Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 25 (Dia)


__ADS_3

Vera mengerutkan dahinya. Kala pria tampan ini menarik, dirinya masuk ke dalam bangunan megah. Rumah seluas satu hektar di bilangan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Rumah dengan gaya Eropa klasik terlihat sangat memukau. Dengan perpaduan putih dan warna emas.


"Kita ke rumah kak Lucas?" tanya Vera kala ia berhenti di pintu masuk utama.


Leo memeluk nya dari belakang. Menyandarkan dagunya di puncak kepala Vera.


"Ini rumah baru kita. Aku merasa apartemen terlalu kecil untuk kita. Rumah ini sudah di penuhi dengan banyak fasilitas yang membuat kamu bakal betah di rumah," ujar Leo dengan gampang nya.


"Rumah baru kita?" ulang Vera seperti orang bodoh.


Leo tersenyum lebar. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri. Mendorong pelan pintu besar, hingga terbuka lebar.


"Ayo, kita masuk. Aku akan tunjukkan seberapa hebat nya rumah ini!" Ujar Leo penuh semangat sembari menarik tangan Vera.


Wanita ini mau tau mau menurut saja kala di tarik untuk ke dua kalinya. Vera dapat melihat ruang tamu sangat luas yang di sekat. Untuk memisahkan dengan ruangan keluarga yang berada di samping nya.


"Wah! Bagusnya," decak kagum terdengar jelas dari bibir Vera.


Leo mengembangkan senyum puas. Sebelum ke duanya berpindah ke beberapa tempat. Dari lantai satu sampai lantai dua. Rumah besar ini memiliki enam kamar. Dengan dua kamar utama. Dua ruang kamar untuk tempat kerja, dua kamar tamu dan dua kamar kosong yang kedepannya akan di peruntukan untuk buah hati mereka. Ada privat kolam yang berada di lantai atas. Ada ruangan fitness, dua ruangan dapur yaitu; dapur bersih dan dapur kotor.


Di samping rumah ada kolam besar dengan gazebo di samping nya. Di belakang rumah ada lapangan golf mini serba guna. Yang sewaktu-waktu bisa di jadikan sebagai tempat acara bakar-bakaran atau sebagai tempat makan outdoor.


Ke duanya berhenti duduk di gazebo. Menghadap ke arah kolam berenang besar. Leo melirik Vera yang masih tak jemu menatap indahnya rumah yang Leo buat.


"Kau suka?" tanya Leo penuh harap.


Kepala Vera mengangguk."Tentu saja suka. Apa lagi di ruangan kerjaku ada perpustakaan mini."


Leo menyadarkan kepalanya di bahu Vera. Wanita itu membeku, kala jari jemari besar Leo bertautan dengan jari miliknya. Ruas jarinya terisi penuh, terasa sangat hangat.


"Aku berharap kita segera memiliki momongan. Agar rumah besar ini terasa tidak kosong," ujar Leo wajah sumringah.


Vera mengaminkan harapan sang suami.


"Memangnya Kakak sudah siap jadi, papa?" goda Vera,"jadi ayah itu tidak gampang loh. Banyak hal yang terkadang membuat pusing," lanjut Vera.


Leo menatap lurus air mancur mini yang menggantung di dinding pembatas.


"Aku siap, menjadi seorang ayah. Siap merasa susahnya, khawatir nya, marahnya dan yang lainnya!" kata Leo dengan nada serak seksinya,"lalu bagaimana denganmu. Apakah kau siap menjadi seorang ibu?" kini giliran Leo yang bertanya.


"Siap, jika Tuhan sudah memberikan. Aku siap, menjadi seorang ibu untuk anak-anak kita!"


Ke duanya tersenyum lebar. Leo menarik kepala nya yang berada di atas bahu Vera. Telapak tangan nya jatuh pada permukaan perut datar sang istri.


"Semoga dia cepat hadir di sini." Pinta Leo mengusap perut Vera.


Vera merona."Amin." Ujarnya sembari mengangguk.

__ADS_1


Ke duanya tersenyum penuh makna.


...***...


Ting!


Satu pesan di ponsel menghentikan laju candaan ke tiga pria yang kini duduk di cafe. Reza menarik benda persegi panjang yang ada di atas meja. Membuka pesan Line dari orang yang sangat di kenal. Kontan saja wajah nya memucat.


"Ada apa, Za?" tanya Mark yang melihat air wajah Reza yang berubah.


"Hah!" desah Reza.


Lucas merebut ponsel Reza. Matanya terbelalak melihat foto profil yang tertera di Line Reza. Raut wajahnya tidak percaya, apa lagi pesan yang di kirimkan.


