Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 26 (Kecewa)


__ADS_3

Vera mengulas senyum lebar kala hidangan makan malam telah tertata rapi dia tas meja makan. Vera melirik jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Berarti sepuluh menit lagi Leo akan sampai ke rumah.


"Nyonya Vera! Apakah ada yang harus kami bantu lagi?" tanya kepala pembantu rumah nya.


Vera menoleh menatap ada tiga pembantu yang di tugaskan oleh Leo untuk mengurusi rumah baru mereka. Mengingat besar rumah yang kini mereka tempati akan membuat wanita satu ini kesusahan.


"Tidak ada, kalian bisa beristirahat!" ujar Vera lembut.


"Baik, nyonya!" jawab mereka serentak.


Ketiganya langsung melangkah ke bagian belakang. Beristirahat di tempat khusus mulai dari para pembantu, tukang kebun dan juga scurity.


Vera menarik perlahan bangku meja makan. Duduk dengan tangan bermain di atas layar ponsel. Cukup lama wanita satu ini menunggu kedatangan sang suami. Sayangnya, pria gagah itu masih belum sampai.


Ting!


Pesan WhatsApp membuat ponselnya bergetar. Vera mengernyit melihat nama sang suami berada di layar. Jari jemari Vera bergerak lincah, membuka pesan WhatsApp dari Leo.


Husband


Maaf, malam ini ada pertemuan mendadak dengan klien. Kamu makan lebih dahulu, dan jangan tunggu aku pulang. Tidurlah lebih dahulu.


Vera menghembuskan napas perlahan. Sebelum menatap makanan yang sudah terhidang di atas meja. Masakan yang ia buat terlalu banyak untuk dirinya sendiri. Tidak mungkin ia bisa memakan semua nya. Mau di simpan dan di panasipun untuk besok pagi, sangat tidak mungkin. Mengingat Leo tidak suka masakan yang di panasi. Katanya kurang sehat.


"Hah! Makan sendiri," monolog Vera pelan. Sebelum jari jemarinya bergerak membalas pesan pada Leo.


Baiklah. Jangan lupa makan malam dengan baik. Dan Hati-hati di jalan^^


Hanya itu jawaban dari Vera. Sebelum wanita ini meletakan ponsel nya di atas meja. Menyendok beberapa centong nasi ke atas piring bersamaan dengan lauk pauk.


Di lain tempat dengan waktu yang bersamaan. Leo menerima pesan yang di kirim Vera. Pria ini mengulas senyum, sebelum menyimpan benda persegi panjang tipis itu ke dalam saku jas nya.

__ADS_1


"Siapa?" seruan lembut di depan nya membuat Leo mengangkat pandangan.


Gadis cantik itu tersenyum lembut. Tidak ada yang berubah dari seorang Lili Lorenza. Ia masih terlihat sangat cantik, bak anak remaja. Tubuh langsing proposional, wajah cantik dengan senyum semanis madu, jangan lupakan lesung di salah satu pipinya yang memukau. Secara fisik, Lili sangat sempurna. Secara materi, gadis ini bukanlah berasal dari keluarga kaya seperti nya. Namun di segi otak, Lili bukan perempuan cantik dengan otak kosong. Gadis ini memiliki otak yang cerdas. Di perlengkap dengan kebaikan hati. Yang membuat anak-anak di kampus menjulukinya Dewi.


"Istriku," jawab Leo dengan nada serak berat khas milik nya.


Senyum yang di ulas oleh Lili patah begitu saja.


"Kenapa menikah tapi tidak memberi tahuku?" tanya Lili dengan nada sendu.


"Maaf," jawab Leo,"istriku tidak suka dengan yang namanya sorotan. Dia adalah pribadi yang lebih tertutup. Yeah, meskipun sekarang sudah banyak yang tau akan statusku," lanjut Leo. Sebelum terkekeh kecil.


Ulu hati Lili berdenyut pedih. Mendengar penuturan yang menurut nya sangat menyakitkan. Ia dan pria ini adalah pasangan kekasih. Walaupun Leo Yamato akan mengunakan kata dahulu. Maka lain lagi bagi Lili. Ia masih berstatus sebagai kekasih nya Leo. Tidak ada kata putus dari bibir masing-masing. Itulah yang ada di benak Lili.


