Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Perdebatan kecil di kamar


__ADS_3

"Sudahlah, ayo kita segera pergi. Kita lihat saja langsung keadaan Naila." Yakub langsung mengajak mereka segera berangkat, membuat Riko merasa lega.


"Ya, Kakak benar. Aku akan bersiap dulu." Sarah beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamarnya.


"Jangan lama-lama, mentang-mentang ada calon suami nanti ganti bajunya nggak kelar-kelar." Yakub menggoda adiknya, membuat Rony tersenyum.


"Ish, Kakak ini apa-apaan, sih!" Sarah pun langsung menutup pintu kamarnya dengan kedua pipi yang merona.


Mereka berangkat bersama dengan kendaraan roda duanya masing-masing. Rony bersama Riko dan Yakub berboncengan dengan Sarah. Rasa bahagia terpancar pada wajah ketiga orang itu, kecuali Riko yang sedih akibat ulahnya sendiri.


Setelah sampai, Riko mengajak Sarah masuk ke kamar menemui istrinya. Terlihat oleh Riko, Naila sedang duduk di sofa dekat jendela sambil mengaji. Hanya itu kegiatan yang dilakukan Naila selama di kamar.


"Sayang, lihat siapa yang datang ...." Riko berkata pada istrinya yang sama sekali tak mau melihatnya.


"Assalamu'alaikum Naila ...." Salam yang diucapkan Sarah membuat Naila melihat ke arah mereka.


Naila memandang Sarah yang tersenyum padanya. Dia pun berdiri dan mendekati wanita ayu yang sudah dianggap seperti saudara itu. Naila memeluk Sarah dengan erat karena rasa rindu. Sudah lama mereka tak bertemu dan selama ini hanya berkirim pesan melalui ponsel.


Setelah melepas pelukan, Sarah memandang wajah wanita di hadapannya. Dia sangat terkejut melihat perubahan pada Naila. Wajah yang biasa bersih glowing tanpa jerawat, sekarang terlihat bintik hitam dan jerawat di sekitar pipi, dagu dan juga keningnya. Wajah Naila yang biasanya cantik terawat tanpa make-up, sekarang berubah kusam dan tak bercahaya. Bahkan saat memeluk Naila, Sarah tahu berat badan wanita itu sudah turun drastis. Naila begitu kurus, tetapi tak terlihat karena tertutup gamis dan khimarnya yang panjang.


"Naila ... kamu kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti ini?" Sarah mengelus kedua pipi Naila dengan lembut.


"Aku baik-baik saja, kok. Ayo kita duduk di sofa itu, kita nggak usah keluar kamar, ya."


"Sarah, tolong temani Naila di sini. Aku akan keluar menemui Yakub dan juga Kak Rony." Riko ingin memberi mereka kesempatan untuk berbicara berdua.


Sarah hanya mengangguk dan mengerti keadaan Naila yang tak mau keluar dari kamarnya. Naila dan Sarah pun duduk berdampingan di sofa dekat jendela, tempat favorit Naila beberapa bulan ini. Sarah bingung harus memulai dari mana, karena banyak sekali pertanyaan yang ada di pikirannya untuk Naila.


Wajah dan fisik Naila berubah, jauh berbeda dengan yang selama ini dia lihat. Namun, sikap dan cara bicaranya masih sama seperti biasanya, lembut dan sopan.

__ADS_1


Sementara Riko mengurungkan niatnya untuk menemui Yakub dan Rony. Dia berdiri di balik pintu dan mendengarkan pembicaraan mereka. Dia juga ingin tahu alasan apa yang membuat Naila seperti ini, selain karena kesalahan yang sudah dilakukannya. Riko pun penasaran apa yang akan Naila katakan pada Sarah.


"Kakak dari mana? Kok bisa sama Mas Riko?" tanya Naila penasaran.


"Kak Riko main ke rumah tadi sama Kak Rony."


"Oooh ...." Jawaban Naila membuat Sarah heran.


"Kok hanya 'Oh'? Apakah kamu nggak heran atau bertanya kenapa suamimu datang ke rumahku?"


"Aku tahu, dia pasti minta penjelasan pada kalian berdua mengenai foto-fotoku yang ada di ponselnya, kan?" Sarah bingung harus berkata apalagi mendengar ucapan Naila yang sesuai dengan kenyataan.


"Hemm ... tidak, kok. Dia tidak minta penjelasan apa-apa pada kami, hanya main saja."


