
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....βΊοΈβΊοΈπππ
.
.
.
.
Pesta yang di mulai sejak sore hari sampai malam, telah usia. Meski pesta pernikahan mertuanya telah usai. Keresahan hati Vera masih bergelayut di dalam hati. Mengingat dirinya masih di tahan oleh Nara, untuk tidur di rumah besar kediaman besar Yamato. Meski rumah ke dua orang tuanya berada tepat di samping rumah sang mertua. Tetap saja, Vera tak punya alasan lebih pas untuk pulang ke rumahnya.
Kreat!
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Cobaan apa lagi ini! Vera bergerak dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping kiri. Kala Leo keluar dari kamar mandi. Pria itu keluar hanya dengan handuk putih sepaha melilit di pinggang. Rambut basah membawa hujan kecil di bahu lebarnya. Otot lengan terlihat keras, di perindah oleh bentuk kotak-kotak di perut nya.
"Kamu tidak mandi?" Tanya Leo di sela langkah kakinya mendekati lemari di sudut ruangan.
"Iββini, juga mau mandi." Vera tergagap sembari berdiri dari posisi duduk nya.
Leo membelakangi Vera. Sampai bunyi pintu tertutup perlahan. Tubuh kekar itu berbalik, senyum segaris terlihat jelas. Ke dua pipinya merona. Ini kali ke empat mereka tidur di kamar yang sama dan ranjang yang sama.
"Aku ingin dia, tapi aku takut adik kecil ku di tendang lagi!" Monolog nya pelan. Sembari menatap ke arah bawah.
Kepalanya mengeleng cepat. Mengenyahkan pikiran mesum di kepalanya. Leo memakai pakaian nya dengan cepat. Sebelum meraih handuk kecil. Mengunakan nya untuk mengeringkan rambut hitam legam milik nya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Tuan muda! Apa Mbok boleh masuk?" seruan di luar pintu mengalihkan matanya ke arah pintu.
Leo melangkah cepat. Membuka pintu kamar. Wanita paruh baya masuk ke dalam kamar. Membawa dua gelas susu coklat dan cemilan kecil. Wanita yang sudah menjadi pembantu rumah Yamato semenjak Leo kecil sampai sekarang, mendekati meja yang ada di samping jendela kamar. Menghadap taman belakang.
Mbok Wati meletakan gelas dan piring ke atas meja.
"Kata nyonya besar, istri nya tuan muda Leo pasti lapar. Karena dari tadi pagi tidak bisa makan. Dan saat pesta juga tak bisa. Karena itu nyonya meminta Mbok membawakan makanan untuk tuan dan nyonya muda." Ujar Mbok Wati di sela kegiatan nya.
Leo yang mengambil tempat. Duduk di meja dengan sepasang kursi saling berhadapan itu hanya mengangguk kecil.
"Terimakasih Mbok!" ucap Leo dengan lembut.
"Terimakasih untuk apa Tuan muda. Ini sudah tugas, Mbok!" Balas Mbok Wati menarik bibir tuanya ke atas.
Leo ikut tersenyum. Mbok Wati memeluk nampan yang sudah kosong di dada.
"Semoga lancar, tuan muda!" ujar Mbok Wati sebelum membalik kan tubuh nya. Melangkah cepat keluar kamar tanpa mendengar balasan dari sang tuan muda.
__ADS_1
Dahi Leo berlipat. Sebelum mengangkat acuh ke dua bahunya. Leo berdasar di sandaran kursi.
Kreat!
Pintu kamar mandi terbuka. Vera tampak telah selesai mandi. Gadis itu keluar dengan memakai pakaian tidur berlengan pendek dan celana panjang bermotif Doraemon.
"Ayo ke sini. Mama sudah menyiapkan sedikit makanan untuk kau dan aku!" titah Leo.
Vera hanya menurut. Melangkah mendekati sang suami. Duduk di depan Leo. Rasa haus yang melanda membuat Vera meraih gelas berisikan susu coklat hangat. Dengan perlahan menegaknya sampai habis setengah gelas. Sebelum mencomot kentang goreng dan beberapa makanan lainnya.
Suami istri ini makan dengan khidmat. Ke duanya sudah cukup lelah dengan pesta tuan besar Yamato dan nyonya besar Yamato. Apa lagi Vera, gadis ini sudah sangat letih. Satu Minggu tubuh nya tidak bisa tenang. Perawatan yang di berikan oleh Nara cukup membuat ia kesusahan.
Ini lah, itulah dan yang membuat Vera pusing adalah teror dari Ibu mertua nya. Apakah ia telat datang bulan, sampai makanan yang bagus agar ia dan Leo subur. Yang benar saja, bikin saja tidak pernah bagaimana bisa berhenti datang tamu bulanan dan makanan yang di usulkan di makan pun juga tidak akan ada gunanya.
