Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 64 (END)


__ADS_3

Kreat!


Pintu terbuka perlahan. Tubuh yang terlihat kurus itu masuk dengan langkah pelan. Gadis yang duduk di kursi tunggu berdiri cepat. Pupil matanya membesar melihat siapa wanita yang berada di sana. Ke dua kakinya membeku, menatap wanita yang beberapa bulan ini tidak ia temui.


"Vera?" panggilnya lirih terlihat tak percaya dengan siapa yang datang mengunjungi nya.


Vera mengulas senyum. Melangkah mendekati Ana, meraih tangan yang terasa sangat kecil. Menariknya duduk di bangku terbuat dari besi itu.


"Kau terlihat kurus, An!" ucap Vera pelan.


Tangan wanita itu bergerak membuka rantang. Dan membuka botol. Aroma masakan menyeruak di dalam ruangan pertemuan. Ana hanya menatap apa yang di lakukan oleh Vera. Apakah wanita ini tidak benci bahkan muak melihat nya. Yang terus jahat padanya. Menginginkan apa yang menjadi miliknya. Dan bahkan hampir membuat ibu satu anak itu meninggal karena ulahnya.


"Aku bawakan makanan kesukaanmu," ucap Vera. Setelah selesai membuka penutup rantang.


Sup buntut, goreng ayam dengan sambal cabe hijau kesukaan Ana. Dan tak lupa ada daun singkong rebus. Benar-benar menggugah selera makan.


"Kenapa?" seru Ana pelan. Kepalanya tertunduk.


Vera mengulas senyum lembut. Meraih tangan dingin Ana. Mengusap nya perlahan-lahan. Wanita cantik ini pernah menjadi bagian dari hidup nya. Jika boleh jujur, Vera tak pernah membenci Ana. Sedikit pun tak pernah. Rasa sakit yang terlihat secara nyata di dapan mata. Membuat Vera paham betul jika wanita cantik ini hidup di dalam luka yang dalam.


Semakin dalam luka. Semakin manusia lupa, jika bukan hanya ia yang tau apa itu rasa sakit. Bukan hanya mereka yang terluka sangat dalam. Bukan hanya mereka yang memiliki kisah hidup yang suram. Sayangnya, kebayanya dari mereka menganggap mereka adalah manusia yang paling tersakiti di dunia ini. Mereka yang paling tidak beruntung di dunia ini. Tanpa tau ada banyak hal yang mungkin masih mereka miliki. Yang mungkin tidak di miliki oleh orang lain. Masalah yang mereka hadapi tidak separah orang lain. Namun, mereka kerap kali membandingkan kebahagiaan dan kelebihan orang lain pada diri mereka. Tidak mau melihat kebelakang, ada banyak yang lebih terluka bahkan kemalangan yang lebih malang lagi dari mereka.


"Kenapa kau masih saja baik padaku?" ulangnya dengan nada serak dan dalam.


"Karena aku tidak membencimu," jawab Vera dengan nada lembut.


Kontan aja kepala Ana terangkat. Matanya basah, bibir merah pucat itu di gigit pelan. Usapan terasa di ke dua pipinya kala genggaman di tangannya di lepaskan. Hangat.


"Kenapa?"


"Karena kau sahabatku."


Ah! Masihkah? Semuanya yang ia lakukan. Bagaimana bisa Vera mengatakan kata sahabat segampang itu. Bahkan untuk memikirkan hal itu saja Ana tak mampu.


"Sahabat?" ulang Ana dengan bibir bergetar.


Kepala Vera mengangguk pelan."Ya, kau dari awal adalah sahabatku. Sampai akhir kau masih sahabatku. Kau orang pertama yang pernah tulus padaku. Kau wanita yang aku kagumi saat berada di bangku sekolah. Kau cantik, ceria, pintar dan selalu mencoba tersenyum meskipun kau terluka. Aku tau, menderita nya kau saat itu. Dan aku berjanji untuk tetap di sisi mu. Memberikan kehangatan yang tak kau dapat kan dalam keluarga. Berbagi orang tua, yang diam-diam kau dambakan. Bersedia menjadi saudaramu. Sayangnya, aku tak tau dari mana. Kesalahpahaman kau padaku berasal. Mungkin jika aku khilaf melakukan kesalahan. Aku minta maaf," tutur Vera dengan nada pelan.


Kepala Ana bergerak mengeleng cepat. Air mata semakin deras, wanita itu bahkan turun dari bangku. Bersujud di kaki Vera. Vera terlonjak terkejut melihat apa yang di lakukan Ana.


"Ma——maafkan aku, Vera! Aku bodoh aku...."


Vera menekuk ke dua kakinya. Memeluk tubuh Ana. Menangis dalam diam. Apa yang salah hingga mereka begini. Vera bukan manusia yang berhati malaikat. Ia hanya mencoba memberikan kata maaf. Pada orang yang pernah berarti di hidupnya. Bagaimana pun meskipun Ana pernah jahat padanya. Ada kebaik-kebaikan yang dulu ia berikan pada Vera.


