Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 57 (Perubahan Emosional Ibu Hamil)


__ADS_3

Beberapa kali tubuh Vera bergerak menghadap ke kanan dan ke kiri. Napas di hembuskan perlahan. Berat badan nya semakin bertambah. Bukan hanya pipi saja yang semakin membesar. Menarik hidung sederhana nya, ibu hamil ini bahkan merasa jika yang terlihat di wajahnya hanya lubang hidung untuk bernapas. Kaki nya juga terlihat semakin membengkak.


"Kok, kelihatan semakin jelek ya?" ujarnya dengan pandangan mata kecewa.


Kreat!


Pintu kamar mandi terbuka. Leo keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pingannya. Manik mata coklat kelam itu menatap Vera tengah memperhatikan dirinya. Beberapa kali menghela napas frustasi. Pria ini tidak tau apa yang membuat istri tercinta tengah bermuram durja.


Kaki panjang Leo melangkah mendekati Vera. Hingga sampai di belakang tubuh ibu hamil itu. Rambut yang basah, membawa tetesan hujan kecil di bahu kekar seputih susu.


"Kok, muka nya masam begitu?" tanya Leo.


Tangan nya terangkat. Mengusap pelan pipi Vera. Membawa rasa dingin di pipi ibu hamil ini. Vera tak perlu mengangkat pandangan nya hanya untuk menatap ekspresi wajah Leo. Dari cermin Vera dapat melihat bagaimana ekspresi Leo.


Bibir merah itu di tekuk. Pipi chubby itu menggembung. Leo terkekeh melihat ekspresi Vera. Ke dua tangan nya melingkar di leher Vera. Dagunya di sandarkan di atas kepala Vera. Ia menatap cermin. Tangan panjang itu jatuh pada permukaan perut besar Vera. Mengusap pelan, pergerakan terjadi kala usapan di layangan oleh Leo.


"Kak, boleh jawab jujur nggak?" tanya Vera terdengar serius. Setelah menghembuskan udara di dalam mulutnya.


"Apa?"


"Aku jelek ya?"


"Hah?"


"Iyakan, aku melihat jelek. Udah pendek gendut lagi," ucapnya dengan nada setengah kesal.


Leo mengerutkan pangkal hidung nya. Dahi putih itu berlipat dalam. Memangnya dari mana istri tercinta nya itu mengambil kesimpulan jika ia jelek? Leo malah tercengang dengan pertanyaan aneh yang keluar dari bibir Vera.


"Jelek dari mananya?" Leo malah balik bertanya.


"Lihat deh ini!" Rujuk Vera pada pipinya terlihat sedikit jatuh. Sebelum tangannya kembali jatuh pada ke dua kakinya yang membengkak. Pahanya terlihat begitu besar, membuat ia tak percaya diri di depan Leo beberapa hari ini.


"Ya, ada apa dengan pipi, paha, dan kakimu?" tanya Leo tak mengerti.


"Masa nggak ngerti sih?" sungut Vera.


Ibu hamil itu melepaskan tangan Leo dari lehernya. Sebelum melangkah meninggalkan Leo di depan cermin rias. Wanita itu duduk di bibir ranjang dengan wajah cemberut. Leo menghela napas. Emosi Vera terlihat mulai tak lagi stabil. Dari ekor matanya, Leo menatap Vera. Seperti kata ibunya, wanita hamil memang agak ajaib. Seperti Vera saat ini, pertanyaan aneh. Dan kalau di jawab juga akan semakin terasa aneh.

__ADS_1


Leo melangkah mendekati lemari dahulu. Pria ini harus memakai pakaian lengkap dulu. Sebelum membujuk Vera. Pergerakan cepat, Leo meraih beberapa potongan pakaian. Memakai nya dengan cepat. Membiarkan rambut hitam legam itu basah tanpa perhatian. Yang terpenting saat ini adalah sang istri.


"Sayang!" Panggil Leo sembari meraih tangan Vera.


Vera membuang muka.


"Sayang! Lihat sini dong!" Panggil Leo kembali dengan tangan mengusap punggung tangan Vera.


Vera masih tak mau memperlihatkan wajahnya. Wajah jeleknya, setidaknya itulah yang ada di otak Vera saat ini. Leo meringsut, duduk semakin mendekati Vera. Sebelah tangannya yang bebas. Mengapit dagu Vera, perlahan ia menariknya. Hingga wajah cantik sang istri bisa di tatap dengan jelas.


Glek!


Leo kesulitan menelan air liur di kerongkongan nya. Ia bahkan tercekat, bening kristal mengalir dari pipi Vera. Leo bergerak cemas, mengusap pelan pipi Vera. Tidak mengatakan apapun, hanya mengusap bulir demi bulir yang mengalir. Ibu hamil sangat sensitif pada banyak hal. Sekecil apapun, bisa menjadi besar. Apa lagi hal besar, akan bertambah besar lagi.


Isak tangis mengalun. Meskipun merasa tak senang dengan air mata yang mengalir. Leo bisa apa? Pria biasanya akan membuang muka jika melihat wanita menangis. Atau bahkan memilih meninggalkan wanita. Bukan karena mereka tidak sayang pada pasangan. Akan tetapi, di karena kan pria sangat sulit melihat air mata wanita.


Ke dua ibu jari Leo mengusap pelan pipi Vera. Dengan senyum lembut. Tangan Leo berpindah menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, memeluk nya menyamping. Menepuk-nepuk pelan kemudian di tukar dengan usapan perlahan.


"Tidak apa-apa." Ucap Leo di sela usapan nya.


