Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 59 (Kemarahan Yang berujung petaka)


__ADS_3

Buku-buku jari di gigit perlahan. Ke dua kaki jenjang itu tampak tau mau diam. Erangan keras terdengar sebelum wanita cantik itu menyugar rambutnya dengan kasar. Bibir merah itu bahkan memaki kasar.


"Bagaimana bisa ia bertemu dengan Abang Damar dan anak itu!" teriaknya frustasi.


Hembusan napas kasar mengudara. Ana menatap pintu kamarnya yang terbuka. Wanita ini menunggu kepulangan Damar dan anak itu. Bukankah aneh, wanita ini hanya memanggil dengan kata itu. Seakan enggan memperjelas nama bayi mungil nan imut itu.


"Dia pulang!" serunya kala bunyi pintu depan terdengar terbuka.


Ana bergegas dengan cepat. Melangkah keluar dari kamarnya. Dapat ia lihat Gavin, tersenyum ke arah nya. Damar menghentikan langkah kaki saat Ana mencekal langkah kakinya.


"Ada apa?" tanya Damar dengan wajah menatap sepupu nya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa Abang bawa anak itu keluar sih!" Ucap Ana menunjuk Gavin di gendong Damar.


Bayi berusia lima bulan itu hanya menatap polos sang ibu.


"Aku bawa Gavin ke Rumah Sakit untuk cek kesehatan nya aja, Ana. Apa yang salah?" tukas Damar dengan wajah tak mengerti.


"Terus ketemu Vera. Abang bilangan kan anak itu anak aku?"


Damar mengernyit mendengar tuduhan Ana padanya. Oke, ia memang bertemu dengan Vera saat di Rumah Sakit. Itu tidak di sengaja. Wanita hamil yang baru masuk delapan bulan itu menentukan tanggal kelahiran dan operasi bayinya. Damar tidak tau apa-apa dan sama sekali tidak mesenggajakan perihal ketemuan mereka. Bahkan di samping Vera ada Leo.


Tunggu. Bagaimana Ana tau jika ia bertemu dengan Vera di Rumah Sakit. Sedangkan ibu biologis Gavin tidak mau dan tak mau tau perihal putra kandungnya.


"Kenapa kau bisa tau aku ketemu Vera?" tanya Damar dengan nada menyelidik.


Ana tercekat. Tidak mungkin bukan wanita ini berkata jika ia mengikuti Vera dan Leo. Lantaran merindukan suami Vera. Bisa-bisa Damar mengurung nya, atau lebih gila lagi. Damar akan mengirimkan nya ke luar negeri kembali.


"Aku...aku tidak sengaja ke Rumah Sakit untuk mengecek keadaanku. Saat melihat Abang dan Vera. Aku langsung kabur pulang," bohong Ana dengan tergagap di awal kata.


"Benarkah?" tanya Damar dengan mata memicing curiga.


"Ya, benar!" seru Ana sedikit tegang.


Damar menghela napas. Tangannya bergerak mengusap pelan pipi Gavin. Anak lelaki Ana sangat enteng. Tidak rewel, paling rewel saat lapar atau sedang buah air kecil dan air besar.


...***...


Mobil sedan hitam melaju stabil. Vera bersandar di dada bidang Leo. Waktu berjalan cukup cepat, tak lama lagi si kecil akan ada di tengah-tengah mereka. Ah, Vera tidak sabar.


"Pria tadi kakak sepupu nya Ana kan ya?" seru Leo sebelum menaikan jari jemari tangan Vera.


Vera menengadah menatap wajah sang suami.


"Ya," jawab Vera,"tapi kok bisa hapal dengan wajah kakak sepupu nya Ana?" balas Vera dengan pandangan curiga.


Leo mempoutkan bibirnya. Membuat ibu hamil ini gemas ingin mencubit keras bibir merah merekah Leo yang sudah seperti moncong bebek. Gemas banget malah.


"Ya, karena di gedong bayi mirip Ana. Dan beberapa kali pernah ketemu saat mau jemput kamu. Dianya jemput Ana," balas Leo jujur.


Beberapa kali pria ini bertemu dengan Damar. Beberapa kali berbincang kecil. Saat itu, Ana belum memperlihatkan kulit asli wajah nya.


"Oh..."


Vera hanya ber'oh ria saja mendengar penjelasan Leo. Senyum segaris di tarik tinggi oleh bibir Leo. Sebelum pria itu merapatkan tubuhnya dan sang istri. Bibir merah merekah itu langsung berasa di dekat daun telinga Vera.

