
Tiga ketukan di daun pintu mengalihkan atensi Leo dari laporan di tangannya pada pintu masuk.
"Masuk!" seru Leo dengan nada keras.
Kreat!
"Maaf Pak Direktur, saya hanya ingin mengingatkan dua jam lagi kita akan mengadakan rapat untuk model wajah perusahaan," ujar Nina dengan sopan.
Leo meletakan berkas yang tadinya ada di tangan di atas meja. Menatap sang sekretaris yang berdiri tak jauh dari ambang pintu. Seperti biasa, dimana Leo meminta batas antara ia dan karyawan wanita.
"Berarti kita melewatkan makan siang?"
"Ya, Pak!" jawab Nina.
Dahi Leo berkerut dalam. Ia hari ini ingin makan siang dengan istrinya tercinta. Leo benar-benar lupa jika rapat hari ini hampir sepenuhnya melewati jam makan siang. Melihat ke terdiam Leo. Nina berpikir sang pemimpi melupakan rapatnya lagi.
"Apa rapatnya mau saya tunda saja Pak?" tanya Nina melihat wajah aneh Leo.
Leo menghela napas pelan. Sebelum menatap sektretaris nya dengan pandangan tak dapat di mengerti.
"Apakah rapat kali ini penting?" tanya Leo dengan nada ragu.
Kontan saja dahi Nina berlipat dalam. Kenapa Leo Yamato bisa terlihat seperti anak kecil. Yang tau nilai rapat hari ini dengan baik tentu saja dirinya sendiri.
"Y——ya, penting Pak!" Jawab Nina dengan kepala mengangguk pelan.
Leo menggembungkan ke dua sisi pipinya. Sungguh! Pria di depannya ini terlalu tampan di balut imut. Itulah yang ada di otak Nina, untung saja wanita satu ini ingat status nya saat ini. Ia adalah seorang istri dan seorang ibu. Pesona Leo Yamato hampir membuat ia merasa linglung.
"Ya sudah. Keluarlah!" Titah Leo kala mengempeskan pipi yang tadinya mengembung.
"Baik Pak," jawab Nina lembut dan melangkah keluar dari ruangan kerja sang bos.
...***...
Dapur rumah Yamato terlihat begitu gaduh. Dua wanita terlihat sangat antusias membuat makan. Sedangkan satu wanita lagi hanya menyicip makanan ini dan itu. Aroma sup iga sapi mengisi beberapa ruangan di lantai utama rumah besar.
"Hei! Berhentilah memakan tempe gorengnya, Nadia!" kesal Zita melihat Nadia mencomot beberapa potong tempe goreng yang ada di piring.
Nadia meringis sebelum tersenyum pada sang tuan rumah yang menatapnya.
"Aku lapar, nggak apa-apa kan aku memakannya!" ujarnya dengan wajah lucu.
Vera hanya mengeleng pelan melihat hanya ada dua potong tempe goreng di atas piring. Sambal terasi yang ia buat nyaris ludes di dalam perut Nadia.
"Seperti nya kita harus buat lagi sambal terasinya," ujar Vera sebelum menghela napas.
"Berhenti makan dan giling cabenya!" titah Zita dengan wajah seram.
Sontak saja Nadia menelan ludahnya susah payah. Zita sangat menakutkan jika sudah marah. Dengan cepat ia bergerak meletakan beberapa butir cabe merah ke atas batu penggilingan.
__ADS_1
"Kita buat masakan berapa macam hari ini rencananya Ver?" tanya Zita menoleh menatap Vera yang kini tengah mencicip rasa kuah sup iga sapi.
"Mungkin lima atau enam deh," ujar Vera setelah mematikan api kompor untuk sup iga sapi.
"Nasinya usah masak belum?" tanya Vera meminta Zita mengecek nasi di rice cooker tepat di samping Zita.
Tidak perlu di minta dua kali Zita langsung bergerak melihat rice cooker.
"Masih belum Ver!" jawab Zita.
"Berati kita tinggal buat ikan bakar, potong sayur lalapan dan urap!" ujar Vera saat melihat dua masakan yang sudah jadi.
"Ya, aku bersihkan ikannya dulu deh!" ujar Zita.
"Aku bikin bumbu ikan bakar sama bumbu urapnya dulu!" ujar Vera langsung bergerak ke sana kemarin.
Nadia menghela napas. Menggiling cabe sangat tidak lah mudah. Belum beberapa menit jari jemarinya yang terkena sedikit cabe sudah terasa panas. Lucunya, Nadia tidak bisa protes mengingat ia sudah menghabiskan sambal terasi yang selesai Vera buat. Diam-diam Nadia menyalahkan Vera. Siapa suruh wanita satu ini membuat sambal terasi begitu enak. Sampai tidak sadar ia sudah hampir menghabiskan sambal. Bahkan seperti nya setelah ini ia akan di suruh menggoreng tempe. Karena tempe goreng hanya sisa dua dua tas piring.
Ke tiganya berencana membagikan makan gratis untuk beberapa pengendara di pinggir jalan. Sebagai wujud syukur nilai kelompok mereka mendapatkan nilai paling tinggi dari pada yang lain nya.
...***...
