
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....βΊοΈβΊοΈπππ
.
.
.
"Vera!" Seruan di ikuti langkah kaki membuat sang pemilik nama berhenti melangkah. Gadis itu membalik kan tubuh nya.
"Eh, Arga?" balas Vera keheranan.
Arga tersenyum. Wajah gadis itu keheranan melihat kekasih sahabat nya ada di tokoh buku Gramedia.
"Hai! Kau ke sini dengan Ana kah?" tanya nya basa-basi.
Vera mengeleng."Ah, hai juga. Aku ke sini sendiri. Ana katanya masih ada jam tambahan kelas."
Arga mungut-mungut. Pria bermata tajam itu terlihat memegang buku Novel di tangan nya. Buku yang mencuri atensi Vera pada sampul hitam yang di padu padankan dengan warna pink.
"Suka baca Novel juga, Ga?"
Arga mengangkat buku di tangannya. Pria ini tersenyum, membuat lesung di pipi nya terlihat.
"Ya. Kau juga kah?"
Vera mengulas senyum sembari mengangguk. Gadis ini memang penyuka Novel sampai Komik. Kecintaan nya pada Novel membuat ia memutuskan mengambil jurusan Sastra Bahasa. Menjadi seorang Editor menjadi salah satu cita-cita nya. Di mana ia akan membaca banyak cerita yang menarik. Tanpa harus membayar. Dan bertemu dengan bibit-bibit penulis yang hebat. Ugh! Membayangkan nya saja sudah membuat Vera bahagia.
"Kau suka Novel genre apa?" Arga penasaran.
"Aku suka banyak genre, kecuali genre tak wajar!"
"Tak wajar?" Arga mengulang kata gadis di depannya ini.
Vera tersenyum lucu."Itu loh, cerita sesama jenis. Aku tidak suka," akunya jujur. Dengan raut wajah agak jijik.
Arga terkekeh."Aku juga tidak suka kalau genre itu," kata Arga,"lebih suka genre adult yang ada komedi di dalamnya," lanjut nya.
Muka Vera memerah. Ke duanya memutuskan untuk sekedar mencari tempat yang bagus untuk berbincang. Vera senang jika ada yang satu hobi dengan nya. Arga pria yang asik di ajak berbicara dan bercanda. Meski terlihat bertampang angkuh namun siapa sangka sangat bertolak belakang dengan kepribadian Arga.
Lensa kamera di matikan. Kala ponsel mahal milik Ana menangkap beberapa gambar yang bagus.
"Kalian terlihat serasi bersama," tuturnya sebelum menarik garis senyum licik.
Sedari tadi Ana mengintai Vera. Pura-pura memiliki jam tambahan. Gadis cantik ini mengabarkan Arga. Mengatakan pada pria itu jika ia akan ke Gramedia. Hanya untuk bisa mempertemukan ke duanya. Tidak sia-sia, Ana menggaet Arga. Pria tampan yang memiliki hobi yang sama dengan Vera. Dengan begini, Vera akan tersudut kan. Merebut kekasih sahabat nya, dan menyelingkuhi seorang Leo Yamato.
Setidaknya, ia akan mendekati Leo. Saat pemuda itu patah hati karena sang istri yang selingkuh. Dengan dalih, sama-sama menjadi orang yang terluka. Benar-benar licik.
__ADS_1
...***...
Dawai gitar di petik perlahan, mengalun nada-nada galau. Reza mengeleng pelan. Lucas dan Mark tak tau apa yang terjadi dengan pria satu ini. Tuan muda Yamato ini yang mengajak mereka keluar. Menikmati waktu yang ada. Tapi pada kenyataannya pria ini malah memilih memeluk gitar, memainkan nya. Ke empat nya tersangkut di rumah Reza. Padahal pria itu telah siap untuk keluar bersama ke tiga sahabat nya.
"Ada apa lagi dengan mu, huh?" tegur Lucas dengan nada serak.
Leo menghentikan petikan gitar. Menatap Lucas dengan pandangan letih.
"Aku? Ada apa dengan ku?" ujarnya dengan nada aneh.
Sungguh.
Ke tiga pria tampan itu sangat gemas dengan jawaban di berikan oleh Leo.
"Tidak jadi keluar kah?" kini suara Reza terdengar.
Leo mendesah kasar."Kita di rumah mu saja ya!"
"Kau bertengkar dengan Vera?" tebak Mark.
"Tidak dan iya," jawab Leo ambigu.
Bug!
"Sakit. Ada apa dengan mu, huh?" Kesal Leo membuang bantal yang terjatuh di paha nya setelah menghantam muka terlalu tampan nya.
