Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 48 (Bahagia dengan yang sederhana)


__ADS_3

"Lama tidak berjumpa, Vera!" ucap Ana dengan wajah tak terbaca kala mereka tak sengaja berpapasan di depan bilik toilet.


Vera hanya mengulas senyum dan mengangguk kecil. Ibu hamil itu melangkah mendekati wastafel, mencuci ke dua tangannya. Perutnya sudah sangat terlihat di bulan ke tiga lebih satu Minggu. Ana melangkah mendekati wastafel. Berdiri di samping Vera, ikut membasuh tangannya. Pandangan matanya tak beralih dari perut Vera. Merasa di tatap, Vera menoleh ke samping. Menatap wajah Ana, mantan sahabat nya itu.


"Kenapa?" tanya Vera mengalun.


Ana mengeleng kecil. Hubungan mereka terasa agak canggung.


"Kau hamil?"


"Ya."


"Sudah berapa bulan?"


"Tiga bulan lebih satu Minggu," jawab Vera jujur.


Ana mungut-mungut. Sebelum membawa kembali pandangan matanya ke arah cermin besar. Vera tampak manis dan bersinar semenjak isi. Seperti kata orang, saat wanita hamil. Akan terlihat cerah dan cantik yang berbeda. Apakah ia dulu juga seperti itu?


Tiba-tiba saja pertanyaan itu bergelayut di otak Ana.


"Aku dengar perusahaan kak Leo bangkrut," ujar Ana kembali membuka pembicaraan saat Vera selesai mencuci tangan.


"Ya, begitu lah."


"Kau terlihat biasa-biasa saja. Meskipun perusahaan kak Leo bangkrut," ujar Ana,"tidak terlihat resah dan gelisah. Padahal keluarga mu kehilangan ratusan miliar rupiah," lanjut Ana penasaran.


Vera mengulas senyum lembut. Selalu tampak bersahaja. Meskipun Vera adalah wanita sederhana. Tidak bisa di kategorikan cantik dan seksi. Namun, gadis dengan tinggi 150cm itu memang selalu terlihat bersahaja. Dengan senyum ramah, dan mudah bergaul. Tidak seperti nya. Yang sangat sulit mendapatkan teman yang tulus. Entah karena apa.


"Itu hanya uang Ana. Berapapun banyaknya itu tetap uang yang di titipkan oleh tuhan. Sewaktu-waktu bisa hilang dan datang kembali. Apa perlunya meresahkan benda mati. Yang patut diresahkan adalah jika kita kehilangannya orang yang kita cintai dan kehilangan jati diri kita sendiri," ujar Vera lembut,"selagi hanya benda mati yang pergi. Aku tidak akan merisaukan nya," lanjut nya lagi.

__ADS_1


"Meskipun uang adalah benda mati. Tapi kita bisa mati tanpa nya, loh. Dan ini realistis," tukas Ana.


Vera mengangguk kecil menyetujui perkataan Ana. Tanpa uang manusia selalu menilai ia akan mati. Banyak yang lupa, jika Tuhan menarik apa yang ia berikan dengan mudah. Bukan berati kita mati karena tanpa nya. Bukankah setiap manusia telah di berikan riski masing-masing. Yang membuat manusia mati adalah saat mereka terlalu berlarut-larut menginginkan yang pergi.


"Tidak semua nya benar Ana," ucap Vera,"kita terlalu melebihkannya. Jika sudah hilang Tuhan akan menggantikan nya dengan yang baru. Jika pun tidak banyak setidaknya, tuhan mencukup kannya. Dan kita lah yang selalu merasa kurang," lanjut nya.


Ana tergelak sinis."Kau terdengar seperti orang alim, Ver!" ujarnya,"tanpa uang tidak akan ada kesenangan yang dan kehormatan yang dapat di raih. Apa lagi saat seperti ini. Kau dan kak Leo tentu saja di anggap remeh. Dulu, mungkin orang-orang menghormatimu dan kak Leo karena masih memiliki banyak harta. Saat seperti ini. Aku berani bertaruh, kau dan kak Leo tidak memiliki baik kata di hormati ataupun mendapatkan kesenangan. Jika kau mau, aku bisa membantumu. Anggap saja, sebagai teman," lanjut nya.


Ana menatap pongah Vera. Vera hanya menghela napas pelan.


"Uang hanya bisa membeli kesenangan sesaat bukan kebahagiaan Ana. Dan orang baik jika kehilangan kekayaan, mereka akan tetap di hormati karena kebaikan hati Ana. Jika uang bisa memberikan kebahagiaan, kau tentunya akan lebih bahagia Ana!" papar Vera langsung membuat bibir Ana terkatup erat.