Rapat berjalan dengan lancar. Beberapa orang menatap kagum wanita cantik yang beberapa hari ini menjadi buah bibir masyarakat. Media sosial begitu ramai membicarakan kembali nya sang Balerina hebat satu ini.
"Rapat hari ini kita cukupkan di sini!" Ujar Leo sebelum berdiri dari posisi duduknya.
"Kau sudah mencatat beberapa hal yang penting untuk ke depannya bukan Nina?" Tanya Leo di sela langkah kaki mereka menuju lift.
"Ya, Pak. Saya sudah mencacat semua nya." Jawab Nina.
"Leo!" Seruan keras di belakang tubuh ke duanya membuat langkah kaki mereka terhenti.
Nina dan Leo membalik kan tubuh nya menatap wanita cantik yang setengah berlari mendekati ke duanya. Lili tersenyum lebar melihat Leo dari dekat.
"Leo!" panggil Lili dengan lembut,"mau makan siang bersama. Yeah, meskipun aku tau ini sudah sangat lewat dari makan siang!" Lanjut Lili sembari mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Itu——"
"Kau juga belum makan bukan, ayo makan bersama. Sudah sangat lama kita tidak makan bersama," potong Lili cepat,"sekretaris Nina seperti nya juga belum makan. Bisa makan bersama dengan kita juga," lanjut nya sebelum menoleh ke arah Nina.
Nina memaksakan senyum pada Lili. Ia tidak tau harus jawab apa. Ia tidak mungkin menolak karena sungkan. Apa lagi bergabung makan dengan Leo dan Lili. Itu lebih tidak mungkin lagi.
Leo tampak berpikir."Kau tidak kah ada acara?" ujar Leo dengan nada ragu.
"Tidak kok, hari ini jadwal ku kosong. Hanya ada jadwal rapat di perusahaan mu saja hari ini," balasnya,"ayolah Leo. Kita sudah sangat lama untuk tidak berbincang-bincang. Setidaknya, kita bisa berbincang sebagai teman bukan?" lanjut Lili dengan nada penuh harap.
Leo menghela napas. Sulit menolak ke ingin Lili untuk saat ini. Karena wanita di depan nya ini sudah meminta sebagai teman. Dari kejauhan dapat Leo lihat Risa mendekati mereka.
...***...
__ADS_1
"Kamu langsung ke Perusahaan kak Leo?" tanya Nadia kala mobil berhenti di depan gerbang rumahnya.
Zita duluan di antar mengingat rumah Zita lebih dekat. Kepala Vera mengangguk cepat.
"Ya, kak Leo pasti belum makan. Karena kayaknya tadi rapat sampai jam makan siang. Aku takutnya kak Leo malah melewati jam makan nya karena kesibukan kerja," jawab Vera.
"Oh! Istri yang sangat perhatian," goda Nadia.
Vera terkekeh."Sana turun, udah sampai rumah mu tuh!" Balas Vera mendorong pelan bahu Nadia.
Nadia terkekeh pelan."Ya! Ya, aku turun kok nyonya muda Yamato!" Ujarnya sembari membuka pintu.
Klik!
Pintu mobil terbuka. Ia turun perlahan.
"Hati-hati di jalan ya!" ujar Nadia.
"Ya," jawab Vera.
Ke duanya tersenyum.
Brak!
Pintu mobil kembali tertutup sementara kaca mobil terbuka. Nadia melambaikan tangan pada Vera. Di balas oleh Vera. Mobil mulai melaju perlahan. Vera kembali menutup jendela pintu.
"Mau langsung ke perusahaan, Bu?" tanya sang supir pribadi.
"Ya," jawab Vera seadanya.
"Tidak kabarin Pak Leo nya dulu Bu, biar langsung di jemput pas di bawah!"
"Tidak ah. Mau kasih kejutan sama kak Leo!" tolak Vera.
Sang supir tersenyum lembut sembari mengangguk-anggukkan kepada nya. Bosnya pasti senang karena istrinya datang ke kantor. Saat ia mengabari Vera ke kantor. Maka Leo akan menunggu di lobi menjemput sang istri.
Mobil sedan mahal hitam itu membelah jalan Jakarta yang lumayan lancar mengingat telah selesai makan siang. Mobil melewati beberapa restoran makanan di dekat perusahaan
"Pak! Bisa berbalik arah lagi nggak pak, dan tolong jalan pelan-pelan di dekat restoran yang kita lewati tadi," titah Vera.
"Ah? Eh? Ya, Bu!" jawabnya.
Meskipun terasa aneh. Sang supir menuruti, ia berputar arah di tikungan depan dan kembali menapakin jalan semula. Mobil melambat kala berada di gedung barisan restoran. Manik mata Vera menajam berkali-kali lipat.
Benar. Itu Leo dan Lili duduk di samping kaca terlihat tertawa dan bercanda. Hati Vera terasa tak enak. Paru-paru nya terasa sangat sesak.
"Pak! Kita balik ke rumah saja. Seperti nya kak Leo sedang makan dengan rekannya," ujar Vera memberi perintah.
Kembali sang supir bingung. Tapi tetap menuruti permintaan nyonya mudanya.
__ADS_1