Di luar jendela. Damar menatap sendu ke duanya. Jika saja Ana dapat melihat ketulusan hati Vera. Akankah ia dan Vera hidup bahagia. Tanpa rasa iri di dalam hati.


...***...


Leo menuangkan dua centong nasi ke atas piring. Vera menghela napas pelan, suaminya satu ini memang sangat suka sekali menambah nasi ke atas piring nya.


"Makan yang banyak, Bunda Kai!" ujarnya tak lupa tersenyum lebar.


"Ayah Kai, tidak lihatkah ada banyak nasi yang tersisa di piringku?" ujar Vera sedikit kesal.


Jika makan terlalu banyak bisa-bisa bobot tubuh nya semakin bertambah. Dan jika di bicara tentang bobot tubuh. Leo akan berdalih kalau melihat pipi Vera seperti bakpao itu lucu. Pingin di gigit. Vera akan mengerang kesal dengan jawaban menyebalkan dari sang suami.


"Kan di bagi dua, Bunda nya Kai. Setengah asupan untuk Kai dan setengah nya lagi untuk Bundanya," jawab Leo dengan wajah di buat-buat imut.


Tidak salah. Leo berkata benar, ibu menyusui memang harus memiliki banyak nutrisi untuk bisa memberikan ASI terbaik untuk sang bayi. Bahkan, urusan makan Vera sangat terjaga. Dari pagi sampai malam, gizi harus terpenuhi. Dari lauk-pauk, buah-buahan hingga kacak-kacangan. Masakan yang di buat untuk Vera tanpa penyedap. Tidak boleh banyak makan-makan di luar. Cemilan juga di kurangin, bisa di bilang nyaris hilang. Leo ingin memberikan yang terbaik untuk ibu dan anaknya.


Seperti saat ini. Selalu memasakkan Vera makan dengan porsi lumayan banyak. Vera memutar bola matanya pertanda ia tengah di landa kejengkelan.


"Ih!!! Gemes!!!" Seru Leo sembari mencubit gemas ke dua sisi wajah Vera.


"Ouch!!! Ca...kit!!!!" Teriak Vera dengan tangan memukul-mukul pergelangan tangan sang suami.

__ADS_1


Leo tertawa terbahak-bahak. Nara dari ruangan tamu mengeleng pelan mendengar tawa keras sang putra. Sudah di pastikan jika Leo tengah mengusili sang menantu. Siti yang datang dari arah kamar si kecil membawa perlengkapan untuk membawa Baby Kai jalan-jalan di sore hari mengeleng kan kepalanya mendengar tawa keras Leo. Dan pekikan marah sang putri.


"Cih! Dasar tak tau waktu. Mentang-mentang suami kita nggak di sini, kita malah di panas-panasi sama mereka," dumel Siti terdengar.


Nara terkekeh pelan."Namanya juga pasangan suami-istri yang masih muda, besan. Memang suka begitu," balas Nara.


"Tapikan, bikin iri yang tua," ujar Siti.


"Hehe...iya juga ya!" Nara setuju perkataan Siti.


Ke duanya kadang-kadang suka lupa tempat. Terutama Leo, dengan kekurang ajaran nya suka mengumbar kemesraan bersama sang istri. Bahkan tak segan-segan menitipkan Kai pada mereka. Hanya untuk bermesraan dengan Vera. Katanya mau cetak banyak cucu buat mereka. Setidaknya itulah bujuk rayu Leo pada Nara dan Siti.


...***...


^^^13 Tahun Kemudian^^^


"Ya, bagus. Lebih terlihat dingin lagi!" seru sang fotografer mengarahkan anak lelaki berusia tiga belas tahun yang kini mulai melakukan keinginan sang fotografer.



...Click!...


...Click!...


...Click!...


Kilatan lampu kamera menghujam tubuh anak lelaki tampan itu. Vera yang duduk di kursi tunggu terlihat bersemangat melihat putra tampan yang terlihat semakin mempesona dari hari ke hari. Bahkan mampu menyaingi eksistensi sang suami yang terlalu tampan. Wajah yang membuat ibu-ibu komplek menjerit memanggil nama putranya. Dari dari bayi sampai saat ini. Sang putra terus di eluh-eluhkan.


Kepintaran otak dan senyum cool maut yang membuat telinga nya nyaris tuli saat menjemput sang putra dari sekolah. Tujuh tahun Vera merelakan telinga nya berdengung karena putra tampannya. Belum lagi karena suaminya. Semakin tua semakin terlihat tampan saja. Semakin hot dan terkadang membuat ia uring-uringan. Beruntung ada Kai dan Keyla. Anak perempuan ke duanya. Yang berusia delapan tahun. Yang tak kalah mengemaskan. Terlihat sangat cantik, tak salah jika orang-orang bilang kalau anak Leo dan dirinya adalah bibit unggul.


Meskipun Leo menggadang-gadang ingin membuat club' sepak bola. Sayang, Tuhan hanya menganugerahkan mereka dua orang anak. Yang ketampanan dan kecantikan membuat banyak orang gemas. Vera sendiri heran, padahal ia bukan wanita cantik. Namun anak-anak yang ia miliki menyejukkan mata.


