
Jari jemari panjang Leo bergerak menarik anak rambut depan Vera yang nakal. Jatuh menutupi wajah manis sang istri. Jari jemari Leo mengapit anak rambut nakal itu dan menarik pelan anak rambut Vera untuk di selipkan di belakang telinga. Ibu hamil itu terlelap satu jam yang lalu dalam pelukannya. Senyum tak pernah lelah di angkat tinggi. Vera tampak polos saat terlelap.
"Cantiknya istriku," puji Leo menatap tanpa jemu ke arah wajah Vera,"tapi akan lebih mengemaskan lagi kalau melihat wajahnya memerah saat di goda," lanjut Leo. Sebelum kekehan renyah mengalun.
Wajah tampan itu di tunduk dalam. Mencoba mengikis jarak antara wajah nya dan wajah sang istri. Sedikit lagi, sayangnya ketukan di luar pintu rumah kontrakan membuat keinginan Leo untuk mengecup bibir sang istri menjadi tertunda.
Leo mengerang kesal. Sebelum melepaskan dengan perlahan rangkulan nya pada tubuh mungil Vera. Mau tak mau ia turun dari ranjang, melangkah keluar dari kamar menuju pintu masuk yang tak jauh dari kamarnya.
Kreat!
Bunyi gesekan pintu dengan lantai rumah.
"Sayang!" seruan keras kala pintu terbuka membuat Leo terkejut.
Melihat wajah ibunya yang berada di depan pintu rumah kontrakannya bersama sang ayah yang membuat Leo terperangah tak percaya. Wanita yang terlihat awet muda itu tidak memberikan kabar akan kedatangan nya ke rumah. Dan bukankah Nara dan Zeo berada di Tasikmalaya. Lalu bagaimana ibu dan ayahnya sudah sampai saja di kontrakan sederhana miliknya dan Vera.
"Hei! Kenapa bengong?" itu suara Zeo.
Leo tersentak sadar.
"Eh? Mana mama, Pa?" tanya Leo kala ibunda tercinta tidak berada di samping sang ayah.
"Ibumu sudah menyeleweng masuk setelah menyapamu yang malah terbengong di sini," jawab Zeo sebelum terkekeh geli melihat ekspresi terkejut sang putra,"nggak mau nyuruh masuk nih?" lanjut Zeo. Pria gagah itu menggoda sang putra.
"Ah? Iya. Masuk, Pa!" Ucap Leo sembari bergerak. Menggeser tubuh nya ke samping kanan. Membiarkan tubuh ayahnya masuk ke dalam rumah.
Manik mata Zeo terlihat bergerak liar kala masuk ke dalam rumah kontrakan Leo. Ruangan tamu hanya bisa di masuki oleh empat orang saja. Di sekat dengan triplek. Untuk memberikan batas antara ruang makan dan ruang tamu. Dimana ruang makan langsung bersanding dengan dapur kecil. Ada dua kamar yang berdempetan. Kamar pembantunya dahulu lebih besar daripada rumah petakan yang di huni oleh putra tercinta dan juga sang menantu.
"Duduklah, Pa!" ujar Leo,"aku akan membuatkan air minum dan cemilan," lanjut Leo.
Zeo sontak menoleh ke arah sang putra. Dengan pandangan tak percaya.
"Kau bikin air minum?" tanya Zeo dengan wajah yang tak percaya.
Kepala Leo mengangguk cepat."Ya, siapa lagi. Di sini tidak ada pembantu yang akan melayani papa," balas Leo. Sebelum bergerak menuju dapur.
Zeo mengikuti sang putra. Dapat Zeo dengar samar-samar suara Vera yang sedikit serak bersama suara sang istri yang penuh keantusiasan.
"Kenapa mengekoriku?" tanya Leo kala berhenti di dapur. Hampir saja Zeo menubruk punggung lebar sang putra.
Zeo mundur satu langkah."Papa hanya ingin melihat tuan muda yang dulunya manja bikin minuman," jawab Zeo asal.
Leo hanya mengulum senyum. Tangan nya bergerak meraih ini dan itu. Tanpa harus menatap sang ayah.
"Aku telah jauh berubah papa. Tidak selamanya manja di pelihara. Tapi kalau sama istri mah, masih!" Jawab Leo sembari mengisi gula dua sendok ke dalam gelas.
"Sama istri perkara lain," balas Zeo,"memangnya sekarang sudah bisa apa saja?"
"Aku sudah bisa memasak, mencuci baju, ngepel, dan masih banyak lagi pekerjaan yang aku lakukan."
__ADS_1
"Selain pekerjaan rumah tangga?"
