
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏
.
.
.
.
.
Vera hanya duduk di sofa, bola matanya tidak berhenti bergerak ke sana dan kemari. Melihat orang-orang keluar masuk ke dalam apartemen. Belum lagi yang ada di ke dua kamar utama di apartemen mewah di bilangan Jakarta barat. Tidak ada yang bisa wanita ini henti kan. Mengingat ternyata, Leo Yamato lebih ganas dari pada yang ia duga. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Leo bersikeras menyatukan kamar mereka. Bisa di bilang, ia dan Leo harus tidur di kamar yang sama. Bekas kamarnya di jadian ruangan kerja sekaligus ruangan belajar Vera. Bukan nya Vera takut melawan kehendak Leo. Di sini, Leo mengancam nya. Mau tak mau ia harus menuruti keinginan sang suami.
Derap langkah kaki terdengar. Leo keluar dengan sang desainer interior. Seperti nya kamar yang ingin kan telah selesai. Dalam hitungan jam, dekorasi kamar sudah selesai. Sungguh, keturunan Sultan tidak ada tandingannya.
"Sayang! Ayo ke sini!" Seru Leo menghimbau sang istri dengan gerak tangan.
Dengan gerakan malas. Vera bangkit dari posisi duduk nya. Melangkah mendekati Leo dan sang desainer pria yang menatap Vera penuh hormat.
"Lihat. Apakah ada rekomendasi atau interior nya yang kurang kamu sukai?" tanya Leo kala Vera berada di samping Pemuda Yamato itu.
Manik mata Vera bergerak liar menatap isi kamar, berserta dekonsentrasi interior kamar.
"Bagus," jawab Vera seadanya.
"Kau kurang suka?" Tanya Leo menyentuh ke dua bahu Vera dari belakang. Dimana posisi Vera yang membelakangi Leo.
"Tidak. Aku suka kok, kak!"
Leo mengulas senyum."Kalau ruang kerjanya sama ruang belajar nya bagaimana?" Kata Leo sembari menarik Vera mendekati pintu kamar samping yang terbuka.
Ruangan kamarnya berubah seperti ruangan kerja pada umumnya. Dengan beberapa rak buku berjejer. Dua meja yang berbeda warna. Di hiasi tanaman kecil di sudut ruangan. Warna cat yang semula pink kini berbuah menjadi hijau tosca. Tidak ada kesan norak sama sekali. Kala di padupadan kan dengan lampu yang menggantung di tengah-tengah yang di biarkan kosong.
"Hem! Bagus. Aku suka," jawab Vera pada akhirnya.
Kontan saja sang desainer interior sekaligus desainer rumah itu tersenyum lega.
"Syukurlah kalau begitu, saya pikir nyonya muda Yamato akan kurang suka dengan bentuk ruangan dan interior nya," ujarnya dengan nada sopan.
Vera mengulas senyum segaris. Leo memeluk pinggang Vera, tak lupa menyandarkan dagunya di bahu Vera. Pria ini tidak malu di lihat oleh para pekerja yang masih berada di apartemen.
"Kecupan terimakasih nya mana?" pinta Leo. Jari telunjuk nya beberapa kali mengetuk pipi kiri nya.
Vera ingin memaki. Beruntung ada banyak orang di apartemen. Hingga makian hanya tersimpan di kerongkongan Vera.
__ADS_1
Cups!
Bibir pink itu melayangkan kecupan yang membuat sang suami merasa sangat senang. Wajah Vera merah padam karena malu. Vera bisa saja menolak untuk menuruti keinginan sang suami. Namun, ada martabat yang harus ia jaga. Takut Leo malu di depan orang-orang. Ia merelakan rasa malunya di tekan.
"Lagi-lagi, dong!" goda Leo dengan senyum mengesankan.
Ibu jari serta jari telunjuk Vera bergerak. Melayangkan cubitan di perut keras Leo. Kontan saja Leo menggaduh, meminta ampun. Diam-diam pekerjaan yang melihat kemesraan ke duanya tersenyum konyol-iri.
...***...
Langkah kaki melawati ruangan besar ke diamankan rumah William. Beberapa pembantu rumah besar menyapa sepupu dari nona muda mereka. Damar berhenti di pintu kamar Ana. Tanpa perlu mengetuk pria ini masuk dengan terburu-buru.
Kreat!
Pintu tidak di kunci. Damar masuk ke dalam kamar sang sepupu. Ana menoleh kebelakang. Ana menghembuskan napas kasar. Ia bangkit dari posisi duduk nya di depan meja rias. Setengah berlari pada tubuh Damar.
Hap!
