
Ke dua telapak kaki yang telanjang itu mudur kebelakang saat ombak menghampiri. Leo terkekeh melihat kelakuan sang istri. Pria tampan yang berada di belakang sang istri terlihat begitu lucu. Dengan menjinjing sepatu sang istri dengan sepatunya. Vera menikmati suasana pantai Balangan yang tidak banyak wisatawan nya. Hanya beberapa yang berada di sana. Kebanyakan yang datang ke sana adalah orang yang menyukai suasana asri dan sepi. Sebagian lagi, adalah mereka yang suka menantang adrenalin bermain Snorkeling.
"Bagaimana, suka kan dengan pantai pilihanku?" Tanya Leo yang kini melangkah beriringan dengan Vera.
Kepala Vera mengangguk cepat. Rambut hitam legam nya menari-nari bersama angin pantai. Membuat langkah kaki Leo berhenti. Begitu pula dengan langkah kaki Vera.
"Ada apa kak?" serunya dengan nada penuh tanya.
Leo meletakan ke dua sepatu pasangan mereka di atas pasir yang kering. Sebelum mempersempit jarak antara mereka berdua. Tangannya bergerak cepat, mengikat asal rambut nakal yang sudah sedari tadi membuat ia terhalang menatap wajah bersahaja sang istri tercinta. Vera membeku karena perlakuan manis sang suami.
"Rambut mu dari tadi membuat jengkel. Masa mau menghalangi wajah cantik istri ku!" Ujar Leo di sela kegiatan nya mengikat rambut Vera.
Ke dua sudut bibir Vera tersungging tinggi.
"Kakak bohong, mana ada aku cantik!" tukas Vera. Masih dengan senyum malu.
Leo telah menyelesaikan kegiatan nya mengikat rambut panjang Vera dengan karet gelang yang selalu ia bawa. Karena Leo tau, Vera akan kesusahan saat makan. Rambut yang paling suka di gerai tanpa di ikat. Dan pria ini, dengan sisi romantis nya selalu membawa karet rambut Vera di sakunya. Selalu begitu.
Leo melangkah berdiri tepat di samping Vera."Dimataku, kau selalu cantik nyonya muda Yamato!" ujarnya di sela deburan ombak.
Vera tak mampu untuk tidak tersenyum semakin lebar. Menepuk pelan dada bidang sang suami. Yang terkekeh renyah.
"Kakak suka banget menggodaku!"
"Nggak ada masalah kalau yang di goda kan istri sendiri," tukas Leo.
Vera mencibir di sela senyum nya. Cahaya mentari terlihat begitu indah menghujani ke duanya dengan sinar oranye ke memerahan.
"Oh! Wah! Sunset." Ujar Vera antusias. Sebelum membalikkan tubuhnya menatap sang mentari berunsur-ansur terbenam.
Leo ikut menoleh. Tangannya meraih telapak tangan Vera. Menggenggam nya dengan erat. Vera menengadah menoleh menatap wajah tampan Leo, dengan anak rambut hitam yang di belai angin senja.
__ADS_1
"Indah!" seru Leo.
"Ya, sunset nya terlihat indah!" Timpal Vera mengangguk pelan.
"Bukan. Maksudnya bukan sunset nya yang indah. Tapi kamu, sayang ku." Balas Leo sembari melepaskan genggaman tangan nya dari tangan sang istri. Sebelum telapak tangannya berada di sisi wajah Vera.
Vera tercekat. Hembusan semilir angin dengan darah tubuh berdesir. Vera merasa berdebar keras. Kala pergerakan cepat Leo membawa wajah tampan nya berada hanya berjarak tujuh cm di depannya. Aroma nafas mint hangat Leo ikut menerpa wajahnya. Ke dua mata Vera terbelalak seketika. Leo tersenyum lebar melihat reaksi sang istri. Sungguh sangat lucu dengan wajah tegang.
"I love you, my heart and my wife!" ujar Leo lembut.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung ke duanya berlomba-lomba. Kala wajah tampan Leo semakin mendekati wajahnya. Ke dua kelopak mata Vera terpejam kala jarak tak lagi di miliki.