"Aku mendirikan perusahaan baru. Yeah, meskipun tidak sebesar perusahaan lama. Setidaknya aku sudah mencoba bangun sendiri."
"Dapat uang dari mana?" tanya Zeo. Dahinya berlipat dalam. Seingatnya, bank bohongan. Yang di utus menyita semua uang yang Leo punya. Lalu dari mana putra tunggal nya ini mendapat uang untuk mendirikan perusahaan baru.
Leo menoleh kebelakang. Menatap wajah penasaran sang ayah.
"Vera," jawab Leo,"istriku memiliki uang di tabungan nya. Uang bulanan yang tidak pernah di pakai. Meskipun tidak banyak. Uang nya di pakek untuk sewa gedung biasa dan juga membeli peralatan kantor. Sedangkan dana lain nya aku dapatkan dari teman-temanku. Sebagai pengganti bank," jelas Leo.
Zeo tidak tau harus bereaksi seperti apa. Zeo pikir Leo akan frustasi dan merasa patah semangat. Atau seperti orang gila. Siapa sangka perubahan yang terjadi malah di luar ekspektasi dan prediksi nya. Zeo awalnya ingin mengerjai Leo. Saat sang putra putus asa, ia berencana mengembalikan semua nya. Siapa sangka, Leo malah bisa berjuang dan kuat seperti ini.
Berbekal otak yang cerdas dan istri yang hebat. Leo malah terlihat semakin kokoh dan maju tanpa uluran tangannya. Ah, Zeo merasa aman. Jika nanti ia dan Nara sudah tidak lagi di dunia. Putranya, sudah mampu berjuang dan berdiri sendiri.
"Senyum papa terlihat aneh!" seru Leo yang telah selesai membuat dua cangkir teh hangat dengan makanan ringan satu toples kripik ubi goreng yang di buat sendiri oleh Vera.
Zeo menghela nafas."Putra papa sudah dewasa ternyata," ujar Zeo.
Leo mengeleng kecil. Papanya sangat aneh. Pria itu melangkah menuju ruang tamu. Zeo mengambil posisi duduk di sofa kecil. Leo meletakan nampan di atas meja. Vera dan Nara keluar dari kamar.
"Ayo duduk, Ma!" ujar Leo kala melihat sang ibu.
"Wah! Itu teh nya siapa yang bikin?" tanya Nara melirik nampan yang ada di atas meja.
"Putramu yang bikin, Ma!" Zeo menjawab cepat.
Nara membulatkan matanya. Sebelum tersenyum lembut. Ia melangkah mendekati sang putra. Mengusap pelan pundak lebar sang putra.
Leo tersenyum lebar. Vera pun ikut tersenyum melihat raut wajah bahagia sang suami. Nara melirik sang suami. Ada rasa kesal di hati Nara, mengingat kejahilan sang suami. Nara merasa sedih saat sampai di depan kontrakan Leo dan Vera. Ia iba melihat sang putra dan sang menantu harus tinggal di perumahan ramai penduduk. Apa lagi, saat sampai alamat rumah Vera dan Leo. Ia dan suami harus memarkirkan mobil di depan rumah orang. Sebelum berjalan kaki lima belas menit masuk gang. Sebelum sampai di rumah Leo dan Vera.
Nara ngeri, bagaimana kalau Vera pulang malam. Atau Leo pulang malam. Ia takut putra dan menantunya kenapa-napa. Apa lagi Vera di tahap awal kehamilan tidak boleh lelah. Sedangkan halte bus jauh dari rumah ke duanya. Namun wajahnya di coba terlihat ceria untuk ke duanya. Setelah pulang dari kontrak anaknya, Nara akan menghajar sang suami. Karena kesal.
"Ayo duduk Ma," ajak Vera,"mama pasti capek dari Tasikmalaya ke Jakarta," lanjut Vera.
Nara mengalihkan pandangannya pada sang menantu. Ia menurut duduk di samping Vera. Leo duduk di samping Zeo.
"Diminum Ma! Pa!" ujar Vera dan Leo hampir serentak.
Nara dan Zeo mengangguk. Ke duanya meminum teh hangat buatan Leo. Sebelum berbincang-bincang.
...***...
"Silahkan menikmati!" seru sang waiters setelah meletakan makanan dan minuman di atas meja.
Ana dan Lili mengangguk dan tersenyum. Waiters wanita itu melangkah meninggalkan ke dua pelanggan nya.
"Bagaimana dengan pembicaraan Mbak Lili dengan Vera kemarin Mbak?" tanya Ana penasaran.
Lili berdecak sebal."Gadis murahan itu sangat menjengkelkan. Dia malah meninggalkan aku sendiri di kafe. Tidak mendengarkan hinaanku sampai selesai. Jujur saja, aku jijik melihat wajah sok polos tanpa dosanya itu," ucap Lili dengan nada benar-benar kesal.
