
"Mas, Sabtu besok, aku mau jalan-jalan sama Kak Sarah ke mall. Boleh, nggak?" tanya Naila pada Riko setelah selesai makan malam.
"Baiklah, Sayang. Pulangnya jangan terlalu malam, ya? Keadaanmu bagaimana?" Riko pun menanyakan keadaan istrinya. Beberapa minggu ini dia sibuk di luar kota.
"Alhamdulillah aku sudah sangat sehat, 'kan sudah dua bulan lebih. Selama ini Kak Sarah yang beberapa kali ke sini menemaniku. Aku jenuh di rumah, Mas. Apalagi kamu sering ke luar kota." Naila pun cemberut tapi tak bisa protes dengan kesibukan suaminya.
"Iya, Sayang. Maafkan aku, insyaa Allah bulan depan aku akan mengambil cuti. Kita berbulan madu, ya?" Ucapan Riko membuat bola mata Naila berbinar.
"Ke mana, Mas?"
"Kamu maunya ke mana?"
"Nggak usah jauh-jauh, Mas. Ke Malang saja juga nggak apa-apa. Di sana banyak tempat wisata pantai yang indah." Naila pun menyampaikan keinginannya.
"Nggak ingin ke Bali?" tanya Riko.
"Nggak, Mas. Aku lebih suka suasana di Kota Batu Malang dari pada di Bali," jawab Naila.
"Emang pernah ke Bali?" Pertanyaan Riko membuat mata Naila melotot ke arahnya. Riko pun tersenyum melihat ekspresi wajah Naila.
"Menghina!! Aku sudah dua kali lho ke Bali. Aku malah nggak pernah ke pantai Malang, padahal lebih dekat."
"Baiklah, Sayang. Permintaanmu sederhana sekali, insyaa Allah aku pasti mengabulkan. Apa kamu nggak ingin ke luar negeri?" Riko memberi penawaran yang biasanya membuat wanita suka. Namun, ternyata hal itu tak berlaku bagi istrinya.
"Aku hanya ingin kalau ke luar negeri, kita langsung ke Mekkah, umroh atau naik haji." Jawaban yang membuat Riko malu, dia sama sekali tak punya pemikiran seperti Naila. Istrinya selalu memikirkan ibadah dan akhirat, sedangkan dirinya yang dipikirkan kesenangan duniawi saja.
"Insyaa Allah, aku juga akan mengabulkan permintaanmu. Akhir tahun ini kita berangkat umroh, ya?" Riko ingin memenuhi keinginan Naila.
"Benar, Mas?" Kembali bola mata Naila berbinar bahagia.
"Iya, aku akan menyesuaikan jadwalku. Akhir tahun aku akan libur panjang," janji Riko pada Naila.
"Kenapa nggak bulan depan saja kita umroh?"
"Maaf, Sayang. Aku hanya bisa cuti empat hari. Setelah itu harus mengerjakan proyek baru di Bogor dan Jakarta." Riko memberi penjelasan dan Naila pun mengerti.
"Baiklah, yang penting kita sudah ada niat dan rencana ke sana. Untuk saat ini, yang paling penting, kamu mengijinkan aku jalan-jalan sama Kak Sarah." Naila beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Riko. Dia berdiri di samping suaminya yang masih menikmati teh lemon hangat.
"Aku akan mengijinkan, dengan syarat Pak Supri harus ikut ke mana pun kamu pergi." Riko menghadap Naila yang masih berdiri di sampingnya.
"Iya, Mas. Aku akan menuruti semua perintahmu. Terima kasih, ya, Mas."
"Good wife!"
__ADS_1
Naila dan Riko pun saling berpelukan. Suasana di ruang makan sangat sepi, Supri dan Marni sedang ijin pulang ke desa. Riko langsung menggendong tubuh mungil Naila dan membawanya ke kamar. Mereka pun saling melepas rindu yang sudah lama tertahan.
***
Sabtu sore, Naila bersiap pergi bersama Sarah. Riko kembali sibuk dengan pekerjaannya di luar kota. Sarah dan Naila membuat janji bertemu di salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota. Sarah diantar Yakub dan mereka pun berjalan bersama dengan Supri yang mengikuti langkah mereka.
Naila mengajak Sarah pergi ke salah satu butik langganannya. Dia membelikan Sarah gamis sebagai tanda ucapan terima kasih. Tak lupa Naila juga membelikan baju koko buat Yakub. Supri dan Marni pun tak dilupakannya.
