Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 44 (Tentang Perasaan)


__ADS_3

Susu coklat hangat terhidang di atas meja dengan satu kantong cemilan kacang almond. Vera tersenyum lembut kala sang suami mengusap pelan perut ratanya.


"Sehat selalu ya sayang. Papa di sini nggak sabar bisa melihatmu." Ucap Leo sembari mengusap pelan perut datar Vera.


"Terimakasih papa," jawab Vera dengan nada lucu.


Ke duanya terkekeh. Terasa amat lucu tingkah aneh ke duanya. Vera meraih gelas susu coklat hangat miliknya. Sebelum meneguknya sampai tinggal setengah sebelum kembali meletakan nya di atas meja.


"Kapan mau ke dokter kandungan lagi, sayang?" tanya Leo sebelum menengadahkan wajahnya. Menatap wajah sang istri yang sedikit menunduk menatap wajahnya.


"Mungkin dua Minggu lagi kak. Nanti kita ke sana sama-sama," jawab Vera lembut.


Leo mengangguk kecil. Pria Yamato ini mengusap kecil dan mengecup perut datar Vera. Sebelum menegakkan tubuhnya. Duduk tegap di samping Vera.


"Bagaimana sekarang. Apa kakak mau bikin usaha kecil-kecilan dulu atau bagaimana ke depannya?" tanya Vera membuka pembicaraan mereka.


Leo menghela napas pelan. Sebelum memeluk lengan Vera, sekedar menyadarkan kepala nya di bahu sang istri tercinta.


"Aku masih belum tau," jawab Leo galau.


Vera mengulas senyum."Aku punya, usaha kecil-kecilan. Sebelum nya di olah oleh orang yang aku percaya. Mungkin kakak mau mengolahnya," ucap Vera.


"Usaha?" ulang Leo dengan nada tak percaya.


"Ya." Balas Vera sembari mengangguk.


Leo melepaskan pelukannya. Duduk dengan tegap kembali menghadap Vera. Ia tak tau jika sang istri punya usaha. Pria ini hanya tau jika Vera hanya seorang wanita biasa. Biasa di sini dalam artian, sang istri hanya wanita seperti pada umumnya. Hanya mengurusi kuliah saja. Bahkan setelah satu tahun menikah, Vera tak pernah terlihat sibuk mengurus sesuatu. Kecuali sibuk mengurus tugas kuliah. Hanya itu.


"Usaha apa?" tanya Leo pemanasan. Sangat penasaran malah. Terlihat jelas di raut wajahnya.


"Ada panti pijit dan juga butik kecil-kecilan, kak. Lagipula itu sepenuhnya di urus oleh orang yang aku percaya. Aku hanya mengontrol dari jauh saja perkembangan nya," jelas Vera.


"Benarkah? Aku bahkan tidak tau jika kamu memiliki usaha sendiri Vera."

__ADS_1


"Ya, begitu lah."


"Lalu uang dari penghasil nya kemana? Jika benar-benar melakukan usaha?"


Vera menyandarkan punggung belakang nya di sofa sempit.


"Yang bekerja di panti pijet adalah orang yang memiliki bakat spesial kak. Dan begitu pula dengan yang menjahit di butik yang aku dirikan. Sebagian uangnya tentu untuk gaji karyawan. Untung dari ke dua nya aku sumbangkan sepenuh untuk panti asuhan dan biaya karyawan baru di latih oleh tenaga profesional," papar Vera.


"Bakat spesial?" ulang Leo yang tidak mengerti apa maksud dari perkataan sang istri,"maksud nya apa?" lanjut Leo dengan wajah aneh.


Vera terkekeh pelan melihat raut wajah sang suami. Ugh! Ingin sekali Vera mencubit pipi Leo dengan keras. Saking gemasnya.


"Yang jadi anggota memijat adalah yang tidak bisa melihat. Sedangkan untuk yang menjadi penjahit adalah mereka yang bisu. Aku ingin mereka memiliki pekerjaan yang layak kak," jelas Vera lembut,"aku terkadang merasa sedih saat mereka yang di perlakukan semena-mena. Dan kakak tau apa yang paling aku suka dari mereka?" lanjut Vera sebelum melemparkan pertanyaan pada sang suami.


"Apa itu?"