"Ugh! Putraku begitu tampan!" seru Vera dengan nada gemas.



"Tapikan ayahnya lebih mengemaskan," bantah Leo.


Vera mengangkat sebelah bahunya acuh. Keyla menatap heran ke dua orang tuanya.



Ia menoleh ke depan saat sang ayah menyodorkan wajah nya pada sang ibu. Manik mata coklat itu tampak mampu menenggelamkan Vera jauh di dalam samudera.


"Tapikan aku yang menghadirkan nya. Jadi, aku lebih tampan kan sayang?" bisik Leo di daun telinga Vera yang perlahan memerah.


Glek!


Deg!


Deg!


Deg!


Vera kesulitan menelan air liur di kerongkongan nya. Jantung nya bertalu-talu. Meskipun telah hidup bertahun-tahun dengan mahluk Tuhan paling tampan dengan balutan hot satu ini. Vera akui pesona Leo semakin hari semakin membuat nya mati kutu.


"O——oh, ya...ya...suamiku paling tampan!" jawabnya cepat terbata-bata.


Senyum puas Leo terlihat. Ia kembali duduk dengan baik di samping Vera.



"Cih! Curang sekali. Mengandalkan wajah tampannya!" Ibu dua anak ini merenggut kesal.


Leo dapat mendengar gerutuan Vera. Ia memilih merangkul tubuh Vera.

__ADS_1


"Ayolah," suara Keyla terdengar,"jangan umbar kemesraan Bunda dan Ayah di sini. Apa lagi di depan anak di bawah umur!" decak Keyla dengan nada setengah menahan kesal.


Menyesal ia ikut melihat pemotretan sang Abang. Karena tuntutan kemesraan ke dua orang tuanya. Leo hanya terkekeh, Vera mencubit kesal pinggang Leo. Langkah kaki terdengar cepat mendekati mereka. Dorongan kecil membuat pelukan dari samping itu terlepas.


Sungguh. Anak kurang ajar. Leo memaki pelan. Kai duduk ditengah ia dan Vera. Membuat jarak cukup jauh ia dan sang istri.


"Bagaimana Bunda. Aku terlihat memukau bukan. Lebih tampan dari ayah?" ucap Kai dengan suara yang terdengar berat karena jangkung yang mulai tubuh.


Leo memutar bola matanya serentak dengan Keyla. Mulai! Kai kembali merecoki sang ayah. Seperti biasanya.


"Tentu dong, putra Bunda selalu terlihat tampan dari ayahnya," balas Vera semakin membuat bibir Leo mencabik.


Kai tersenyum lebar. Dagunya terangkat tinggi saat menoleh ke arah Leo. Seolah berkata jika ia nomor satu di mata dan hati ibunya.


"Cih! Tidak tau saja sebelum jadi dia jelek. Kayak anak kodok," dumel Leo pelan.


"Siapa yang anak kodok?" itu suara Vera.


Leo berdiri cepat."Kai lah. Siapa lagi. Saat masuk ke sel telur dia itu lebih jelek dari anak kecebong kodok!" balas Leo.


Vera menatap nyalang sang suami. Kai mencibir.


"Kalau aku kayak itu, berarti ayahnya adalah kedoknya!" balas Kai.


"Enak saja. Aku tampan nggak kayak kodok!" tukas Leo.


Orang-orang di dalam studio foto mengeleng kecil. Sudah menjadi pemandangan sehari-hari melihat perdebatan ayah dan anak itu. Sama-sama tampan masih saja mempertanyakan ketampanan masing-masing. Membuat mereka heran dengan keluarga Yamato satu itu.


"Kayak kodok!"


"Nggak lah."


"Kodok!! Titik!" bantah Kai lagi.


Keyla bangkit dari posisi duduknya. Melangkah menuju pintu keluar. Vera berkacak pinggang. Teriakan keras dari ke duanya terdengar nyaring. Kala ke dua daun telinga di tarik ke bawah. Mengingat tinggi Vera tak seberapa ia hanya bisa menarik kebawa daun telinga putra dan sang suami.


"Ouch!" teriak Kai keras.


"Sakit sayang!" kini suara Leo terdengar.


"Bertengkar di rumah!" Ujar Vera sembari menarik daun telinga ke duanya.


Meskipun mengaduh sakit. Ke duanya ikut berjalan tak lupa tangan saling aduk pukul kecil satu sama lain dan saling menyalahkan. Kekehan kecil terdengar. Selalu saja berakhir kemenangan di tangan Vera Claudia.


.


.


.


.


...~TAMAT~...


..."Benang takdir tak pernah salah dalam mengikat....


...Cermin tak pernah berbohong akan bentuk yang ia pantul kan....


...Sebelah sepatu dengan nomor yang berbeda tak akan mampu terlihat sama....


...Begitulah jodoh! Tak pernah salah maupun tertukar....


...Cinta tak butuh kemewahan jika yang sederhana mampu menawarkan kebahagiaan!"...


...Author mau mengucapkan terimakasih atas dukungan pada cerita satu ini. Cerita ini memang tidak memiliki chapter/ bab yang panjang. Karena takut jenuh☺️...

__ADS_1


__ADS_2