Setelah cukup lama berkeliling, mereka duduk di salah satu kafe yang ada di food court di lantai atas. Naila membebaskan semuanya memilih makanan dan minuman yang mereka inginkan. Supri memilih duduk sendiri, tak ingin satu meja dengan mereka.
"Terima kasih, ya, Naila. Sayang sekali sebenarnya uangnya kalau dibuat beli gamis dan baju koko semahal ini," ucap Sarah pada Naila.
"Sudahlah, Kak. Pemberianku tak seberapa jika dibandingkan dengan pertolongan kalian." Naila membalas ucapan Sarah dengan tersenyum.
"Semua kamu belikan tapi kenapa kamu nggak beli buat dirimu sendiri, Naila?" tanya Yakub penasaran.
"Pakaianku masih banyak dan masih bagus semua, Kak. Tadi Mas Riko sudah aku tawari juga nggak mau. Kami tak ingin menumpuk pakaian yang hanya memberatkan hisab di akhirat nanti. Kalau kami ingin membeli baru, pakaian lama harus kami berikan pada orang lain dulu yang lebih membutuhkan."
Penjelasan Naila membuat Yakub dan Sarah semakin kagum padanya. Meskipun punya banyak harta tapi Naila tak suka foya-foya apalagi membeli barang-barang yang tak berguna. Naila juga sosok wanita yang dermawan. Bahkan asisten rumah tangganya pun dibelikan juga dengan kualitas dan harga yang sama dengan mereka.
"Beruntung sekali suamimu, Naila. Dia benar-benar mendapatkan sebuah permata, perhiasan dunia." Sebuah pujian pun disampaikan Yakub untuk Naila.
"Kak Yakub berlebihan. Aku wanita biasa, Kak. Justru aku yang beruntung memiliki suami seperti Mas Riko."
Yakub tak suka dengan ucapan Naila yang memuji suaminya. Bagi Yakub, Riko bukanlah suami yang baik karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Kak Yakub nggak tahu saja cerita kami. Bahkan aku pernah viral karena wajah burukku."
"Benarkah?" tanya Sarah tak percaya.
"Iya, Kak. Aku dulu tak seperti ini tapi Mas Riko menerimaku apa adanya. Dia juga yang menjadikan aku jadi berubah seperti sekarang. Alhamdulillah aku sudah tak pernah di-bully lagi."
"Naila, kamu benar-benar istri yang shalihah. Kamu baik dan juga setia. Tak banyak wanita zaman sekarang sepertimu. Apalagi kamu masih sangat muda." Sekarang Sarah yang memuji Naila. Wanita cantik yang usianya beberapa tahun di bawahnya, memiliki pemikiran yang luas dan bijaksana.
"Kalian terlalu memujiku. Sudahlah, jangan buat aku terbang melayang tinggi di awan." Naila tertawa menutupi rasa malunya. Yakub memperhatikan wajah Naila yang tertawa dan pandangannya tak berkedip membuat Sarah semakin penasaran dengan sikap kakaknya.
"Hemm ... apakah Kak Yakub suka sama Naila?" tanya Sarah dalam hati.
"Naila, maaf, aku ijin ke kamar mandi sebentar, ya," pamit Sarah pada Naila.
Setelah kepergian Sarah, mereka berdua terdiam dan merasa canggung. Yakub akhirnya memberanikan diri bertanya pada wanita di hadapannya.
"Naila, kalau boleh aku bertanya, apakah kamu punya kakak ipar?"
__ADS_1
"Pasti Kak Sarah sudah cerita soal Kak Rony, ya."
"Bagaimana sikap kakak iparmu padamu?" Yakub penasaran. Naila terlihat sangat cantik di matanya, tak mungkin Rony tak menyukai adik iparnya. Begitu yang ada di pikiran Yakub saat ini.
"Alhamdulillah dia baik dan sopan. Aku malah punya niat menjodohkannya dengan Kak Sarah. Itu pun kalau kalian setuju. Apalagi Kak Sarah sepertinya sudah kenal dengan Kak Rony. Dari pandangan mereka, ada perasaan yang tersembunyi. Apa Kak Yakub juga mengenalnya?"
