Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Bertemu Eva


__ADS_3

"Selamat, ya, Riko, Naila. Dari hasil pemeriksaan USG, kehamilan Naila sudah enam minggu. Aku akan memberikan vitamin dan penguat kandungan karena Naila pernah keguguran."


Setelah melakukan pemeriksaan pada Naila, Hanna mengucapkan selamat pada mereka berdua. Riko memilih Hanna sebagai dokter kandungan istrinya. Selain Hanna sudah mengetahui keadaan Naila, Riko merasa Hanna adalah seorang dokter sekaligus teman yang dapat dipercaya.


"Alhamdulillah, Ya Allah," ucap Riko sambil menggenggam erat tangan Naila.


"Ini resepnya dan bulan depan kontrol lagi untuk mengetahui perkembangan janin dan ibunya."


"Terima kasih, Hanna."


"Sama-sama ... tolong istrinya dijaga, jangan sampai membuatnya stres. Apalagi di masa-masa awal kehamilan seperti ini, hormonnya tidak stabil. Kamu harus lebih sabar lagi, Riko."


"Insyaa Allah, aku akan ingat nasihatmu. Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu."


Riko dan Naila berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Mereka sangat bahagia dengan kabar yang baru saja diterima. Riko menggenggam erat tangan Naila sambil tersenyum, tak henti-hentinya dia mencium jemari tangan istrinya. Naila hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.


"Sayang, ada yang kamu inginkan? Makanan, minuman, tas, pakaian, atau perabot rumah tangga?" Pertanyaan Riko membuat Naila tertawa.


"Mas ini, ada-ada saja. Aku nggak ingin apa-apa, Sayang. Aku ingin pulang saja, istirahat di kamar," jawab Naila.


"Baiklah, setelah antar kamu pulang, aku langsung ke kantor, ya?"


"Oke .... "


Mereka berdua berjalan menuju apotik yang ada di lantai bawah. Setelah menunggu selama dua puluh lima menit, mereka pun menerima obat dan vitamin yang sudah diresepkan oleh Hanna. Namun, baru saja meninggalkan apotik, tiba-tiba ada yang memanggil nama Naila. Riko dan Naila berhenti dan memandang ke arah seorang wanita yang berjalan mendekati mereka.


"Naila .... "


"Hem ... Eva, ya?" tanya Naila.


"Iya, alhamdulillah kamu masih mengenaliku. Siapa yang sakit?" Eva balik bertanya pada Naila.


"Nggak ada yang sakit, sedang periksa kehamilan saja," jawab Naila sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Selamat, ya! Aku tadi sebenarnya pangling lho sama kamu. Setelah namamu dipanggil baru aku yakin dan berani menyapamu. Wajahmu sekarang benar-benar berbeda, nggak seperti dulu. Eh ... maaf, nggak ada maksud apa-apa," ujar Eva yang tiba-tiba tak enak hati karena menyadari kesalahan ucapannya.


Riko memperhatikan wanita yang ada di hadapannya. Dia akhirnya mengingat nama Eva, nama teman Naila yang menitipkan undangan pernikahan melalui Bisma. Hatinya menjadi tak tenang, karena sebentar lagi apa yang disembunyikan selama ini pasti ketahuan.


"Iya ... nggak apa-apa, santai saja. Kamu kerja di sini?" tanya Naila sambil tersenyum. Dia tak pernah marah atau tersinggung dengan ucapan seseorang yang mengungkit wajahnya yang dulu.


"Iya, aku kerja di bagian administrasi keuangannya. Oh, ya, aku mau ngucapin terima kasih atas kiriman hadiahnya waktu itu. Karangan bunganya besar banget dan hadiah tasnya juga, pasti harganya jutaan, aku suka. Sayang sekali kamu nggak datang, padahal banyak sekali yang ingin bertemu sama kamu." Eva mengungkapkan pada Naila dengan bahagia tentang hadiah yang diterimanya saat hari pernikahannya.