"Kenapa kau harus menikahi nya?" ujar Lili dengan nada tak mampu di gambarkan kegetiran nya.


"Eh?" Leo tercekat,"kenapa kau bertanya begitu padaku?"


Leo menghela napas. Gadis cantik ini benar. Namun bagi Leo saat Lili melangkah menginjak Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saat itulah hubungan mereka usai. Leo bukan pria yang suka menjalani hubungan jarak jauh. Mengingat hati akan terus berubah-ubah. Leo tidak tau bagaimana tingkah laku dan hati Lili padanya saat mereka berpisah negara.


Begitu pula sebaliknya. Dari pada mengundang rasa curiga dan menyakiti hati satu sama lain, Leo memilih untuk mengakhiri. Bukanya, Leo Yamato pria yang tidak bisa setia. Pria ini takut bermain pada hati. Ia takut terluka. Jangan kira, melupakan Lili adalah perkara gampang. Sayang nya, Lili tidak akan pernah mengerti pola pikir Leo.


"Semuanya sudah berakhir, Lili. Bukankah saat itu aku berkata. Jika kau pergi, maka perasaan kita akan usai. Lalu, bukankah saat itu kau memilih pergi juga tanpa pertimbangan akan hubungan kita?"


"Aku pikir kau tidak serius pada saat itu, Leo!" bantah Lili.


Leo mendengus pelan."Di segi mananya aku tidak serius. Aku bahkan bersedia menikahimu saat itu. Aku tidak bisa menjalani hubungan yang tidak memiliki status pasti. Kau pergi, bisa saja hati mu berubah," kata Leo pelan.


Ke dua mata Lili berkaca-kaca. Leo mengerang pelan. Sebelum berdiri dari posisi duduknya.


"Maaf, aku pikir kita bertemu di sini membicarakan tentang kontrak iklanmu dengan perusahaan ku. Kalau untuk membicarakan kisah yang telah usai. Aku pikir kau salah, dan aku merasa bersalah. Menelantarkan istriku, untuk makan malam meeting saat ini. Aku pergi dulu!" Ujar Leo sebelum melangkah kan kakinya meninggalkan ruangan VIP restoran.

__ADS_1


Isak tangis Lili terdengar samar. Ke dua telapak tangannya menutupi wajah cantik nya.


Srak!


Risa melangkah buru-buru. Mendekati Lili yang menangis. Telapak tangan Risa mengusap pelan punggung Lili yang bergetar.


"Sudah lah Lili. Leo sudah tidak lagi memiliki perasaan padamu. Lupakan saja dia!" Ujar Risa di sela usapan lembut nya. Kepala Lili mengeleng samar. Wanita ini tidak bisa melepas Leo. Pria yang sangat ia cintai.


...***...


Denting sendok dan garpu beradu. Ke duanya makan dengan khidmat. Leo sesekali melirik sang istri yang makan dalam diam.


"Maaf soal semalam, sayang!" seru Leo membuka pembicaraan.


Vera menghentikan pergerakan tangan nya. Menoleh menatap wajah tampan Leo lambat.


"Tidak apa-apa. Hanya sayang pada makanan saja," jawab Vera seadanya.


Leo mengulum senyum. Sebelum menarik tangan Vera. Mengusap punggung tangan nya pelan.


"Besok ada acara nggak?"


"Besok, sebenarnya sih nggak ada acara kak. Cuma, rencananya mau adain syukuran kecil-kecilan untuk merayakan pindah rumah. Memangnya kenapa kak?" tanya Vera balik.


Leo mendesah kecil."Mau ngajak main ke pulau Pramuka. Kita nginep satu malam di sana."


Vera mengangguk mengerti."Mau bagaimana lagi. Teman-teman ku mau lihat rumah ini."


"Ya, sudah kalau begitu. Kita undang teman-teman ku juga biar meriah," usul Leo penuh semangat.


Vera mengangguk menyetujui usulan Leo. Wajah satu ini tidak lepas dari muka datarnya. Entah lantaran karena masih kesal sama ketidak pulangan sang suami saat makan malam. Entah apa.

__ADS_1


Leo mengecup pelan punggung telapak tangan Vera dengan senyum konyol.


__ADS_2