__ADS_1


"Sayangku, cemburukah?" bisiknya dengan nada serak berat seksi khas milik nya.


Vera merasa geli dengan hembusan napas beraroma mint yang keluar dari mulut Leo. Wajahnya terlihat datar. Ke dua tangannya di lipat di atas perut yang semakin besar.


"Nggak tuh! Siapa bilang aku cemburu," tukas Vera dengan wajah di buat sebiasa mungkin.


"Ah, masa?" goda Leo.


"Ya, masa nggak percaya!"


"Nggak percaya. Mau gimana percaya, kalau wajahnya kayak kesal gitu saat aku tau muka kakak sepupu nya Ana," goda Leo menjadi-jadi.


Vera membuang muka ke jendela mobil. Melihat trotoar jalan yang terlihat sepi di siang hari karena terik matahari. Membuat manusia enggan keluar dari rumah. Meskipun sekarang hari Minggu.


"Ya, nggak lah. Nggapain cemburu," dustanya.


Jari telunjuk Leo menoel-noel pipi chubby Vera dengan semangat. Ia terkikik geli melihat bagaimana pipi Vera jatuh dan naik lagi karena ulahnya. Tangan Vera menepuk pelan tangan sang suami. Supir di depan sana sesekali tersenyum kala melirik ke dua majikannya dari kaca spion mobil. Leo masih asik menggoda Vera, sedang ibu hamil itu masuk keukeh menolak tuduhan Leo padanya.


Suara Leo mengaduh mengalun. Vera pada akhirnya melancarkan aksi balasan. Meski cubitannya kecil, tapi benar-benar sakit saat jatuh di kulit pinggang Leo. Leo Yamato bilang jika cubitan sang istri adalah cubitan maut. Bahkan pria tampan itu meminta ampun pada Vera. Wanita hamil itu tertawa lepas.


...***...


Siti terlihat mengemas beberapa keperluan untuk melahirkan nanti. Wanita paruh baya itu memisahkan barang yang benar-benar di butuh kan saat putrinya lahiran nanti. Vera sudah sangat sulit untuk bergerak banyak. Padahal hari ini Vera akan mengantarkan surat izin cuti kuliah.


"Jangan terlalu banyak kegiatan nanti pas di Kampus. Setelah selesai antar surat nya, langsung pulang!" Ucap Siti di sela kegiatan nya.


Vera yang duduk di depan cermin rias memutar sedikit lehernya. Melihat sang ibu melipat baju bayi di atas pahanya. Ibunya bersikeras untuk menyiapkan perlengkapan lahiran Vera. Beberapa kali cekcok kecil dengan Nara. Pada akhirnya, Nara mengalah karena bujukan Leo. Suami tampan nya ambil aman saja. Ia bisa membujuk ibunya dengan mudah. Bukankah seorang ibu tidak akan pernah kesal lama-lama dengan anak mereka. Beda lagi dengan ibu mertua. Kalau sudah kesal, maka akan berbahaya untuk ke depan nya.


"Ya, Ma!" jawab Vera lembut,"lagipula aku hanya antar surat dan ngobrol dikit lah sama Zita dan Nadia. Karena beberapa bulan bakal nggak masuk kuliah," lanjut nya.


"Siap, Buk Bos!" jawab Vera antusias.


Siti hanya mengeleng kecil melihat keantusiasan Vera.


...***...


Vera keluar dari kantor administrasi setelah dari kantor dosen. Wanita dengan dress putih di bawah paha itu menatap beberapa orang yang terlihat tengah bergosip. Bukan satu atau dua kelompok. Ada beberapa kelompok yang terbentuk bergosip. Dahi Vera berlipat dalam, namun ia memilih acuh. Melangkah menuju tangga turun.


"Vera!" Teriakan keras dengan langkah kaki terburu-buru terdengar.


Langkah kaki Vera terhenti. Ia menoleh ke arah dua wanita yang kini tengah melangkah mendekat padanya.


"Hei! Perhatikan jalannya Zita. Jangan lari-lari, kandunganmu masih rentan loh!" ucap Vera menatap ngeri Zita yang kini telah berdiri di samping nya.


Nadia terkekeh melihat wajah Zita yang tersenyum tanpa dosa.


"Heheh...lupa aku," jawab Zita terkekeh.


Vera hanya mengeleng kecil."Mau kemana nih kalian sampai buru-buru menghampiri aku?" tanya Vera dengan wajah penasaran.


