
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....βΊοΈβΊοΈπππ
.
.
.
.
Tiga orang duduk di taman belakang kampus. Terlihat banyak yang berlalu lalang. Sesekali mereka berbisik dan menatap ke arah Vera. Wanita imut itu berdecak kesal kala orang-orang berbisik-bisik lirih sembari menatapnya. Selesai dengan rumor ia tidur dengan kekasih sahabat nya. Kini yang membuat heboh satu kamus, ah tidak. Lebih tepatnya yang membuat seluruh orang heboh adalah kabar berita. Jika ia telah menikah dengan CEO terkemuka Indonesia.
Pria yang di gadang-gadang sebagai, calon menantu yang diincar oleh banyak orang tua di luar sana. Ayolah, siapa yang tidak ingin menjadi kan Leo Yamato. Pria keturunan Jepang-indonesia itu sebagai menantu idaman. Melihat betapa tampan dan kaya, Leo Yamato. Bukan hanya anak gadis saja yang terkesima melihat CEO muda itu. Para ibu-ibu pun tak luput dari pesona Leo.
Dan hari ini, di nyata kan sebagai hari patah hati se-Indonesia. Dan sekaligus, menutup keinginan ibu-ibu di Indonesia untuk bisa memiliki calon menantu setampan dan sekaya Leo.
"Apaan sih, orang-orang!" decak Nadia kala merasa risih.
"Kau tidak risih di lihat dan jadi gosip orang-orang, Ver?" tanya Zita melihat raut wajah datar Vera.
Vera mengangkat pandangan nya. Mengulas senyum, sebelum mengangkat acuh kedua sisi bahunya.
"Entahlah," jawabnya,"aku sudah terbiasa dengan hal begini," lanjut nya.
"Apa semenjak Ana memfitnah mu, ya?" tebak Nadia.
"Mungkin." Angguk Vera pelan.
Zita mengusap pelan punggung belakang Vera.
"Yang kuat ya, siapa suruh kamu nikah sama cowok paling tampan incaran mak-mak sedunia." Ujar Zita sembari mengusap pelan punggung Vera.
"Kalau aku jadi Vera mah, bakal langsung pasang tampang angkuh. Seolah-olah berkata, siapa yang berani sama aku. Istri pengusaha nomor satu di Indonesia," gurau Nadia.
Kontan saja ke tiganya tertawa renyah.
"Lah, emang apa yang bisa di banggakan?" tanya Vera dengan raut bingung setelahnya.
"Astaga, Vera. Apa yang bisa di banggakan katamu?" ujar Nadia tak percaya,"kau bisa bertindak semena-mena sih sebenarnya. Merasa paling beruntung di dunia. Biar cewek-cewek sok kecantikan, ngomongin kamu dari belakang langsung mati kata. Dan kedepannya gak ada yang berani gangguin kamu," lanjut Nadia menggebu-gebu.
Vera mengeleng pelan, pertanda tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh Nadia.
"Nggak, ah. Lagian apa yang harus di sombong kan. Mau nikah sama Kak Leo cowok paling kaya di Indonesia maupun di dunia. Atau bahkan mau nikah sama aktor papan ataspun gak ada yang bisa di sombong kan. Malah itu jadi beban, Nad!" tukas Vera.
"Kok beban?" tanya Nadia tak mengerti.
"Ya, tentu beban lah Nadia sayangku. Kemanapun Vera pergi, apapun yang Vera pakai atau bagaimana tingkah Vera. Semua nya akan kena sorot oleh banyak mata. Dan bakal lebih banyak gunjingan. Kamu kayak gak tau mulutnya maha benar netijen aja, ah!" jelas Zita yang mengerti pemikiran Vera.
__ADS_1
Vera mengangguk setuju.
"Netizen, Zit. Bukan netijen!" ralat Nadia.
Zita terkekeh."Ya, biar lucu kawan!"
"Iya, deh. Tapi apa yang membuat mu takut di sorot Ver?" tanya Nadia penasaran.
Vera mengerut kan dahinya. Berpikir keras, sebelum menyadarkan punggung belakang nya di batang pohon yang kebetulan tepat di belakang tubuh Vera.
"Pertama aku takut melakukan kesalahan. Yeah, meskipun aku tau. Manusia di dunia ini memiliki dua pemikiran. Contoh nya aja nih, aku pakai baju mahal. Orang-orang akan berkata 'lihat deh, baju nya mahal banget. Pasti mau sombong tuh, kalau di punya banyak uang.' semacam itulah," ujar Vera meniru gaya bicara ibu-ibu.
"Bener banget. Kalau Vera pakai baju yang biasa, pasti di bilang kalau Vera itu pelit. Serba salahkan?" kini giliran Zita angkat bicara.
Kepala Nadia mengangguk-angguk pertanda mengerti. Ia mendesah perlahan.
"Iya juga ya. Aku baru berpikir ke sana," ujar Nadia.
