
Senyap menyelimuti gelapnya malam. Helaan nafas teratur terdengar jelas. Kamar utama dari pasangan suami-istri itu hanya diterangi oleh lampu tidur di samping nakas tepat di sisi ranjang. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam lewat tiga puluh menit. Sayangnya, kelopak mata Vera masih belum mau untuk tertutup. Mengikuti jejak sang suami yang sudah empat jam lebih tiga puluh menit tertidur di samping nya.
Bayang-bayang wajah cantik Lili membuat wanita satu ini merasa perasaan tak menentu. Tidak menampik jika di dalam hati ada rasa takut, jikalau pria ini kembali memekarkan rasa yang telah layu atau bahkan telah mati. Dulu, mungkin Vera akan terlihat biasa saja. Atau bahkan mungkin tidak peduli. Jika sang suami mencintai wanita lain. Saat hati belum terlibat.
Sayangnya, di sini. Rasa cinta itu tubuh. Hingga rasa takut ikut serta meresahkan pikiran dan hati.
"Ayolah, Vera! Tolong berhenti memikirkan hal yang tidak tentu kebenarannya. Dan berhenti lah, berandai-andai!" monolog Vera. Sebelum tubuh nya bangkit dari posisi tidur miring membelakangi Leo.
Vera berdiri dari posisi duduknya. Sebelum melangkah keluar dari kamar. Mungkin, susu coklat hangat mampu menenangkan perasaan aneh di hatinya. Beberapa lapu di nyalakan untuk menerangi langkah kakinya. Menuruni satu persatu anak tangga. Sebelum berkelok menuju dapur. Grasak-grusuk, terdengar samar. Hingga kegiatan membuat segelas susu coklat hangat terhidang di atas meja makan. Vera kembali menghela napas setelah menyesap susu coklat hangat buatan nya.
"Beginilah yang berat," keluh Vera,"saat wanita mencintai, mereka kita memberikan hati seutuhnya pada pria. Saat terluka, tidak akan ada sisi hati lagi yang utuh. Dalam rumah tangga yang sangat di takuti bukan jatuh miskin. Tapi pengkhianatan!" monolog nya sendiri.
Ingin rasanya Vera berteriak keras. Jika saja tidak mengingat tempat dan jam. Telapak tangannya mengusap kasar wajahnya. Derap langkah kaki membuat ke dua pupil mata Vera membulat sempurna. Sebelum dengan gerakan cepat merubah raut wajah nya. Kala ke dua tangan besar mengalungi lehernya dari belakang. Pundak kanannya memberat.
"Kenapa berada di sini dan meninggalkan aku sendiri?" tanya Leo dengan nada serak khas orang bangun tidur. Bahkan sebelah matanya masih tertutup. Kala kepalanya di jatuhkan di bahu Vera.
Vera mengulas senyum. Meskipun ia tau Leo tidak akan melihat apakah ia tersenyum atau tidak.
"Aku terbangun dari tidur. Dan nggak bisa tidur lagi, jadi ku putuskan membuat susu coklat hangat. Apakah kakak mau?" tanya Vera dengan nada lembut.
Leo membuka ke dua kelopak matanya. Benar saja, di atas meja di depannya ada segelas susu coklat.
"Kakak mau, aku buatkan susu coklat juga?" tanya Vera sebelum menengadah menatap sang suami.
Leo tidak menjawab. Seperti nya pria ini sangat lelah dan mengantuk.
"Kalau tidak ayo kembali ke kamar," ujar Vera saat tidak mendapatkan jawaban.
"Susu coklat nya belum habis. Kita di sini saja, aku temani kamu minum susu coklat!" Ujar Leo sembari mengangkat kepalanya dan melepaskan belitan di leher Vera. Pria tampan ini berdiri tegap.
Vera mengeleng kan kepalanya."Tidak usah. Aku bawa susu coklat nya ke atas saja. Seperti nya, kakak masing mengantuk!" tolak Vera.
"Nggak apa-apa kok, lagian ngantuk sedikit aja!" ujarnya.
"Nggak, ah. Aku juga gak mau lama-lama di sini!" Ujar Vera sembari berdiri dari posisi duduknya.
Tangannya meraih gelas susu coklat hangat sebelum melangkah terlebih dahulu menuju anak tangga. Leo mengikuti saja langkah kaki Vera. Pria ini tidak menaruh curiga apapun pada sang istri. Dari awal pulang sampai saat ini. Wanita memang sangat apik dalam memainkan sandiwara jika mereka baik-baik saja. Meskipun dalam keadaan hati yang hancur sekalipun.
...***...
__ADS_1
Nadia bergegas menarik kursi plastik yang sempat ia duduki mendekat pada Vera. Ke sedang kan Zita hanya mengeleng kecil melihat bagaimana reaksi Nadia.
"Kenapa kamu tidak bertemu saja dengan Lili dan memperingatkan nya. Sekalipun ada rasa, bukan berarti ia tak tau batasan nya!" ujar Nadia dengan nada tidak senang.
Vera menghela nafas kasar."Aku tidak mungkin begitu," balasnya pelan.
"Nggak mungkin kenapa?" tukas Nadia.
