Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Perubahan Naila


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Riko selalu menemani Naila di mana pun dia berada. Semua pekerjaan, diserahkan kembali pada asistennya dulu. Riko sangat mengkhawatirkan istrinya, karena sikap Naila tak seperti biasanya. Naila lebih sering melamun, duduk di sofa sambil memandang ke arah luar jendela.


"Sayang ... hari ini waktunya kamu ke klinik kecantikan. Aku akan mengantarmu dan menunggumu sampai pulang. Bagaimana kalau nanti kita pergi ke mall?" tanya Riko sambil mengelus lembut pipi istrinya.


"Maaf, Mas, kepalaku pusing. Aku ingin di rumah saja." Naila membalas ucapan Riko tanpa memandang suaminya.


"Naila, sudah beberapa minggu ini kamu selalu di rumah. Jangan mengurung diri di kamar terus dong, Sayang. Aku akan menemanimu ke mana pun kamu mau." Riko memegang lembut tangan Naila dan berusaha membujuk istrinya agar mau pergi.


"Aku mau sholat dhuha dulu, ya, Mas. Maaf, Mas, aku benar-benar sedang ingin di rumah saja."


Naila beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Dia pun melaksanakan sholat dhuha kemudian mengaji. Riko hanya bisa menghela napas panjang melihat perubahan Naila. Mengurung diri di kamar, sholat, mengaji, hanya itu sekarang yang dia lakukan.


Sikap Naila yang semakin berubah menjadi pendiam, membuat rasa penyesalan Riko kembali datang. Riko tak henti-hentinya menangis dalam sujudnya, meminta Allah mengembalikan keceriaan istrinya. Bahkan Naila sekarang tak lagi tertawa mendengar candaannya. Naila hanya tersenyum, dengan senyum yang dipaksakan untuknya.


***


Hari demi hari dilalui Riko dengan penuh penyesalan. Naila semakin mengurung diri dan tak mau keluar rumah, bahkan dia jarang keluar kamar. Marni dan Supri merasa kasihan dan kesepian dengan perubahan majikan wanitanya itu.


"Kasihan Mbak Naila, ya, Pak, aku nggak tega. Di kamar terus, nggak pernah keluar rumah. Aku sampai kangen sama masakannya."


Marni dan Supri duduk di taman belakang. Pekerjaan mereka sudah selesai dan saat ini sedang menikmati waktu istirahat mereka.


"Iya, Bu, aku juga kasihan sama Den Riko. Sekarang lebih banyak di ruang kerja, kadang melamun di taman. Kita hanya bisa berdo'a semoga suasana rumah ini bisa kembali seperti dulu," balas Supri sambil menyesap kopi hitam buatan istrinya.


"Memangnya Naila dan Riko kenapa Pak Supri?"


Tiba-tiba Rony bertanya dan berdiri di hadapan mereka. Supri dan Marni terkejut dengan kedatangan Rony.


"Eh, Den Rony ... maaf saya nggak tahu kalau Den Rony datang."


"Saya yang minta maaf, Pak Supri. Saya dari tadi mengucapkan salam nggak ada yang jawab. Rumah juga sepi banget, padahal mobil dan motor lengkap semua. Jadi maaf kalau saya langsung masuk saja, Pak."


"Iya, Den, beberapa bulan ini, keadaan rumah setiap hari memang sepi. Kami nggak tahu ada masalah apa, tapi Mbak Naila sudah beberapa minggu ini nggak mau keluar kamar, apalagi keluar rumah."


"Astaghfirullah ... maafkan saya, Pak. Saya sama sekali nggak tahu kalau mereka ada masalah, sepertinya serius sekali. Saya malu sebagai saudara, seakan nggak pernah peduli sama adik kandung sendiri."

__ADS_1


Setelah mendengar cerita dari Supri, Rony merasa bersalah. Sudah dua bulan ini, dia tak pernah berkunjung ke rumah adiknya, karena sibuk dengan urusan pekerjaan.


"Kalau mencari Den Riko, mungkin sekarang sedang ada di ruang perpustakaan, Den."


"Baiklah, saya permisi dulu mau menemui Riko."


Rony berjalan meninggalkan taman belakang dan berjalan menuju ruang perpustakaan sekaligus ruang kerja. Dia melihat Riko yang duduk melamun dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia pun masuk setelah mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Riko, aku minta maaf, aku akhir-akhir ini sibuk dengan urusan kantor." Riko berdecak kesal mendengar ucapan kakaknya.


"Kakak ini, kantor orang diurusin, kantor sendiri dicuekin!"


"Wajahmu kusut banget, ada masalah?"


"Ya, aku ada masalah dan sekarang aku jadi males ngurusi pekerjaan. Semua aku serahkan lagi sama Pak Adam. Alhamdulillah beliau mau mengurusnya."


