Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Pindah rumah


__ADS_3

"Sarah ... Sarah ... mana mau Naila dengan perabot tua seperti itu? Mereka itu orang kaya, pasti kalau beli perabotan yang model baru, yang lebih modern. Ayo, kita pulang, sudah mau maghrib."


Sarah tak membalas ucapan Yakub dan dia pun berjalan mengikuti langkah kakaknya. Sarah tahu, perasaan Yakub saat ini diselimuti oleh rasa bersalah yang amat sangat. Dia hanya ingin membantu meringankan beban kakaknya. Mereka berdua bukan lahir dari orang tua yang kaya raya. Orang tua mereka sederhana tapi selalu mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya dan tak pernah berhutang.


Akan tetapi, pada akhirnya mereka terpaksa harus merelakan rumah peninggalan orang tua karena hutang, meskipun alasannya karena penipuan. Walaupun dalam hati tak rela tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Uang ratusan juta tak sedikit jumlahnya padahal Yakub diberi pinjaman sahabatnya hanya puluhan juta saja.


Setelah sampai di rumah, mereka segera melaksanakan kewajiban tiga rakaat berjama'ah. Yakub sudah lama tidak sholat di mushola, semenjak tragedi pernikahan adiknya. Yakub tak suka terlalu sering berkomunikasi dengan masyarakat sekitarnya. Bukan karena dia sombong, tetapi karena dia berusaha menutup diri dari ucapan yang bisa membuatnya emosi, terutama mengenai sikap posesif pada adiknya.


Sarah segera menyiapkan makan malam untuk mereka. Sayur dan lauk yang sudah dimasaknya tadi pagi masih ada, tinggal dihangatkan saja. Dia pun membuatkan minuman hangat untuk kakaknya yang terlihat sangat lelah. Lelah fisik dan pikiran.


"Kak, ayo makan dulu. Tadi pagi Kakak nggak mau sarapan, jadi sekarang harus makan. Jangan sakiti diri sendiri, Kak. Kita berjuang dan menghadapi masalah ini bersama." Sarah membujuk Yakub yang belum makan dari pagi.


"Sarah, maafkan aku karena selama ini aku mengekangmu. Aku hanya tak ingin kamu kembali jatuh pada laki-laki yang tak punya moral. Aku bertanggung jawab dunia akhirat atasmu, Sarah. Aku lakukan semua ini karena kamu adikku satu-satunya dan aku sangat menyayangimu."


Yakub kembali meminta maaf pada adiknya. Rasa bersalah masih saja mengganggu hati dan pikirannya. Dia merasa gagal sebagai pengganti orang tua Sarah.


"Aku tahu, Kak. Aku tak pernah menyalahkan sikapmu padaku. Insyaa Allah aku juga sangat menyayangimu. Makanlah, Kak. Jangan dzolimi dirimu sendiri hanya karena masalah duniawi," sahut Sarah sambil tersenyum.


"Baiklah, aku akan makan. Ternyata begini rasanya orang yang punya hutang di bank. Tidur tak nyenyak, makan juga tak enak. Seperti orang jatuh cinta saja." Yakub pun berusaha bercanda.


"Kakak ini ada-ada saja. Yang Kakak rasakan sekarang ini, nggak mau makan karena apa? Karena hutang atau karena jatuh cinta?"


"Dua-duanya mungkin ...."


"Apaa ...?"


"Aku hanya bercanda ... ha ha ha ...."


Mereka pun makan malam bersama sambil berbincang dan sesekali tertawa. Sarah merasa bahagia melihat wajah kakaknya sudah kembali ceria.


"Semoga Kak Yakub bisa menerima ujian ini dengan sabar. Aku akan selalu mendampingimu, Kak. Kita hadapi semua masalah ini bersama."


"Sarah, aku jadi kepikiran terus dengan ucapan Naila. Dia memang benar, selama ini aku egois. Mulai sekarang, aku ... aku akan membebaskanmu memilih siapa yang akan jadi suamimu. Maafkan aku, Sarah."


"Kakak ini bicara apa? Aku tak akan memikirkan jodoh lagi, Kak. Aku akan menuruti semua ucapan Kakak. Kalau Kakak memang sudah punya calon suami yang menurut Kakak baik, aku bersedia. Atau mungkin Kak Yakub sudah lelah mengurusku, sampai bicara seperti ini?"

__ADS_1


"Hey, apa yang kamu ucapkan? Aku sama sekali tak keberatan mengurus adikku yang ayu dan manis ini. Tapi aku sadar, kamu juga punya kehidupan sendiri, kamu juga pasti punya keinginan sendiri. Hanya saja selama ini aku selalu tegas dan tak pernah peduli dengan keinginanmu itu. Naila telah menyadarkanku kalau sikapku selama ini salah."


"Kapan kalian bicara berdua?" tanya Sarah penasaran.


"Waktu kamu ke toilet di foodcourt waktu itu."


"Kalian membicarakanku? Tumben Kakakku yang tampan ini mau mendengarkan ucapan seorang perempuan. Biasanya juga cuek, malah kadang-kadang membantah. Hemm ... Kak Yakub suka sama Naila, ya?"


"Ngawur kamu! Aku bukan pebinor!" Yakub langsung menjawab dengan tegas, menutupi rasa gugup karena pertanyaan Sarah.


"Hey, jangan marah, Kak. Aku 'kan cuma bertanya. Ya pasti nggak mungkinlah, Kakakku yang shalih ini suka sama istri orang. Iya, kan?"