__ADS_1
Ana mengangguk paham."Ya, dia memang begitu Mbak. Apalagi kalau sama pria. Dia berlagak jadi cewek baik-baik. Wanita yang nggak pernah melakukan kenakalan. Hingga mereka terjebak dan jatuh cinta padanya. Bahkan Arga, dia mengatakan ketertarikan pada Vera padaku secara terang-terangan. Banyangkan itu sangat menyakitkan Mbak," ucap Ana. Wajah cantik nya terlihat menderita. Bahkan ke dua matanya terlihat berkaca-kaca.
Lili menatap iba."Kalau aku yang ada di posisimu saat itu. Tentu saja dia bakal aku jambak dan permalukan dia," ujar Lili dengan semangat menggebu-gebu.
Ana mengulas senyum culas di dalam hati. Lili benar-benar bodoh.
"Sudahlah Mbak. Yang terpenting saat ini menyatukan Mbak dan kak Leo. Karena kalian adalah pasangan yang serasi. Memisahkan Vera dari lelaki milik Mbak Lili."
Kepala Lili mengangguk."Ya. Kita harus menyusun rencana agar bisa memisahkan Leo dan Vera, An!"
"Ya. Mbak."
"Tolong bantu aku, ya, An. Hanya kamu yang bisa membantuku," ujar Lili.
"Tenang saja Mbak. Aku akan membantumu," jawab Ana tersenyum,"setelah kau menghancurkan rumah tangan Vera. Dan Leo membencimu, tentu aku yang akan menuai hasil. Bermain cerdik, mencuci tangan pada air bersih dan kau yang jadi penampung limbah kotor Lili!" lanjut hati kecil Ana.
...***...
Susu coklat hangat di teguk perlahan. Beberapa kali ia meneguk hingga tandas. Leo meraih gelas yang telah kosong dengan tangan kiri nya. Tak lupa tangan kanannya mengusap bibir basah Vera.
"Tunggu di sini ya, aku antar gelas kosong ke dapur dulu!" ucap Leo.
"Ya." Vera mengangguk pelan.
Leo melangkah cepat keluar dari kamar. Vera mengusap pelan perut nya. Hingga bunyi derit pintu yang di tutup dan di kunci membuat Vera menoleh. Leo melangkah mendekati Vera di ranjang. Ia duduk di lantai kamar yang beralaskan karpet merah dengan bulu lembut. Telapak tangan besar Leo mengusap pelan perut Vera dengan lembut.
"Rasanya nggak sabar nunggu dia lahir." Ujar Leo di sela usapan tangan nya.
Kepala Vera mengangguk antusias. Vera pun tak kalah samanya, ia tak sabar melihat wajah anaknya.
"Aku penasaran apakah dia lelaki atau perempuan," ujar Leo. Sebelum menengadahkan kepalanya menatap sang istri yang duduk di atas ranjang.
"Memangnya kakak mau anak perempuan apa lelaki?"
"Aku maunya perempuan."
"Kenapa mau perempuan?" tanya Vera dengan wajah penasaran,"kenapa nggak lelaki?" lanjut nya bertanya.
"Sebenarnya mau lelaki atau perempuan sama saja. Asalkan selalu sehat. Hanya saja, kalau perempuan pasti secantik mamanya. Aku ingin lihat anak perempuan memiliki wajah bersahaja," papar Leo.
"Tapikan mamanya nggak cantik," tukas Vera.
"Siapa yang bilang?"
"Orang yang bilang," jawab Vera pelan.
Leo melepaskan tangannya dari perut Vera. Bergerak menggenggam tangan Vera dengan lembut.
"Bukankah cantik dan nggak itu relatif. Nggak semua orang memiliki standar kecantikan sama Vera. Ada yang bilang cewek cantik itu berkulit putih. Ada yang bilang cewek cantik itu berkulit sawo matang atau kuning langsat. Ada juga yang bilang kalau cewek cantik itu memiliki lesung pipi dan masih banyak lagi," ujar Leo,"cantik menurut orang belum tentu cantik menurutku. Begitu pula sebaliknya. Di mataku, kamu cantik luar dalam. Kamu cantik saat tersenyum, kamu cantik saat merona, cantik saat——"
__ADS_1
"Ssstttt! Udah ah, kalau di teruskan bakal bikin aku malu!" Potong Vera cepat dengan jari telunjuk menempel di depan bibir Leo.
Leo tersenyum. Sebelum mengecup jari telunjuk Vera yang berbeda di depan bibir nya. Vera memerah seketika.