Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Ajakan Farel


__ADS_3

Ponsel Rony bergetar tanda masuk sebuah pesan. Dibukanya aplikasi warna hijau di ponselnya dengan tangan gemetar. Namun, rasa takut dan gelisah langsung sirna. Setelah membaca pesan dari adiknya, wajah tampannya pun kembali ceria.


[Kak, tolong ke rumah, Naila ingin bicara dan minta maaf. Ajaklah istrimu juga.]


Hatinya yang sedih dan kecewa berubah bahagia. Ibarat tanah yang sudah kering akibat panas, basah oleh guyuran hujan. Bahkan Riko mengatakan Naila ingin minta maaf dalam pesannya. Rony sangat bahagia memiliki adik ipar yang berhati mulia. Tak membuang waktu lagi, Rony segera melajukan kendaraannya menemui Riko dan Naila.


***


"Maafkan aku ya, Kak Rony. Peristiwa waktu itu memang sempat membuatku depresi, jadi aku sangat marah saat tahu kalau Kak Rony yang melakukannya." Naila langsung meminta maaf pada Rony yang baru saja duduk di sofa ruang keluarga.


"Aku yang minta maaf, Naila. Aku sangat menyesali perbuatanku selama ini. Apa ini artinya kamu memaafkan kesalahanku?" tanya Rony dan dijawab Naila dengan anggukan kepalanya.


"Tentu saja, aku sudah memaafkan kesalahan Kak Rony dan Kak Vella. Oh, ya, Kak Vella kok nggak ikut ke sini?" Naila menanyakan Vella karena dirinya juga berniat memaafkan kesalahan Vella dan Clara.


"Aku tadi sudah kirim pesan pada Kakak, kenapa Vella nggak diajak sekalian? Apa dia menolak?" tanya Riko penasaran.


"Vella ... Vella sudah seminggu ini pergi dari rumah." Rony menunduk, malu pada kedua orang di hadapannya.


"Maksudnya?" Naila tak mengerti maksud ucapan Rony.


"Dia ... dia minta pisah. Bahkan saat aku menjemputnya tadi pagi, dia minta aku segera mengucapkan talak untuknya." Rony pun memberi jawaban sejujurnya.


"Astaghfirullah ... kenapa, Kak? Apa gara-gara aku?" Naila tiba-tiba merasa bersalah mendengar ucapan kakak iparnya.


"Tidak, Naila. Dia bilang tak pernah mencintaiku. Dia meminta aku menceraikannya, tapi aku masih ingin memberikan kesempatan padanya. Kalau memang dia tak mau kembali, mungkin jodoh kami memang sampai di sini," ucap Rony sedih.

__ADS_1


"Yang sabar, ya. Semoga Allah melembutkan hati Kak Vella dan mau kembali pada Kak Rony." Naila merasa prihatin dengan keadaan kakak iparnya. Tak menduga Vella bisa berbuat seperti itu pada suaminya.


"Aamiin ... tapi rasanya tak mungkin, meskipun aku juga berharap kami bersatu kembali. Apalagi sekarang dia sudah memiliki rumah sendiri, sementara aku masih menumpang. Aku tertipu, aku merasa sangat bodoh. Maafkan aku, Riko. Selama ini aku tak pernah mendengar nasihatmu, aku selalu menuruti keinginan Vella," ucap Rony dengan rasa sesal yang mendalam. Betapa dirinya dulu sangat keras kepala membela Vella meskipun Riko sudah mengingatkan.


"Sudahlah, Kak. Aku juga minta maaf karena sudah memukulimu waktu itu. Kalau masalah Vella, aku rasa Kakak belum tahu tentang dia semuanya, Vella itu licik, Kak. Terserah Kakak percaya atau tidak, akan aku buktikan kebenarannya. Sebaiknya Kak Rony istirahat saja di sini, terserah mau tidur sama Bara atau tidur di kamar tamu. Nanti malam ada kejutan untukmu," sahut Riko dengan senyum penuh arti.


Meskipun Rony tak mengerti ucapan Riko, dia pun mengangguk tanda setuju.


***


"Hai, Vella? Tempat ini masih saja jadi tempat favoritmu, ya?" sapa Farel dan langsung duduk di samping Vella.


"Tentu saja, ke mana lagi?" Vella menjawab sambil memasukkan vapenya ke dalam tas. Yang ditunggu sudah datang, dia pun mengajak Farel ke kafe biasanya.


"Kenapa kamu selalu sendiri? Bukankah bahaya wanita cantik sepertimu sendirian seperti ini? Mana Clara?" Farel bertanya pada Vella setelah memesan makanan dan minuman pada pelayan yang datang.


"Hahaha ... kamu benar-benar tak berubah sama sekali." Farel tertawa mendengar ucapan Vella.