Tidak bertanya apa lagi memarahi Vera karena menangis tak jelas. Leo bukan pria yang bisa membentak wanita yang ia cintai. Seperti Bagas ayah Vera. Pria ini belajar banyak dari sang mertua. Menghadapi seorang istri itu susah-susah gampang sebenarnya. Wanita tidak butuh di bentak saat menangis. Ataupun di minta diam agar tidak menangis. Wanita hanya butuh bahu kokoh tempat bersandar. Dan dada bidang untuk tempat mencurahkan perasaan.


"Udah lebih baik?" tanya Leo dengan intonasi lembut.


Kepala Vera mengangguk kecil. Leo melepaskan pelukannya dari tubuh Vera. Tangannya mengusap berganti-ganti air mata di pipi Vera.


"Aduh, wajah cantik istriku jadi makin imut!" godanya membuat Vera merenggut sebelum tersenyum.


"Kakak!" Panggil nya dengan pukulan pelan di dada sang suami.


Leo terkekeh."Kenapa, Hem?"


"Menyebalkan."


"Ya, suamimu ini memang menyebalkan," balas Leo menerima perkataan Vera,"sayangku kenapa menangis, apakah ada ke khawatiran yang membuat sayangku ini menangis?" tanya Leo lembut.


Kepala Vera mengangguk kecil. Bibir merah di gigit pelan.

__ADS_1


"Boleh cerita?" ucap Leo,"tapi kalau masih belum siap ya nggak apa-apa. Mungkin bisa cerita sama Nadia atau Zita. Kalau malu cerita ke aku," lanjut nya.


Kepala Vera mengeleng kecil."Aku merasa makin jelek saja setelah kandunganku membesar. Aku takut kakak merasa benci melihatku dengan tubuh membesar. Dan malah melirik wanita lain yang berwajah cantik dan langsing," ungkap Vera dengan jujur.


"Memangnya kenapa kalau kamu terlihat tidak menarik, Hem?" tanya Leo pelan,"lagipula aku nggak mau lirik wanita lain. Kamu itu berharga untukku, Vera. Begitu juga dengan ada di dalam perutmu. Kamu berisi begini kan karena putraku. Alangkah piciknya aku mencari wanita lain untuk kesenangan mata," lanjut Leo pelan memberikan pengertian pada Vera.


Wanita ini tau jika Leo bukan pria yang mudah berpaling. Akan tetap, emosi dan sisi sensitif ketidak percayaan diri dari pengaruh hormon kehamilan. Membuat Vera lebih rewel dan lebih mudah emosional dengan banyak hal. Apa lagi perubahan fisik seperti saat ini.


"Tapi..."


"Aku mau nanya deh, apa sih yang membuat orang terlihat cantik atau ganteng di mata orang?" ucap Leo memberikan jeda,"cantik atau gantengkah yang membuat cinta. Atau cinta kah yang membuat orang tersebut tampak cantik dan tampan?" lanjut Leo memberikan pertanyaan.


Vera terdiam sesaat. Tengah berpikir keras.


"Cinta yang membuat orang itu terlihat cantik dan tampan," jawab Vera pelan.


Senyum lebar di bibir Leo terlihat."Nah itu tau," balas Leo.


Vera mengulas senyum. Leo ikut tersenyum senang. Bukankah benar. Bukan cantik dan tampan yang membuat jadi cinta. Namun cinta lah yang membuat orang tersebut terlihat cantik dan tampan. Jika orang sedang jatuh cinta. Orang yang di cintai akan terlihat sempurna tanpa kata cacat dan salah. Seberapa banyak kekurangan orang tersebut, dimana orang yang mencintai nya. Orang itu adalah orang yang sempurna. Sebaliknya, jika kita membenci seseorang. Sebaik apapun dia, kita hanya akan melihat keburukan saja.Begitulah cara cinta dan benci berkerja.


...***...


Kediaman rumah besar Vera tengah ribut. Terutama oleh Nara dan Siti. Ke dua orang tua itu tengah berdebat memilih box bayi yang akan di pakai oleh cucu mereka. Vera yang duduk di sofa hanya mengeleng kecil. Ke dua kakinya di angkat naik ke atas paha Leo. Pria itu terlihat memijat kecil kaki Vera yang terlihat mulai membengkak. Berat bayi mereka cukup membuat Vera kepayahan.


"Aku yang akan belikan peralatannya," ucap Siti.


"Nggak boleh gitu dong. Cucu kita itu jenis kelaminnya lelaki. Aku yang jelas tau kebutuhan anak lelaki. Dan warna apa saja yang cocok untuk nya," bantah Nara tak ingin kalah.


Siti mendengus kesal. Lihatlah ke dua orang tua pasangan suami istri itu. Awalnya mereka tampak kompak tapi saat-saat seperti ini malah sibuk dengan siapa yang akan bertanggungjawab membeli perlengkapan bayi.


"Oh tidak bisa. Meskipun aku hanya melahirkan anak perempuan. Aku juga ingin menyiapkan perlengkapan nya. Karena ini cucu pertamaku," balas Siti masih tak mau kalah.


"Mana bisa begitu. Bukan hanya kamu saja yang punya anak tunggal. Aku juga sama," kesal Nara.


Leo mengeleng pelan kepalanya bersamaan dengan Vera.


"Vera bagusnya mama atau mamamu yang menyiapkan perlengkapan bayi. Sampai dekorasi kamar bayi?" tanya Nara malah melemparkan pertanyaan sulit pada Vera.

__ADS_1


Vera yang di tanya malah melempar kan pandangnya pada Leo. Pria itu malah tertawa keras melihat wajah memelas Vera padanya. Seolah meminta pertolongan.


__ADS_2