"Kenapa merenung begitu?" tegur Leo melihat Vera yang tiba-tiba saja melamun.
Vera tersentak. Kepalanya mengeleng. Ia meraih kembali susu hangatnya, meneguk sampai tandas. Sebelum melangkah ke arah ranjang besar di tengah ruangan.
"Aku tidur duluan, aku letih!" kata Vera kala sudah sampai di atas ranjang.
Leo hanya mengangguk kecil. Pria itu kembali meneguk minumannya. Vera telah menarik sulit tebal sampai batas dada. Tak lupa bantal guling di tengah ranjang sebagai pembatas antara ia dan Leo.
Dau puluh menit berlalu. Vera di atas ranjang tampak gelisah. Begitu pula dengan Leo yang berada di kursi. Ponsel di atas meja bergetar. Leo melangkah mendekati nakas di samping tempat tidur.
Mom
Jangan terlalu ganas ya sayangku. Dan tolong pahami lah mamamu yang tua ini ππ
Hap!
Leo merasa aliran listrik menyentrum tubuh nya kala sepasang tangan melingkar di pinggang.
"Vera!" panggil Leo dengan suara memberat.
"Leo! Aku...tidak tau. Kenapa rasanya tubuhku panas!" Jawab Vera dengan tangan mengusap dada bidang Leo dari belakang.
Gelayar-gelayar aneh terasa benar-benar membakar tubuh. Dua puluh menit ke duanya sama-sama menahan perasaan yang tak mampu di ungkapkan oleh kata-kata. Leo membalik tubuh nya tanpa melepaskan pelukan sang istri pada pinggang nya.
Vera telah membuka baju tidur milik nya. Hanya menyisakan baju dalam bertali spaghetti. Mata nya terlihat sayu, penuh dengan kabut napsu. Leo Yamato tak jauh beda. Ke duanya benar-benar kehilangan akal sehat.
"Vera!" Panggil Leo berat dengan tangan menyentuh wajah Vera yang menengadah.
Vera mengerang tertahan oleh sentuh tangan Leo di wajah nya.
Leo membungkuk, menyamakan tinggi wajahnya dan Vera. Hingga hembusan napas masing-masing menerpa wajah pasangan mereka.
...***...
Jus jeruk dingin terhidang di atas
__ADS_1
meja. Sebelum gadis cantik itu mengambil tepat di depan sang kekasih.
"Minum, Ga!" ujar Ana dengan nada lembut.
Arga tersenyum. Ia meraih minuman yang di buat Ana. Meneguknya perlahan, sebelum meletakan minuman yang di minum sedikit olehnya di atas meja kembali.
"Maaf ya, kemarin aku tidak sempat datang ke Cafe tempat kita janjian," sungkan Ana. Lebih tepatnya, gadis satu ini berpura-pura sungkan.
Arga hanya mengulas senyum. Pria bermata tajam itu menyandarkan punggungnya di sofa.
"Boleh jujur saja?" kata Arga. Mendapatkan pandangan tak mengerti dari Ana.
"Maksudnya?"
"Aku tau kau hanya ingin bermain-main dengan ku bukan. Kau hanya ingin aku berdekatan dengan Vera. Sahabat mu itu," ujar Arga dengan lugas,"aku bukan lelaki bodoh, Ana. Beberapa kali kau meminta bertemu. Dan mengabari aku di mana posisimu. Tapi saat aku sampai kau tidak ada di sana. Ah...lebih tepatnya bersembunyi bukan?" tebak Arga tepat sarana.
Pupil mata Ana membesar. Jantung nya berdegup cepat. Wajah cantik itu memucat.
"Aββapa, yang kau katakan?" Ana memaksakan tawa di bibirnya.
Arga melipat ke dua tangannya di depan dada bidangnya. Tersenyum miring ke arah Ana.
"Tidak usah berkelit lagi Ana. Aku sudah sangat tau caramu ini tidak mempan padaku. Kau pikir aku sudah berpacaran berapa kali. Hingga tak tau watak seseorang, huh?"
Ana menelan ludahnya susah payah. Arga tersenyum semakin lebar.
"Begini saja. Aku tidak tau mau mu pada Vera sahabat mu itu. Tapi aku bisa melakukan apapun yang kau mau. Tapi ada syaratnya," kata Arga.
"Syarat?" ulang Ana.
"Ya. Syarat!"
"Apa?"
"Kau harus siap membuka ke dua paha mu. Kapan pun dan dimana pun, saat aku butuh. Dan aku akan melakukan apapun yang kau mau. Mudah bukan?" tawar Arga.
Ana diam sesaat. Sebelum mengangguk pelan.
"Baik. Aku terima syarat mu!" putusnya.
Keduanya sama-sama tersenyum. Meski dengan pemikiran berbeda. Pria sama saja. Hanya butuh di puaskan.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Mertua Vera berbahaya ππππππ
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....βΊοΈβΊοΈπππ