Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 18 (Kepercayaan!)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏


.


.


.


.


.


"Silahkan di minum," ujar Leo pada gadis cantik di depan nya.


Ana meraih cup kopi yang baru selesai di buat oleh Sekretaris Leo. Menghembuskan permukaan teh hangat sebelum menegak nya perlahan.


Leo melakukan hal yang sama. Pemuda Yamato ini tidak tau apa yang membuat sahabat sang istri datang ke kantornya.


Tak!


Benturan piringan kecil sebagai alas bawah cup kopi terdengar jelas.


"Apa ada hal yang kau inginkan katakan padaku?" tanya Leo langsung ke pokok masalah tanpa berbasa-basi.


Ana berdehem beberapa kali. Sebelum merogoh tas sandang nya. Mengeluarkan benda persegi panjang. Jari jemarinya bergerak lincah di atas permukaan ponsel.


"Ini!" Ana menyodorkan ponselnya pada Leo.


Leo Yamato mengambil alih ponsel Ana. Jari jemarinya menggeser layar ponsel. Beberapa foto yang mampu mengoyakkan hati Leo. Raut wajahnya tampak tenang.


"Aku.......aku, pikir kak Leo harus melihat nya. Jujur di sini aku juga merasa sedih dengan semua nya. Aku tidak menyangka bagaimana Vera bisa tidur dengan kekasihku. Hari itu, aku pikir.....rasanya sakit sekali!" Kata Ana meremas ke dua tangan nya. Tak lupa air mata mengalir di ke dua sisi pipinya.


Leo tidak memberikan tanggapan. Wajah nya masih sama, terlihat sangat datar.


"Apa hanya ini saja foto yang kau dapatkan?" tanya Leo setelah sekian lama dalam kebungkaman.


Kepala Ana mengangguk perlahan. Leo mendesah pelan, jari jemarinya bergerak menghapus satu persatu foto yang ada di ponsel Ana.


"Kau sahabat nya?" tanya Leo dengan nada datar.


"Apa?" tanya Ana dengan raut wajah bingung.


"Kau sahabat Vera bukan?" tanya Leo lagi.


Ana mengangguk cepat."Ya!" jawabnya serak.


Leo menyodorkan ponsel Ana kembali. Ke dua tangan nya di lipat di depan dada.


"Bukan kah seharusnya kau tidak harus melakukan ini jika kau sahabat nya?"


"Eh?"


"Kau yang mengirimkan aku beberapa foto beberapa hari yang lalu bukan?" tebak Leo.


Ke dua manik mata Ana bergerak acak. Perasaan apa ini, kenapa rasanya ada yang janggal. Bukannya di mana-mana, jika pria yang di selingkuhi akan marah atau mengamuk. Paling tidak wajahnya akan terlihat memerah karena marah. Tapi apa ini. Kenapa aura Leo terasa aneh.


"Ti——tidak, aku tidak mengirimkan apapun," tolak Ana pada tuduhan Leo.


Leo hanya mengulas senyum. Senyum yang mampu membuat bulu kuduk beberapa orang akan berdiri. Tidak terkecuali, Ana. Gadis itu merasakan aura yang mecekam di sekitar nya.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya."


"Tidak usah berbohong, aku tidak semudah itu di tipu!"


"Aku tidak menipu kakak!"


"Cukup keukeh ternyata," sinis Leo.


Wajah Ana terlihat pucat."Aku tidak salah apa-apa. Vera tidur dengan kekasihku. Kenapa kakak malah menuduhku. Di sini aku yang merasa di khianati. Tapi kakak malah berbicara seolah-olah aku yang mengkhianati sahabatku sendiri," tukas Ana dengan cepat.


Leo tertawa hambar.


"Dengar Ana! Meskipun istri ku terbukti tidur dengan kekasih mu. Aku tidak akan menceraikan istriku," kata Leo dengan nada berat,"kau mau tau apa yang akan aku lakukan?" lanjut nya.


Glek!


Ana susah payah menelan air liur yang tersangkut di kerongkongan nya.


"Yang pertama aku lakukan adalah menyingkirkan pria yang telah menyentuh istriku. Kedua menyingkirkan siapa yang tau dengan masalah itu. Selanjutnya, aku akan mengeratkan genggamanku pada istriku. Sayang, aku jelas sangat tau, Vera bukanlah wanita seperti itu. Aku bersama Vera bukan satu minggu atau satu bulan. Kami sudah satu tahun bersama. Kau pikir dia akan memberikan tubuh nya pada pria yang ketampanan nya di bawahku, Hem?"


"Ba——bagaima, jika menang dia memberikannya?" tantang Ana dengan tergagap.


Leo menyandarkan punggung belakang nya di sofa ruangan kantor. Melepas kan ke dua tangan yang di lipat di dada.


"Aku percaya pada istriku. Di hubungan pernikahan, jika tidak saling mempercayai. Tidak akan bertahan lama, dan aku bukan pria bodoh yang mudah terhasut dengan hal kecil. Pemainanmu terlalu dangkal. Jika ingin menghancurkan orang, harusnya kau bermain lebih cerdik lagi!" nasehat Leo.


