Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 47(Belajar menjadi suami yang hebat!)


__ADS_3

Gelas Red Wine di goyang perlahan. Membuat riak di dalam gelas kristal. Musik terdengar mampu memekakkan telinga. Gemerlapan lampu disko, membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang pencari kesenangan. Mereka yang membutuhkan kebahagiaan dengan cara yang berbeda. Ana duduk di meja bar, sesekali menyesap perlahan cairan terkutuk bagi tubuh.


"Kau tidak menari bersama irama musik malam ini, An?" seruan keras di samping tempat duduk Ana.


Ana menoleh ke samping menatap wanita seumurnya. Wanita yang tak kalah sama dengan nya. Mencari kebahagiaan dengan cara yang cukup ekstrim. Jika Ana memiliki keluarga yang gila. Beda lagi dengan wanita dengan pakaian ketat di samping nya itu. Wanita itu adalah wanita yang berasal dari keluarga yang berantakan. Ayah dan ibu nya bercerai dan sama-sama menelantarkan dirinya.


"Kau sendiri kenapa malah duduk di sini, tidak ikut bergoyang di sana?" teriak Ana balik bersautan dengan dentuman musik.


Wanita itu tersenyum."Aku hanya sedang malas saja," jawab nya dengan nada keras.


"Kalau begitu kita sama," jawab Ana.


"Mau keluar?"


"Kemana?" tanya Ana.


"Karaoke," ujarnya memberi jeda,"maybe!" lanjut nya.


Ana tersenyum kecil. Mengangguk pelan, turun dari tempat duduk. Meninggal mini bar, menuju pintu jalan keluar bersama Rina.


"Selama satu tahun kau menghilang Ana. Aku bahkan tidak tau kau dimana selama ini."


"Aku hanya mencoba mencari suasana yang baru."


"Suasana yang baru bagaimana?" Tanya Rina di sela langkah kaki mereka menuju gedung satu lagi.


Gedung Club malam berdempetan dengan gedung karoke.


"Yeah... Hanya begitu." Jawab Ana ambigu.


"Bagaimana dengan pria itu?"


"Hah! Dia benar-benar sulit untuk di dapat kan."


"Lalu bagaimana dengan sahabat mu itu?"


"Mantan sahabat lebih tepatnya." Koreksi Ana.


Kepala Rina mengangguk kecil pertanda mengerti."Ternyata sudah berakhir hubungan kalian."


"Ya, kurang lebih begitu."


"Kau memang sahabat bejat kawan!" Cibir Rina kala menarik pintu masuk gedung.


Ana hanya tertawa pelan mendengar cibiran dari Rina.


"Ya, aku begitu. Dan harus begitu," ujarnya sebelum masuk ke dalam gedung.


"Dasar gila."

__ADS_1


"Ya, aku gila."


Ke duanya tertawa. Saat sampai di depan meja pemesanan bilik karaoke.


...***...


...Srak!...


...Stak!...


...Srak!...


...Stak!...


Bunyi pisau dapur berpadu dengan papan pengiris bawang merah terdengar nyaring di dapur. Leo terlihat perlahan-lahan mengiris. Ke dua mata tajam itu telah memerah. Air mata tidak berhenti mengalir. Berniat memasakan goreng ayam sambalado di campur jengkol. Baru saja memulai pria ini sudah mulai tak tahan dengan aroma bawang yang memguar di udara.


"Apakah maksud dongeng Bawang merah dan Bawang putih itu adalah ini?" Monolog nya di sela mengiris."Bawang merah kejam karena mampu membuat orang menderita." Lanjut nya.


Ingin rasanya Reza tertawa mendengar celotehan sahabat nya satu ini. Katanya mau bikin makanan, mengingat ia tidak mau mengacaukan dapur di rumah kontrak nya. Ia memiliki meminjam dapur Reza. Jika terjadi kehancuran atau paling bahayanya terbakar. Setidaknya ia hanya merugikan satu orang saja. Dari pada ia merugikan satu kompleks kontrakan kecil.


Cukup jahat memang. Begitulah yang ada di otak cerdas Leo. Saat memilih menjadi kan dapur Reza sebagai percobaan, belajar memasak.


"Kau ini katanya mau jadi suami dan ayah yang hebat. Baru saja sama bawang merah sudah menangis," ledek Reza yang duduk di mini bar dapurnya. Menghadap ke arah Leo yang tengah berjuang.


Leo menghentikan kegiatan nya. Pandangan nya di angkat. Menatap wajah cool Reza, yang tersenyum meledek ke arahnya.


"Ya, itukan bukan tugas ku."


Leo menghela napas kesal."Kau tau kawan?" ujar Leo memberikan jeda,"kau itu menyebalkan di mataku!" lanjut nya.


