka," ucap Clara.
"Baiklah, terima kasih, ya. Kamu memang sahabatku yang paling oke. Sekarang ayo kita ke tempat biasanya, aku akan traktir kamu hari ini," ajak Vella.
"Katanya Rony nggak kasih kamu uang. Tapi aku lihat uangmu banyak juga, dari mana?" tanya Clara heran.
"Jadi istri itu jangan mau dibegoin suami. Harus punya cara juga dong, biar kita punya tabungan. Aku selama ini selalu bilang kalau uangku habis, padahal tabunganku utuh. Kalau ada situasi seperti ini, aku masih punya banyak uang. Walaupun sedih juga karena tabunganku jadi berkurang." Vella mengatakan sejujurnya pada sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu gila juga, ya. Suami habis-habisan hartanya, kamu santai saja. Hebat juga aktingmu," puji Clara.
"Harus dong, biar saja dia minta sama adiknya. Yang penting jangan ambil yang sudah jadi milikku. Mau dia tak punya uang atau belum makan, aku tak peduli. Suami 'kan tugasnya memenuhi kebutuhan istrinya. Dan aku tak mau berbagi, biar saja dia usaha sendiri. Terus kapan kita mulai beraksi? Aku benar-benar nggak sabar melihat Naila diusir Riko dan jadi gelandangan," kata Vella yang membuat Clara hanya menggelengkan kepala.
Clara tahu Vella kejam, namun dia tak menyangka sahabatnya bisa bersikap seperti itu terhadap suaminya. Mereka berdua bersahabat sejak remaja, merasa cocok karena selera dan sifat yang hampir sama.
"Aku juga ingin dia merasakan kemarahan Riko. Biar dia merasakan apa yang aku rasakan waktu itu. Secepatnya aku akan mencari orang yang tepat. Kalau memang kamu sudah nggak sabar, aku akan segera menghubungi teman-temanku," ucap Clara dengan geram.
"Baiklah, semakin cepat semakin baik. Kalau sampai Naila terusir dulu sebelum aku berakting menjadi saudara ipar yang baik, itu lebih bagus lagi. Aku tak perlu berpura-pura," sahut Vella dengan semangat.
"Nanti aku akan menghubungimu kalau sudah dapat orangnya. Sekarang lebih baik kita bersenang-senang, oke?" Clara pun segera melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota.
♡ ♡ ♡
"Mas, terima kasih sudah menjadikan aku bagai ratu seharian ini." Naila bergelayut manja pada lengan Riko saat mereka duduk di tepi ranjang.
"Iya, Sayang. Kamu pantas mendapatkannya. Maaf kalau aku terlambat membahagiakanmu. Bagaimana sikap mereka padamu, apa ada yang membuatmu tak nyaman?" tanya Riko sambil mengecup kening istrinya.
"Hemm ... mungkin saja. Sudahlah, yang penting sikap mereka semua baik padamu." Riko membiarkan Naila penasaran. Dia tak ingin Naila tahu jika klinik kecantikan tadi sudah dibooking khusus untuk dirinya.
"Terima kasih, Mas," ucap Naila dengan rona wajah bahagia. Rasa syukur tak henti-hentinya terucap karena Riko sangat menyayanginya.
"Iya, Sayang. Naila, tolong kamu jangan biarkan Vella atau Clara mendekatimu. Tadi aku dapat info kalau mereka berdua mengikutimu. Alhamdulillah, penjaga klinik tak membiarkan mereka masuk. Aku mohon, mulai sekarang jangan pergi sendirian. Kalau Pak Supri dan Bi Marni tak ada, jangan biarkan mereka masuk ke rumah," kata Riko mengingatkan Naila.
Sang sopir yang mengantar Naila adalah orang kepercayaannya. Dia memberikan laporan pada Riko mengenai Vella dan Clara. Dia pun tahu, mereka membuntuti mobilnya sejak dari rumah.
