Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 11 (Belum Hamil)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....โ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


.


.


.


.


.


Vera tertawa keras mendengar cerita dari Arga. Ana hanya sesekali tersenyum dan menimpalinya. Ke tiganya duduk di cafetaria, tak jauh dari gedung kampus.


"Gila. Bagaimana bisa begitu?" tanya Vera dengan wajah penasaran.


"Aku juga tidak tau. Aku pikir di wanita, tapi setelah di ajak main ke rumah. Malah ngajak yang nggak-nggak. Ampe syok, karena dia lelaki!" Arga menceritakan dengan antusias.


Vera tertawa pelan, nyonya muda Yamato ini terpaksa menahan tawa. Mengingat di mana mereka berada.


"Aduh, perutku sakit!" Keluh Vera mengusap perut datarnya.


"Makanya jangan ketawa terlalu lama. Arga, udah ah...kasihan Vera jadi sakit perut," tegur Ana.


Arga hanya menampilkan senyum lucu. Vera berdiri dari posisi duduknya. Membawa atensi Arga dan Ana ke arahnya.


"Mau kemana?" tanya Ana kala Vera menarik tas sandang nya.


"Mau ke toilet bentar," pamit nya.


Ana mengangguk pelan. Menatap kepergian Vera. Wajah polos dengan senyum hangat itu memudar perlahan. Rasanya pegal juga memakai topeng orang baik lama-lama. Setidaknya, itu lah yang dapat di baca oleh wajah tampan Arga.


"Apa yang membuat kau tidak suka dia. Padahal, kalau di perhatikan dengan seksama dia bukan gadis yang jahat. Malah dia tulus padamu?" tanya Arga penasaran.


Vera menoleh ke samping. Hembusan napas kasar terdengar jelas.


"Dia salah," balas Ana seadanya.


"Salah?"


"Ya."


"Apa?"


"Dia salah karena terlalu bahagia dan memiliki apa yang tidak aku miliki. Dan itu membuat aku semakin membenci nya," jawab Ana jujur. Pandangan mata Ana tampak nanar.


Arga mengerutkan kening nya. Sebelum senyum miring khas nya memperlihatkan lesung pipinya.


"Ck! Ck! Iri ternyata." Ujar Arga mengangguk-angguk kan kepalanya mengerti.


"Irikah namanya?" Ana malah balik bertanya.


Arga memangku ke dua tangan di depan dada.


"Harusnya kau tidak begitu. Bagaimana pun dia yang tulus padamu. Sangat jarang aku temui gadis yang seperti nya," nasehat Arga. Meski pria ini termasuk pria yang brengsek di mata banyak orang.

__ADS_1


Namun untuk masalah pertemanan Arga tidak pernah begitu. Ia hanya brengsek pada wanita yang kurang baik.


"Sok menasehati, huh!"


Arga terkekeh ringan."Tidak juga. Aku hanya mencoba mengatakan apa yang ada di hatiku. Aku orang yang cukup blak-blakan, Ana."


Ana hanya merotasi kan ke dua manik matanya malas. Sebelum kembali memasang senyum kala melihat Vera mendekati meja mereka. Gadis itu tersenyum dan duduk kembali.


"Ana! Arga! Aku pulang duluan, ya. Udah sore nih, aku takut kena omel kalau pulang malam." Seru Vera sembari mengangkat ponselnya. Memperlihatkan angka yang tertera di sana.


"Mau aku anterin pulang?" tawar Arga.


Kepala Vera mengeleng cepat."Tidak usah. Di depan udah ada yang jemput," tolak Vera.


Kontan saja mata Ana menoleh ke halaman depan. Cafe yang di sekat dengan kaca bening, membuat pengunjung dapat melihat orang-orang yang hilir mudik. Kendaraan yang ikut membuat gaduh di kala macet melanda.


Mobil sport silver terparkir di luar. Ana yakin, jika Leo berada di mobil. Vera pamit dan melangkah keluar cafe di abaikan oleh Vera. Gadis ini menatap intens mobil sport mewah itu. Kala kaca terbuka, sebuah senyuman tercetak di bibir Ana. Ekspresi Ana di tangkap oleh Arga.


"Kau suka pacar, sahabat mu sendiri?"


Ana kembali menghembuskan napas kasar. Saat mobil yang membawa sang pujaan hati telah melaju. Meninggalkan halaman parkir cafe.


"Menurut mu?"


"Ya. Pandangan mu cukup membuat aku ngeri," canda Arga.


Ana kembali membawa pandangan matanya ke arah Arga.


"Dia suami Vera. Sebentar lagi akan jadi mantan suami." Seru Ana dengan senyum miring.


Arga sempat tercekat. Pria ini tidak menyangka ada yang lebih brengsek dari pada dirinya. Cukup menarik, bagi nya.


***


Melihat Vera serius dengan memasak membuat Leo terpana. Terbukti, pria ini memangku wajah terlalu tampannya. Menatap dengan pandangan takjub. Seolah apa yang di buat Vera tidak mampu di buat oleh wanita lain.


"Ah... akhirnya, siap juga!" Seru Vera mematikan api kompor.


Vera menyalin masakan terakhir di atas mangkuk besar. Sebelum membawanya ke meja makan. Yang terletak tak jauh dari posisi ia memasak. Aroma masakan menyeruak, memenuhi ruangan.