Sarah mencoba untuk membela Riko karena mengerti jika Naila tidak suka dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Naila ...."


Sarah mencoba menenangkan Naila dengan memegang tangannya dengan lembut. Mata Naila yang sudah berkaca-kaca, mulai meneteskan air mata.


"Apa dia masih belum percaya kalau aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kak Yakub? Apa seburuk itukah pemikirannya tentangku? Apa belum cukup, waktu dua tahun ini dia mengenal sifat istrinya? Aku memang wanita dari kampung, dari desa. Tapi aku masih punya harga diri sebagai wanita dan sebagai seorang istri."


Mendengar ucapan Naila, Riko langsung keluar dari persembunyiannya. Dia tak ingin istrinya salah paham.


"Naila ... aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Sayang. Tolong jangan salah paham."


"Tidak, Mas! Aku tahu aku bukanlah wanita yang sempurna seperti mantan-mantan kekasihmu dulu. Aku tahu wajah cantikku karena perhatianmu. Seandainya bukan karena kamu, tak mungkin aku bisa melakukan perawatan di klinik kecantikan yang terbaik di kota ini. Aku hanya wanita murahan di matamu, Mas!"


"Astaghfirullah ... tidak, Naila! Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Maafkan aku yang kemarin sudah menjadi pelampiasan amarahku. Tapi sungguh, Naila, aku percaya padamu. Aku yang bodoh! Aku yang harusnya kamu hukum, bukan dirimu sendiri!"

__ADS_1


Sarah bingung harus bersikap bagaimana menghadapi suami-istri yang sedang berdebat di hadapannya. Dia hanya bisa membantu menenangkan dengan mengusap punggung Naila dengan lembut. Naila pun menyadari sikapnya yang sudah kasar pada suaminya. Dia langsung mengucapkan istighfar dan memohon maaf pada laki-laki tampan yang masih berdiri dan hanya diam memandangnya.


"Astaghfirullah ... maafkan aku, Mas. Maafkan aku yang sudah berteriak padamu. Maaf ...."


Riko langsung memeluk tubuh kurus Naila dengan penuh rasa rindu. Riko benar-benar rindu pada Naila yang dulu, sebelum dirinya melakukan kesalahan. Dia menciumi wajah Naila tanpa henti, tak peduli meskipun ada Sarah di sampingnya. Sarah pun kembali duduk di sofa. Dia tak ingin meninggalkan mereka karena takut Naila akan kembali emosi. Sementara Naila masih menangis dalam dekapan suaminya. Riko pun semakin mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku, Sayang. Tolong jangan seperti ini. Aku selalu merasa berdosa setiap melihatmu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Hanya saja waktu itu aku benar-benar khilaf karena rasa cemburu. Tolong, maafkan suamimu ...."


"Iya, Mas ... aku juga minta maaf. Aku sudah memaafkanmu tapi aku masih tak bisa melupakan kejadian malam itu. Tolong, beri aku waktu."


"Terima kasih karena sudah memaafkanku. Aku akan sabar menunggu sampai kamu benar-benar bisa melupakan kejadian itu karena semua yang terjadi memang kesalahanku. Tapi sampai kapan kamu tak mau keluar dari kamar ini, Naila? Apakah kamu tak ingin membantu mempersiapkan acara pernikahan calon kakak iparmu?"


Ucapan Riko membuat Naila melepas pelukannya. Dia pun memandang wajah tampan Riko yang juga terlihat tak terawat.


"Pernikahan calon kakak ipar? Siapa, Mas?" Naila yang penasaran membuat Riko dan Sarah tersenyum.


"Siapa lagi yang kamu harapkan menjadi kakak ipar? Siapa yang ingin kamu jodohkan dengan Kak Rony?"


"Kak Sarah?" Naila ingin memastikan sendiri jika nama yang dia harapkan adalah benar. Dia pun kembali mengulangi pertanyaannya karena tak ada jawaban dari Riko atau pun Sarah.


"Benarkah Kak Sarah dan Kak Rony akan menikah?"


"Ya ... tentu saja. Semua ini berkat kamu, Sayang. Yakub ingin mewujudkan keinginanmu dan dia pun akhirnya setuju dengan hubungan Kak Rony dan Sarah."


Bruukk!!


"Naila!"


Riko dan Sarah secara bersamaan berteriak memanggil nama Naila yang tiba-tiba pingsan.

__ADS_1


__ADS_2