Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Surat dari Sarah


__ADS_3

Hari Sabtu pun tiba, Rony segera bersiap pergi ke Kampung Kelapa. Dia menunggu Sarah di mushola sesuai kesepakatan mereka. Menunggu dan menunggu ... hingga adzan dhuhur berkumandang, Sarah tak kunjung datang.


Setelah sholat dhuhur berjama'ah di mushola, Rony segera meninggalkan Kampung Kelapa dengan pikiran penuh tanda tanya. Dia sangat yakin kalau Sarah bukanlah wanita yang ingkar janji. Pasti ini ada hubungannya dengan Yakub, itu yang Rony pikirkan saat ini.


Sampai di perbatasan Kampung Kelapa, terdengar suara seseorang memanggilnya.


"Om Rony!"


Rony menghentikan laju kendaraannya dan seorang anak laki-laki dengan tergesa berlari mendekat. Anak laki-laki itu kemudian memberikan amplop berwarna putih padanya.


"Maaf, Om Rony, ya? Ini ada surat dari Mbak Sarah." Rony mengangguk dan tersenyum. Dia merasa geli dipanggil dengan sebutan "Om".


"Siapa namamu?" tanya Rony sambil menerima amplop putih dari anak laki-laki itu.


"Ikhsan, Om."


"Sarah ke mana?" Rony penasaran kenapa Sarah mengirim surat padanya.


"Mbak Sarah minta maaf karena nggak bisa menepati janjinya. Mas Yakub libur dan sedang di rumah. Mbak Sarah tadi sudah minta ijin tapi nggak boleh pergi sama Mas Yakub. Akhirnya dia pura-pura ijin ke warung dan minta tolong pada saya mengirim surat ini pada Om Rony."


"Kamu yakin kalau aku yang bernama Rony?"


"Yakin sekali, Om. Nggak ada orang yang wajahnya ganteng seperti orang Arab di kampung kami. Saya tadi sudah melihat Om di mushola tapi saya takut kalau ada yang melihat saya memberikan amplop ini pada Om. Makanya saya menunggu Om di sini karena yakin Om pasti pulang lewat jalan ini."


"Baiklah, surat ini aku terima, ya. Sampaikan terima kasih pada Sarah. Kalau begitu aku pulang sekarang."


Sebelum pergi, Rony mengambil satu lembar uang berwarna biru dari dompetnya. Diberikannya uang itu pada anak laki-laki yang ada di hadapannya.


"Ini buat beli jajan, tolong diterima, jangan menolak. Anggap saja sebagai rasa terima kasih karena kamu sudah membantu kami."


"Terima kasih, Om," jawab Ikhsan dengan mata berbinar.


Rony kembali melanjutkan perjalanan dan melajukan motor maticnya dengan cepat. Dia tak sabar dan ingin segera membaca surat dari Sarah.


Sesampainya di rumah, dia langsung membuka amplop berwarna putih itu dan duduk di ruang tamu. Dibacanya selembar kertas yang berisi tulisan tangan yang sangat rapi.


Assalamu'alaikum, Kak Rony.


Maaf, Kak, saya tidak bisa menepati janji karena suatu alasan. Sepertinya saya juga tidak pernah bisa membantu Kak Rony mengantar ke rumah Kak Tasya. Kak Yakub mulai mengekang saya dan dia tak mengijinkan saya pergi kecuali diantar sama Kak Yakub sendiri.


Bersama surat ini, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang sudah saya ketahui. Kak Rony sebenarnya nggak perlu lagi menyelidiki tentang anak Kak Tasya. Kak Yakub sendiri pernah mengaku kalau anak Kak Tasya bukanlah anak kandung Kak Rony.


Maaf kalau saya tidak memberitahukan hal ini pada Kak Rony sebelumnya. Rencananya saya ingin Kak Rony mengetahuiya sendiri.

__ADS_1


Demikian info dari saya. Semoga Kak Rony nggak marah pada saya maupun pada Kak Yakub. Semoga dengan kabar yang saya sampaikan, Kak Rony tidak lagi penasaran dan bisa tenang.


Assalamu'alaikum ....


Sarah.


***


"Alhamdulillah ...."


Rony langsung melakukan sujud syukur di lantai ruang tamu. Dia sangat berterima kasih pada Sarah. Secara tak langsung, Sarah telah meringankan beban berat yang ada di hati dan pikirannya.


Seandainya dia memiliki nomer ponsel Sarah, pasti saat ini juga Rony akan menelepon wanita ayu itu. Namun, dia sama sekali tak mengetahuinya. Bahkan mungkin mulai sekarang dia tak akan lagi berjumpa dengannya. Tiba-tiba Rony menjadi sedih saat mengingat tulisan dalam surat Sarah tadi.


"Seposesif itukah Yakub pada adiknya? Kasihan sekali Sarah. Aku akan mencoba menolongnya agar lepas dari kekangan kakaknya." Rony berjanji pada dirinya sendiri. Walaupun tak yakin akan berhasil, dia tetap akan mencoba.


***


"Hemm, jadi anak Tasya bukan anak kandung Kakak? Alhamdulillah Kak Rony tahu tanpa harus menyelidikinya. Semoga Kakak sekarang bisa tenang," kata Riko setelah membaca surat dari Sarah.


Malam ini Rony menginap di rumah Riko. Besok hari Minggu, mereka akan menghadiri pesta pernikahan Clara bersama. Rony pun menunjukkan surat dari Sarah pada adiknya.


