
Manik mata indah Lili bergerak menyapu ruangan dengan dua lantai. Bangunan tua, yang di perbarui. Dengan beberapa perubahan mulai dari cat, dekorasi dan beberapa perabotan baru. Leo datang meletakan dua cup teh di atas meja. Lili tersenyum lebar, melihat wajah tampan Leo.
"Terimakasih," ujar Lili dengan nada lembut.
"Hem! Terimakasih juga atas pot bunganya," balas Leo.
Wajah pria ini terlihat biasa saja. Menjaga norma sopan santun pada tamu yang mengunjungi kantornya.
"Kau terlihat lebih ceria Leo," ucap Lili memberikan jeda,"aku pikir kau akan lebih terpuruk mengingat kau belum pernah memulai dari awal," lanjut nya. Sebelum bergerak menyentuh kuping cup teh. Mengangkat nya dari atas meja, menyesap perlahan teh hangat buatan Leo.
Mengingat kantor baru yang selesai di renovasi belum memiliki karyawan. Leo tidak menjawab, pria ini memilih duduk di depan sofa tepat di depan Lili.
"Ya, awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi siapa sangka, jika aku bisa sekuat ini berkat istri ku." Jawab Leo mengulas senyum lebar.
Senyum yang sempat mengembangkan luntur perlahan. Haruskah Leo Yamato membawa-bawa istri nya. Di saat ada dirinya? Ugh! Bagi Lili ini sungguh menyebalkan. Bibir Lili terbuka, namun terkatub kembali. Kala pintu di arah dapur mini di belakang ruang tamu bangunan terbuka. Sungguh! Lili ingin memaki pelan. Siapa sangka, jika wanita yang sangat ia benci ternyata berada di kantor baru Leo. Wanita itu keluar dengan membawa sepiring pisang goreng. Dengan senyum selalu bersahaja.
"Eh! Ada Mbak Lili ternyata," ujar Vera dengan nada biasa.
Leo memutar leher nya kebelakang. Pria itu berdecak sebal, melihat sang istri malah memasak pisang goreng. Tadi katanya hanya mau potong buah-buahan. Malah masak, Leo berdiri dari posisi duduknya. Melangkah cepat ke arah Vera.
"Sudah berapa kali aku bilang. Jangan lakukan banyak pekerjaan. Tadi katanya mau ikut aja, malah masak gorengan lagi. Dokter kan udah bilang jangan terlalu capek. Jangan banyak gerak. Kok, mama muda ini malah bandel minta ampun!" Cerocos Leo mengambil alih piring di tangan Vera.
Vera manyun. Ibu muda ini ngidam makan goreng pisang. Buat sendiri lebih baik dan lebih sehat. Vera melangkah mengikuti Leo dari belakang. Leo meletakan goreng pisang di atas meja. Sebelum duduk di tempat semula. Di ikuti oleh Vera.
"Ayo di makan Mbak," ujar Vera begitu ramah.
__ADS_1
Tidak ada raut wajah benci bahkan kesal lantaran ia mendatangi Leo di kantor baru pria ini. Bukankah seorang istri akan sangat cemburu jika ada wanita lain yang mendekati nya. Lucunya, wanita satu ini malah sangat ramah pada Lili. Mau tak mau Lili mengulas senyum. Tidak mungkin ia memperlihatkan ketidak sukaannya pada Vera di depan Leo.
"Ya." Jawabnya sembari mencomot satu gorengnya memakannya pelan.
Vera tersenyum. Leo mengusap pelan pipi Vera dengan lembut. Sebelum sebelah tangan bergerak menyentuh kuping cup teh milik nya. Pria ini mengangkat nya, menyodorkan ke depan bibir Vera.
"Minum. Kamu pasti lupa minum kalau udah makan goreng. Itu bibirmu udah kayak minum minyak aja, kelihatan banget!" ujar Leo kala Vera menatapnya dengan pandangan bertanya.
Kontan saja telapak tangan Vera mengusap cepat bekas minyak goreng pisang yang berada di bibir pink tanpa lipstik milik nya. Senyum lebar di perlihatkan.