Kecupan basah melayang pada pipi kanan Vera. Kontan saja ke dua mata Vera terbuka. Ia terkejut dengan apa yang di lakukan Leo. Ia pikir sang suami akan mengecup bibirnya. Sial! Vera memaki dalam diam. Wajah nya memerah bak keping rebus saat melihat wajah menggoda sang suami. Pria Yamato itu telah menjauh kan wajahnya. Berdiri tegap dengan senyum menyebalkan di mata Vera.
"Mau di cium di bibir ya?" tanya Leo benar-benar membuat Vera malu setengah mati,"tidak di sini sayang. Karena kalau sudah ke sana, aku tidak akan minta lebih! Jadi tunggu di penginapan ya." Ujarnya tak lupa melayangkan kedipan di mata kanannya.
"Kakak Leo!!!!!!" teriak Vera keras.
Leo tertawa. Pria itu bergerak cepat menuju ke dua sepatu mereka sebelum berlari menghindari sang istri. Vera mengejarnya dengan wajah memerah. Tawa Leo melambung mengindari Vera.
Beberapa wisatawan asing maupun lokal menatap iri pada ke dua pasangan suami-istri yang kini malah basah karena ulah mereka sendiri. Leo yang berlari mendekati ombak. Di ikuti Vera, membuat baju ke duanya basah. Masih dengan tawa keras.
...***...
Vera sedikit merenggut, karena harus mandi setelah tubuh lengket terkena air laut. Rambut nya juga basah. Leo mengusap pelan rambut hitam legam dan istri. Tidak lupa menggoyangkan hairdryer ke arah rambut basah Vera.
__ADS_1
"Kenapa wajahnya masih merenggut begitu. Bikin gemas tau!" Seru Leo di sela kegiatan nya.
Ke dua pipi Vera mengembung kesal. Ugh! Sungguh. Leo sangat ingin mencubit gemas pipi Vera dan mengigit nya. Saking merasa gemas.
"Dingin tau mandi malam-malam!" cerocos Vera kesal.
Leo terkekeh renyah."Ya, nggak masalah kalau dingin. Karena di sini ada suamimu yang tampan ini yang akan menghangatkan. Itulah gunanya suami mu ini di sini sayang!" goda Leo.
Bulu roman Vera berdiri dengan ke dua sisi pipi yang merona. Tidak menampik ada rasa geli di hati Vera mendengar perkataan Leo.
"Kakak menyebalkan!" Vera berusaha mengontrol nada suara agar tidak terdengar jika ia malu saat ini.
"Menyebalkan tapi sayangkan?" goda Leo lagi.
"Hem!" Vera berdehem,"sayang nggak ya?" ujarnya seolah-olah tengah menimbang-nimbang.
"Lah, kok malah mikir?"
"Ya, harus mikir dong. Biar tau benar dan nggak nya!"
"Eh! Mana bisa begitu. Harus sayang lah. Nggak ada harus mikir-mikir dulu. Aku sayang dan cinta padamu, nggak pernah mikir-mikir dulu. Bahkan kalau mau menerkammu juga nggak pernah mikir!" protes Leo.
Bluss!!!
Wajah Vera memerah untuk kesekian kalinya.
"Benarkan?" tuntutnya,"awas aja kalau jawabnya mikir. Kalau masih mau mikir-mikir. Aku akan membuat mu menjadi tahanan rumah nyonya muda Yamato. Biar bisa mikir sampai kapanpun," ancam Leo. Sebelum mematikan hairdryer dan meletakan nya asal di atas meja rias.
Tubuhnya menunduk. Dengan mata menatap wajah Vera yang memerah di tetap di cermin rias. Membawa mata ke duanya bersitatap dalam. Leo menjatuhkan dagunya di bahu Vera.
"Karena dari awal, kau adalah milikku. Dan akan selalu begitu!" ujar Leo dengan nada serak seksi.
__ADS_1
Vera tak menjawab. Ia hanya menatap dalam ke arah manik mata indah sang suami. Mencari kebohongan di dalam sana. Sayangnya, tidak ada kebohongan di dalam sana. Sedikit pun tak ia temui. Vera tersenyum, ia bahagia. Sangat.