Vera kembali mengulas senyum sebelum menepuk pelan bahu Ana.


"Hidup lah dengan baik Ana. Temukan mereka yang tulus bukan dengan uang. Tapi dengan hati yang bersih. Maka aku yakin kau akan bahagia." Nasehat Vera tulus sembari mengusap lengan tangan Ana.


Vera melangkah keluar dari toilet. Meninggalkan Ana yang mematung.


...***...


"Cie! Yang bakal nikah besok. Cantik banget sih," puji Nadia.


Zita tersenyum malu. Sedangkan Vera, ibu hamil satu itu hanya bisa duduk di tempat tidur pengantin karena tidak terlalu suka berdiri terlalu lama.


"Ya jelas lah, namanya juga pengantin. Perawatan sebelum nikah nya kan banyak. Makanya, segera ketemu jodoh Nadia. Biar bisa secantik Zita saat sebelum hari pernikahan," goda Vera.


Nadia menghela napas pelan."Cari jodoh nggak kayak cari lauk di pasar, Vera. Susah banget. Dan takut nggak sesuai sama yang ada di pikiran," balas Nadia. Gadis itu melangkah mendekati Vera. Duduk di samping Vera dengan wajah nelangsa.


"Hei! Kok malah ekspresi wajahmu seperti itu?" tegur Vera melihat wajah Nadia.

__ADS_1


"Mau nikah, tapi takut salah pilih." Ujarnya sembari manyun.


Beberapa orang yang ada di dalam kamar Zita terkekeh mendengar keluhan teman pengantin wanita.


"Kalau nggak mau salah pilih, minta pendapat mamamu. Saat bawa pria ajak ke rumah. Dan kenalin ke mama, karena perasan orang tua dan penilaian orang tua nggak pernah salah loh," nasehat Vera.


Nadia menoleh menatap Vera. Sebelum memeluk tubuh ibu hamil itu dari samping.


"Terimakasih atas pencerahannya, Ver!" Ujar Nadia penuh semangat.


Zita hanya mengeleng pelan melihat tingkah Nadia. Vera tersenyum dan mengangguk.


...***...


Vera duduk di kursi meja makan yang langsung terhubung dengan dapur mungil rumah kontrakan ia dan Leo. Pria itu tampak begitu fokus membuatkan masakan untuk sang istri. Leo Yamato benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Menjadi suami hebat dan sekaligus suami siaga untuk sang istri. Pekerjaan rumah di kerjakan dengan baik. Meskipun ada beberapa kali kesalahan. Baik dengan rasa makanan yang aneh. Ataupun cara ia menjemur pakaian yang menghabiskan satu tali jemuran. Yang harusnya semua nya muat dengan hanger. Tapi malah di jemur berjejer tanpa hanger.


Leo tidak lagi bingung membedakan deterjen untuk mencuci baju dengan sabun pel lantai. Bisa melipat baju dan menyetrika. Bahkan ia tidak malu menyapu rumah pagi-pagi hanya untuk meringankan bahkan nyaris membuat Vera tidak memiliki pekerjaan rumah. Padahal sang suami harus berkerja di pagi hari. Sampai sore hari, lucu'nya Leo malah terlihat bersemangat. Semuanya demi Vera dan anak mereka.


"Selesai!" seru Leo membuyarkan lamunan Vera.


Dua piring makan terhidang. Satu piring telur mata sapi dengan cabe hijau dan tumis sayur kol. Ke dua masakan tidak memakai penyedap makanan.


"Nasinya!" ujar Vera yang ingin berdiri.


"Duduk saja!" titah Leo sebelum pria itu melangkah mendekati nasi yang telah di pindahkan ke dalam mangkuk besar.


"Wah! Kelihatannya enak. Semakin hari, makan buatan kakak semakin membaik," ujar Vera menatap lapar makanan buatan sang suami.


Leo mengulas senyum."Ya, pasti dong!" ujarnya banga.

__ADS_1


Ke duanya makan dengan khidmat. Sesekali terdengar obrolan ringan ke duanya. Meskipun hidup sederhana tidak ada yang berubah. Yang berubah malah semakin baik. Memperlihatkan dengan jelas seperti apa seorang Leo Yamato. Tuan muda kaya yang tidak bisa apa-apa. Meski pria yang lebih dewasa dan banyak melakukan perubahan pada dirinya. Kejatuhan tidak selalu membawa petaka. Seperti sepasang suami-istri itu. Jika tidak melupakan kata syukur dalam hidup.


__ADS_2