Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 21 (Pembicaraan aneh)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


.


.


.


.


Vera tercekat, kala punggung belakang nya menabrak dinding kamar Leo. Hembusan napas mint Leo menerpa wajah chubby nya. Ke dua sisi tubuh mungil Vera di terkurung oleh ke dua tangan Leo.


"Aβ€”β€”apa, yang kakak lakukan!" Ucap Vera tergagap telapak kedua tangan nya menahan dada bidang Leo Yamato agar tidak menempel padanya.


Leo memiringkan wajah tampannya, tersenyum miring pada Vera. Siapapun yang melihatnya akan langsung terpesona. Tidak ada wanita yang mampu menahan pesona seorang Leo Yamato.


"Menurutmu, apa?" Leo malah balik bertanya dengan nada berat dalam. Terdengar sangat seksi di indera pendengaran Vera.


"Ayolah, kak! Nggak lucu begini!" tukas Vera nyaris mencicit.


"Memang kita lagi ngapain sampai harus lucu, Hem?" goda Leo.


Vera berdecak sebal."Lepas tidak!" kesal Vera.


"Gak mau tuh," balas Leo acuh.


"Aku tendang si Otong!" Ancam Vera dengan mata melotot.


Kontan saja, Leo melepaskan ke dua tangan nya dari dinding. Menutup cepat barang berharga milik nya. Ingin rasanya Vera tertawa keras, melihat bagaimana wajah takut Leo Yamato. Menutup masa depannya.


"Jahat sekali sih, padahal di sini tersimpan banyak kecebong untuk lomba lari menuju rahimmu!" gerutu Leo dengan nada imut.


"Cih! Lagaknya kayak lomba tujuh belas Agustus aja!" cemooh Vera.


Vera melangkah menuju ranjang kamar Leo. Duduk di atas ranjang, dagu di angkat tinggi. Ia ingin memperlihatkan siapa yang berkuasa di sini. Meski ke dua sudut bibirnya berkedut ingin tertawa. Leo membalik kan tubuh nya, perlahan-lahan Leo melepas tangan nya menutupi adik kecil nya. Berdiri menghadap Vera dengan wajah sedih.


"Lah, emang hanya lomba tujuh belas Agustus aja yang harus berjuang. Kecebong unggul milikku juga pejuang sejati. Bayangan saja, ada sebanyak ratusan dan ribuan kecebong menuju rahim. Hanya satu yang bisa menang," papar Leo.


"Kecebong kakak itu lambat, larinya paling baru dua detik langsung mati," cibir Vera.


Leo manyun mendengar kan tuduhan Vera pada kecebong nya.


"Eh, enak saja. Kecebong keturunan Yamato itu kuat tau. Lagipula kamu belum lihat dan coba saja. Makanya kita harus sering bikin. Biar kamu tau kecebong milik suamimu ini hebat," kata Leo dengan penuh kepercayaan diri.


"Ogah! Gak mau ah. Punya kakak lemah," cemooh Vera.


Keok!


Leo tercengang mendengar tuduhan Vera padanya. Punya nya lemah? Leo rasa tidak begitu.

__ADS_1


"Mana ada lemah, bukankah kamu udah coba?"


"Iya udah, kuat nya cuma sepuluh jam. Suami temanku kuat dua puluh empat jam, kayak yang ada di bungkus jamu yang di berikan Mama!" ledek Vera.


Leo mendengus mendengar perkataan Vera. Sebelum senyum ganjil terbit di wajah tampannya. Pembicara aneh suami-istri ini mampu membuat siapa saja tertawa terpingkal-pingkal.


"Kalau begitu kita tes," tantang Leo.


"Eh?" Vera tercekat.


Leo membuka baju kaos hitam polos miliknya. Memperlihatkan dada bidang, otot perut yang sempurna, otot lengan yang besar dan kuat.


Glek!


Vera menelan susah payah air liur di kerongkongan nya. Beberapa kali mata nya berkedip cepat. Langkah kaki Leo membuat tubuh nya membeku.


"Ayo kita buktikan, kalau suamimu ini kuat sampai besok pagi!" Ujar Leo menurunkan resleting celana jinsnya.


"Mama!!!!!!! Tolong!!!!!!" Teriak Vera kala bisa mengontrol tubuh nya. Wanita itu berlari menuju pintu. Sayang! Pintu kamar di kunci.


Teriakan permintaan tolong mengalun di dalam kamar. Sedangkan di lantai bawah rumah besar Yamato. Para ibu itu malah terkikik mesum.


"Wah! Leo kayaknya gak tahan besan," ujar Siti di sela kekekah nya.


