Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Farel dan Sazia


__ADS_3

Vella merasa Farel telah mempermainkan dirinya. Belum hilang rasa terkejutnya, terdengar suara salam dari arah pintu. Seorang wanita berpakaian syar'i dengan perut yang membuncit menghampiri mereka dengan tersenyum ramah.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumussalaam ...."


Mereka semua serempak menjawab salam kecuali Vella yang hanya diam memandang tamu yang datang. Farel beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah wanita berhijab itu dan langsung memeluknya. Vella terkejut dan heran dengan sikap Farel yang sangat mesra pada tamu wanita yang tak dikenalnya. Farel pun mendekati Vella dan mengenalkan wanita itu padanya.


"Vella, kenalkan, ini istriku--Sazia. Dan saat ini kami sedang menunggu kelahiran buah hati pertama kami."


Vella menggelengkan kepalanya tak percaya, terasa ada nyeri di dasar hatinya. Menatap wanita berhijab di hadapannya dengan seksama. Wajah ayu dengan senyuman yang sangat manis, tapi bagi Vella lebih cantik dirinya. Penampilan syar'i seperti Naila, tapi bagi Vella penampilannya sederhana dan sangat jauh dibandingkan dirinya yang modis. Bahkan Vella yang meyakini dirinya sangat mengenal Farel, merasa tahu pasti bagaimana selera mantan kekasihnya soal wanita. Dan Vella sangat yakin jika saat ini Farel tengah membohonginya.


"Aku tahu bagaimana seleramu tentang wanita, Farel. Kamu pasti berbohong dengan mengatakan wanita ini adalah istrimu. Aku tak percaya!" ucap Vella dengan jemarinya yang menunjuk ke arah Sazia.


"Vella ... Vella ... bahkan kamu lupa, baru saja kamu sama sekali tak tahu kalau aku sahabat kecil Riko. Dan sekarang kamu bilang kamu sangat yakin kalau kamu tahu seleraku soal wanita? Bukalah mata dan hatimu, Vella! Lihat dengan jelas apa yang ada di hadapanmu sekarang! Kamu terlalu sombong sebagai wanita!" tegas Farel yang tak suka dengan ucapan Vella. Sazia hanya mengelus lengan Farel agar tak marah.


"Farel, bukankah kamu mencintaiku? Bahkan kamu dulu sangat memujaku. Kamu juga tahu kalau aku dari dulu mencintaimu dan sekarang pun aku masih sangat mencintaimu, Farel. Selama kita manjadi sepasang kekasih, kamu tak pernah berterus terang padaku soal Riko. Apalagi semua rencanaku juga kau ungkapkan pada Riko. Apakah selama ini perasaanmu padaku juga sebuah permainan?" Wajah Vella saat ini terlihat menyedihkan. Matanya mulai berkaca-kaca dengan pandangan yang mengiba.


"Tidak! Aku tidak pernah bohong soal perasaanku padamu. Kamu tahu sendiri, berapa kali aku selalu mengajakmu menikah dan berapa kali pula kamu menolakku. Jika aku tak pernah jujur padamu kalau Riko adalah sahabatku karena aku ingin melindungimu. Aku yang memohon pada Riko agar dia tak melaporkanmu pada polisi. Dan setelah itu aku juga menyadari, kalau aku memang tak pantas hidup denganmu. Aku ikhlas kamu menikah dengan Kak Rony karena aku pikir kamu akan bahagia dengannya yang banyak harta." Farel menjelaskan semuanya pada Vella.


"Lalu kenapa kamu tak menungguku, Farel? Kenapa kamu menikah dengannya?" tanya Vella yang masih tak percaya jika Farel sudah menikah.

__ADS_1


"Aku memang bukan laki-laki yang baik, tapi aku menginginkan wanita yang baik untuk menjadi istriku. Bahkan laki-laki yang brengsek sekali pun pasti berharap mempunyai istri yang shalihah bukan yang hanya pandai clubing dan berfoya-foya. Maafkan aku, Vella. Kamu sudah kuberi kesempatan beberapa kali untuk kujadikan istri, tapi kamu selalu menolak ajakanku. Dan sekarang aku tak bisa meneruskan hubungan kita. Maaf, aku sangat mencintai istriku," ucap Farel sambil mencium lembut jemari Sazia yang dari tadi berdiri di sampingnya.


"Brengsek kamu, Farel! Kamu sudah mempermainkan perasaanku! Akan kubalas perbuatanmu!" teriak Vella tak terima.


Farel hanya tersenyum dan kembali memandang wajah istrinya. Keduanya saling berpandangan dan melempar senyuman. Sikap Farel membuat Vella naik darah, mengambil vas bunga di meja dan melemparnya ke arah Sazia.