"Kiriman hadiah?" tanya Naila heran. Sementara Riko hanya diam dan bingung harus bagaimana.

__ADS_1


"Iya, kiriman hadiah pernikahanku waktu itu," jawab Eva yang membuat Naila semakin tak mengerti.


"Kapan kamu menikah?" tanya Naila.


"Tiga bulan yang lalu dan aku sudah titip undangan lewat Bisma waktu itu. Kamu juga sudah kirim hadiah padaku. Apa kamu lupa, Naila?" Eva pun jadi bingung dengan pertanyaan Naila.


Riko yang sudah merasa tak nyaman, terpaksa memotong pembicaraan mereka.


"Ehem ... Sayang, ayo kita pulang. Aku harus segera ke kantor, ada meeting setelah jam makan siang."


"Baiklah, Mas. Maaf, Eva, aku pulang dulu, ya. Lain kali kita ngobrol lagi." Naila terpaksa pamit walaupun dia masih penasaran dengan semua ucapan Eva.


"Eh ... iya, maaf kalau aku bicara terus. Aku masih kangen sebenarnya sama kamu. Lain kali kita ngobrol bareng-bareng, ya. Nanti aku akan mengundang Bisma, Daffa dan teman-teman kita yang lainnya, biar tambah seru. Bulan depan kamu pasti kontrol lagi, kan?" Dengan antusias, Eva berkata tentang rencananya.


Dua buah nama yang disebut Eva membuat hati Riko panas. Ingin rasanya segera menggendong Naila dan pergi meninggalkan teman istrinya begitu saja.


"Iya, insyaa Allah aku akan ke sini bulan depan. Kebetulan Dokter Hanna adalah teman baik suamiku," ucap Naila.


"Alhamdulillah kalau begitu, kita nanti jadi sering bertemu di sini. Tolong nanti kabari aku, ya. Nomer ponselmu masih sama, kan?" tanya Eva pada Naila tapi Riko langsung menjawabnya.


"Maaf, nomer ponselnya Naila sudah ganti dan ini kartu nama saya. Kalau ada perlu dengan Naila, bisa menghubungi nomer ponsel saya dulu."


"Baiklah, terima kasih, Pak." Eva pun terpaksa menerima kartu nama yang diberikan Riko.


Sebelum berpisah, Eva mendekati Naila dan membisikkan sesuatu. "Suamimu tampan bangeett, sih. Pantes saja kamu menolak Bisma, yang ini lebih segalanya. Kamu beruntung banget walaupun sepertinya dia sedikit posesif."


"Uang memang bisa menjadikan sesuatu yang buruk menjadi indah. Naila sangat beruntung sekali bisa menjadi istri seorang laki-laki yang tampan dan kaya. Kenapa aku yang dari dulu cantik tak seberuntung dirinya?" Eva berkata pada dirinya sendiri sampai kedua sosok yang diperhatikan hilang dari pandangannya.


***


"Sayang, aku langsung berangkat ke kantor, ya, sudah ditunggu sama Pak Adam."


"Nggak sholat dulu, Mas?"


"Nanti saja aku sholat di masjid dekat kantor."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati, ya, Mas!"


Riko mengecup kening dan bibir Naila sebelum berangkat kerja. Bersyukur selama perjalanan pulang, Naila tertidur pulas tanpa bertanya apa-apa padanya. Dia pun segera pergi sebelum istrinya bertanya tentang undangan pernikahan Eva. Daripada membuat mood Naila buruk, lebih baik dirinya kabur, begitu yang ada di pikirannya.


Setelah membersihkan diri dan sholat dhuhur, Naila mendekati Bi Marni.


"Bi, aku mau tanya sesuatu. Tolong jawab yang jujur, ya, Bi, aku nggak akan marah kok."

__ADS_1


"Iya, Mbak, tanya apa?"


"Beberapa bulan yang lalu, apa ada tamu yang titip undangan pernikahan buat aku?"