"Jangan bilang Lili ingin kembali ke Indonesia?" ujar Lucas dengan wajah tak percaya.


"Eh, Lili?" ulang Mark,"maksud mu, Lili kekasih——ah mantannya Leo," ralatnya cepat.


"Ya." Lucas mengangguk.


Reza merebut ponselnya di tangan Lucas. Jari jemarinya terlihat mengetik cepat. Sebelum mengirim, tidak perlu lama sebelum Lili di blok dari ponselnya.


"Sebenarnya, hubungan nya dan Leo belum berakhir bukan. Mereka tidak pernah mengatakan putus," ujar Lucas mengingat kisah asmara Lili dan Leo.


Mark menyadarkan punggung belakang nya di kursi.


"Meskipun begitu, Lili dan Leo saling mencintai. Jika perempuan lain yang menggoda Leo. Pria itu tidak akan goyah. Secantik apapun dia. Namun ini kasusnya berbeda. Lili adalah cinta pertama dan kekasih pertama Leo. Aku agak ragu, jika rumah tangga mereka tidak akan terguncang. Tetapi sebagai seorang teman, aku tentu memihak Vera. Karena dia adalah istri sah Leo. Tidak peduli hubungan apa Leo dan Lili dahulunya." Reza juga angkat bicara.


"Apakah kita perlu memberi tahu pada Leo?" tanya Lucas.


"Sudahlah. Kita tidak usah ikut campur. Yang penting di sini, kita tidak perlu meladeni Lili. Jika dia menghubungi kalian berdua blokir saja," perintah Reza.


"Ya."


"Ye."


Lucas dan Mark menjawab bersamaan dengan anggukan pelan.


...***...


Buku paket tebal di tangan Vera di letakan perlahan. Wanita ini masuk lebih awal ke kelas nya. Hanya beberapa orang yang baru datang. Dera langkah kaki terdengar mendekati nya. Dengan kaki kursi berderit kala bergeser dengan lantai marmer.


"Kau cepat juga datangnya, Ver!" seru Nadia.


"Ya, aku di antar lebih awal. Mengingat aku sudah pindah tempat tinggal," jawab Vera. Sebelum duduk di samping Nadia.


"Pindah rumah atau bagaimana?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Ya. Baru pindah rumah," jawab Vera.


"Pindah rumah kok gak bilang-bilang. Kapan nih ngadain syukuran?" tanya Nadia dengan wajah sumringah. Maklum Nadia pencinta makanan gratis.


Vera terkekeh pelan melihat ekspresi lucu Nadia.


"Minggu besok sih rencananya. Kau datang kan?"


"Oh, aku mah pasti datang!" jawab Nadia dengan nada senang.


Dari arah pintu masuk Zita masuk ke dalam ruangan. Wanita cantik ini menarik bangku. Duduk di depan Vera dan Nadia.


"Hai aku punya berita hangat nih!" ujar Zita dengan wajah aneh.


"Apa?" jawab Nadia dan Vera serentak.


Zita menyodorkan layar ponsel nya pada Vera dan Nadia. Dimana madia sosial Instagram tengah heboh dengan kepulangan seorang Balerina hebat, asal Indonesia.


"Cantik," puji Vera tulus.


"Eh?" Nadia mengerutkan dahinya.


"Kau akan menyesal memujinya," ujar Zita sebelum menarik kembali ponselnya.


"Lah, kenapa aku harus menyesal memujinya?" tanya Vera keheranan.


Beda pasal dengan Nadia. Gadis ini masih menguras otaknya. Ia seperti tau siapa gadis itu, pernah melihat nya di mana. Dan karena apa.


Zita menggeleng kan pelan kepalanya.


"Mbakku, satu angkatan sama suamimu. Gadis yang kau puji ini adalah rival mu. Dia mantan pacar kak Leo, lima tahun yang lalu. Tapi, Mbak ku bilang sih mereka gak ada kejelasan. Di bilang putus dia ini masih pasang foto suamimu di background Facebook nya," papar Zita.


"Ah, iya! Dia kan Lili si balet itu. Yang di gadang-gadang akan menikah dengan suamimu. Aku baru ingatan," ujar Nadia hampir memekik keras kala ingat.


Vera membeku dan tercekat sesaat. Lili? Nama ini tidak pernah ada terdengar. Bahkan ibu mertua nya tidak pernah membicarakan nama ini.


"Kau baik-baik saja?" tanya Zita dengan wajah khawatir,"dia sangat cantik. Mbakku bilang dia aslinya kayak Dewi. Saking cantiknya, banyak yang tergila-gila dan menangis saat dia ke Paris," lanjut Zita.


Vera mengulas senyum."Tidak apa-apa kok." Jawabnya mengangguk pelan.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2