"Awas!" seru Naila sambil berlari melindungi Sazia.


"Naila!" teriak semua orang bersamaan.


Darah mulai terlihat mengalir di bagian pelipis Naila. Vas bunga yang dilempar Vella berhasil mengenai dirinya. Riko langsung berlari dan berhasil menangkap Naila sebelum jatuh pingsan. Farel, Sazia dan Riko yang sedang menggendong Naila langsung menuju mobil Farel yang terparkir di luar rumah. Menuju rumah sakit terdekat, menyelamatkan Naila.


"Puas kamu, hah! Karena ulahmu, sekali lagi Naila celaka. Aku yakin setelah ini Riko pasti mengirimmu ke penjara."


Rony berkata pada Vella dengan suara lantang. Sebenarnya dia sangat marah dengan kelakuan mantan istrinya. Namun, sebelum melanjutkan amarahnya, terdengar suara Bara memanggilnya. Bara berlari ke arahnya diikuti Bi Marni yang kewalahan mengejar Bara.


"Kak Naila kenapa, Kak? Mana Kak Naila?" tanya Bara dengan mata yang berkaca-kaca. Bara mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan.


"Kok sepi, Kak? Kak Riko dan Kak Naila mana?" Sekali lagi Bara bertanya pada Rony.


"Maaf, Den. Saya sudah berusaha menghalangi Den Bara keluar dari kamarnya," ucap Bi Marni sambil mengatur napasnya yang tersengal karena berlari mengejar Bara.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bi. Tolong Bibi bersihkan vas bunga yang pecah itu saja, ya. Setelah itu Bibi istirahat saja, biar Bara sama aku di sini," jawab Rony dan segera menggandeng Bara lalu diajak duduk di pangkuannya. Bi Marni segera beranjak mengambil sapu untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Vella.


"Kak Naila dan Kak Riko masih pergi sebentar. Nanti kalau sudah selesai urusannya, pasti pulang. Bara sama Kak Rony di sini saja, sudah malam."


"Kak Rony pasti bohong. Bara tadi 'kan denger orang ribut-ribut dan ada suara yang pecah. Itu buktinya," ucap Bara sambil menunjuk pada vas bunga yang sudah hancur berkeping-keping dan sedang dibersihkan Bi Marni.


"Tadi vas bunganya nggak sengaja kesenggol Kak Vella," kilah Rony.


"Bara yakin pasti Kak Vella marah-marah lagi sama Kak Naila. Kak Vella 'kan jahat." Bara anak balita yang pintar, dia tak mudah dibohongi. Rony pun bingung mencari alasan lagi.


"Do'akan saja Kak Naila nggak apa-apa, ya. Bara mau di sini atau ke kamar saja?" tanya Rony yang kehabisan kata-kata.


"Bara mau nunggu Kak Naila di kamar saja. Bara nggak suka di sini, ada nenek sihir," sahut Bara sambil memandang ke arah Vella. Bara lalu turun dari pangkuan Rony dan berjalan kembali menuju kamar tidurnya.


Vella kembali duduk dengan tubuh yang lemas. Kali ini dirinya benar-benar merasa cemas. Ditambah ucapan Bara yang membuatnya tak berdaya. Bahkan wanita secantik dirinya dibilang nenek sihir oleh anak balita. Duduk berhadapan dengan mantan suami yang baru saja mengucapkan talak padanya, Vella semakin gugup rasanya.


Baru kali ini Vella tak berani memandang mantan suaminya. Dan yang pasti saat ini hanya rasa malu yang ada di hatinya. Membanggakan Farel di depannya yang ternyata sudah menikah tanpa sepengetahuannya. Sementara Rony selama ini begitu mati-matian mencintainya dan mau mengorbankan segalanya untuknya.


"Berubahlah, Vella. Apa kamu tak lelah dengan keadaan seperti ini? Bahkan Clara saja berniat berumah tangga dengan benar, tapi kamu malah semakin menjadi. Aku sudah membebaskanmu, aku akan segera mengurus surat perceraian kita. Aku akan mencoba bicara pada Riko agar tak melaporkanmu ke polisi. Asalkan kamu benar-benar mau berubah, aku akan membantumu. Pulanglah, tak ada gunanya kamu di sini. Aku akan menemani Bara di kamarnya."


Rony kemudian berjalan menuju kamar Bara dan meninggalkan Vella begitu saja. Vella hanya memandang Rony dengan rasa sesal yang begitu dalam. Bahkan laki-laki yang sudah disakitinya, masih mau membantunya agar tak masuk penjara. Betapa bodoh dirinya yang selama ini selalu menyia-nyiakan suami yang begitu mencintainya. Sementara Farel yang sangat diharapkan, ternyata tak lagi memiliki perasaan padanya.

__ADS_1


__ADS_2