"Kau terlalu memusingkan kawan. Apa gunanya bergalau. Wanita di dunia ini banyak. Dari yang biasa sampai yang luar biasa. Istri itu memang cukup satu tapi wanita tidak apa-apa banyak. Masa tak tau prinsip raja, ratu boleh satu. Tapi selir bisa lebih dari satu," hibur nya dengan teori gilanya.
"Itu mah kau!" tukas Leo.
"Tapi kan ini adalah prinsip banyak pria. Kau tak tau saja, meski memiliki satu pacar. Pria tak pernah untuk tidak melirik satu wanita saja," ujar Lucas.
Reza dan Mark hanya tertawa kecil mendengar perdebatan Leo dan Lucas, si setia dengan si pencinta wanita.
"Cih! Kau belum ketemu saja wanita yang membuat mu gila!" decak Leo.
Lucas terkekeh pelan."Kau pikir kenapa tuhan menciptakan dua tangan?"
"Aku tau kenapa!" celetuk Mark dengan penuh semangat,"itu karena satu untuk yang sah satu lagi untuk menggenggam yang tak sah!" Lanjut nya di sela tawa.
"Gila!" decak Leo tak setuju.
Reza menjadi pendengar yang baik. Ruang tamu rumah besar kediaman Reza begitu ramai. Obrolan gila masih terus berlanjut. Gemuruh tawa terus terdengar, setidaknya. Leo merasa terhibur dengan ucapan gila Lucas dan Mark.
Saat merasa perasaan kesal dan marah. Leo lebih suka mencari sahabat-sahabatnya dari pada cairan memabukkan dan wanita.
...***...
__ADS_1
Damar menyodorkan satu tablet obat ke arah Ana. Pria ini mendesah letih, jujur saja. Ia tak tau bagaimana caranya mendidik Ana dengan benar.
"Kau masih berhubungan dengan bebas, An?"
"Ini terakhir kalinya, Bang!" ujar Ana memelas.
"Kau benar-benar membuat aku tidak bisa berkata Ana. Bagaimana jika Tante tau apa yang kau lakukan?"
Ana merotasi kan ke dua nya malas."Mama tidak akan peduli dengan hal ini Bang. Lagipula, tidak semua gadis di dunia ini masih tersegel Bang!"
Damar bungkam. Pria ini tau, pergaulan anak zaman sekarang benar di luar nalar. Damar sudah menjaga Ana dengan sebaik-baiknya. Tapi tetap saja melenceng. Sebaik-baik penjagaan orang lain, tidak ada penjagaan sebaik diri sendiri. Itulah yang besar. Damar membatasi pergaulan Ana di luar sekolah. Namun di dalam sekolah? Pria ini tak bisa.
Di umur tujuh belas tahun. Gadis di depannya ini sudah tak lagi perawan. Bodoh nya lagi, Damar baru tau satu tahun belakang ini. Saat ia tanpa sengaja menangkap basah Ana mencuri obat KB dan kontrasepsi di dalam apotik besar milik nya. Saat itulah Ana jujur. Nasi bukan menjadi bubur lagi tapi lebih tepatnya, kayu sudah menjadi arang. Tidak ada yang bisa di lakukan.
Pria ini hanya bisa menjaga agar Ana tidak sampai hamil. Hanya itu.
"Beliau akan sedih, Ana!"
"Siapa yang peduli," kesal Ana.
Damar menghembus napas kasar.
"Aku haus belaian lelaki. Mereka menawarkan sosok lelaki yang hangat. Tidak seperti papaku, jadi apa salah nya aku menyambut uluran tangan mereka."
"Ana!" geram Damar.
"Abang! Mungkin Abang tidak mengerti sisi ini. Karena Abang terlahir dari keluarga yang bahagia. Ada Tante yang selalu memperhatikan Abang dan papa yang selalu di sisi Abang. Aku? Aku tidak begitu."
Damar mengeraskan ke dua sisi rahangnya. Ana berdiri dari posisi duduknya. Melangkah meninggalkan ruangan kerja Damar.
"Apa yang bisa membuat mu berhenti menggila?"
Seruan Damar membuat langkah kaki Ana berhenti. Gadis itu menoleh atau sekedar membalik tubuh langsing proposional milik nya.
"Bantu aku mendapat Leo Yamato. Aku berjanji tidak akan melakukan sex bebas jika Abang bisa membuat aku dengan Leo, bersama!" jawab Ana,"itupun jika Abang benar-benar menyayangi ku," lanjut nya.
Damar tercengang. Sepupu nya ini benar-benar sudah gila.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Ana mengerikan π