"Aku takut nggak mau dia berpikir kalau dia adalah lawan yang harus di takuti. Karena pernah bersama kak Leo," jawab Vera.
"Ayolah, Vera. Kamu itu istri sahnya kak Leo. Memperingati cewek keganjenan itu wajib," ujar Nadia menggebu-gebu.
"Emangnya Vera harus ngapain. Harus labrak dia dan bilang untuk menjauhi kak Leo begitu?" timpal Zita.
Kepala Nadia mengangguk."Ya, tentunya begitu!"
"Dia bisa aja berdalih kalau dia nggak ada apa-apa nya sama kak Leo. Dan menyebarkan berita kalau Vera adalah istri yang posesif dan agresif, Nad!" jelas Zita.
"Emang apa salahnya?" kesal Nadia.
"Aku takut, kakak Leo nggak suka sama sifat wanita yang begitu. Dalam artian, aku tidak percaya suamiku." Jawab Vera sembari menautkan kelima jari jemarinya menjadi satu.
Katakan saja Vera saat ini tengah di landa rasa cemburu. Cemburu pada mantan kekasih sang suami. Takut-takut rasa yang pernah ada tumbuh kembali. Namun, ia lebih takut salah langkah dan merusak rumah tangga nya.
Nadia dan Zita diam setelah perkataan Vera yang terkahir. Telapak tangan Zita mengusap pelan punggung belakang Vera. Vera menoleh ke arah wajah manis Zita. Wanita itu tersenyum.
"Tenangkan dirimu dahulu. Kita sama-sama nggak tau bagaimana hubungan mereka sekarang. Jika menerka-nerka, tidak akan ada kejelasan. Ada baiknya, kamu tenang dan tanyakan baik-baik pada kak Leo. Siapa tau kamu bakal lega kalau dengar jawaban suami mu!" Zita memberikan masukan dengan lebih dewasa.
Vera mengulas senyum dan mengangguk."Terimakasih," seru Vera pelan.
"Ya, sama-sama!"
Ketiganya kembali terdiam setelahnya.
...***...
Denting sendok dan garpu menjadi pengisi nada di meja makan. Sesekali Vera melirik wajah tampan sang suami yang makan dengan lahap seperti biasanya. Sesekali mereka berbincang-bincang ringan.
"Kak!" panggil Vera pelan.
__ADS_1
Gerakan menyendok Leo berhenti. Ia mengangkat pandangan nya dari makanan pada wajah manis sang istri.
"Ya."
"Dua hari yang lalu kakak makan siang sama siapa?" tanya Vera mencoba mencari tau kejujuran Leo.
Leo mengerut kan dahinya. Ia mencoba mengingat dua hari yang lalu ia makan siang dengan siapa.
"Dua hari yang lalu, aku makan siang dengan kolega bisnis dan model untuk promosi properti baru," ujar Leo jujur.
Vera mencoba sebisa mungkin untuk terlihat tenang."Ah, begitu."
"Memangnya kenapa?"
"Itu," Vera menjeda kata,"sebenarnya hari itu aku datang ke kantor," lanjut nya.
"Eh? Kamu ke kantor?" tanya Leo dengan wajah tak percaya. Pasalnya hari itu Vera berkata jika ia langsung pulang. Ia membatalkan janji ke kantor karena kecapean.
"Ya," jawab Vera. Sebelum menyadarkan punggung belakang nya pada sandaran kursi."Apakah modelnya perusahaan kakak kali ini adalah Lili?" lanjutkan memberikan pertanyaan.
Leo tercekat. Pria ini beberapa kali mengedipkan ke dua kelopak matanya, kala otaknya mengingat hari itu. Saat itu sekretaris nya berada di kantor karena meninjau ulang rapat hari itu. Dan saat sudah memesan makanan menejer Lili tiba-tiba ada urusan dan meninggal kan nya makan berdua dengan Lili.
"Hei! Jangan katakan kalau kau salah paham," ujar Leo nyaris berteriak.
Pria itu langsung berdiri dari posisi duduknya. Langsung mengambil tempat di samping Vera. Gerakan cepat ia meraih tangan sang istri menggenggam nya dengan erat. Vera hanya diam tanpa ekspresi.
"Aku saat itu sebenarnya makan bertiga, sungguh aku tidak berbohong. Saat itu menejer Lili ada urusan mendadak. Hingga meninggal kan aku berdua dengan Lili. Karena sudah menganggapnya seperti teman, karena itu aku duduk makan dengan nya. Aku berani bersumpah!" ujar Leo dengan nada panik.
Vera masih saja berwajah datar. Leo tampak ketakutan. Pria ini takut Vera semakin salah paham. Pria ini tidak bermaksud apa-apa. Mengingat hubungan ia dan Lili telah usai.
"Ver!" panggil Leo.
Hembusan napas Vera terdengar. Sebelum ia mengulas senyum.
"Ya, aku percaya!" ujarnya pada akhirnya.
Leo mengusap dan mengecup punggung belakang telapak tangan Vera. Lega rasanya, saat melihat senyuman Vera.
"Aku cinta kamu. Dan aku dan dia nggak ada hubungan apapun. Selain masalah pekerjaan," ujar Leo lagi.
__ADS_1