"Apa kamu ingin aku berubah? Ayo kita secepatnya menikah, aku berjanji akan berubah sesuai keinginanmu." Vella sangat mencintai Farel dan berharap bisa menikah dengannya.


"Apa benar perasaanmu padaku masih seperti dulu? Bahkan kamu sudah menikah dengan Rony hampir empat tahun, apakah tak ada sedikit pun rasa cinta pada suamimu?" tanya Farel tak percaya walaupun Farel tahu Vella jujur padanya.


"Aku sudah mengatakan padamu 'kan? Aku sama sekali tak pernah mencintai suamiku, aku hanya mencintaimu. Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku sudah pergi dari rumahnya. Aku akan segera meminta Rony mengurus perceraian kami." Vella pun menyampaikan semua isi hatinya.


"Kamu nekat juga ternyata." Farel menggeleng-gelengkan kepala sambil terus tersenyum. Mantan kekasihnya itu memang wanita yang keras kepala dan harus dituruti kemauannya.

__ADS_1


"Ya, aku sudah meyakinkan diriku apalagi kamu sudah kembali. Tolong, jangan tinggalkan aku lagi, Farel. Aku hanya ingin menikah denganmu, aku tak bisa melupakanmu. Hanya kamu yang bisa membuatku bahagia," rayu Vella.


"Bagaimana kalau sekarang kamu ikut denganku? Aku akan mengenalkanmu pada seseorang, tapi kamu jangan menolak kalau nanti sampai di sana. Kamu harus menuruti apa pun ucapanku," ajak Farel dan Vella langsung mengiakannya.


"Baiklah, aku setuju. Ke mana pun kamu mengajakku, aku tak akan menolak. Aku berjanji akan menuruti semua ucapanmu nanti," janji Vella.


"Baiklah, habiskan dulu makanannya, baru kita berangkat."


Farel dan Vella pun menghabiskan makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Tanpa rasa curiga, Vella mengiakan ajakan sang mantan. Vella bahkan meyakini kalau Farel akan mengajaknya ke hotel dan mengenalkannya pada saudaranya. Selama dalam perjalanan, Vella tersenyum bahagia. Begitu pun dengan Farel yang tersenyum melihat tingkah laku mantan kekasihnya.


Mobil mewah Farel berhenti di sebuah rumah bergaya klasik modern, membuat Vella terkejut setengah mati. Rasa bahagia dalam hati membuat dirinya tak menyadari, jalan yang dilalui kendaraan Farel sangat dikenalnya. Vella bergeming, saat Farel mengajak turun dari mobilnya. Ingin menolak, namun Farel sudah berkata terlebih dahulu mengingatkan janjinya.


"Kamu sudah berjanji 'kan kalau akan menuruti semua ucapanku. Kamu juga berjanji tak akan menolak ke mana pun aku mengajakmu. Ayo kita turun, tolong temani aku. Aku sudah ditunggu pemilik rumah ini, dia juga salah satu investor penting yang mendukung bisnis pamanku."


"Kenapa kau tak memberitahuku dari awal? Dan apa kamu tak takut bertemu lagi dengannya? Aku hanya mengkhawatirkanmu." Terdengar helaan napas panjang dari Vella. Dia tak menduga kalau Farel mengajaknya ke rumah yang sangat tak ingin dikunjunginya.


"Tenanglah, aku yakin dia sudah melupakan semuanya. Malam ini aku sudah berjanji akan menemuinya," ucap Farel yang membuat Vella akhirnya mengalah.


Dengan terpaksa Vella pun turun dari mobil dan mengikuti langkah Farel. Demi rasa cintanya, ditepisnya rasa gelisah. Tentu saja Vella saat ini gelisah, bagaimanapun dirinya masih menyandang status istri dari kakak pemilik rumah ini. Dan sekarang dia datang bersama seorang laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya. Apa yang akan terjadi di dalam nanti, Vella tak mau memikirkannya. Yang harus terjadi, biar saja terjadi, Vella meyakini Farel akan melindunginya.


"Assalamu'alaykum ...."


"Wa'alaykumussalaam ...."


Semua yang duduk menunggu di ruang tamu menjawab salam Farel. Vella hanya diam, memandang wajah-wajah yang memperhatikannya.

__ADS_1


"Hallo sahabatku, selamat datang di rumahku. Sudah lama kita tak bertemu."


Riko menyambut kedatangan Farel dan memeluk sahabatnya. Farel pun membalas pelukan Riko karena mereka memang lama tak berjumpa. Vella bingung dengan sambutan ramah Riko pada Farel. Riko tampak biasa saja melihatnya datang berdua bersama sahabatnya. Pandangan Vella pun beralih pada seorang laki-laki tampan yang selama ini menjadi suaminya. Namun, Rony hanya memandangnya, tanpa berniat menyapa dirinya.


__ADS_2