Degup jantung di tubuh Ana menggila. Perlahan tangannya menyimpan ponsel yang ada di tangannya ke atas. Berdiri dari posisi duduknya. Melangkah tanpa kata pamit pada Leo. Malu! Sungguh.


Ana malu sekali. Karena apa yang telah ia rencana kan dengan sempurna tidak berjalan sesuai rencana.


Brak!


Slas!


Brak!


Brak!


Semua barang yang ada di meja kerjanya terjun bebas ke bawah. Napas Leo memburu. Berkas-berkas berhamburan, vas bunga pecah berkeping-keping dan telepon retak. Ke dua matanya memerah, Leo bukan orang yang mudah memperlihatkan emosi yang ia punya pada orang. Pria ini cenderung menyimpan emosi yang ada di dalam diri. Melepaskan nya saat tidak ada mata yang melihat nya.


"Sialan. Berani-beraninya dia bermain dengan istriku!" geramnya. Ke dua tangan besar Leo mencengkram tepian sudut meja.


Leo menghembuskan napas kasar. Sebelah tangannya merogoh saku celana nya. Menghubungi seseorang yang benar-benar ia butuh kan saat ini.


...***...


"Vera!" panggilan pelan dari ke dua teman satu kelompok nya membuat Vera tersentak dari lamunannya.


"Ada apa, Zit?" tanya Vera dengan wajah linglung.


Nadia mendesah pelan. Ke duanya mendengar gosip yang menyebar lebih cepat dari pada si jago merah melahap minyak. Dari mulut ke mulut gosip buruk tentang Vera menyebar.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Zita pelan.


"Kau harus melawan balik Vera. Bagaimana bisa dia begitu jahat padamu. Aku lebih percaya kamu dari pada dia," kini giliran Nadia angkat bicara di angguki oleh Zita.


"Hah!" Vera menghembus kan napas gusar,"jujur saja aku masih belum percaya dengan apa yang sedang terjadi. Kami sudah bersahabat sangat lama. Bagaimana bisa aku terkecoh dengan sifat nya," lanjut Vera.

__ADS_1


Elusan di ke dua sisi pundak Vera memberikan ketenangan.


"Itu karena kau hanya ingin berpikir positif tentang sahabatmu. Meski orang-orang berkata buruk tentang nya. Kau tetap memikirkan jika dia baik. Begitu bukan?" kata Zita dengan pemikiran dewasa nya.


Vera mengangguk pelan. Ya, ia hanya ingin memasa bodohkan perkataan jelek orang-orang tentang Ana. Ia sahabat Ana, ia berpikir Ana tidak seperti itu. Dan apapun yang Ana perbuatan pasti ada alasannya. Orang-orang berkata Ana perempuan murahan, tapi baginya. Ana tidak begitu, ia begitu cantik wajar banyak lelaki yang mengelilingi Ana. Begitu lah yang ia pikirkan.


"Kami memang baru kenal kamu dua tahun ini, tapi bukan berarti kami tidak tau bagaimana sifatmu, Vera!" Nadia mengulas senyum,"kau baik dan sederhana yang terpenting kau apa adanya dirimu. Masih banyak yang akan berteman denganmu. Termasuk aku dan Zita. Yang terpenting saat ini kau harus bangkit dan luruskan kesalahpahaman orang-orang terhadapmu!" lanjut Nadia.


Vera tersenyum.


"Nah, begitu dong. Tersenyum, Vera yang kami kenal adalah pribadi yang hangat dan ceria," ucap Zita. Tak lupa mengulas senyum.


"Terimakasih, teman-teman!" Ujar Vera mengembangkan senyum lebar.


...***...


...Bug!...


...Akh!...


...Bug!...


...Bug!...


Pukulan keras di terima dan terus di terima. Darah segar mengalir di kedua sudut bibir Arga yang pecah. Ke dua matanya membiru dan membengkak. Bibirnya tak mampu di gerakan. Rasa sakit di sekujur tubuh nya membuat Arga benar-benar tidak berdaya. Ia di tangkap dan di hajar habis-habisan. Tiga jam sudah ia merasakan rasa sakit menghujam seluruh tubuh nya.


Tap!


Tap!


Tap!


Suara derap langkah kaki menggema di dalam gedung pabrik terbangkalai itu. Beberapa orang menyingkir membiarkan sang Bos besar sampai di samping tubuh Arga, lalu berjongkok.


Sarung tangan karet itu menyentuh dagu Arga. Ingin berbicara atau sekedar membuka mata. Sayangnya, pria itu tak mampu melakukan nya.


"Bagaimana sakit bukan?" tanya nya.


Arga merintih. Tak mampu menjawab pertanyaan pria yang kini tersenyum menyeringai. Ia merasa pernah mendengarkan suara berat ini. Akan tetapi ia lupa siapa dan di mana ia mendengar kan nya.


"Harus nya kau tidak menyentuh apa yang bukan milikmu, bung!" ucapnya lagi. Sebelum mendorong kasar dagu Arga. Hingga kepala belakang Arga membentur lantai kumuh.


Leo berdiri dengan tegap."Habisi dia!" titahnya dengan nada dingin. Sebelum melangkah pergi.


.


.


.


.


Bersambung....


Maaf kemarin gak sempet upload 🙏☺️ karena kecapeaan...🥺🥺🥺


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏


.

__ADS_1


__ADS_2