Reza tergelak. Leo Yamato terlihat begitu lucu saat ini. Banyak hal yang pria ini pelajari saat ini. Salah satu contoh yang pasti adalah memasak dan juga mencuci baju. Leo ingin saat pulang dari kantor. Ia bisa membantu Vera memasak. Atau saat pagi hari, ia bisa meringankan pekerjaan Vera dengan mencuci pakaian mereka. Meskipun sempat salah, pria ini memasukkan sabun pel di kombinasikan dengan sabun cuci piring.


Bukannya membantu. Leo malah membuat kerjaan baru untuk Vera. Karena ibu hamil itu harus mengurus kembali pekerjaan Leo. Bahkan pria itu tidak memisahkan mana pakaian yang mudah luntur dengan yang berwana putih. Hal hasil, Vera sempat mencak-mencak karena kelakuan Leo.


Mau marah sudah terlanjur. Apa lagi kalau melihat wajah bersalah Leo saat itu. Rasanya Vera tak tega untuk memarahi suami terlalu tampan nya itu. Setidaknya, visual yang sempurna menunda kemarahan Vera.


"Kau tidak tau kawan. Aku belum punya rencana menikah muda," tukas Reza setelah tawa keras.


"Hei, bung! Usia mu tidak lagi muda. Tolong sadar diri!" peringat Leo.


Reza mengangkat ke dua sisi bahunya acuh.


"Meskipun aku sudah jadi Om-om, aku tetap akan terlihat tampan kawan. Kau tidak tau saja, zaman sekarang itu Om-om itu menarik di mata anak remaja sampai wanita yang baru selesai kuliah. Karena Om-om hot kayak aku itu lebih mapan dan punya segalanya," jelas Reza dengan nada bangga.


"Cih!" decak Leo sebal,"sekali Om-om tetap saja Om-om, yang kalau main paling tahan sepuluh menit langsung K.O," cibir Leo.


Reza tercengang dengan penuturan sang sahabat."Hei! Kenapa kau merendahkan aku begitu?" kesal Reza.


Leo melepaskan pisau yang masih ia pegang.

__ADS_1


"Benar bukan?" ujarnya,"usia 35 sampai usia 40 kalau nikah itu sudah nggak punya tenaga lebih buat cetak banyak anak. Mau minum jamu kuat pun, resikonya kamu langsung masuk UGD karena kelelahan. Dan jangan lupakan, saat anak mu baru saja masuk SMA kamu bakal ubanan banyak. Nanti malah di panggil kakek sama teman anakmu." Lanjut Leo dengan senyum ganjil.


Reza terdiam. Setelah pria ini pikir-pikir lagi, itu memang benar. Nggak salah, di usia itu memang dia sudah sangat mapan. Lebih dari kata mapan, dia bisa membahagiakan istri nya. Namun di sisi lain, mereka tidak akan memiliki banyak waktu untuk bisa mendapatkan banyak keturunan. Bahkan saat anaknya remaja ia sudah sangat tua.


"Iya juga ya," ucap Reza.


Leo tergelak melihat raut wajah lucu Reza.


...***...


Vera mengeleng pelan melihat apa yang terjadi di tangan Leo. Ada banyak hansaplast menghiasi kelima jari tangan Leo. Yang di tatap dengan pandangan letih malah tersenyum lima jari ke arah Vera.


"Hah!" Vera menghela nafas frustasi melihat tangan sang suami.


"Ini tidak apa-apa kok," ucap Leo yang tau jika sang istri tampak khawatir.


"Kenapa sampai segininya?"


"Bawangnya terlalu licin," jawab Leo dengan nada lucu.


"Kalau bikin Ayam goreng balado kan bawangnya tinggal di ulek kak. Bukan di iris," ujar Vera.


"Heheh....di rumah Reza nggak ada ulekan," jawab Leo jujur.


Kepala Vera mengeleng pelan."Kan ada blender juga kak kalau nggak ada ulekan. Atau kalau mau beli aja cabe yang udah di ulek sama ibu-ibu di pasar."


"Nggak tau kalau ada yang


begituan," jawab Leo. Sebelum kembali mengulas senyum canggung.


Vera tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya menarik tangan kanan Leo yang terluka. Menatap iba dengan kondisi tangan sang suami. Kalau boleh jujur, tangan Leo bahkan lebih lembut dari tangannya. Mengingat mantan tuan muda kaya itu tidak pernah kerja keras.


Cups!


Cups!


Cups!


Cups!


Bibir basah Vera mengecup beberapa titik luka Leo. Pria itu tercengang.


"Jangan terluka," ujar Vera setelah mengecup luka di tangan Leo. Menatap penuh harap pada sang suami.


Leo menarik senyum."Di sini juga dong!" Ujar Leo menunjuk bibir merah seksinya.


"Mesum!" kesal Vera.


Leo tergelak keras mendengar perkataan Vera.

__ADS_1


__ADS_2