"Hehehe.....Leo memang buas kalau udah lapar, jeng!" balas Nara.


"Buas?" ulang Siti pelan.


Kontan saja ke duanya tertawa keras untuk ke dua kalinya.


"Oh, astaga! Semoga Leo gak terlalu kasar ya, Jeng!"


"Semoga aja Jeng!" balas Nara sebelum ke duanya menengadah kan kepala mereka. Dengan rapalan doa untuk bisa memiliki cucu secepatnya.


...***...


Beberapa kali Ana muntah. Bolak balik ke kamar mandi, meskipun tidak ada makan yang keluar. Cairan yang keluar membuat kekuatan Ana terkuras. Ana menyandarkan punggung belakang nya di dasbor ranjang. Wajahnya tampak pucat pasi, bersandar di dasbor ranjang.


"Hamil benar-benar merepotkan!" keluh Ana dengan nada setengah kesal.


Kreat!


Pintu kamar Ana terbuka perlahan-lahan. Ana tersenyum melihat Damar masuk dengan kantong berisikan ayam bakar dan rujak pesanan nya. Damar melangkah semakin masuk ke dalam kamar sang sepupu.


"Apakah masih muntah?" Tanya Damar kala sampai di bibir ranjang. Duduk di samping Ana.


"Ya, Bang! Rasanya benar-benar tidak enak." Jawabnya sembari mengangguk pelan.


Damar mengulas senyum. Meski pria ini sempat marah dan kecewa. Nasih sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya jika Damar marah-marah pada Ana. Yang terpenting saat ini adalah merawat Ana.

__ADS_1


"Ini pesananmu, mau langsung di makan?" Tanya Damar meletakan pesanan Ana di atas nakas.


Kepala Ana mengeleng cepat.


"Nanti saja makannya Bang, perut Ana masih gak enak!" adunya dengan lemah.


Damar jelas tau, meski tidak belajar tentang kandungan secara rinci. Setidaknya, Dokter spesialis Jantung ini tau secara umum tentang ibu hamil. Tangannya mengusap peluh yang mengalir di ke dua sisi wajah Ana.


"Ya, sudah. Nanti kalau sudah merasa baikan baru makan. Sebelum meminum susu," ujarnya.


"Siap, Bang!"


"Oh, iya. Abang mau kita pindah ke Amerika setelah kandunganmu membaik," ujar Damar mendapatkan pelototaan dari ke dua mata Ana.


"Kenapa aku harus pindah?" sarkasnya.


"Kau tidak bisa tetap di Indonesia di saat keadaan mu begini Ana. Keluarmu bisa tau apa yang terjadi padamu. Papa dan mamamu akan sangat murka," papar Damar akan kondisi ke depannya.


Kepala Ana mengeleng cepat. Menolak perkataan Damar. Bukan ini yang wanita cantik ini ingin kan. Yang ia inginkan adalah Damar menemui Leo, meminta pertanggungjawaban Leo. Meski Ana tau, Leo Yamato akan menolak mentah-mentah akan tuduhan yang di berikan oleh Damar. Setidaknya, ini akan membuat Vera terguncang. Ia tau pasti dengan Vera. Meskipun wanita itu marah, ia tidak akan membuat orang lain dalam ke adaan buruk.


"Kau mau aku bagaimana?" tanya Damar dengan nada pelan.


"Datangin Leo, minta dia menikahi aku," balas Ana.


Damar mendengus.


"Kau lupa dengan apa yang kau perbuat pada istri nya?"


"Apa yang aku perbuat?" kata Ana dengan tidak tau malunya.


"Ana! Dengarkan Abang. Kau membuat istri nya tidur dengan pria lain. Kau pikir dia akan mau menikah denganmu. Jika kau punya hati nurani sedikit saja. Biarkan Leo dan Vera tenang. Jika anak ini memang anak Leo, maka saat besar nanti baru kita beri tau padanya. Hanya sekedar ini saja, jika kau masih tidak patuh pada Abang. Maka jangan salahkan Abang mengurungmu di Puncak!" Putus Damar sembari berdiri dari posisi duduknya.


"Abang tidak percaya ini anak Leo?" teriak Ana marah.


"Aku bahkan tidak tahu, dengan siapa saja kau tidur Ana. Saat ini aku mencoba berpikir waras. Keluarga Yamato bukan orang sembarang. Sebaiknya kau merenung saja dahulu!" Balas Damar membalik kan tubuh nya. Dan melangkah mendekati pintu keluar.


Brak!


Makana atas nakas berhamburan


di lantai. Bersamaan dengan pintu yang di tutup oleh Danar.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


.


__ADS_2