"Kalau boleh tahu ... masalah apa? Maaf, Riko, aku belum siap kembali ke perusahaanmu."


"Itu perusahaan kita, Kak, peninggalan papa. Bukan milikku saja! Capek aku ngomong sama kamu!"


Riko menghela napas sebelum menyerahkan ponsel miliknya. Rony melihat foto-foto dan juga pesan yang ditunjukkan padanya.


"Bukankah ini Yakub?"


"Yakub? Yakub musuh bebuyutan Kakak itu?"


"Ya ... dia Yakub, kakak Sarah yang waktu itu datang ke rumah."


"Astaghfirullah ... jadi benar, dia Sarah adiknya Yakub yang pernah Kakak ceritakan itu?"


"Iya ... dan kamu sebagai suami Naila percaya dengan pesan-pesan ini?"


"Aku ...."


"Riko ... Riko ... rasa cemburumu sangat tidak beralasan. Pasti kamu sudah menyakiti perasaan Naila sampai dia diam seperti itu. Aku saja yang brengsek seperti ini tak akan percaya dengan semua pesan-pesan ini. Tapi kamu, suaminya, yang sudah menikahinya hampir dua tahun ini tak mengenal sifat istrimu sendiri?"

__ADS_1


"Ya ... aku salah. Aku malah sempat berpikir kalau semua ini Kakak yang melakukannya."


"Aku memang pernah jahat pada kalian terutama pada Naila. Aku memang bukan laki-laki yang alim. Tapi aku tak mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Apalagi Naila begitu baik padaku."


"Yaa ... aku memang bodoh, selama ini tak pernah mempercayai istriku." Riko mengakui kesalahannya.


"Kalau kamu mau, lebih baik sekarang kita temui Sarah dan Yakub dan meminta penjelasan pada mereka tentang foto-foto ini."


"Sebenarnya Pak Supri sudah menjelaskan semuanya padaku. Walaupun tidak detail, tapi aku percaya kalau Naila pergi bersama Sarah, bukan hanya dengan Yakub saja. Bahkan mereka juga pergi diantar oleh Pak Supri."


"Barangkali saja kamu masih penasaran dengan hubungan Yakub yang terlihat akrab dengan Naila. Dari pada kamu hanya menduga, lebih baik kita meminta penjelasan dari mereka. Semoga saja, Yakub mau memberi penjelasan dan tidak berniat balas dendam padaku melalui Naila."


"Apa Kakak berpikiran seperti itu?"


"Mungkin saja tapi aku juga nggak mau langsung menuduhnya. Lebih baik kita ke rumahnya saja sekarang mumpung kita libur. Naik motor saja, aku yang bonceng."


"Baiklah, aku ganti baju dulu. Aku juga mau pamit sama Naila."


Riko pun berjalan menuju kamarnya. Sementara Rony menunggu Riko di teras rumah. Riko malihat Naila yang sedang terlelap di atas ranjang mereka.


Riko mendekati Naila dan mengecup kening wanita yang sangat dicintainya itu. Wajah Naila terlihat pucat dengan pipi yang mulai tumbuh jerawat. Naila akhir-akhir ini tak mau lagi merawat wajah dan tubuhnya apalagi pergi ke klinik kecantikan.


Riko mengerti dan tak memaksakan kehendaknya pada Naila. Dibiarkan Naila bersikap semaunya asalkan dia mau memaafkannya.


"Naila, aku akan pergi sebentar bersama Kak Rony. Ada yang kamu inginkan, Sayang? Bakso atau es teller mungkin?" Riko bertanya pada Naila sambil mengusap lembut rambut hitam istrinya.


"Tidak, Mas. Pergilah, aku hanya ingin tidur saja. Salam buat Kak Rony, ya!" Naila membalas ucapan Riko dan tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." Sebelum pergi, Riko mengecup kening Naila dengan penuh cinta dan rasa penyesalan yang mendalam.


Riko dan Rony pergi berboncengan dengan motor matic menuju rumah Sarah. Meskipun dalam hati Rony takut bertemu dengan Yakub, tetapi demi Naila dan Riko, dia harus menghilangkan rasa takutnya. Apalagi sudah lama dia tak bertemu dengan Sarah, rasa takutnya pun sirna karena akan berjumpa dengan pujaan hatinya.


Sesampainya di sebuah rumah dengan halaman yang bersih dan asri, mereka berhenti dan mengetuk pintu rumah Sarah yang sedikit terbuka. Karena bantuan dari Naila waktu itu, Sarah dan Yakub pun kembali ke rumahnya.


"Kamu? Ada perlu apa ke sini?"

__ADS_1


__ADS_2