"Mau kebawah. Jam kelas udah selesai. Karena ada kamu jadi kita langsung bersemangat," jawab Nadia menggebu-gebu.


Vera tersenyum."Ya, udah. Ayo ke bawah!" balas Vera.


Nadia dan Zita mengangguk. Ketiganya berjalan melangkah bersama menuju anak tangga.

__ADS_1


"Kok suasana kampus jadi aneh begini ya?" Tanya Vera di sela langkah kaki mereka.


"Emang kamu nggak tau?" Bukan menjawab Nadia malah bertanya balik.


"Apanya?" Vera penasaran.


"Itu loh, katanya ada yang lihat kalau Ana udah punya anak. Dan itu di sebarkan di satu kampus. Sama fotonya lagi." Jawab Nadia antusias.


Vera hanya menghela napasnya. Cepat atau lambat pasti akan ketahuan. Tidak ada yang bisa menyembunyikan bau busuk bangkai.


"Banyak yang memberikan komentar pedas. Bahkan ada yang menghina terang-terangan." Zita ikut menimpali.


Ketiga nya melangkah turun dari satu undak tangga ke anak tangga lainnya.


"Vera!!!" Teriakan keras membuat ke tiga nya berhenti di undak tangga ke lima.


Wajah Ana terlihat memerah. Bahkan urat lehernya mencuat. Wanita itu menaiki anak tangga dengan cepat. Meraih kerah baju dress Vera. Zita dan Nadia berteriak keras. Orang-orang berkerumun baik melihat dari atas maupun dari lantai dasar.


"Kamukan yang menyebar kan berita dan fotoku. Kau mau balas dendam sama aku, huh!" Teriaknya dengan nada melengking.


Vera menghela napas. Nadia dan Zita menarik tangan Ana untuk melepaskan Vera.


"Perempuan gila, lepaskan Vera!" Teriak Nadia menarik keras tangan Ana.


"Kau dan kau jangan ikut campur!" Teriak Ana marah dengan wajah menoleh ke kanan dan ke kiri.


Kedua kelopak mata Vera terpejam. Mencoba mengontrol emosi nya yang labil.


"Nadia! Zita! Lapaskan. Biar aku yang selsai kan," ujar Vera,"dan Ana bisa lepaskan dulu. Kita bicara baik-baik," lanjut Vera dengan nada lembut.


Nadia dan Zita melepaskan tangan mereka pada pergelangan tangan Ana. Ana pun melepaskan kerah dress Vera.


"Pertama, aku nggak tau menahu dengan apa yang terjadi padamu, An!" ucap Vera lagi.


"Apa nggak tau?" ulang Ana dengan wajah tak percaya,"kemarin yang ketemu sama Abang Damar adalah kau. Dan pagi ini semua nya membicarakan aku. Bahkan menyebarkan berita tentang aku!" teriak Ana lagi.


"Terserah apa yang kamu pikirkan. Yang pasti itu bukan aku," jawab Vera dengan nada tenang yang membuat Ana semakin geram,"Zit! Nad! Ayo kita pergi!" lanjut nya.


Kepala Nadia dan Zita mengangguk. Bisik-bisik lirih terdengar, bersamaan dengan cibiran pada Ana. Kedua tangannya mengepal di ke dua sisi tubuh nya.


"Sialan kau!" ujarnya pelan. Ke dua matanya memerah. Ia sangat malu.


Vera, Nadia dan Zita melangkah menuruni anak tangga kembali. Ana menuruni anak tangga dengan cepat hingga.


Bug!


Bruk!


Bruk!


Tubuh Vera terjatuh berguling-guling di lantai. Orang-orang terpekik keras, gerakan Ana mendorong punggung Vera dari belakang benar-benar cepat.


"Vera!!!"


"Vera!!!"

__ADS_1


Dua teriakan keras dari Zita dan Nadia mengalun. Saat tubuh itu mendarat di lantai. Vera merintih pangkal pahanya basah, perutnya terasa di remas. Orang-orang mengerubungi tubuh Vera. Nadia memangku tubuh Vera yang penuh darah di baju bawahnya. Sedangkan Zita panik tangan bergetar menelpon ambulan. Ana syok! Masih berdiri di tempat yang sama. Orang-orang melewatinya begitu saja untuk melihat ibu hamil yang mengerang sakit. Kemarahan selalu membawa kata celaka.


__ADS_2