"Perutku sudah tak tahan mau menyicipi makanan enak yang di buatkan oleh istri ku," seru Leo mendapatkan senyum tipis dari Vera. Hanya pujian kecil, mampu membuat seorang istri bahagia.


Bukankah bahasa istri itu sederhana. Yang terkadang di anggap sulit oleh para suami. Pujian kecil di saat selesai memasak, membantu menyiapkan piring di atas meja makan dan berterimakasih atas makanan yang enak juga merupakan kebahagiaan sederhana pagi seorang istri.


"Sayang! Aku mau ini, ini dan ini ya!" Ujar Leo menunjuk lauk pauk di atas meja.


Vera sebenarnya ingin protes. Namun di urungkan karena kata-kata yang keluar selanjutnya dari bibir Leo.


"Kalau istri ku yang mengambil kan. Rasa makanan yang di buat semakin sempurna, Chef profesional lewat kalau sama istri ku!" lanjut Leo tak lupa pria ini mengembangkan senyum lebar.


Ke dua sisi bibir Vera bergetar, ingin rasanya terkekeh geli. Namun di tahan karena harga diri. Menjaga raut wajah untuk tetap stabil. Agar tak terlihat jelas kalau lagi melayang.


"Cih! Muji kalau ada maunya!" Cibir Vera dengan wajah yang di buat-buat galak. Vera meletakan dua centong nasi ke atas piring.


Sebelum di susul lauk pauk yang ada di atas meja.

__ADS_1


Sambal cabe ijo ikan gurame dengan campuran petai memberikan aroma masakan mempu membuat air liur menetes. Tumis kangkung dengan telur gulung diletakkan di atas piring.


Tidak ada yang bisa menolak masakan yang ada di atas meja. Vera duduk di samping Leo, bukan lagi di depan sang suami. Pria ini protes kalau Vera duduk jauh darinya. Entah kenapa pria ini sangat manja.


"Makannya pelan-pelan saja, Kak!" tegur Vera melihat bagaimana rakus nya Leo makan.


Leo hanya cengengesan setelah menelan makanan yang selesai di kunyah.


"Abis enak," balasnya.


Vera mengeleng kan kepalanya. Dua Minggu berlalu sejak malam itu, Mama dan Ibu mertua nya. Merecoki ia dengan obat herbal.


"Ya tau kok, cuma kalau makan begitu tar keselek bagaimana. Lagian kalau habis tinggal bikin," ceramah Vera.


"Ya, istri ku. Suami nurut kok," godanya.


Vera mengeleng pelan mendengar jawaban sang suami. Ke duanya makan dengan sesekali mendapatkan teguran dari Vera. Melihat Leo makan berantakan, lebih tepatnya pria ini sengaja makan begitu. Hanya untuk sekedar mendapatkan usapan di pinggir bibir oleh Vera. Suami modus.


***


"Bagaimana Dokter?"


Seruan serentak dari ke dua wanita paruh baya itu membuat Dokter wanita itu hanya bisa mengulas senyum.


"Masih belum. Seperti nya, nona Vera harus lebih keras lagi usaha nya." Ujarnya sembari membatu Vera menurunkan ujung baju. Menutup perut datarnya.


Desahan kecewa terdengar jelas dari ke duanya. Vera memasang tampang nelangsa. Bagaimana tidak. Setelah sarapan pagi, Vera di tarik oleh ke duanya masuk mobil. Tiba-tiba dibawa ke ruangan Dokter kandungan. Vera jadi bingung, apakah sekali bikin langsung bisa hamil?


Nyonya muda Yamato ini masih awam dengan hal yang begini. Nara dan Siti melangkah mengikuti Dokter cantik itu ke kursi.


"Jangan kecewa begitu nyonya. Masih ada waktu agar nona Vera hamil. Nona Vera masih sangat muda dan produktif. Jika ingin cepat hamil, bisa bawa pasangan nya ke sini. Untuk konsultasi cara cepat hamil nyonya," papar sang Dokter.


Vera yang berdiri di antar ke dua wanita tua itu mendesah pelan. Gila saja, bagaimana bisa ia membawa Leo. Ia dan Leo saja melakukan nya karena tak sadar. Meski tau malam kemarin adalah ulah ke dua orang tua mereka. Wanita satu ini tak bisa apa-apa.


"Dokter," panggil Siti pelan.


"Ya, nyonya."


"Itu.....gaya apa yang bisa di pakai anak kami agar bisa hamil?" Tanya Siti dengan senyum aneh di mata Vera.


Kontan saja sang Dokter tersenyum lucu. Nara terkekeh pelan, wajah Vera merah padam.


"Kalau untuk gaya, mungkin harus ada suaminya. Agar ke duanya mengerti." Goda sang Dokter.


Tidak tahan. Ke dua daun telinga Vera bahkan ikut memerah. Tolong! Siapapun. Bawa Vera menghilangkan dari dunia ini. Vera sungguh merasa malu.


.


.


.


Bersambung....


๐Ÿ˜Mama Vera & Mertua ngebet pingin dapat cucu.๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ di pikir udah tekdung๐ŸŒš๐Ÿ™Š

__ADS_1


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....โ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


.


__ADS_2