"Eh ... anu, Mbak, anu ... soal itu tolong Mbak Naila tanyakan saja pada Den Riko. Bibi nggak berani, Mbak." Bi Marni bingung karena takut dengan tuannya.


"Ooh ... jadi benar, ya? Siapa yang titip undangan, Bi?" tanya Naila yang semakin membuat Bi Marni ketakutan.


"Aduh ... Mbak Naila, saya nggak ikut-ikutan, saya takut sama Den Riko."


"Nggak usah takut, Bi. Beneran saya nggak marah dan nggak akan bilang ke Mas Riko kalau Bibi sudah cerita." Naila berusaha meyakinkan Bi Marni dan menenangkannya.


"Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, ada teman Mbak Naila yang bernama Bisma ke sini mengantar undangan pernikahan. Karena waktu itu Den Riko habis marah-marah, saya bilang saja kalau Mbak Naila nggak di rumah. Rencananya undangan itu langsung saya kasihkan sama Mbak Naila tapi malah ketahuan sama Den Riko. Akhirnya diambil sama Den Riko dan saya nggak boleh bilang sama Mbak Naila. Maaf, ya, Mbak, saya salah." Bi Marni akhirnya terpaksa bercerita.


"Bibi nggak salah, tadi aku tanya cuma pengen tahu aja. Kejadiannya juga sudah lama, kan?" kata Naila dengan tersenyum.


"Mbak Naila ini orangnya sabar banget, nggak pernah marah meskipun ada kejadian seperti ini," sahut Bi Marni yang sangat bersyukur karena Naila tak marah padanya.


"Marah juga buat apa, bikin aku pusing. Bi, aku mau ke warung es depan perumahan sebentar, ya?" Naila tiba-tiba ingin es teler yang ada di depan perumahan.


"Jangan, Mbak, kalau pengen sesuatu suruh Pak Supri saja. Nanti Bibi kena marah lagi sama Den Riko." Bi Marni mencoba melarangnya karena Riko selalu berpesan padanya agar Naila tak pergi sendirian.


"Aku lagi pengen beli es teler sendiri, Bi. Mas Riko juga baru berangkat kerja, nggak akan tahu," sahut Naila sambil berjalan menuju motor maticnya.


"Ya, sudah, Mbak, hati-hati," balas Bi Marni dengan terpaksa.


Naila berangkat menuju warung es yang ada di depan perumahan. Dengan mengendarai kendaraan secara perlahan, dia sampai di tempat yang diinginkan. Setelah memesan tiga porsi es teler, dia pun langsung pulang. Namun, suara seseorang mengejutkannya sehingga Naila terpaksa menghentikan kendaraannya.


"Bisma?" Naila tak percaya bisa bertemu dengan Bisma lagi.


"Hai, Naila, apa kabar?" tanya Bisma.


"Alhamdulillah, baik," jawab Naila.


"Tumben, nih, ke warung sendiri?"


"Iya, lagi pengen aja. Kamu dari mana? Kok bisa ada di sini?" tanya Naila penasaran.


"Memang sengaja lewat sini, siapa tahu ketemu kamu. Ternyata Allah menjawab do'aku," jawab Bisma sambil tersenyum.


"Maaf, ya, Bisma, aku nggak bisa lama-lama. Nanti esnya keburu nggak seger lagi," pamit Naila tanpa menanggapi ucapan Bisma yang menggodanya.


"Iya, nggak apa-apa. Hati-hati, ya." Bisma pun terpaksa mengiakan dan hanya bisa memandang wanita pujaannya.

__ADS_1


Naila segera melajukan kendaraan roda duanya. Beberapa menit setelah dirinya sampai di rumah, mobil Riko pun berhenti di depan pagar. Jantung Naila tiba-tiba berdetak kencang mengetahui suaminya pulang. Apalagi Riko masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Naila merasa Riko pasti melihatnya saat bicara dengan Bisma.


"Apa kalian berdua sudah bikin janji untuk bertemu tanpa sepengetahuanku, Naila?"


__ADS_2