"Abang!" Panggil Ana mengeratkan pelukannya pada pinggang Damar.
"Hah!" Damar menghembuskan napas kasar. Ia ingin marah tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Damar tidak bisa apa-apa.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Dia tidak bisa aku miliki, dan aku....aku," adu Ana tak mampu melanjutkan perkataannya. Air mata meleleh di ke dua sudut matanya.
Telapak tangan Damar mengusap pelan punggung belakang Ana.
"Ma——maaf, hiks...." Ana terisak-isak, tubuh nya bergetar hebat.
"Minta maaflah pada Vera,An!" nasehat Damar,"kau telah menghancurkan hidup nya. Meskipun meminta maaf tidak akan menyelesaikan masalah. Yang terpenting di sini, kau mau mengakui kesalahanmu. Dan merenungkan untuk tidak mengulangi nya lagi, Hem!" lanjut Damar membujuk Ana.
Ana melepaskan pelukannya dari Damar. Mengusap pelan ke dua air mata yang mengalir di ke dua matanya.
"Apakah Vera akan mau memaafkan aku, Bang?" tanya Ana dengan nada serak.
Kepala Damar mengangguk cepat. "Vera bukan gadis yang picik Ana. Dia akan memaafkanmu. Yang penting jangan di ulangi lagi. Dan mulai semua nya dari awal lagi," kata Damar penuh kelembutan.
Ana menggeleng pelan. Membuat dahi Damar berlipat. Pertanda pria ini tidak mengerti.
"Aku.....hamil anak kak Leo," bohong Ana,"baru satu minggu. Aku menjebak nya. Dan aku takut kak Leo tidak akan mengakui dan Vera akan membenciku selamanya. Padahal aku benar-benar menyesal. Kenapa ini bisa terjadi padaku, Bang. Aku ingin memperbaiki semua nya. Tapi malah..... hancur sebelum di perbaiki!" lanjut Ana dengan wajah pucat.
"Kau———bohong kan!" Teriak Damar mencengkram ke dua sisi bahu Ana.
Kepala Ana mengeleng menolak fakta yang di selimuti kebohongan. Hamil, Ana memang tengah hamil. Untuk ayah dari anak di dalam perut nya. Tentu Ana tidak tau. Mengingat ia tidur dengan banyak pria. Meski ingin meyakinkan diri jika janin di rahimnya milik Arga. Tapi, di beberapa Minggu yang lalu ia melakukan one night stand saat ia pikir kemenangan ada di dalam genggaman nya.
Ke dua tangan Damar terjauh dari bahu Ana. Rasa pening menganyam dirinya.
__ADS_1
...***...
Air mata Leo meleleh. Vera yang berada di samping sang suami terkekeh pelan. Tangan Leo bergerak hati-hati memotong bawang bombai. Vera bilang harus sedang-sedang saja, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Beginilah jadinya Leo Yamato, berniat membatu Vera memasak. Pria ini malah nangis tak jelas karena aroma bawang yang serasa mencolok ke dua matanya.
"Kok malah nangis, kan di suruh motong bawang bukan nonton drama Korea, Kak!" goda Vera yang menghentikan kegiatan nya mencincang daging ayam tempat di samping sang suami.
Leo menoleh ke samping. Ke dua matanya memerah, air mata masih meleleh.
"Kamu tau gak persamaan kamu sama bawang?" ujar Leo membuat Vera mengeleng pelan.
"Mau gombal lagi?" tukas Vera.
"Jawab aja," desak Leo.
"Tau lah, paling kakak mau bilang kalau aku saka bawang sama-sama bisa bikin kakak nangis," tebak Vera sebelum mencibir.
"Salah!"
"Eh! Lalu apa?" jawab Vera penasaran.
"Sama-sama bulat dan bikin gemes!" jawab Leo mendapatkan tatapan kesal dari Vera.
Vera meletakan pisau yang ia pegang di atas mangkok Ayam.
"Apa yang bulat!" Kesal Vera dengan mata tajam.
"Pipi mu itu kan bulat, sama yang itu juga bulat." Goda Leo menatap pipi dan bawah dagu Vera.
Kontan saja, Vera melayangkan cubitan di perut Leo. Tak peduli baju atau tubuh Leo bau amis dari ayam.
"Ouch! Sakit sayang!" Ilak Leo berlari cepat. Meninggal kan kerjaan mereka masing-masing.
"Dasar mesum!" Teriak Vera sembari berlari dengan kaki pendeknya.
Terjadi lah aksi kejar-kejaran. Seperti nya malam ini akan makan di luar. Mengingat belum ada masakan yang siap.
.
.
.
Bersambung....
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏
__ADS_1
.