"Heheh...ketahuan juga," balas Vera. Sebelum menyesap teh yang di sodorokan oleh Leo ke depan bibirnya.
Perlahan ia menyesapnya. Semua tidak tanduk ke duanya tidak lepas dari pandangan Lili. Hatinya terbakar. Sungguh! Wanita ini benci melihat hal yang seperti ini. Maksud kedatangan nya ke kantor baru Leo adalah untuk memberikan support dan dukungan bagi Leo. Bahkan wanita ini bersedia memberikan uang untuk modal Leo. Kandas sudah semua rencananya saat melihat kemesraan ke duanya.
...***...
"Selamat Leo, sebentar lagi akan jadi seorang ayah!" ujar Bagas. Sebelum mengalihkan pandangannya dari Vera dan sang istri di karpet di depan TV ke arah sang menantu yang duduk di depannya.
Leo mengembangkan senyum lebar."Ya, Pa!" jawab Leo,"aku harus banyak belajar dari papa bagaimana menjadi ayah yang baik. Dan bagaimana mendidik anak hingga bisa sehebat Vera," lanjut Leo.
Bagas tergelak mendengar permintaan sekaligus pujian dari menantu tampannya ini.
"Papa tidak sehebat itu Leo," bantah Bagas dengan senyum.
Leo mengeleng pelan."Tidak Papa. Semua pria mungkin semua nya akan menjadi seorang ayah. Namun tidak semua ayah bisa menjadi ayah yang hebat. Hingga bisa mendidik anak-anak nya menjadi anak yang hebat," ucap Leo tulus. Pria ini tidak memuji Bagas tanpa alasan. Bagas adalah pria yang hebat.
__ADS_1
Seorang pria yang lembut dan tenang. Bagas merupakan sosok ayah yang hebat. Sekaligus suami yang hebat pula. Selama Leo menikah dengan Vera. Leo sekali pun tidak pernah mendengarkan Bagas meninggikan suara pada ibu mertua nya. Jika ibu mertua nya mengomel, Bagas akan mendengar kan nya. Tidak membantah, hanya menjadi pendengar yang baik kecerewetan Siti sampai selesai. Setelah selesai, Bagas akan memanggil Siti dengan panggil lembut. Tanpa harus bernada kesal pada sang istri. Dan Leo, suka dengan sikap dan sifat ayah mertua nya.
...***...
Derap langkah kaki menghiasi lorong kampung Universitas Indonesia. Ana tampak semakin cantik dengan pakaian mahal dan seksi. Banyak mata pria menatap genit ke arah Ana. Langkah Ana menelan kala berselisih jalan dengan Vera, Zita dan Nadia. Tidak ada tegur sapa antara ia Ana dan Vera. Manik mata Ana menatap lambat pada baju Vera yang terlihat kebesaran. Dahinya berlipat, langkah kakinya terhenti sejenak. Menatap punggung Vera, pandangan matanya turun ke bawah. Menatap sepatu sneaker hitam.
"Dia tidak hamil bukan?" tanyanya pada udara kosong.
Berbeda dengan Ana. Vera hanya mampu menghela napas pendek. Wanita ini bukan manusia pendendam. Terkadang ia merasa iba melihat Ana. Mantan sahabat nya itu terlihat sangat jelas mencari perhatian orang lain. Seakan haus akan kasih sayang.
"Kenapa menghela napas pendek Vera?" Nadia bertanya kala menoleh menatap wajah Vera.
Vera mengeleng kecil."Tidak ada." Jawab Vera pelan.
Langkah kaki ke tiganya berhenti kala sampai di kelas mereka. Zita ikut menatap Vera dengan pandangan aneh.
"Apakah ada masalah?" tanya Zita.
"Nggak kok."
"Lalu, apa kamu merasa nggak enak badan kah?" tanya Nadia.
Kembali kepala Vera mengeleng pelan. Sebelum mengulas senyum.
"Nggak juga. Ya, udah kita duduk aja yuk! Sebentar lagi Dosennya bakalan masuk." Ajak Vera bergerak terlebih dahulu mengambil bangku.
__ADS_1
Zita dan Nadia saling adu tatap. Sebelum ikut melangkah mengapit Vera.