"Hemm ... sebenarnya aku juga kenal dengan Rony. Terus terang saja dia adalah teman sekolahku dulu. Tapi maaf, aku tak sependapat denganmu, aku tak setuju kalau adikku berjodoh dengannya."
"Kenapa, Kak? Kak Rony sangat baik. Dia juga rajin ibadah. Aku yakin dia bisa menjadi imam yang baik bagi Kak Sarah."
"Kamu belum tahu sifat aslinya saja. Aku sudah lama mengenalnya."
"Kak, setiap manusia bisa berubah. Hidayah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Bahkan pembunuh sadis pun, kalau Allah sudah berkehendak, dia akan mendapatkan hidayah."
"Aku nggak percaya dia bisa berubah, Naila. Yang pasti aku nggak akan mengijinkan mereka dekat."
"Aku tak memaksa Kak Yakub untuk menyetujui hubungan mereka. Tapi pikirkan juga perasaan Kak Sarah. Dari pandangan matanya, aku tahu dia suka pada Kak Rony. Dia sudah dewasa, Kak. Biarkan dia dengan pilihannya sendiri ...."
"Kamu nggak tahu bagaimana masa lalu Sarah. Kamu juga belum tahu bagaimana sifat asli kakak iparmu itu. Aku hanya menjaga adikku."
"Aku tahu semuanya. Kak Sarah dengan mantan suaminya dan Kak Rony dengan sifat playboy-nya. Kak Sarah sudah menceritakan semuanya padaku. Begitu pula tentang Kak Rony. Suamiku sudah berterus terang dan menceritakan semua keburukan mereka."
"Tapi aku tetap tak setuju dengan niatmu."
"Sekali lagi aku katakan, aku tak memaksa, Kak. Tapi pikirkan perasaan Kak Sarah. Usianya sudah tak muda lagi. Dan Kak Yakub juga harus memikirkan diri sendiri. Apa Kakak ingin melajang selamanya? Apa Kak Yakub akan terus menerus menjaga Kak Sarah? Kak Yakub sudah harus berpikir untuk hidup berumah tangga. Kalau aku bertanya, siapa yang akan Kak Yakub pilih? Mantan penjahat atau mantan ustadz?"
Yakub diam tak bisa menjawab pertanyaan Naila.
"Pikirkan sekali lagi ucapanku. Jangan simpan dendam di hati. Aku tahu Kak Yakub laki-laki shalih, sebagaimana Kak Sarah yang juga shalihah. Aku ingin kita bisa jadi keluarga."
Sebelum Yakub membalas ucapan Naila, Sarah sudah datang dan duduk bersama mereka. Yakub hanya bisa menghela napas panjang sambil memandang wajah cantik di hadapannya yang tersenyum penuh arti.
"Aku yang ingin mempengaruhi dia, kenapa sekarang aku yang mulai terpengaruh dengan ucapannya. Wajahnya teduh, tutur katanya penuh makna. Ya Allah, sisakan untukku satu wanita seperti Naila." Yakub berkata dan berdo'a dalam hati.
Bagi Yakub, Naila benar-benar wanita yang bijak dan bisa mempengaruhi jiwanya. Meskipun belum lama mengenalnya, dia bisa merasakan inner beauty pada diri Naila. Bahkan Yakub yang tak setuju niat perjodohan Rony dengan adiknya, tak berani membantah apalagi melawannya. Suara Naila saat berbicara, membuatnya diam seribu bahasa.
Tanpa mereka sadari, seseorang telah mengabadikan posisi mereka yang sedang duduk berdua dengan ponselnya, sebelum Sarah datang.
Setelah menghabiskan makanan dan minuman, mereka pun pulang. Selama dalam perjalanan dan sampai di rumah, Yakub sama sekali tak bicara. Ucapan Naila sungguh mengganggu pikirannya. Sarah pun heran dengan sikap kakaknya.
"Kak, kenapa kamu diam saja?"
"Nggak apa-apa, aku hanya mengantuk saja. Setelah sholat, aku langsung tidur, ya."
__ADS_1
Yakub melangkahkan kaki menuju kamarnya setelah membersihkan diri. Memandang langit-langit kamarnya, dia melamun dan memikirkan ucapan Naila.
"Hanya obrolan sederhana tapi kenapa bisa mempengaruhi pikiranku? Bahkan dendamku pada Rony seakan tenggelam ditelan bumi. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Aku benar-benar jatuh cinta padanya ...."