"Baiklah, Mas. Sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku? Aku tak pernah mengganggu mereka," tanya Naila heran.
__ADS_1
"Kamu belum tahu seperti apa mereka. Yang penting, jaga dirimu baik-baik. Aku tak ingin terjadi apa-apa padamu dan juga Bara," jawab Riko dan mengusap lembut pipi Naila.
"Sekali lagi terima kasih, Mas." Naila pun tak ingin terlalu banyak bertanya.
"Gemes banget sih, terima kasih terus dari tadi. Teori terima kasihnya sudah, ya. Sekarang tinggal prakteknya, bagaimana cara berterima kasih yang benar," goda Riko sambil tersenyum, membuat pipi istrinya merona. Naila pun tahu apa yang diinginkan suami tercintanya.
♡ ♡ ♡
Dua bulan berlalu dengan tenang. Rony menepati janjinya, mengajak Bara menginap di rumahnya setiap akhir pekan. Vella pun sering ikut bersama Rony menjemput Bara. Bahkan Vella meminta maaf pada Naila dan sikapnya berubah ramah.
Riko hanya diam memperhatikan, namun hatinya tetap tak tenang. Sementara Rony masih bingung dengan perubahan istrinya. Hanya saja saat ini, dia harus merasa bahagia demi keutuhan rumah tangganya. Dan hari ini Naila tiba-tiba ingin sekali membeli buku bacaan di toko buku langganannya. Dia pun meminta ijin pada suaminya.
"Mas, aku ingin ke toko buku sebentar saja. Boleh, ya? Setelah dapat bukunya, aku nanti langsung pulang," ijin Naila pada Riko yang sudah siap berangkat kerja.
"Tapi Pak Supri hari ini sedang pergi ke luar kota. Kamu pergi dengan Bi Marni dan Bara, ya?" tanya Riko pada istrinya.
"Aku bisa sendiri. Kasihan Bara, dia baru sembuh dari demam tadi malam. Bi Marni biar menjaga Bara di rumah. Sebentar saja, Mas. Sekalian aku ingin membeli soto. Hari ini rasanya aku ingin sekali makan soto daging di warung biasanya," jawab Naila dengan tatapan memohon.
"Wah, sepertinya ada yang lagi ngidam." Riko berharap Naila saat ini sedang berbadan dua.
"Mudah-mudahan, ya. Do'akan saja. Makanya dikasih ijin dong, aku janji langsung pulang." Entah kenapa saat ini Naila benar-benar ingin pergi sendiri.
"Baiklah, tapi tolong hati-hati. Kalau ada Vella atau Clara, jangan biarkan mereka mendekat. Naik taksi online saja, jangan naik motor. Langsung hubungi aku kalau ada apa-apa, ya," ucap Riko sambil memeluk erat tubuh Naila.
Riko pun terpaksa mengijinkan. Apalagi dua bulan ini tak terlihat Vella mengganggunya. Meskipun dalam hati was-was, Riko pun tak tega melihat Naila terkurung di rumah. Ditambah dirinya yang selalu pulang malam dan sibuk memeriksa laporan perusahaan di akhir pekan.
Naila tersenyum senang dan menganggukkan kepala. Setelah Riko berangkat, Naila langsung bersiap-siap. Taksi online pun datang, tak lupa dirinya pamit pada Bi Marni dan Bara.
__ADS_1
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Naila segera berniat pulang. Naila memesan taksi online dan duduk di kursi taman dekat pertokoan. Tak lama kemudian, datang seorang wanita tua dengan anak kecil yang ada di gendongan. Wanita itu menawarkan dagangannya dan Naila pun langsung membelinya karena kasihan.
Sambil menunggu taksi online datang, Naila makan cemilan yang dibeli dari wanita tua tadi. Namun tak lama kemudian, kepalanya terasa pusing dan akhirnya Naila tak sadarkan diri.