"Terus terang saja, sekarang aku yang taktenang memikirkan Sarah. Apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya?" Rony meminta pendapat Riko.


"Menolongnya?" tanya Riko tak mengerti.


"Kak Rony jangan cari masalah, deh! Biarkan saja dia seperti itu. Yakub 'kan hanya berniat menjaga adiknya," ucap Riko tak setuju.


"Kasihan dia, Riko. Sarah bukan lagi anak kecil atau gadis remaja. Dia sudah dewasa. Harusnya Yakub percaya pada adiknya. Sarah juga sepertinya wanita yang shalihah dan bisa menjaga dirinya."


"Hemm ... ada yang diam-diam jadi idolanya Sarah, nih." Riko pun tertawa menggoda kakaknya.


"Awas kamu, Riko!"


Mereka pun tertawa bersama. Saling melempar bantal sofa yang ada di ruang keluarga. Naila yang sedang berjalan ke arah mereka, hanya menggelengkan kepala melihatnya. Namun, dalam hatinya bahagia menyaksikan pemandangan di depannya saat ini. Dua saudara yang dulu bermusuhan, sekarang sudah akrab lagi.


"Ternyata orang dewasa kalau bercanda melebihi anak-anak, ya." Naila berkata sambil duduk di samping suaminya.


"Maaf, ya, Naila. Kamu jadi terganggu istirahatnya," sahut Riko dan langsung meminta maaf pada adik iparnya.


"Nggak apa-apa, Kak, santai saja. Aku juga masih belum mengantuk, kok," balas Naila sambil tersenyum ramah. Dia merasa tak enak hati pada kakak iparnya, karena sikapnya beberapa hari yang lalu.


"Eh, Kak, aku punya ide. Bagaimana kalau Kakak langsung melamarnya?" Pertanyaan Riko membuat Rony tertawa getir.

__ADS_1


"Bisa-bisa aku langsung ditendang sama Yakub. Dia saja waktu itu sudah mengancamku agar tak mendekati adiknya," jawab Rony.


"Justru itu, Kak. Kalau Kak Rony melamarnya dan meminta tolong pada Pak Hasyim, Yakub pasti langsung setuju." Riko memberi saran pada Rony. Dia yakin kakaknya benar-benar suka pada wanita yang bernama Sarah itu.


"Iya kalau setuju, alhamdulillah. Kalau terjadi penolakan dan keributan, kasihan Sarah. Aku nggak mau mempermalukan wanita."


"Kak Rony ternyata benar-benar suka Sarah, ya. Ketahuan sekarang ...."


Rony kembali melempar bantal pada adiknya. Riko hanya tertawa. Rony kemudian mendekati adiknya dan memeluknya.


"Terima kasih, Riko. Aku bahagia sekali, kita bisa bercanda seperti ini lagi. Kalau aku boleh jujur ... aku tak ingin melamar Sarah."


"Lho, kenapa, Kak? Apa karena Yakub?" tanya Riko heran.


"Bukan begitu ... aku tak akan melamarnya tapi aku akan langsung menikahinya."


Mereka kembali tertawa dan Naila hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Bahkan dia tak ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Bagi Naila, melihat mereka seperti sekarang, sudah membuatnya bahagia.


***


"Besok kita berangkat jam berapa, Sayang?" tanya Riko setelah mereka sudah masuk ke kamar.


"Jam sepuluh saja, ya, Mas," jawab Naila sambil merapikan tempat tidur mereka.


"Baiklah, kita ajak Pak Supri dan Bi Marni juga. Tadi aku sudah bilang sama mereka. Bi Marni nanti biar menemanimu duduk. Besok kamu nggak usah mondar-mandir, ya. Duduk saja, biar Bi Marni yang mengambilkan makanan atau minuman untukmu." Riko tak ingin istrinya lelah setelah dari pesta.


"Terus kamu nggak nemenin aku?" tanya Naila dan langsung menatap tajam ke arah suaminya.


"Aku ada beberapa klien yang datang juga ke acaranya Clara. Mungkin aku akan menemui mereka sebentar dan membahas sedikit pekerjaan. Makanya aku minta tolong Bi Marni ikut, biar kamu ada temannya." Riko mendekati Naila yang tampak kesal dan mengelus pipi istrinya.


"Pekerjaan terus yang diurusin. Datang ke pesta ngurusin kerjaan juga. Apa lebih baik aku di rumah saja?" Riko tersenyum mendengar ucapan Naila.


"Jangan begitu, Sayang. Hanya sebentar saja, kok. Setelah itu kita akan jalan-jalan ke mana pun yang kamu mau," ucap Riko membujuk istrinya yang cemberut.


"Benar, ya?" tanya Naila dengan pandangan mata yang berbinar.


"Iya ... memangnya mau ke mana?"


"Aku ... aku mau makan bakso yang ada di depan gedung tempat pernikahan Clara." Jawaban Naila membuat Riko mengernyitkan dahinya.


"Kamu kok tahu kalau di depan gedung itu ada warung bakso?"


"Tahu, dong. Baksonya enak sekali, kuahnya sedap. Aku dulu sering ke sana diajak Daf ...."

__ADS_1


"Daffa?" sahut Riko memotong ucapan istrinya.


Naila hanya mengangguk pasrah. Rasa senang membuat dirinya keceplosan.


__ADS_2