"Terkadang mencoba masa bodoh sama omong orang. Tapi itu tidak memungkinkan kalau hati kita yang menerima nggak terluka," ujar Vera.
"Ya, susah nya hidup di dunia ya itu. Kita hidup nya gak lepas dari nyinyiran orang-orang. Yang jalanin hidup kita tapi yang nyinyir pasti orang lain," kata Zita.
"Aku sering dengar kakak perempuan ku di nyinyirin tetangga. Saat dia gak punya cowok, dianya di bilang gak laku. Bawa cowok ke rumah, di desak nikah cepat. Udah nikah yang di tanyain kapan punya anak. Kalau begitu punya anak di cap mandul. Udah punya anak di tanya kapan punya adek. Kalau punya anak banyak, pasti di omongin punya anak terus tapi kasih makan susah," cerocos Nadia.
Zita dan Vera terkekeh terhibur mendengar cerocosan Nadia. Setelahnya serentak ke tiga nya mendesah kasar. Problematika hidup memang begitu.
...***...
"Ya, begitu lah!" jawabnya sebelum mengulas senyum sumringah.
"Bahagia banget ya kalau status nya jelas," goda Reza.
"Ya jelas dong. Biar orang-orang tau, Vera itu milik nya siapa." Seru Leo melipat kan ke dua tangan nya di dada.
"CK! Ck! Suami posesif," cibir Lucas.
"Kau juga bakal posesif Lucas. Kalau udah punya istri," tukas Leo.
"Oh, no! No!" Tolaknya dengan jari telunjuk bergerak menolak tuduhan Leo."Aku masih ingat menikmati pertualangan cinta kawan. Apalagi berpetualang di atas ranjang," lanjut nya dengan ekspresi wajah mesum.
..."Dasar Playboy cap kadal!" dengus Reza....
"Wajar kawan. Wajah ganteng harus di manfaatkan, ya kan Mark?" Lucas melempar kata pada Mark, meminta dukungan dari sahabat nya.
"Ya. Tentu saja," jawab Mark sependapat.
"Kalian berdua sama saja. Kalau udah ketemu sama wanita yang bisa menjerat leher dan matamu. Aku berani bertaruh, kalian berdua bakal seperti bayi kecil. Yang tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa meninggalkan dia," ujar Leo.
__ADS_1
Kontan saja ke duanya menolak. Reza hanya mencibir ke dua temannya.
"Tidak akan. Aku tidak akan menikah dengan wanita yang mengontrol aku. Tapi aku akan menikah dengan wanita yang bisa aku kontrol," tukas Lucas.
"Yap! Aku juga," seru Mark.
Leo dan Reza hanya terkekeh mencemooh.
"Jangan sampai makan buah karma," peringat Reza.
"Kalau sudah makan, kita tertawaan saja Reza!" timpal Leo.
Ke empat nya sibuk. Jam makan siang di habiskan oleh ke empat nya mengobrol.
...***...
Musik mengalun. Wanita cantik itu berputar-putar, sebelum melayang dan kembali menari dengan irama. Gerakan nya begitu anggun, seperti sebuah angsa. Hingga gerakan menggila kala puncak klimaks menyapa. Dan tubuh nya berhenti di penghujung nada. Lampu sorot menghujam tubuh langsing nya.
Tepukan bergemuruh. Hembusan napas wanita cantik itu bersautan dengan gemuruh tepuk tangan. Tubuh nya dan rekan-rekannya membungkuk di atas pentas. Pada penonton balet di kursi penonton berdiri.
Tangannya di penuhi buket bunga yang harum semerbak. Belum kilatan kamera menghujam tubuh nya. Lili tersenyum ke arah kamera dan para penggemarnya. Sebelum wanita cantik itu berada di ruangan ganti.
Nama seorang Lili Lorenza sangat terkenal di Paris. Wanita cantik nan anggun. Memenangkan banyak kejuaraan balet.
"Pertunjukanmu selalu menakjubkan sayang," seru menjernya.
Lili hanya mengulas senyum. Jari jemarinya bergerak menyentuh permukaan ponsel. Bibirnya di gigit perlahan. Rasanya sangat sakit.
"Hei! Ada apa. Kenapa kau menangis?" tanya Risa panik.
"Mbak, dia telah menikah dan melupakan aku!" Ujarnya di sela tangis yang mengalun.
Risa mendesah pelan."Kau masih mencintainya?" tanya Risa pelan.
Kepala Lili mengangguk."Aku mencintainya. Sangat Mbak. Tapi kenapa ia tidak bisa menungguku di sana. Hanya lima tahun saja. Ia bahkan memilih menikahi wanita lain!" ujar Lili menangis keras.
Risa hanya bisa memeluk tubuh Lili. Tak lupa mengusap pelan punggung belakang Lili.
"Lepaskan saja, Lili!" ujar Risa lirih.
Kepala Lili mengeleng pelan. Dia tidak bisa melepaskan Leo Yamato. Pria yang sangat ia cintai. Dahulu sampai saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....βΊοΈβΊοΈπππ