"Mereka jujur. Mereka buta namun bukan buta hati. Mereka bisu, namun tidak bisu dalam hal yang jujur. Karena itu, aku memberikan pekerjaan untuk mereka."


Leo merasa ada debaran tersendiri. Tiba-tiba hatinya yang semula sempit menjadi luas. Kala Vera tersenyum, seakan angin menyejukkan jiwa berhembus ke arahnya. Bolehkan Leo Yamato mengatakan jika ia terpukau berkali-kali pada wanita yang sama?


"Kenapa melihat aku seperti itu, kak?" tanya Vera malu dengan tatapan lama tanpa berkedip.


Leo mengeleng kecil. Sebelum mengembangkan senyum.


"Sebenarnya kamu itu bangsa mana sih?" ujar Leo terdengar aneh di telinga Vera.


"Hah?"


"Terkadang aku berpikir kalau istri ku bukanlah manusia."


"Emang aku apa kalau bukan manusia. Kakak ada-ada aja, ih!"


"Kamu itu mungkin keturunan malaikat di dunia. Dan akan menjadi bidadari jika naik ke surga," balas Leo membuat Vera terkekeh kecil.

__ADS_1


"Kakak jangan menggombal. Dan aku tidak sesempurna itu kak. Mungkin aku tidak kelihatan melakukan kesalahan. Percaya lah, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini kakak. Yang ada adalah Tuhan menyembunyikan keburukan orang tersebut saja. Begitu pula dengan aku, tanpa aku sadari mungkin aku melakukan hal buruk. Tapi Tuhan tidak memperlihatkan nya saja. Baik itu yang besar maupun yang kecil," balas Vera lembut.


"Aku tidak melihat jika kau melakukan dosa tuh!" bantah Leo.


Vera mengulas senyum lembut. Sebelum menunduk perlahan.


"Aku melakukan nya kurang lebih satu tahun kak."


"Ah?"


"Aku berdosa karena telah egois pada hatiku. Untuk menjaga hatiku untuk tidak tersakiti. Aku mengenyampingkan melayani sebagai seorang wanita. Maaf untuk itu, kak!" ujar Vera lirih.


Leo tercengang.


"Aku takut. Kakak dan aku baru kenal. Tiba-tiba menikah. Akut takut jika saat aku serahkan semuanya padamu. Kakak akan menyakiti aku. Meninggalkan, bunga yang layu." Lanjut nya meremas-remas tangannya. Ini untuk pertama kalinya Vera mencurahkan isi hatinya pada Leo, sang suami.


Leo mengigit pelan bibir bawahnya. Menatap lambat sang istri. Vera masih menundukkan kepalanya. Beberapa detik kemudian ia mengulas senyum. Leo menarik tangan Vera yang saling bertautan. Menggenggam tangan kanan Vera dengan lembut.


"Ya, aku tau. Berpikir secara logika, mana ada wanita yang bisa percaya saat seorang pria melamarnya. Bahkan memaksakan kehendak menikahi nya. Ada dua kemungkinan, pertama pria itu benar-benar mencintai nya. Ke dua ada niat buruk di belakang nya," ujar Leo,"karena itu tidak masalah!" lanjut Leo. Mengusap pelan punggung tangan Vera.


Vera menengadah menatap wajah Leo. Pria itu tersenyum lebar. Ah, Vera merasa sangat damai.


...***...


Damar melenguh kesal. Melihat bagaimana Ana saat ini. Wanita cantik itu terlihat begitu pongah. Mendengus kesal melihat Damar mengendong bayi yang melihat nya saja membuat Ana mual saja.


"Ana tidak bisakah kau memberikan sedikit saja perhatian mu pada anak mu, An?"


Ana merotasi kan malas ke dua matanya."Dia bukan anak ku, dan aku tidak ingin memperhatikan dia!" tukas Ana.


Damar ingin membentak Ana. Namun di urungkan karena di gendong nya ada sang keponakan tercinta.


"Tidak kah kau kasih melihat nya. Dia masih kecil dan butuh kasih sayang darimu. Apa kau mau dia besar seperti, mu. Tidak mendapatkan kasih sayang An?"

__ADS_1


Ana terdiam. Ia sempat melirik bayi di dalam gendongan kakak sepupunya. Tidak, Ana harus membunuh hati nurani nya. Untuk mendapatkan kebahagiaan.


__ADS_2