"Siippp ... itu kamu tahu. Aku mau istirahat dulu, ya. Nanti setelah sholat isya', aku mau langsung tidur. Maaf kalau aku nggak bantuin."


"Iya, nggak apa-apa. Biasanya juga memang nggak pernah bantu."


Ha ha ha ...."


Sarah tersenyum melihat kakaknya bisa tertawa seperti itu. Pipinya merona mengingat ucapan Yakub yang membebaskannya memilih suami. Teringat dengan satu nama yang beberapa bulan ini telah mengisi hatinya. Dia pun berdo'a semoga Allah menjadikan laki-laki pemilik nama itu sebagai jodoh dunia dan akhiratnya.


Mereka pun akhirnya pindah ke rumah kontrakan yang dekat dengan bengkel. Meskipun rumah mereka belum disita oleh bank, tetapi mereka sudah pindah. Mereka melatih hati, menguatkan mental, untuk melepaskan dan merelakan rumah peninggalan orang tua, agar saat disita, hati mereka sudah ikhlas menerima.


Hari ini bengkel mereka ramai sekali. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih tapi masih ada beberapa motor yang antri untuk diperbaiki. Yakub mempunyai dua orang karyawan yang membantu pekerjaannya. Bahkan Sarah juga masih sibuk melayani beberapa orang yang membeli spare part kendaraan mereka.


"Sarah, kenapa ponselmu hanya kamu pandangi begitu? Dari tadi bunyi, kenapa nggak kamu jawab?"


Yakub yang sedang mengambil minum, melihat adiknya yang diam saja sambil memegang ponselnya. Suara panggilan telepon berbunyi tanpa henti.


"Hemm ... telepon dari Naila, Kak. Aku bingung, dari tadi dia kirim pesan mau main ke rumah."


"Ya sudah, bilang saja kalau kamu sibuk. Hari Minggu saja kita main ke rumahnya."


"Tapii ... dia sudah jalan ke arah rumah, Kak. Aku bingung mau jawab apa?"


"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Ya sudah kita pulang saja. Biar bengkel diurus sama anak-anak."

__ADS_1


"Dia kirim pesan kalau sudah sampai, Kak. Dia mau ke bengkel saja katanya, minta share lokasi."


"Ya sudah nggak apa-apa, biar dia ke sini. Mau bagaimana lagi. Nanti ajak saja ke warung depan itu, biar enak ngobrolnya."


"Baiklah, aku share lokasi dulu kalau begitu."


Tak lama kemudian, mobil Naila tiba di depan bengkel diantar Supri. Sarah pun mengajak mereka ke warung depan sambil membeli minuman.


"Kenapa kamu ke rumah nggak kasih kabar dulu, Naila?"


"Ini tadi aku dari klinik kecantikan sekalian belanja kebutuhan rumah. Aku belikan juga buat Kak Sarah, makanya aku sekalian mampir. Kirain jam segini Kakak sudah pulang. Sudah hampir satu bulan kita nggak bertemu, aku kangen sama Kakak."


"Aku juga kangen sama kamu. Maaf kalau aku belum bisa main ke rumah. Alhamdulillah akhir-akhir ini bengkel selalu ramai, makanya aku bantuin Kak Yakub dulu."


"Hemm ... Kak, maaf, aku mau tanya. Kata tetangga kalian tadi, Kakak pindah rumah, ya?"


"Eh ... itu ... anu ...." Sarah bingung menjawab pertanyaan Naila. Dia tak ingin Naila tahu kesulitan mereka saat ini.


"Kakak ada masalah apa? Kenapa nggak cerita sama aku?"


"Hemm ... ceritanya juga dadakan kayak tahu bulat. Ha ha ha ...."


"Ih, Kakak ini, aku serius kok ngajak bercanda. Tadi waktu aku ke rumah Kakak, ada ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan rumah. Terus aku dibilangin sama mereka kalau kalian sudah nggak tinggal lagi di situ. Malah mereka bilang, katanya alasan kalian biar dekat sama bengkel tapi kenapa barang-barangnya dibawa semua? Mereka yakin pasti kalian menyembunyikan sesuatu."


"Maaf, Naila. Kami ... kami memang terpaksa pindah. Rumah kami bulan depan akan dilelang sama bank. Aku juga terpaksa berhenti mengajar mengaji di mushola. Aku harus bantu Kak Yakub dari pada dia harus bayar karyawan lagi." Sarah pun terpaksa bercerita pada Naila.


"Innalillahi ... kalian punya hutang di bank?"


"Kak Yakub ditipu sama temannya, Naila. Dia dipinjami uang lima puluh juta tanpa bunga dengan jaminan sertifikat rumah. Ternyata sama temannya sertifikat itu dijaminkan ke bank dan dia hutang dua ratus juta. Dia melarikan diri, Naila. Kami tak mungkin bisa mendapatkan uang segitu dalam waktu tiga bulan, belum lagi ditambah bunganya. Makanya kami pindah ke kontrakan dan terpaksa mengikhlaskan rumah peninggalan orang tua kami."


"Astaghfirullah ... kenapa Kakak nggak cerita padaku?"


"Maaf, Naila. Kami tak ingin merepotkanmu. Kami bukan siapa-siapa ...."


"Jadi selama ini Kakak menganggapku bukan siapa-siapa? Apa Kak Sarah sama sekali nggak pernah menganggapku sahabat atau saudara?"

__ADS_1


__ADS_2